Sin-ciang Kai-ong sendiri lalu lari cepat menuju ke asrama Ang-Kin Kai-pang. Matahari pagi sudah mulai bersinar. Ketika dia tiba di dekat pintu gerbang kota raja, sesosok bayangan muncul dari balik pohon dan ternyata bayangan ini adalah Si Han Beng.
"Eh, engkau di sini?" tanya Sin-cia Kai-ong. "Di mana Nona Souw?"
"Setelah Suhu pergi, teecu mengkhawatirkan keselamatan Suhu yang masih belum sehat benar. Nona Souw teecu suruh menanti di dalam hutan itu dan teecu menyusul ke sini."
"Bagus kalau begitu. Memang aku membutuhkan bantuanmu, Han Beng. Engkau tahu, sahabatku Koai-tung Sin-kai benar-benar mereka tawan dan yang kini bertindak sebagai Koai-tung Sin-kai adalah seorang datuk sesat dari selatan berjuluk Lam-san Hui-houw." Kakek itu menceritakan apa yang didengarnya dari kaki tangan ketua palsu itu. Han Beng mendengarkan dengan heran dan juga kagum akan kecerdikan gurunya yang ternyata telah menduga tepat sekali "Sekarang, apa yang akan Suhu lakukan dan apa yang harus teecu lakukan?"
"Aku akan mencoba untuk membebaskan sahabatku Koai- tung Sin-kai dan para pembantunya yang ditawan, dan engkau dapat membantuku, Han Beng." Kakek itu lalu berunding dengan muridnya dan mengatur siasat agar dia berhasil membebaskan para tawanan itu dan membongkar rahasia kejahatan Lam-sar Hui-houw.
Munculnya Han Beng di depan asrama Ang-kin Kai-pang tentu saja menimbulkan keributan lagi pada perkumpulan itu. Belasan orang anggauta Ang-kin Kai-pang sudah menyambut dengan senjata di tangan, mengepung pemuda yang dianggap sebagai musuh besar atau biang-keladi keributan yang terjadi antara mereka dengan keluarga Souw. Mereka merasa heran dan penasaran bagaimana pemuda ini berani muncul lagi seorang diri!
Melihat mereka semua siap untul mengeroyoknya, Han Beng mengangkat kedua tangan ke atas dan berkata lantang, "Saudara-saudara, dengarlah baik baik. Aku, Si Han Beng, datang untuk menantang ketua Ang-kin Kai-pang untuk keluar dan mengadu kepandaian denganku! Aku merasa berdosa kepada keluarg Souw karena aku yang menjadi biang keladi sehingga keluarga itu dimusuhi dan diserbu oleh Ang-kin Kai- pang. Maka, aku ingin membalaskan penasaran mereka, dan aku tantang ketua Ang-kin Kai-pang untuk keluar dan melawan aku kalau memang dia seorang gagah!"
Akan tetapi, para pengemis Ang-kin Kai-pang tentu saja memandang rendah kepadanya. Pemuda jembel dari luar kota seperti itu menantang ketua mereka yang lihai? Merendahkan sekali!
"Engkau tidak pantas dilayani ketua kami!" "Bunuh anjing busuk ini!" "Keroyok dan bunuh dia!"
Belasan orang itu menyerbu dan mengeroyok Han Beng, sedangkan dari dalam dan luar asrama itu datang berlarian lebih banyak lagi para anggauta Ang-Kin Kai-pang. Selain para pembantu ketua palsu itu yang memang terdiri dari orang-orang sesat, para anggauta Ang-Kin Kai-pang adalah orang-orang gagah. Akan tetapi selama satu tahun lebih mereka dipimpin oleh seorang ketua yang sama sekali berubah wataknya, yang mempunyai pembantu-pembantu yang mengutamakan tindakan kekerasan kejahatan maka
sedikit banyak merekapun terpengaruh. Perbuatan buruk jahat memang seperti penyakit menular mudah sekali menular kepada orang lain. Sebaliknya, perbuatan baik sukar sekali menjadi contoh dan tak banyak orang mau mengikutinya. Hal ini adalah karena perbuatan buruk itu hampir selalu didorong oleh pamrih demi kesenangan pribadi. Justeru kesenangan pribadi inilah yang menarik hati setiap orang maka berbondong-bondong mereka mengikuti contoh ini demi menikmati kesenangan itulah. Sebaliknya, perbuatan baik hampir selalu meniadakan atau mengurangi keinginan menyenangkan diri pribadi yang berarti bahwa untuk melakukan perbuatan baik orang hampir selalu menderita rugi, baik rugi lahir maupun rugi batin. Maka sudah barang tentu jarang ada yang mau melakukannya.
Melihat betapa belasan orang anggauta Ang-kin Kai-pang itu, dengan segala macam senjata, menerjangnya berbagai penjuru, Han Beng lalu mengamuk! Dia berhasil merampas sebatang tombak, mematahkan ujungnya yang runcing sehingga tombak itu berubah menjadi sebatang tongkat dan dia pun mengamuk dengan memainkan ilmu tongkat yang dipelajarinya dari Sin-ciang Kai-ong. Dan memang hebat sekali ilmu tongkat ini. Dalam pandangan para pengeroyoknya, tubuh Han Beng seolah-olah menjadi banyak, dan tongkatnya pun menjadi puluhan banyaknya, menyambar- nyambar dan kadang-kadang berubah menjadi gulungan sinar yang setiap kali menyambar senjata lawan tentu membuat senjata itu terlepas dari tangan pemegangnya dan terpental jauh. Melihat kehebatan gerakan pemuda ini, para anggauta Ang-kin Kai-pang yang tadinya hanya menonton, segera terjun ke dalam pertempuran dan semakin banyak yang kini mengeroyok pemuda itu. Hal ini menyenangkan hati Han Beng, karena memang sesuai dengan siasat gurunya, dia ingin memancing keluar semua orang yang berada di dalam asrama itu. Sambil terus memutar tongkatnya ke sana-sini, merobohkan para pengeroyok dengan sapuan tongkatnya, tamparan tangan kiri atau tendangan-tendangan kedua kakinya, dia tiada hentinya berteriak menantang kepada ketua Ang-kin Kai-pang
"Mana ketua Ang-kin Kai -pang? Hayo Pangcu, kalau engkau memang bukan pengecut, keluarlah dan tandingilah aku!" Teriaknya nyaring dan terdengar sampai ke dalam. Teriakan bukan saja untuk mengejek sehingga ketua Ang-kin Kai-pang itu akan keluar, akan tetapi juga untuk memberi isarat kepada gurunya yang dia percaya sudah berada di dalam, isarat bahwa agaknya para anggauta Ang-kin Kai-pang telah keluar semua mengeroyoknya, kecuali ketuanya.
Tidak salah perhitungan Han Ben Ketua itu memang sejak tadi mengintai dan diam-diam ketua palsu itu terkejut melihat sepak terjang Han Beng. Tahulah dia bahwa para pembantunya bukan tandingannya pemuda lihai itudan dia sendiri yang harus turun tangan. Betapapun lihainya pemuda itu, kalau dia turun tangan sendiri dibantu para jagoan dan para anggautanya yang cukup banyak, tidak mungkin pemuda itu tidak akan lapat dirobohkan!
"Pemuda sombong, mampuslah!" bentaknya dan dia pun sudah meloncat keluar dari tempat pengintaiannya dan dengan sebatang tongkat yang panjang dan bentuknya seperti seekor ular, ketua Ang-kin Kai-pang menerjang Han Beng dengan dahsyatnya! "Tuk-tuk-desssss……!" Pertemuan tongkat ular dan tongkat di tangan Han Beng mendatangkan getaran hebat, dan keduanya merasakan betapa lengan mereka tergetar dan tubuh terguncang. Han Beng terkejut dan memandang kakek itu, diam-diam dia bersikap hati-hati karena ternyata, palsu atau tidak, ketua Ang-kin Kai-pang ini sungguh lihai dan tidak oleh dipandang ringan sama sekali. Sebaliknya, Koai-tung Sin- kai palsu itu pun memandang dengan mata terbelalak. dia tadi telah mengerahkan tenaga sin-Kang pada ayunan tongkatnya, namun selalu dapat ditangkis oleh tongkat pemuda itu dengan kekuatan yang tidak kalah dahsyatnya. Dengan marah dan penasaran, ketua Ang-kin Kai-pang itu memberi isarat kepada para pembantunya untuk mengeroyok.
"Bunuh bocah sombong ini!" teriaknya dan ketika para pembantunya sudah mengepung dan mengeroyok lagi, dia pun menggerakkan tongkatnya dan ikut pula mengeroyok!
Kalau tadi dikeroyok oleh puluhan orang anggauta Ang-kin Kai-pang masih dapat menahan diri dan mengamuk, kini setelah ketuanya maju sendiri ikut mengeroyok, Han Beng mu terdesak hebat. Ketua itu sendiri sua amat lihai, merupakan seorang lawan yang harus dihadapinya dengan pengerahan tenaga dan perhatian, maka pengeroyokan banyak sekali lawan itu saja membuat perhatian dan tenaganya terbagi dan beberapa kali serangan dahsyat yang dilakukan ketua Ang-kin Kai-pang itu membuatnya terhuyung kebelakang. Namun, dengan permainan tongkat yang dipelajarinya dari Sin-ciang Kai-ong yaitu Ilmu Tongkat Dewa Mabuk, ditambah lagi dengan gerakan Hui-tiauw kun (Silat Sakti Rajawali Terbang) dari gurunya pertama, Sin-tiauw Lui Rhok Ki yang membuat tubuhnya dapat ' beterbangan" di antara sambaran senjata- senjata lawan, Han Beng mengamuk dan melakukan perlawanan mati-matian. Akan tetapi, dia selalu berlompatan menjauhi ketua Ang-kin Kai-pang yang amat lihai itu.
Akan tetapi, Koai-tung Sin-kai yang palsu terus mengejarnya dan mendesaknya. Permainan tongkat dari Koai- tung Sin-kai memang hebat dan diam-diam Han Beng harus mengakui bahwa orang yang memalsukan Koai-tung Sin-kai (Pengemis Sakti Tongkat Setan) itu memang tepat menjadi Koai-tung Sin-kai palsu. Permainan tongkatnya benar-benar amat hebat. Andaikata dia harus melawan kakek itu satu lawan satu, dia merasa yakin takkan terdesak dan agaknya masih mampu untuk mengalahkannya. Namun, dia dikeroyok banyak sekali orang, dan belasan orang pembantu Koai-tung Sin-kai juga rata-rata miliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi sedangkan puluhan anggauta perkumpulan pengemis itu pun semua masing-masing memiliki kepandaian silat. Pengeroyokan yang ketat itu membuat Han Beng lelah dan beberapa kali tubuhnya telah menerima hantaman tongkat dan bacokan golok yang membuat pakaiannya robek-robek dan sedikit kulit tubuhnya lecet karena dia sudah melindungi tubuh dengan tenaga sin-kang yang membuat kebal.
Betapapun juga, Han Beng mengerti bahwa kalau pengeroyokan itu dilanjutkan, akhirnya dia akan roboh juga. utung bahwa selama ini, dia selalu dapat menghindarkan diri dari serangan tongkat ketua Ang-kin Kai-pang yang terus mendesaknya, dan hanya pukulan-pukulanpara anggauta perkumpulan itu saja yang sempat mengenai tubuhnya. Kalau tongkat kakek ketua itu yang mengenai tubuhnya, sungguh berbahaya karena belum tentu kekebalannya mampu melindungi tubuhnya.
oooOOOooo Pada saat itu, terdengar teriakan Melengking nyaring yang mengejutkan semua orang. "Tahan, semua senjata! Saudara-
saudara para anggauta Ang-kin Kai- pang, tahan senjata dan dengarkan kata-kataku!"
Semua orang terkejut karena suara itu mengandung getaran kuat dan mereka semua menengok ke arah suara itu. Kiranya seorang
kakek telah berdiri diatas wuwungan sehingga nampak oleh mereka semua. Para anggauta Ang-kin Kai-pang yang lama tentu saja mengenal Sin-ciang Kai-ong dan mereka memang tadinya sudah merasa terheran-heran mendengar akan kunjungan Sin-ciang Kai-ong yang agaknya menentang kebijaksanaan ketua mereka. Padahal, dahulu Sin-ciang Kai- ong adalah sahabat baik ketua mereka.
Sin-ciang Kai-ong berdiri di atas wuwungan itu dan kini dia memandang kepada ketua Ang-kin Kai-pang yang nampak marah. "Jangan dengarkan jembel tua busuk itu!" teriaknya kepada anak buahnya. "Bunuh pemuda sombong ini, dan bunuh pula Sin-ciang Kai-ong yang jelas ingin memusuhi kita!" Mendengar ini, para pengemis sudah menggerakkan senjata lagi hendak melanjutkan pertempuran. "Tahan dulu dan biarkan aku bicara Sin-ciang Kai-ong membentak, suaranya mengatasi suara gaduh para pengemis itu. "Saudara-saudara para anggauta Ang-kin Kai-pang tentu merasa betapa dalam setahun ini telah terjadi perubahan besar dalam sikap ketua kalian! Dengarlah baik-baik dan lihat! betul-betul bahwa ketua kalian ini adalah seorang ketua palsu, dia sama sekali bukan Koai-tung Sin-kai! Dia adalah orang luar yang menyamar menjadi ketua kalian dan menyeret kalian ke jalan jahat!"
Tentu saja ucapan ini disambut dengan seruan-seruan kaget, heran tidak percaya. Para pengemis itu memandang kepada ketua mereka dan tak seorang pun di antara mereka meragukan bahwa ketua mereka itu masih tetap Koal-tung Sin-kai!
"Bohong!" teriak ketua Ang-kin Kai-Pang itu. "Dia bohong! Aku adalah Koai-Tung Sin-kai!"
"Bohong…….. ! Bohong… !" teriak pula para pembantu