Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 57

Memuat...

Sin-ciang Kai-ong sudah melayang turun dan mengintai dekat pintu depan jika daun pintu dibuka dari dalam. tiba-tiba, sesosok bayangan gendut melayang keluar dan menghantamkan tongkatnya ke arah kepala suami wanita yang baru datang itu.

"Trakkk!" bukan kepala suami itu yang remuk, melainkan tongkat itu patah-patah ditangkis oleh tongkat di tangan Sin- ciang Kaj-ong. Si Gendut terbelalak kaget, akan tetapi sebelum dia dapat bergerak, tangan kiri Sin-ciang Kai-ong sudah menyambar ke arah pundaknya dan dia pun terkulai lemas. Tentunya suami wanita itu menjadi terkejut dan terheran-heran. Sin-ciang Kai–ong menyeret pengemis gendut itu dan berkata kepada suami yang keheranan itu. Sebaiknya engkau jangan meninggalkan rumah di malam hari agar rumahmu tidak diganggu oleh orang-orang jahat. Berkata

demikian, dia melompat membawa tubuh gendut itu seolah- olah memanggul benda yang ringan saja. Suami Isteri itu bengong karena dalam sekejap mata saja pengemis tua itu lenyap dari depan mereka.

"Hayo katakan, di mana adanya Koai-tung Sin-kai'?" untuk ke tiga kalinya Si ciang Kai-ong membentak. Pengemis gendut itu rebah telentang di depan di tepi sebuah hutan di luar kota.

Pengemis gendut mencoba untuk menggerakkan tubuhnya, akan tetapi tidak dapat dia bergerak karena tubuhnya sudah lumpuh oleh totokan. Seperti tadi, dia menjawab, "Sudah kukatakan bahwa Pangcu berada di Asrama! Buka kah tadi engkau datang berkunjung d melihat sendiri?" Sikap Si Gendut itu masih angkuh karena dia mengira bahwa kakek jembel yang disebut Sin-cia Kai-ong dan namanya amat terkenal ini agaknya jerih terhadap ketuanya, Koai-tung Sin-kai.

"Engkau bohong!" Kakek itu membentak. "Dia bukan Koai- tung Sin-kai. Dia hanyalah ketua yang palsu! Ya kutanyakan, di mana Koai-tung Sin-ka yang aseli?"

Si Gendut membelalakkan matanya jelas nampak bahwa dia kaget bukan main. "Siapa bilang bahwa Pangcu kami palsu?"

"Tak perlu kautahu siapa yang bilang, yang penting kaukatakan di mana Pangcu yang aseli? Dan siapakah ketua palsu itu sebenarnya?"

Si Gendut memandang dengan wajah berubah pucat, lalu membuang muka kesamping dan berkata, "Aku tidak tahu!" Sin-ciang Kai-ong menambah kayu kering pada api unggun di dekat mereka sehingga api bernyala tinggi dan sinar-menimpa Si Gendut yang pucat, kemudian, tiba-tiba tangan kiri kakek jembel itu bergerak, cepat bukan main dan dia sudah menotok dua kali, pertama ke arah leher, dan ke dua kalinya arah pundak.

Si Gendut terbelalak, mulutnya terbuka seperti hendak menjerit-jerit, akan tapi tidak ada suara keluar dari mulutnya, dan mukanya kini penuh kerut-kerut tanda bahwa dia menderita nyeri yang luar biasa hebatnya. Sin-ciang Kai-ong membiarkan dia menderita bebepa menit lamanya, lalu membebaskan totokannya sehingga rasa nyeri itu lenyap dan Si Gendut mampu bicara kembali.

"Nah, jawablah pertanyaanku dengan baik-baik. Di mana adanya pangcu yang aseli dan siapa pangcu yang palsu itu?" Si Gendut itu kini menangis. Rasa nyeri dan tak berdaya membuat dia dipenuhi rasa takut, sedih, dan penasaran.

"Aku………. aku tidak berani………. tidak berani menjawab "

Dia sudah mengatakan tidak berani, bukan tidak tahu lagi dan ini merupakan kemajuan, pikir Sin-ciang K ong. Tiba-tiba dia menyeret tubuh si Gendut, didekatkan pada api dan menarik lengannya, lalu membakar tangan kiri Si Gendut itu pada api unggun. Tercium bau sangit dan Si Gendut mengerang kesakitan. Ketika Sin-ciang Ka ong menarik kembali lengan itu, jari-jari tangan kiri Si Gendut melepuh hangus!

"Engkau masih belum berani jawab? Akan kubakar tubuhmu sedikit demi sedikit sampai habis terbakar!" kakek itu mengancam.

Si Gendut menjadi ketakutan. Ancaman bahaya dari ketuanya masih jauh, masih belum terasa, akan tetapi ancaman Sin-ciang Kai-ong ini sudah di depan mata dan sudah dirasakannya pula.

"Baiklah…….. aku …………. aku mengaku… "

Dengan suara tersendat-sendat dia lalu menceritakan keadaan Ang-kin Kai-pang yang aneh.Kiranya telah terjadi hal- hal hebat di dalam asrama Ang-kin Kai-pang. Seorang musuh besar dari Koai-tung Sin-kai, yaitu seorang datuk sesat dari selatan yang berjuluk Lam-Sin Hui Houw (Harimau Terbang dari Gunung Selatan), mendendam kepada Koai-tung Sin-kai yang menjadi ketua Ang-kin Kai-pang di kota raja. Pernah Si Harimau Terbang ini dihajar oleh Koai-tung Sin-kai dalam suatu bentrokan ketika datuk ini melakukan kejahatan di kota raja. Dengan hati penuh dendam, si Harimau Terbang melarikan diri kembali ke selatan di mana dia menggembleng diri dan memperdalam ilmu silatnya. Sepuluh tahun kemudian, menjadi seorang yang amat lihai dengan belasan orang anak buahnya yang sudah terlatih dan masing-masing memiliki kepandaian tinggi, kembalilah dia ke kota raja dan mengunjungi Ang-Kin Kai-pang.

Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, dia berhasil membalas kekalahannya, bahkan dia merobohkan Koai- tung Sin-kay, menangkapnya dan menawannya ke dalam tahanan di bawah tanah. Dia sendiri, dengan ilmu penyamaran yang telah dipelajarinya, lalu menyamar sebagai Koai-tung Sin-kai menjadi orang yang berkuasa di perkumpulan Ang-kin Kai- pang itu. Mulanya memang para anggauta perkumpulan itu merasa heran sekali akan perubahan sikap dan watak ketua mereka. Akan tetapi karena ketua mereka bersikap keras mereka pun tidak berani banyak bertanya. Apalagi ketua mereka itu mempunyai pembantu-pembantu yang amat lihai. Demikianlah, setahun yang lalu mulai terjadi perubahan besar dari perkumpulan pengemis itu.

"Ketua kami yang sekarang, yang menyamar sebagai Koai- tung Sin-kai sesungguhnya adalah Lam-san Hui-houw si Gendut mengakhiri ceritanya.

Sin-ciang Kai-ong mengangguk-angguk. Sudah diduganya demikian.

"Akan tetapi di mana adanya Koay-tung Sin-kai yang aseli? Ditawan di nana?"

"Di dalam kamar bawah tanah," kata Si Gendut yang sudah terlanjur membuat pengakuan. Dia merasa kepalang tanggung dan diceritakanlah tentang keadaan penjara bawah tanah itu. Yang ditawan di situ selain Koai-tung Sin-kai, juga ada kurang lebih sebelas orang pimpinan Ang-kin Kai-pang yang megetahui rahasia itu dan yang memberontak terhadap ketua palsu. Setelah menguras pengakuan dari Si Gendut itu, Sin-ciang Kai-ong lalu menotoknya lagi dan meninggalkan Si Gendut dalam keadaan tak mampu bergerak itu di dalam hutan. Tentu saja Si Gen¬dut ini ketakutan bukan main, bukan hanya takut kepada Lam-san Hui-hou yang rahasianya sudah dia buka, akan tetapi juga takut kalau-kalau muncul harimau atau binatang buas lain da menerkam dia yang tidak mampu bergerak karena tertotok itu. Rasa takutnya ini ternyata kemudian menjadi kenyataan. Terdengar gerengan-gerengan dalam hutan itu dan kalau orang melihat di mana Si Gendut itu ditinggalkan, dan hanya akan menemukan sisa-sisa pakaian dan potongan-potongan badan yang tidak sampai tertelan oleh binatang buas dan kini potongan-potongan itu pun sedang diperebutkan antara beberapa ekor anjing hutan dan burung- burung gagak dan pemakan bangkai yang lain.

Post a Comment