"Aku yakin bahwa telah terjadi sesuatu di Ang-kin Kai-pang, sesuatu yang yan amat dirahasiakan mengenai diri Koai tung Sin-kai yang sesungguhnya. Ini tentu ada hubungannya dengan perubahan sikap para anggauta Ang-kin Kai-pang yang condong untuk menjadi sewenang-wenang. Malam ini juga aku akan melakukan penyelidikan, apa yang terjadi dengan Lo-koai dan di mana dia sekarang berada. Kalian berdua menunggu saja di dalam hutan ini karena lebih leluasa melakukan penyelidikan sendirian saja."
"Akan tetapi, Suhu sedang sakit, biarlah teecu saja yang melakukan penyelidikan," kata Han Beng.
Kai-ong melirik ke arah Hui Im lalu menggelengkan kepalanya. "Penyakitku tidak penting, akan tetapi karena aku yang mengenal Lo-koai yang aseli, maka sebaiknya aku yang pergi sendiri Engkau dan Nona Souw bersembunyi dalam hutan ini dan engkau tentu dapat melindunginya kalau ada bahaya mengancam. Nah, aku pergi sekarang juga'" Kakek itu berkelebat dan lenyap dari situ, akan tetapi pendengarannya yang tajam dari Han Beng membuat dia mampu mendengar suara terbatuk-batuk itu dari jauh. Suhunya belum sembuh!
Setelah kakek itu pergi, Han Ben berdiri saling pandang dengan Hui Im. Sinar bulan memungkinkan mereka saling melihat wajah masing-masing, waalaupun hanya remang- remang. Han Beng melihat gadis itu menunduk dan menarik napas panjang. Tentu teringat akan keadaannya dan duka melanda hatinya la pikirnya. Untuk mengalihkan perhatian dia lalu berkata, "Nona, untuk mengusir nyamuk dan dingin, sebaiknya kita membuat api unggun." "Apakah tidak berbahaya? Bagaimana kalau terlihat oleh musuh?"
"Saya kira tidak, Nona. Kalau memang pihak Ang-kin Kai- pang hendak menyerang kita, tentu sudah dilakukan tadi ketika kita berada di sana. Agaknya mereka itu ragu-ragu dan jerih menghadapi Suhu yang namanya sudah terkenal sekali."
Han Beng mengumpulkan kayu kering lalu membuat api unggun. Mereka duduk menghadapi api unggun."Engkau mengaso dan tidurlah, Nona, biar aku yang berjaga di sini sambil menanti kembalinya Suhu."
Gadis itu menggeleng kepala dan merenung memandangi api yang merah.
"Bagaimana dalam keadaan seperti ini aku dapat tidur? Lo- cian-pwe sedang melakukan perjalanan berbahaya dan engkau sendiri juga melakukan penjagaan. Kalau kuingat, betapa bodohnya aku, Tai-hiap, mengira bahwa engkau seorang pengemis biasa. Tidak tahunya gurumu adalah seorang Lo-cian-pwe yang sakti dan engkau sendiri seorang pendekar yang memiliki ilmu silat tinggi."
"Ah, engkau terlalu memuji-muji Nona. Buktinya, aku tidak mampu melindungi Ayahmu dan Susiokmu sehingga mereka menjadi korban"
"Jumlah musuh terlalu banyak, Tai-hiap, dan Ayah bersama Susiok terlalu nekat. Mereka itu amat mendendam atas terbakarnya kuil Siauw-lim-si."
Keduanya berdiam diri sampai berapa lamanya, termenung memandang api unggun yang nyalanya merah keemasan. Tiba-tiba gadis itu mengangkat mukanya memandang. Mendengar gerak ini, Han Beng juga mengangkat muka Mereka saling pandang. "Tai-hiap……."
"Nona, kuharap engkau jangan menyebut aku tai-hiap. Sungguh tidak enak hati ini mendengarnya. Lihat, aku tidak hanya seorang pemuda jembel, sungguh menggelikan dan memalukan kalau terdengar orang lain seorang gadis seperti engkau menyebutku tai-hiap." Dia berhenti dan menatap wajah yang manis di bawah cahaya api unggun. "Namaku Han Beng, Nona."
Hui Im kelihatannya kebingungan, dan dengan gugup, seperti orang yang baru berkenalan dan saling memperkenalkan diri, ia pun menjawab. "Namaku Souw Hui Im ……… ah, lalu aku harus menyebut apa?"
"Terserah, asal jangan tai-hiap saja!" jawab Han Beng sambil tersenyum.
"Bolehkah aku menyebutmu Toako (Kakak Besar)?" "Tentu saja boleh," kata Han Beng dengan wajah berseri,
"dan aku akan menyebutmu Siauw-moi (Adik Kecil)."
Sejenak mereka diam, hanya menunduk. Perubahan panggilan itu saja amat terkesan di dalam hati masing-masing dan membuat mereka merasa malu-malu dan sungkan. Memang dua orang muda Ini memiliki watak yang sama, yaitu pendiam sehingga sukarlah bagi mereka untuk memulai bicara, tidak tahu apa vang harus mereka bicarakan. Akhirnya, dengan menekan hatinya mengumpulkan keberanian, Hui Im berkata dengan suara lirih.
"Twako, engkau telah mengetahui keadaan diriku. Aku kini yatim piatu tidak mempunyai apa-apa lagi. Akan tetapi aku belum mengetahui riwayatmu Twako. Sudikah engkau menceritakannya kepadaku?" Han Beng menarik napas panjang, Riwayatnya amat tidak menarik, akan tetapi dia teringat bahwa keadaannya yang mirip dengan keadaan gadis tentu akan dapat menghibur hati Hui membuka mata gadis itu bahwa ia tidak seorang diri saja hidup sebatangkara dunia ini, tidak mempunyai apa-apa! lalu dia memandang gadis itu dan tersenyum baru dia menjawab.
"Siauw-moi, keadaan diriku pun tidak banyak bedanya denganmu. Ayah ibuku telah tiada, tewas di tangan orang orang kang-ouw di Sungai Kuning ketika keluarga kami melarikan diri dari kerja paksa. Aku sendiri tidak tahu si pembunuh mereka, karena ketika itu terjadi keributan di antara orang-orang kang-ouw yang memperebutkan anak naga di Sungai Huang-ho. Aku tidak mempunyai keluarga lagi, sebatangkara dan seperti kaulihat, aku hidup dengan guruku, dan kami hanyalah pengemis-pengemis miskin yang tidak mempunyai tempat tinggal."
"Ahhhhh……… kasihan sekali engkau, Twako," kata gadis itu dengan tulus.
"Sudahlah, Siauw-moi, tidak ada gunanya kita memupuk iba diri seperti katakan Suhu tadi. Iba diri hanya menumbuhkan duka dan kecil hati. Bagaimanapun juga, kita masih hidup dan dunia ini cukup luas, bukan? Matahari beesok masih akan bersinar terang dan lihat, biairpun bulan
mulai tenggelam, sebagai gantinya nampak begitu banyaknya bintang cemerlang di langit. Sesungguhnya kita tidak sebatangkara di dunia ini, Siauw-moi. Bukankah banyak terdapat manusia-manusia budiman di dunia ini yang dapat kita harapkan menjadi keluarga kita?"
Gadis itu mengangguk. "Engkau benar, Twako. Ah, kalau tidak bertemu dengan engkau dan Lo-cian-pwe, entah bagaimana jadinya dengan diriku. Mungkin aku sudah putus asa menghadapi keadaan seperti ini." "Sudahlah, Siauw-moi, lebih baik engkau beristirahat. Engkau perlu mengumpulkan tenaga. Siapa tahu, tenagamu dibutuhkan besok. Tidurlah, biar aku yang berjaga di sini."
Karena merasa dirinya lelah sekali dan seluruh tubuh terasa lemas karena duka, gadis itu mengangguk, merebahkan diri miring dan sebentar saja pun napasannya yang lembut menunjukkan bahwa ia telah jatuh tidur. Sampai lama Han Beng mengamati wajah yang tidur pulas itu, wajah manis yang seperti sinar api unggun dan hatinya terger. Dia sendiri tidak mengerti mengapa sejak pertemuan pertama kali, sejak di diberi obat oleh gadis itu, dia merasa tertarik sekali, ada rasa suka dan kagum, dan kedua perasaan itu kini tambah dengan rasa iba yang mendalam. Ada perasaan di dalam hatinya untuk menghiburnya, untuk menyenangkan hatinya, untuk membahagiakan hidupnya.
Apakah yang dinamakan cinta? Dia tidak mampu menjawabnya.
Sementara itu, dengan cepat Sin-Ciang Kai-ong lari meninggalkan muridnya, bukan karena tergesa-gesa, melainkain karena dia tidak ingin kalau batuknya terdengar oleh murid itu. Sejak tadi dia sudah menahan diri, menahan agar tidak terbatuk, padahal kerongkongannya gatal sekali dan napasnya sesak. Ia tahu bahwa kesehatannya memang belum pulih. Dia harus bertindak cepat. Rahasia yang menyelimuti Ang-kin Kai-Kai.pang dan yang agaknya membuat perkumpulan itu berubah menjadi jahat, harus dapat dibongkarnya. Setelah tiba diluar tembok yang mengelilingi bangunan arang Ang-kin Kai-pang, dia lalu melakukan pengintaian. Kebetulan sekali dia melihat seorang anggauta perkumpulan itu yang bersabuk merah cerah, tanda bahwa dia bertingkat dua, keluar dari pintu gerbang. Diam-diam dia membayanginya dan pengemis yang usianya kurang lebih empat puluh tahun itu menuju ke sebuah rumah tak jauh dari sarang Ang-kin Kai-pang itu. Pengemis itu berperut gendut bertubuh agak pendek, mukanya merah d hidungnya besar. Dia mengetuk dan jendela rumah itu, bukan mengetuk pintu. Hal ini saja menimbulkan kecurigaan di hati Sin-ciang Kai-ong dan dia melakukan pengintaian tak jauh dari situ.
"Siapa?" terdengar suara wanita dari dalam, lirih. "Aku, Hong-moi, bukalah dan biarkan aku masuk."
"Ihhh, kenapa baru sekarang kau datang? Begini larut?" tegur suara warnita itu dan jendela belum juga dibuka.
"Gara-gara Sin-ciang Kai-ong keparat itu! Kami menjadi sibuk dan melakukkan penjagaan. Baru sekarang aku dapat meninggalkan gardu penjagaan, aku rindu kali padamu, bukalah jendelanya "
"Sudah terlalu larut, sebentar lagi suamiku pulang." "Aaahhh, jangan khawatir. Sebentar saja. Bukalah dan
biarkan aku masuk Manis… "
Daun jendela dibuka dari dalam dan biarpun tubuhnya gemuk dengan perut gendut, laki-laki itu meloncat dengan gesitnya bagaikan seekor burung saja meluncur ke dalam melalui jendela yang segera ditutup kembali.
Akan tetapi, belum ada lima menit Si gendut itu memasuki rumah itu, pintu depan diketuk orang dengan kerasnya. Seorang pria mengetuk pintu rumahnya, berteriak kepada penghuni rumah itu untuk membuka pintunya. Sin-ciang Kai- ong mengintai dari atas genteng dan mendengar suara wanita tadi di dalam rumah.
"Celaka! Itu suamiku datang! Lekas kau pergi, aku akan membuka pintunya." "Hemmm, jahanam itu! Berani dia mengganggu kesenanganku? Biar kuhajar mampus dia!"
"Jangan…….. , jangan ……. , dia itu suamiku ”
"Hemmm, jangan cerewet! Buka pin¬tunya dan biarkan dia masuk!" pengemis gendut itu membentak.