Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 54

Memuat...

"Lo-cian-pwe…….. Ayah dan Susiok tewas………!" Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena tangisnya sudah meledak-ledak, membuatnya sesenggukan.

"Tenanglah,Nona. Nyawa manusia berada di dalam tangan Tuhan, maka setiap kematian memang sudah dikehenki oleh Tuhan. Kita hanya dapat merima kenyataan ini, Nona."

"Nona, semua ini adalah karena kesalahanku!" kata Han Beng penuh semangat.

"Akulah yang bersalah, kalau aku tidak minta bantuan, mengemis obat kepada Nona, tentu tidak akan terjadi semua ini… " Han Beng merasa menyesal bukan main.

"Tidak, Tai-hiap.Engkau tidak bersalah. Bahkan engkau telah membantu kami sehingga engkau dimusuhi oleh pasukan keamanan."

"Sudahlah, tidak perlu mencari kambing hitam dalam suatu peristiwa, yang penting kini kita harus cepat menyempurnakan dua jenazah ini dan mengurus mereka baik-baik. Kebetulan di sini adalah daerah pemakaman kuno. Kalau tidak cepat-cepat dan kita terlambat mereka tentu akan melakukan pengejaran sehingga kita tidak sempat lagi untuk mengurus jenazah- jenazah ini. Kita bicara nanti setelah pemakaman." Mereka bertiga lalu menggali dua buah lubang tak jauh dari makam kuno itu untuk mengubur jenazah Souw Kun Tiong dan Gui Siong. Sambil bekerja menggali tanah kemudian mengubur jenazah ayahnya dan susioknya, tiada hentinya Hui Im menangis, walaupun dara ini sudah menahan diri untuk bersikap tenang. Air matanya tak pernah berhenti mengalir.

Setelah mereka berhasil mengubur kedua jenazah itu, Hui Im berlutut depan makan ayahnya sambil menangis sesenggukan. Han Beng menghiburnya.

"Sudahlah, Nona. Saya kira tidak perlu lagi Nona menyiksa diri, karena Ayahmu dan Susiokmu sudah dipanggil kembali oleh Tuhan Yang Maha Kuasa."

Hui Im tetap saja menangis, hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya.

"Nona Souw, yang kautangisi itu Ayahmu ataukan dirimu sendiri?" tiba-tiba Sin-ciang Kai-ong bertanya, biarpun mulutnya tersenyum-senyum namun bicaranya bersungguh- sungguh. Han Beng sendiri kaget mendengar pertanyaan yang aneh dan dianggapnya menyinggung perasaan itu. Mendengar pertanyaan ini, Hui Im menghentikan tangisnya, memandang kepada kakek itu dengan mata merah agak membengkak.

"Bagaimana Lo-cian-pwe dapat ber¬tanya seperti itu? Tentu saja saya menangisi Ayah………"

"Benarkah itu? Coba amati diri sendiri dan pikirkan baik- baik, Nona. Bagaimana engkau dapat menangisi Ayahmu yang sudah meninggal dunia? Dia telah terbebas dari segala macam penderitaan hidup, sudah meninggalkan tubuh yang selalu menjadi permainan suka dan duka, mengapa pula engkau menangisinya? Bukankah engkau menangis karena mengingat akan keadaanmu sendiri yang ditinggal pergi selamanya oleh Ayahmu yang kaucinta? Bukankah tangismu itu timbul dari perasaan iba kepada dirimu sendiri?"

Han Beng yang mendengarkan itu merasa heran. Selama lima tahun suhunya lebih banyak bersikap seperti orang yang kurang waras, selalu bergurau dan kadang-kadang amat nyaris Jarang sekali suhunya bersikap sungguh-sungguh seperti sekarang ini, dan hal ini menimbulkan kekhawatiran dari hatinya karena dianggapnya tidak wajar!

Sementara itu, Hui Im tadinya menjadi merah mukanya karena penasaran akan tetapi ketika ia mengingatkan dan mengamati diri sendiri, nampak lah olehnya betapa tepatnya ucapan kekek itu. Memang ia menangisi diri sendiri yang ditinggal ayahnya, sehinga kini ia hidup sebatangkara, dan melihat keadaan, tentu ia tidak akan dapat kembali lagi ke rumahnya yang akan disita oleh pasukan keamanan. Ia kehilangan segala-galanya! Satu-satu keluarganya adalah ayahnya. Ia kehilangan ayahnya, susioknya, dan seluruh harta bendanya, bahkan rumahnya. Ia menjadi yatim piatu yang sebatangkara, tidak memiliki lagi tempat tinggal dan harta benda.

"Tapi saya merasa kasihan kepada Ayah. Gara-gara perbuatan saya maka Ayah sampai menderita, dikeroyok sehingga tewas "

"Ketika Ayahmu dikeroyok dan menderita luka-luka, memang dia sengsara dan sepatutnya kalau engkau iba kepadanya. Akan tetapi sekarang? Ayahmu sudah tidak menderita apa-apa lagi, se¬tidaknya tubuhnya tidak lagi merasakan apa-apa, tidak menderita. Tentang jiwanya, siapa yang tahu? Kalau kita tidak tahu bagaimana keadaannya, bagaimana mungkin kita merasa kasihan? Siapa tahu dia sekarang berbahagia, mudah-mudahan saja begitu."

Hui Im yang mempergunakan pikiran untuk mempertimbangkan ucapan kakek itu, tanpa disadarinya sendiri lah berhenti menangis! "Saya dapat mengerti apa yang Lo-cian-pwe maksudkan sekarang. Memang saya menangisi diri sendiri, akan tetapi apa salahnya Lo-cian-pwe? Baru saja saya kehilangan segalanya. Ayah dan Susiok tewas, saya tidak mungkin pulang ke rumah yang tentu disita pemerintah. Saya kehilangan segala-galanya, hidup yatim piatu dan sebatangkara tidak memiliki apa-apa. Siapakah orangnya yang tidak akan berduka?"

Tiba-tiba kakek itu tertawa. Han Beng mengerutkan alisnya. Wah, gurunya kini agaknya kambuh kembali, datang lagi penyakit lamanya, dan dia takut kalau-kalau gadis itu akan tersinggung. Hui Im tidak tersinggung melainkan heran memandang kepada kakek yang tertawa-tawa itu. Pandang matanya menegur dan bertanya mengapa kakek itu tertawa seperti itu melihat ia sedang dilanda kesengsaraan!

"Ha-ha-ha-ha, Nona yang baik hati, ke mana perginya kedukaanmu tadi? Engkau tidak menangis lagi, tidak ada lagi kedukaan membayang di wajahmu! Mengapa? Heh-heh, karena duka itu hanya permainan pikiranmu sendiri saja. Pikiranmu itu mengingat-ingat akan keadaanmu, semua kehilangan dan penderitaan, maka muncullah iba-diri dan engkau pun menangis, merasa sengsara, begitu pikiranmu beralih dan memperhatikan percakapan dengan aku, maka hilang pula kedukaan itu tanpa bekas! Nanti kalau kauingat lagi, engkau akan berduka lagi."

Hui Im mengerutkan alisnya, melihat kebenaran yang tersembunyi dalam ucapan kakek itu. "Akan tetapi, Lo-cian-we, apakah tidak boleh saya berduka?"

"Bukan tidak boleh, hanya apakah gunanya berduka, Nona? Hidup penuh penderitaan kalau kita membiarkan pikiran berkuasa. Segala yang terjadi adalah suatu kewajaran. Ayahmu tewas, hartamu habis, semua itu wajar, karena semua itu terjadi atas kehendak Tuhan! Dan semua kehendak Tuhan terjadilah! Tidak ada kekuasaan apa pun yang akan mampu mencegahnya. Dan Tuhan Maha Kasih Segala kehendakNya yang terjadi adalah adil dan baik, demi kebaikan kita! hanya kita tidak mengerti akan raba yang tersembunyidibalik semua peristiwa itu. Percayalah kepada Tuhan anak baik, dan serahkan segalanya kepada Tuhan. Apa yang nampak ini semua hanya seperti mimpi belaka, seperti gelembung- gelembung sabun yang setiap saat akan meletus dan lenyap. Semua tidak kekal, hanya sementara saja, maka jangan kaget kalau sewaktu-waktu semua ini akan lenyap meninggalkan kita. Bahkan tubuh ini pun tidak kekal, kita harus siap untuk sewaktu-waktu meningalkannya! Jadi, apa yang perlu disalahkan? Tidak ada! Ha-ha-ha, tidak ada yang patut disusahkan, kita bahkan harus selalu gembira, melihat tontonan yang amat menarik ini, tontonan kehidupan manusia."

Han Beng menundukkan mukan Alangkah bijaksananya gurunya itu, waIaupun sikapnya seperti orang sinting. Dia dapat mengerti akan semua ucapan tadi, dan dia merasa betapa kecilnya lirihnya, betapa lemah dan tidak berarti, bahkan tidak berdaya dalam kekuasaan Alam Semesta.

"Lo-cian-pwe, apakah kalau sudah k-gitu, kalau kita sudah percaya sepenuhnya kepada Tuhan, sudah pasrah segalanya kepada Tuhan, kita akan selamat? Apa perlunya kita berobat kalau sakit, menghindar kalau ada bahaya mengancam? Bukankah kita lalu menjadi diam saja dan memasrahkan segalanya kepada Tuhan?" Dalam pertanyaan ini terkandung rasa penasaran. Maklum, seorang pdis muda seperti Hui Im, tidak mudah menangkap inti dari semua ucapan kakek Itu yang mengandung makna dalam sekali.

Mendengar pertanyaan gadis itu, Sin-Ciang Kai-ong kembali tertawa.

"Ha-ha-ha, bukan begitu,Nona. Kita diciptakan sebagai mahluk hidup yang tergerak, kita wajib untuk berikhtiar, menjaga dan memelihara diri, namun dengan dasar iman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kalau kita sakit, sudah menjadi kewajiban kita untuk berikhtiar mencari penyembuhannya dengan pengobatan, namun dasarnya harus iman penyerahan kepada Tuhan. Apa pun ya ngditentukan Tuhan, tidak perlu diterima dengan penasaran! Itulah iman! Dunia hanya permainan pikiran. Susah senang hanya timbul karena pikiran ini menimbang-nimbang, membanding-bandingkan memperhitungkan untung rugi yang semuanya bersumber kepada si-aku! padahal, siapakah si-aku ini? Siapakah aku ini? Pernahkah Nona mempertanyakan hal ini kepada diri sendiri! Han Beng, pernahkah engkau bertanya kepada diri sendiri siapakah dirimu dan siapakah engkau?"

Han Beng terbelalak memandang gurunya. Belum pernah dia bertanya seperti itu, dan mengapa pula harus bertanya? Apakah gurunya ini sudah kumat lagi sintingnya? Kenapa orang harus bertanya siapa dirinya? Siapakah aku ini?

Karena dia dan Hui Im tidak menjawab pertanyaan itu, Sin- ciang Kai ong yang agaknya juga tidak mengharapkan jawaban, lalu bernyanyi!

"Siapakah aku ini?

aku bukanlah tubuh yang rapuh ini aku bukanlah pikiran yang kacau ini

aku bukanlah perasaan yang berubah-ubah ini aku bukanlah akal budi yang curang ini

semua itu hanyalah alat bagiku

sangkar rumah tempat tinggalku sementara semua itu akan menjadi tua

lalu lemah tak berdaya

lalu mati, kembali pada debu hampa!

Siapakah aku ini?

Post a Comment