"Benar sekali, Lo-cian-pwe. Koai Tung Sin-kai adalah ketua dari "Ang-kin Kai-pang," kata Souw Sian-seng.
"Nahhh! Aku sudah mengenal baik orang itu! Dan dia bukan orang jahat sama sekali, bahkan dia menjunjung tinggi- kebenaran dan bahkan menentang kaitan dan penindasan. Bagaimana seorang anak muridnya dapat bersikap seperti itu?"
"Memang benar sekali apa yang Lo-cian-pwe katakan. Memang dahulu Ang-kin Kai-pang terkenal sebagai perkumpulan yang baik. Biarpun anggauta-anggotanya mengemis, akan tetapi tidak pernah melakukan kejahatan, bahkan suka membantu kalau rakyat diperas dan ditekan oleh mereka yang berkuasa. Akan tapi akhir-akhir ini, sudah kurang lebih setahun lamanya, anggauta Ang-kin Kai-pang berubah. Banyak anggauta baru dan mereka ini bersikap tidak lagi sebagai pengemis, melainkan lebih mirip penodong, perampok dan tukang-tukang pukul. Tak ada yang berani menentang karena selain di antara mereka terdapat banyak orang lihai, juga mereka dekat dengan para pembesar yang berpangkat tinggi."
Kemudian, Souw Sian-seng membujuk Sin-ciang Kai-ong untuk beristirahat saja di rumahnya agar lebih terawat dan dekat dengan ahli dan obat-obatannya. Setelah Gui Siong ikut membujuk, akhirnya Sin-ciang Kai-ong menerima undangan ini dan pergilah mereka berempat ke rumah Souw Sian-seng. Rumahnya menjadi satu dengan toko obatnya, di bagian belakang dan cukup luas.
Bukan main girangnya rasa hati Hui Im ketika menerima dua orang tamunya itu. Sinar matanya yang bening itu kadang- kadang menyambar ke arah Han Beng, sinar matanya yang tajam bersinar akan tetapi kalau bertemu pandang, ia pun menunduk dan sikapnya malu-malu. Han Beng sendiri kagum bukan main kepada gadis itu, kagum dan juga suka karena gadis cantik itu selain gagah perkasa, lihai dan pemberani, juga berhati lembut dan suka menolong.
Souw Sian-seng yang duda itu menjamu Sin-ciang Kai-ong dan muridnya dengan hati gembira. Dia telah memeriksa keadaan tubuh kakek jembel itu dan dengan lega mendapatkan bahwa penyakitnya tidaklah berbahaya, penyakit biasa yang suka mengganggu orang lanjut usia. Dengan istirahat dan pengobatan yang cepat, dalam waktu beberapa hari saja kakek itu akan pulih kembali kesehatannya, apalagi dia memiliki tubuh yang amat kuat.
Akan tetapi, selagi pihak tuan rumah menjamu Han Beng dan gurunya, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk di luar toko yang sudah ditutup pada sore hari itu. Seorang pelayan berlari memasuki ruangan makan dengan muka pucat dan melapor kepada Souw Sian-seng dengan suara gagap. "Celaka, Loya orang-orang Ang-Kin Kai-pang dan
sepasukan perajurit keamanan…… berada di depan rumah……!"
Mendengar ini, Souw Kun Tiong cepat keluar, diikuti oleh Souw Hui Im juga Gui Siong. Han Beng dan gurunya saling pandang, kemudian Sin-ciang Kai-ong yang sudah mendengar keterangan muridnya tentang peristiwa dengan Ang-kin Kai- pang itu menyatakan kekhawatirannya.
"Aih, kalau sampai keluarga Souw tertimpa malapetaka yang disebabkan oleh kita, sungguh membuat hatiku merasa tidak enak sekali. Kita harus turun bertanggung jawab, Han Beng. Mari kita keluar!"
Ketika guru dan murid ini keluar, ternyata bagian depan rumah itu telah dikepung oleh belasan orang yang berpakaian pengemis sabuk merah, juga ada dua puluh orang lebih perajurit keamanan yang dipimpin seorang perwira. Mereka mendengar perdebatan antara Souw Sian-seng dan para pimpinan pengemis juga terdengar suara perwira itu membentak-bentak.
"Orang she Souw! Engkau berani menyembunyikan mata- mata pembcrontak! Hayo keluarkan orang itu dan berikan kepada kami, dan kalian sekeluarga juga harus ikut ke benteng untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kalian!"
Souw Sian-seng membantah dengan suara lantang. "Ciangkun, harap tidak mendengarkan fitnah keji. Selama bertahun-tahun, kami keluarga Souw tinggal dengan aman dan damai di sini, tidak pernah membuat kekacauan dan siapakah yang tidak mengenal kami sebagai ahli ngobatan yang sudah banyak menolong orang sakit? Bahkan di antara para perwira dalam benteng sudah banyak yang Kami sembuhkan… " "Bohong, Ciangkun! Dia adalah serang murid Siauw-lim- pai!" tiba-tiba seorang di antara para pimpinan pengemis itu berseru. Kagetlah Souw Sian-eng. Dia tahu bahwa keadaannya menjadi semakin gawat kalau orang-orang itu sudah tahu bahwa dia seorang murid Siauw-lim-pai, apalagi mengingat bahwa sutenya yang berada di sebelahnya itu adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang lolos dari kuil Siauw- lim-pai yang dibakar.
"Memang kuakui bahwa ilmu silatku bersumber dari ilmu silat Siauw-lim-pai akan tetapi ilmu silat mana yang tidak bersumber dari sana? Aku, bukan murid……."
"Ciangkun, orang kurus bermata lebar itu seorang di antara murid Siau lim-pai yang memberontak! Aku ingat benar! Dia seorang di antara lima murid Siauw-lim-pai yang mengamuk di Ki-nyan-tung!"
Kini Gui Siong yang terkejut. Dia adalah seorang buruan, dan dia tidak takut akan bahaya yang mengancam dirinya, hanya dia menyesal sekali bahwa kini suhengnya yang hidup aman di kota raja ini akan menanggung akibat dari persembunyiannya di situ!
Pada saat itu, Han Beng dan Sin-ciang Kai-ong muncul. Melihat mereka! perajurit yang tadi berteriak segera mengenal mereka. "Nah, itu dia yang membantu para murid Siauw-lim- pai! Pengemis tua itu yang menendang roboh padaku, dan pemuda tinggi besar itu ikut mengamuk!"
Kini tidak ada jalan lain lagi untuk menyangkal. Souw Sian- seng memang sudah siap siaga menghadapi segala kemungkinan semenjak Gui Siong berada tempat tinggalnya. Kini, dia sudah meloncat ke depan sambil mencabut pedangnya, langsung saja menyerang pengemis yang tadi membocorkan rahasianya sebagai murid Siauw-lim-pai. Pengemis itu menangkis dengan tongkatnya, akan tetapi tongkat itu patah dan pedang di tangan Souw Sian-seng sudah melukai pundaknya sehingga dia jatuh terguling dan berteriak kesakitan. Segera ada banyak sekali tongkat yang mengeroyok tabib itu. Melihat suhengnya sudah mengamuk, Gui Siong yang merasa betapa kehadirannya yang menyebabkan keributan itu, segera mencabut pula pedangnya dan mengamuk.
"Ayah, mari kita hajar anjing-anjing jahat ini!" Hui Im juga membentak dan dia pun sudah melompat ke depan, mengenakan pedang yang sudah dipersiapkannya untuk membantu ayah dan susioknya. Memang sementara keributan pagi tadi dengan orang-orang Ang-kin Kai-pang, keluarga ini sudah mempersiapkan pedang agar setiap saat dapat membela diri.
Melihat betapa pihak tuan rumah sudah terjun ke dalam perkelahian dan dikeroyok banyak orang yang rata-rata lihai, Han Beng menoleh kepada gurunya.
"Suhu, apa yang harus teecu lakukan?" Selama ini suhunya itu selalu menekankan bahwa dia harus hidup sebagai seorang pendekar yang menentang para penindas dan penjahat, akan tetapi suhunya juga berpesan agar dia tidak memusuhi pemerintah karena kalau dicap pemberontak maka akan sukarlah mencari tempat yang aman bagi kehidupannya.
Sin-ciang Kai-ong menarik napas panjang. "Wah, agaknya Ang-kin Kai-ong yang telah bersekutu dengan pasukan keamanan dan kalau pembesar sudah bersekutu dengan orang-orang yang jahat dan menyeleweng, sungguh tidak tahu lagi aku apa yang harus kita akukan. Akan tetapi, jelas bahwa keluarga Souw terancam maka kita harus menolong dan Menyelamatkan mereka."
Pernyataan suhunya ini amat ditunggu-tunggu oleh Han Beng, maka tanpa banyak cakap lagi dia pun lalu terjun kedalam gelanggang perkelahian, dengan tamparan dan tendangannya dia merobohkan tiga orang pengeroyok yang membikin repot Hui Im. Selanjutnya ia melindungi gadis itu dari pengeroyokan. Sin-ciang Kai-ong masih ragu-ragu. Dia sudah tua dan sedang tidak sehat, menggunakan tenaga untuk berkelahi dapat membahayakan nyawanya sendiri. Pula, dia pun tahu bahwa kedaan amatlah berbahaya. Mereka itu relawan pasukan pemerintah, berarti pemberontak, dan perkelahian itu terjadi di kota raja! Dalam waktu singkat saja tentu akan bermunculan ratusan atau mungkin ribuan pasukan keamanan. Dan di kota raja menjadi gudang dari para perwira tinggi yang memiliki kepandaian tinggi! Akan tetapi, keraguannya lenyap ketika dia melihat betapa tubuh Souw Sian-seng dan Cui Siong sudah berlumuran darah oleh luka- luka yang mereka derita. Walaupun kedua suheng dan sute ini mengamuk, namun para pengeroyok mereka itu pun rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan, dan dikeroyok demikian banyaknya, akhirnya mereka pasti luka-luka.
"Han Beng! Nona! Kalian tolong Souw enghiong dan Cui- enghiong melarikan diri, biar aku yang menahan mereka Tiba- tiba kakek ini terjun ke dalam pertempuran dan dengan gerakan kedua lengan bajunya yang tambal-tambalan dia menyapu roboh beberapa orang. Gerakan kakek ini memang hebat bukan main. Kedua lengan bajunya yang lebar itu mengeluarkan angin yang bagaikan badai. Baru terkena anginnya saja, orang-orang yang berada dekat dengannya terpelanting roboh, apalagi yang sampai tercium ujung lengan baju. Tenaga sakti yang keluar dari kedua lengannya amat dahsyat.
Juga amukan Han Beng yang bertangan kosong itu hampir sama dengan suhunya, kalau tidak malah lebih hebat lagi. Pemuda ini selama lima tahun telah warisi ilmu kepandaian Sin-ciang Kay-ong setelah dia mewarisi ilmu kepandaian Sin- tiauw Liu Bhok Ki. Tamparan dan tendangannya pasti merobohkan seorang lawan, walaupun mereka itu sudah mencoba untuk mengelak dan menang¬kisnya. Tangkisan senjata tajam tidak dipedulikan oleh Han Beng. Senjata yang bertemu dengan lengan atau kakinya terpentai diikuti robohnya pemilik senjata itu. Mendengar seruan gurunya, Han Beng juga maklum. Kalau dilanjutkan, tentu akan datang bala bantuan yang amat banyak karena mereka berada di kota raja. Kalau sampai lambat melarikan diri, dapat berbahaya sekali.
"Nona, mari kita larikan Ayahmu dan paman Gurumu!" katanya. Hui Im yang tadinya repot menghadapi pengeroyokan banyak orang, kemudian keadaannya menjadi ringan setelah pemuda perkasa itu mengamuk di sebelahnya dan melindunginya, mengangguk karena ia pun melihat betapa ayahnya dan susioknya telah menderita luka-luka berdarah. Keduanya lalu cepat mengamuk mendekap dua orang yang luka-luka itu. Ketika Han Beng tiba di situ, dia melihat keadaan Souw Sian-seng sudah payah dan terhuyung-huyung. Maka dia pun cepat menangkap tubuh orang tua itu, memanggulnya, dan mempergunakan pedangnya untuk melindungi diri mereka, juga melindungi Hui Im yang sudah menggandeng tangan susioknya diajak lari. Jalan untuk lari sudah terbuka karena Sin-ciang Kai-ong sudah mengamuk lebih dahulu membuka jalan. Larilah mereka, Han Beng memondong tubuh Souw Sian-sen dan Hui Im menggandeng dan menarik susioknya yang juga sudah terhuyung huyung.
Sin-ciang Kai -ong menghalangi setiap orang yang hendak melakukan pengejaran. Dengan kedua lengan bajunya dia merobohkan lebih dari dua puluh orang, dan sisanya, yaitu perwira pasukan dan beberapa orang pimpinan Ang kin Kai.- pang masih mengepung dan mengeroyoknya. Tiba-tiba dia mengeluarkan teriakan yang dahsyat, seperti harimau mengancam, dan belasan orang yang mengeroyok itu terkejut, merasa kaki mereka seperti mendadak lumpuh dan mereka tidak mampu mempertahankan diri ketika kedua lengan baju itu menyambar nyambar. Mereka berpelantingan dan kesempatan ini dipergunakan oleh Sin ciang Kai -ong untuk meloncat jauh dan pergi menyusul muridnya dan yang lain lainnya. Dia tahu ke mana Han Beng membawa mereka. Tentu ke hutan lebat di mana terdapat kuburan kuno yang pernah menjadi tempat tinggal selama dua hari di luar kota raja. Benar saja dugaannya.Han Beng, Hui Im, Souw Sian-seng dan Gui Siong memang berada di tempat itu. Akan tetapi ketika Sin-ciang Kai-ong tiba di situ, mendapatkan bahwa dua orang yang terluka parah itu telah meninggal dunia dan Hui Im memeluki jenazah ayahnya sambil menangis sedangkan Han Beng duduk bersila termangu-mangu.Kakek ini menarik napas panjang berulang-ulang lalu ikut bersila di dekat Han Beng menghadapi dua jenazah yang rebah tentang. Melihat Sin- ciang Kai-ong, Hui Im merintih dan berlutut di depan kakek itu.