Han Beng terkejut disebut tai-hiap (pendekar besar).Dia mengerutkan alisnya. "Maaf, saya tidak mengenal Dan
perkenankan saya mengantarkan obat ini kepada guruku… "
"Bukankah Tai-hiap yang bernama Han Beng?" Cui Siong melanjutkan cepat-cepat dan lirih agar tidak terdengar orang lain. Han Beng kembali terkejut.
"Tai-hiap tentu belum lupa, lima tahun yang lalu, di dusun Ki-nyan-tung Bukankah kita pernah bekerja sama membela rakyat dusun itu dari tekanan Hek-i-wi…… ?"
"Ohhh… !" kini Han Beng teringat. Kiranya orang ini
adalah satu di antara lima orang murid Siauw lim-pai yang mengamuk dan membela penduduk dusun itu "Kiranya Tuan adalah… "
"Namaku Gui Siong, Tai-hiap. Dan kalau boleh saya bertanya, siapakah yang sakit?"
"Guruku, dia Sin-ciang Kai-ong……"
"Ahhh! Jadi beliau itu menjadi guru Tai-hiap? Suheng, dengarkah Suheng sekarang? Kita harus berkunjung dan memberi hormat kepada Lo-cian-pwe itu, dan mengundang mereka ke sini untuk beristirahat dan berobat, sambil bercakap-cakap!"
Kini Souw Sian-seng baru yakin dan ia pun cepat memberi hormat kepada Han Beng. "Maafkan kami, Tai-hiap. sudah lama mendengar nama besar Tai-hiap dan Lo-cian-pwe Sian- ciang Kai-ong. Marilah kami antar Tai-hiap menemui guru Tai- hiap."
Han Beng mengangguk, merasa tidak enak berada lebih lama di tempat itu. Dia lalu menghadapi Souw Hui Im dan menjura, "Sekali lagi, terima kasih, Nona." Dan pergilah dia bersama dua orang itu menuju ke pintu gerbang kota raja sebelah barat. Hui Im sejak tadi bengong saja seperti telah berubah menjadi patung! Bahkan ketika Han Beng bicara kepadanya, ia hanya dapat memandang kepada pemuda itu seperti seorang yang melihat munculnya dewa di siang hari! Tentu saja ia pun seperti ayahnya pernah mendengar cerita susiok-nya Gui Siong tentang munculnya seorang pendekar muda yang dijuluki Sin-Liong (Naga Sakti) bernama Si Han Beng yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian setinggi gunung, juga ia pernah mendengar akan nama Sin-ciang Kai- ong yang namanya menjulang setinggi langit. Dan pada itu kini, ia telah memberi sedekah obat kepada Sin-liong itu, untuk mengobati gurunya yang ternyata adalah Sin-ciang Kai-ong! Seperti seorang anak kecil, ia pun berlompatan masuk kedalam tokonya, wajahnya riang gembira namun kadang- kadang jantungnya berdebar dan mukanya berubah merah ketika teringat kepada wajah Han Beng!
oooOOOooo
Sin-ciang Kai-ong memang jatuh sakit. Tubuhnya seperti menjadi medan perang antara panas dan dingin. Kadang- kadang dia merasa tubuhnya panas seperti dibakar, kadang- kadang dingin seperti akan membeku, dan kalau sudah datang batuknya, maka batuknya itu susul menyusul dan terus menerus membuat dadanya terasa sesak!
Akhirnya terpaksa dia dan muridnya yang tiba di kota raja, menghentikan perantauan mereka dan Sin-ciang Kai-ong tinggal di sebuah kuil tua yang tidak terpakai lagi, di sebuah bukit di sebelah barat kota raja. Siang hari itu, terdengar dia terbatuk-batuk sehingga dia tidak tahu bahwa muridnya dan dua orang laki-laki memasuki kuil tua itu.
"Suhu...!" kata Han Beng sambil berlulut di depan suhunya yang rebah miring menghadapi dinding.
"Ah, kau sudah datang, Han Beng……… ukh-ukh-uhh!" "Suhu, teecu datang bersama dua orang yang ingin
menghadap Suhu." Sin-ciang Kai-ong bangkit dan memutar tubuhnya, melihat dua orang yang lah duduk bersila di situ dengan sikap hormat. Souw Sian-seng dan Gui Siong segera memberi hormat kepada pengemis tua itu.
"Lo-cian-pwe, saya Souw Kun Tiong orang murid luar Siauw-lim-pai."
"Saya sutenya, Lo-cian-pwe, bernama Gui Siong dan saya pernah berjumpa dengan Lo-cian-pwe ketika bersama-sama membela penduduk Ki-nyan-tung. Saya seorang murid Siauw- lim-pai." Sin-ciang Kai-ong, biarpun kelihatan bahwa dia sedang menderita sakit wajahnya pucat dan mukanya penuh keringat, nampak gembira ketika mendengar pengakuan mereka itu.
"Ah, kiranya orang-orang gagah dari Siauw-lim-pai yang datang! Selamat datang, selamat datang! Hei Han Beng bagaimana engkau sampai dapat bertemu mereka dan membawa mereka ke tempat kita yang kotor ini?"
Han Beng lalu menceritakan tentang peristiwa ketika dia minta obat kepada puteri Souw Sian-seng tadi selanjutnya pertemuannya dengan So Sian-seng dan Gui Siong.
Mendengar ini, Sin-ciang Kai-ong mengerutkan alisnya.
"Ah, bagaimana mungkin itu? Ang-kin Kai-pang adalah perkumpulan pengemis di kota raja yang dipimpin oleh Koai- tung Sin-kai, bukan?" Pertanyaan ini bukan oleh kakek jembel itu kepada Han Beng dan dua orang murid Siauw-lim-pai.