"Keparat! Di mana mereka yang memalukan itu?"
"Mereka lari dan kukejar. Mari kita lihat, di sana mereka!"
Keduanya berkelebat lenyap dan sebentar saja, Ban-tok Mo-li dan Ouw Kok Sian telah berdiri di dekat tubuh Gak Su yang lagi sudah tidak bernyawa dan tubuh Ji Ban To yang tidak bergerak, akan tetapi masih hidup. Melihat gurunya, Ji Ban To mengeluh dan merintih. Melihat gurunya datang bersama Ban-tok Mo-li, tahulah dia bahwa gurunya tidak akan membelanya. "Suhu………, ampunkan teecu. " katanya
memelas.
Dengan alis berkerut dan pandang mata marah, Ouw Kok Sian membentak,
"Benarkah engkau dan Sutemu yang melakukan penghinaan terhadap murid Ban-tok Mo-li?"
"Suhu, kami berdua………tergila-gila olehnya…… akan tetapi… Giok Cu menolak dan memukuli kami, terpaksa kami
mengikatnya……. tapi teecu… Teecu tidak memperkosanya,
hanya menciumnya " kata Ji Ban To dengan suara yang
tidak jelas karena mulutnya membengkak dan menghitam. "Ampunkan teecu, Suhu……"
Ouw Kok Sian menarik napas panjang. Bagaimanapun juga, Ji Ban To adalah muridnya, murid pertama. Dia menoleh kepada Ban-tok Mo-li. engkau telah membunuh muridku Gak Su sebaga hukuman. Apakah engkau tidak dapat mengampuni muridku yang satu ini? Dia pun telah mendapatkan hukuman, apakah itu belum memuaskan hatimu?" "Ouw Kok Sian, engkau dan dua orang muridmu adalah tamu-tamu yang ku sambut dengan hormat dan dengan baik- baik. Akan tetapi dua orang muridmu telah menghina muridku. Aku telah membunuh seorang muridmu dan melukai muridmu yang ini, bagaimana pendapatmu? Apakah engkau tidak terima dan hendak menuntut balas?" Dalam ucapan itu terkandung kemarahan dan tantangan.
Ouw Kok Sian menarik napas panjang. "Aku sudah tahu akan kelihaianmu, Ban-tok Mo-li, akan tetapi bukan berarti aku takut padamu kalau kukatakan bahwa aku tidak ingin menuntut balas, aku mengerti sepenuhnya akan kemarahanmu dan aku mengakui kesalahan murid-muridku, maka aku mintakan maaf untuk mereka, dan kalau mungkin, ampunkanlah muridku Ji Ban To ini."
Wajah yang tadinya nampak marah itu melunak. Kalau gurunya sudah mengikut kesalahannya, maka itu pun cukuplah. Pula, rasa penasaran karena hinaan yang menimpa muridnya itu telah ditebus dengan nyawa seorang murid, dan murid yang lain juga akan mampus kalau ia tidak mengampuninya.
"Baiklah, melihat mukamu, biar aku mengampuni muridmu ini, Ouw Kok Sian. berikan obat ini kepadanya, minumkan dan sebagian untuk mengobati mulutnya, dan kau dapat mengusir hawa beracun dengan sin-kangmu." la mengelua kan sebungkus obat bubuk kuning dari saku bajunya, menyerahkan bungkusan obat itu kepada Ouw Kok Sian. Si Tinggi Besar ini menerimanya tanpa malu-malu lagi. Dia pun seorang tokoh dunia kang-ouw yang berpengalaman. Kalau hanya mengobati luka-luka biasa saja atau luka beracun yang tidak terlalu hebat, dia masih sanggup. Akan tetapi dunia ini, siapa mampu mengobati luka beracun akibat pukulan Ban-tok Mo-li?
Ban-tok Mo-li lalu meninggalkan tamunya yang mulai mengobati Ji BanTo lalu ia lari menghampiri muridnya, membuka ikatan kaki tangannya, dan membantu muridnya mengenakan pakaian Kemudian mereka berdua pun pulang dandi dalam perjalanan itu, Ban-tok M li mengomeli muridnya.
"Sikapmu di ruangan sembahyang tadi sungguh tidak menyenangkan hatiku, Giok Cu. Engkau bahkan nyaris membikin malu hatiku, sungguh aku kecewa sekali padamu."
"Maaf, Subo. Akan tetapi hatiku tidak tahan melihat dua orang yang tidak berdosa itu akan dibunuh begitu saja!"
"Hemmm, engkau tahu bahwa mereka tu dijadikan korban.Gurumu ini beraba untuk mendapatkan berkah usia panjang, tentu saja dengan jalan menyerahkan korban. Kalau yang dijadikan syarat itu korban berupa binatang apa pun, tentu akan kupenuhi. Syaratnya ialah sepasang manusia, maka harus la dipenuhi. Engkau seperti anak kecil saja. Dan kulihat, perbuatanmu itu ternyata dikutuk oleh Thian-te Kwi- ong sendiri. Buktinya, begitu engkau mengacaukan upacara penyerahan korban, engkau hampir tertimpa malapetaka di pantai itu tadi. Kalau aku tidak kebetulan sedang mencarimu, apakah engkau akan dapat menyelamatkan diri? Engkau tentu sudah menjadi korban perkosaan dan sebulan kemudian engkau mati tersiksa!"