"Kalian jahanam busuk! Anjing keparat.Lepaskan aku… !
Jangan ……., jangan ganggu aku… !" Akan tetapi, mulutnya
sudah ditutup dengan ciuman mereka berganti-ganti. Giok Cu merasa muak dan jijik mau muntah rasanya. Akan tetapi rasa takut mengatasi semua rasa jijik ini matanya terbelalak, jiwanya meronta, tahu bahwa ia sama sekali tidak berdaya dan sebentar lagi tentu ia akan diperkosa, Membayangkan ini, ia hampir pingsan Tidak, ia tidak boleh pingsan. Ia tidak boleh membiarkan mereka memperkosanya! Ia harus mencari akal. Dua orang pemuda itu seperti dua ekor ikan menperebutkan makanan, menciumi muka dan mulut Giok Cu dan tangan mereka meraba dan membelai.
"Ji Ban To dan Gak Su, nanti dulu… nanti dulu, dengarkan
omonganku…… “ Giok Cu berkata sedapat mungkin diantara ciuman-ciuman mereka yang semakin panas. Ia pun mulai merasa ngeri mengingat akan tanda tahi lalat merah kecil di bawah siku lengan kirinya. Bukankah subonya pernah memberitahu kepadanya bahwa kalau keperawanannya hilang tanda itu akan lenyap dan dalam waktu sebulan ia akan mati? Ia akan diperkosa kehilangan kehormatannya secara hina sekali, kemudian ia akan mati!
"Nanti dulu, dengarkan aku… " kata-katanya membujuk.
Dua orang pemuda itu sambil menyeringai menghentikan ciuman dan rabaan mereka. "Hem, Manis, engkau sungguh cantik dan panas! Engkau mau bicara apa, sayang?"
Giok Cu tersenyum, senyum yang manis sekali! Dua orang pemuda itu terpesona dan merasa girang.Gadis itu tersenyum kepada mereka! Agaknya, ciuman dan belaian mereka tadi membuat gadis itu pun mulai menikmati permainan cinta mereka. "Kalian ini sungguh dua orang laki laki yang bodoh sekali. Bagaimana kita dapat menikmati permainan cinta kalau aku tertotok seperti ini? Kalian sama saja bermain cinta dengan sesosok mayat dan aku……. aku merasa tidak leluasa dan tidak dapat menikmati cinta kalian dalam keadaan tidak mampu bergerak begini. Kalau kalian membebaskan totokan ini, tentu kita akan dapat bermain cinta lebih asyik lagi……."
Dua orang pemuda itu saling pandang dan tertawa gembira. "Ha-ha-ha, ia benar sekali, Suheng! Kita bebaskan totokannya dan kita bergiliran "
Akan tetapi, biarpun sudah diamuk nafsunya sendiri, Ji Ban To ternyata, lebih cerdik daripada sutenya. "Nanti dulu, Sute. Kita harus yakin benar bahwa ia tidak menipu kita. Ikat dulu kaki dua lengannya dengan ikat pinggangnya itu." Mereka lalu menelikung kedua tangan Giok Cu ke belakang, lalu mengikat kedua pergelangan tangannya dengan kuat-kuat, menggunakan ikat pinggang Giok Cu sendiri yang tadi mereka renggut lepas. Biarpun mendongkol sekali, Giok Cu menyembunyikan rasa dongkol itu dari mukanya. Ketika dua orang itu membebaskan totokan dari tubuhnya dan ia merasakan darahnya mengalir kembali dengan normal, Giok Cu tidak tergesa-gesa bergerak, membiarkan jalan darahnya pulih kembali dan ia pun mandah saja ketika mereka kembali mulai membelai dan menciuminya.
Akan tetapi begitu jalan darahnya sudah pulih kembali, diam-diam ia mengerahkan tenaganya, digerakkannya dengan tiba-tiba kepalanya menghantam muka Ji Ban To, melompat berdiri dan kakinya menendang dada Gak Su. Dua orang pemuda yang sedang dimabuk nafsu mereka sendiri itu seperti orang terlena, menjadi lengah dan tak mampu menghindarkan diri dari serangan tiba-tiba itu.
"Duk! Desssss " Ji Ban To berteriak kesakitan karena hidungnya bocor, mengucurkan darah ketika dihantam kepala Giok Cu, sedangkan Gak Su terbanting dan terjengkang keras, dadanya terasa sesak dan napasnya terengah-engah. Juga dia mengaduh-aduh.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Giok Cu untuk meloncat dan melarikan diri. Yang masih menempel di tubuhnya yang telanjang bulat itu hanya tinggal sepasang sepatunya saja!
Hanya sejenak saja dua orang pemuda itu tertegun dan kesakitan. Melihat gadis itu melarikan diri, mereka pun la berloncatan dan cepat melakukan pengejaran. Biarpun Giok Cu memiliki kegesitan dan keringanan tubuh, akan tetapi ia berlari dengan kedua lengan terikat di belakang. Tentu saja hal ini membuat ia tidak leluasa lari dan kecepatannya berlari berkurang banyak. Maka tak lama kemudian, dua orang pemuda itu mampu menyusulnya dan mereka menubruk dari belakang sambil meloncat.Tubuh Giok Cu terbanting keatas pasir dan ditindih oleh mereka berdua! Giok Cu meronta-ronta, menendang, menggigit dan meludah sehingga dua orang pemuda itu harus menjambaknya, memegangi kedua kakinya, bahkan menamparinya. Akhirnya mereka dapat mengikat kedua pergetangan kaki Giok Cu dengan ikat pinggang Ji Ban To dan gadis itu untuk kedua kalinya tak mampu menggerakkan tangan dan kakinya. Kalau karena tertotok, kini karena kaki tangannya terbelenggu. Akan tetapi kini ia masih mampu membalikkan tubuhnya menelungkup, memutar leher dan memandang kepada dua orang muda yang terengah- engah kelelahan itu dengan mata melotot penuh kebencian.
"Suheng, cepat kerjai gadis liar ini, biar tahu rasa! Aku akan berjaga kalau ada orang datang dan menunggu giliranku!" kata Gak Su yang mendendam kepada Giok Cu karena dadanya tadi tertendang cukup keras dan masih terasa nyeri sampai sekarang.
Ji Ban To yang sudah melepaskan ikat pinggangnya untuk membelenggu kaki Giok Cu, mendekati gadis itu dengan wajah menyeringai buas. Akan tetapi sebelum tangannya mampu menyentuh Giok Cu tiba-tiba terdengar suara halus, "Kalian mencari mampus!"
Dua orang muda itu terkejut dan cepat menengok. Wajah mereka seketika berubah pucat dan mata mereka terbelalak ketika mereka mengenal siap wanita yang menegur mereka itu. Ban-tok Mo-li! Wanita iblis ini tadi setelah muridnya lari keluar, diam-diam merasa kecewa dan tidak enak. Ia merasa sayang kepada muridnya itu, seorang murid yang baik dan berbakat. Heran ia mengapa muridnya begitu berkeras hendak menolong dua orang korban itu padahal dua orang korban itu amat diperlukan sebagai "tebusan" ia masuk menjadi anggauta pemuja Thian-te Kw ong! Biarpun tadi ia merasa marah, setelah muridnya pergi, ia pun merasa menyesal dan ingin ia memanggil muridnya kembali untuk diajak berpesta, ia sedang bergembira karena diterima menjadi anggauta baru penyembah Thia te-kauw, maka ia tidak ingin ada gangguan berupa kekecewaan dan penyesalan terhadap muridnya yang disayangnya itu. Ketika dilihatnya tidak nampak bayangan Giok Cu di luar ruangan itu, ia pun lalu meninggalkan ruangan itu untuk mencarinya.
Ketika ia tidak dapat menemukan Giok Cu di dalam kamarnya, ia dapat menduga kemana perginya muridnya itu. Muridnya itu suka sekali bermain-main di Pantai lautan dan mungkin sekarang, dalam keadaan marah dan kecewa, Giok Cu juga pergi ke sana. Apalagi di pantai itu amat indah kalau terang bulan dan dapat menyejukkan dan menenangkan hatti. Dengan cepat Ban-tok Mo-li lalu mempergunakan ilmunya berlari cepat menuju ke pantai.
Mula-mula ia menemukan pakaian muridnya berserakan di pantai. Pakaian luar dan pakaian dalam! Dalam keadaan robek-robek. Akan tetapi muridnya tidak ada! Tentu bertelanjang bulat, la pun mengambil pakaian itu dan menyelipkannya di ikat pinggang. Kemudian berrlari lagi dan melihat bahwa tidak jauh dari situ nampak bayangan dua orang atas pasir. Cepat ia menghampiri dan dapat dibayangkan betapa hatinya seperti dibakar ketika ia melihat muridnya dalam keadaan telanjang bulat menelungkup di atas pasir dengan kaki tangan terikat, dan dua orang pemuda yang bukan lain adalah Ji Ban To dan Cak Su berada di dekat muridnya. Tidak sukar diduga, apa yang akan dilakukan dua orang pemuda itu, maka ia pun lalu menegur mereka.
Melihat bahwa iblis betina itu muncul, dua orang pemuda itu sejenak seperti berubah menjadi patung. Kemudian, maklum betapa lihai dan galaknya wanita itu, keduanya lalu meloncat dan seperti dikomando, mereka melarikan diri!
Ban-tok Mo-h adalah seorang datuk sesat yang ditakuti banyak orang, ia sendiri tidak takut kepada siapapun juga, dan ia terkenal memiliki keberanian dan kekejaman yang luar biasa, tak pernah mau mengampuni musuh-musuhnya atau orang yang menyakiti hatinya. Melihat betapa muridnya hampir saja diperkosa dua orang pemuda itu, mengalami penghinaan, ia tidak lagi mempedulikan bahwa dua orang pemuda itu adalah tamu-tamunya, murid dari Ouw Kok Sian, seorang di antara tamu-tamunya yang terhormat. Dengan beberapa loncatan saja, ia sudah dapat menyusul mereka. Bagaikan seekor harimau menerkam seekor domba dari belakang, kedua tangannya mencengkeram dan mencekik leher Gak Su dari belakang, Jari-jari kedua tangannya yang berkuku panjang dan runcing itu mencekik dan menembus kulit dan daging leher.
Cak Su mengeluarkan suara aneh, kedua tangannya berusaha melepaskan cengkeraman, akan tetapi kedua tangannya itu lalu merentang kaku, matanya melotot, mukanya berubah hitam dan ketika cekikan dilepaskan, dia pun terkulai dan roboh tanpa nyawa lagi dengan muka hitam dan mata melotot lidah terjulur keluar. Sejak Gak Su dicekik dari belakang,
Ji Ban To sudah merasa tubuhnya menggigil dan kakinya seperti lumpuh.Dia menjatuhkan diri ke atas tanah dan berlutut, menyembah-nyembah meminta ampun sambil memandang kepada sutenya yang mengalami nasib mengerikan itu!
"Ampun, Lo-cian-pwe… ampunkan saya……!" ratapnya
ketika dia melihat sutenya roboh dan tewas, dan wanita; yang menakutkan itu berdiri sambil bertolak pinggang di depannya. Wajah yang cantik itu tersenyum manis, akan tetapi matanya yang mencorong itu membuat hati Di Ban To menjadi semaki ketakutan. Dia melihat maut membayang pada mata itu dan walaupun ingin dia melarikan diri, namun tubuhnya mengigil dan kedua kakinya lumpuh, membuat dia hanya dapat mendekam di depan wanita itu.
“Ji Ban To, apa yang kaulakuka bersama Sutemu terhadap muridku itu?"
"Saya……… saya ……… tidak melakukan apa-apa, hanya…
hanya… " Dia begitu ketakutan sehingga untuk bicara amat
sukar.
"Kalian telah memperkosanya?" bentak Ban-tok Mo-li.
Muncul sedikit harapan dalam hati Ji ban To ketika mendengar pertanyaan ini. Agaknya itulah yang menyebabkan kemarahan Ban-tok Mo-li, mengira bahwa muridnya telah mereka perkosa! Dan kenyataannya, dia belum memperkosanya!
"Tidak… ! Tidak sama sekali, Lo-Cian-pwe! Saya
……belum… eh, tidak memperkosanya, sama sekali tidak!"
"Hemmm, lalu kenapa engkau menelanjanginya dan mengikat kaki tangannya?"
"Eh…….. ohhh yang menelanjangi dan membelenggu,
hanya Sute…….. itu , lo-cian-pwe!" jelas nampak sifat pengecut dari pemuda itu yang begitu menghadapi ancaman lalu hendak menimpakan semua kesalahan kepada sutenya yang telah tewas.
Ban-tok Mo-li kembali tersenyum. Wanita yang sudah kenyang akan pengalaman di dunia ini tentu saja tidak mudah dibohongi begitu saja. "Bagus, dia yang menelanjangi dan membelenggu, dan engkau yang akan memperkosanya?"
"Tidak, tidak… !"
"Lalu apa yang kaulakukan? Hanya menonton?"
Ji Ban To tahu bahwa hal ini tidak mungkin. Dia harus mengakui kesalahan, akan tetapi kesalahan yang paling kecil. "Saya……….. saya tadi hanya meciuminya beberapa kali,
Lo-cian-pwe."
"Hemmm, menciumnya beberapa kali, ya? Agaknya engkau suka sekali menciumi perempuan. Nah, bangkitlah!"
Dengan tubuh menggigil, Ji Ban tidak berani membantah dan dia pun berdiri.Sejenak Ban-tok Mo-li mengamati pemuda ini dari kepala sampai ke kaki Seorang pemuda yang cukup tampan walaupun agak kurus dan mukanya pucat.
"J i Ban To aku ingin merasakan bagaimana engkau menciumi muridku tadi Hayo kau cium aku!"
Wajah yang pucat itu menjadi semakin pucat. "Mana saya…….. berani ?”
"Kau berani membantahku? Apak engkau ingin mampus seperti Sutemu tadi?"
"Tidak, tidak… !" "Kalau begitu kau ciumi aku seperti engkau menciumi muridku tadi. Hayo cepat!"
Ji Ban To ketakutan setengah mati. Dengan tubuh menggigil, terpaksa dia memberanikan diri merangkul pundak wanita cantik itu dan mendekap mukanya, lalu mencium mulut yang tersenyum menggairahkan itu. Dasar dia pemuda yang sudah menjadi hamba nafsu. Biarpun tadinya ketakutan, begitu dia mencium dan merasa betapa mulut wanita cantik yang diciumnya itu membalas dengan mesra, dia pun mencium penuh nafsu. Akan tetapi ketika dia hendak melepaskan ciumannya untuk bernapas, mulutnya melekat pada mulut itu dan merah mulutnya terasa seperti dibakar, rasa panas yang terus menyerang dirinya melalui mulut, masuk ke kerongkongan dan ke dada. Ciuman beracun! Dua lengannya yang tadi memeluk, kini meregang, matanya terbelalak dan suara aneh keluar dari kerongkongannya. Ketika Ban-tok Mo li melepaskan ciumannya, tubuh pemuda itu terkulai dan seluruh bibirnya nampak membiru! Akan tetapi, kematian agaknya tidak datang tiba-tiba seperti yang dialami Cak Su dan hal ini agaknya memang disengaja oleh Ban-tok Mo-li. Melihat pemuda itu menggeliat-geliat Ban-tok Mo-li menggerakkan tangan menotok ke arah tengkuknya dan pemuda itu pun tak bergerak lagi karena telah tertotok. Ban- tok Mo-li berkelebat lenyap dari tempat itu.
"Subooo !" Giok Cu memanggil ketika melihat bayangan
subonya, akan tetapi subonya tidak menjawab. Ia mecoba untuk melepaskan belenggu kaki tangannya, namun ikatan itu kuat sekali dan tubuhnya juga amat lelah.
Giok Cu tak lama menunggu. Nampak dua bayangan berkelebat dan ternyata mereka adalah subonya bersama Ouw Kok Sian, tamu tinggi besar, majikan dari Pegunungan Liong-san, guru dari dua orang pemuda yang tadi hampir memperkosanya. Mereka berhenti di dekatnya dan terdengar subonya berkata, "Nah, kau lihat sendiri keadaan muridku. Merekalah yang melakukannya!" Suara gurunya terdengar kaku dan marah.