Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 45

Memuat...

"Bagus, permohonanmu diterima, Phang Bi Cu, dan sebagai anugerah Ong-ya melalui kami, anggur darah remaja akan membuat engkau menjadi awet muda seperti remaja!"

"Terima kasih, Ong-ya," kata Ban-tok Mo-li dengan girang dan wanita yang terkenal sebagai Iblis Betina yang biasanya amat angkuh ini, yang tidak pernah mau tunduk kepada siapapun juga, kini menyembah sambil berlutut, menyembah sebanyak tiga belas kali seperti yang diberitahukan kepadanya oleh Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu. Cara penyembahan dan penyerahan diri kepada Thian-te Kwi-ong!

Tiba-tiba Lui Seng Cu jatuh terduduk dan menggelepar kembali, hanya sebentar dan dia pun sudah bangkit lagi dan kini sikapnya biasa, seolah-olah setan yang memasuki tubuhnya sudah menghilang dan dia menjadi Lui Seng Cu kembali. Kini dihapusnya abu yang coreng moreng pada mukanya, kemudiandia berkata kepada Ban-tok Mo-li.

"Upacara tingkat pertama telah selesai. Kini tinggal menanti masuknya sinar bulan. Kalau sinar bulan sudah menimpa tubuh kedua orang korban itu, barulah upacara terpenting, yaitu persembahan, boleh dilakukan. Sementara ini, sambil menanti naiknya bulan, Toanio (Nyonya) boleh menjamu para tamu dan saksi, bergembira karena Toa-nio telah diterima menjadi murid dari Thian te Kwi-ong!"

Dengan wajahnya yang cantik pesolek itu berseri, Ban-tok Mo-li lalu bangkit dan dengan isarat tangannya, belasan orang pelayannya yang semua terdiri dari wanita yang masih muda, cantik dan gesit, mengeluarkan hidangan dan mengatur hidangan itu di atas lantai di depan para hadirin yang duduk bersila di ruangan itu. Cara pesta yang aneh karena mereka semua duduk bersila di atas lantai, bukan di kursi menghadapi meja. Akan tetapi, hidangan yang disuguhkan merupakan masakan istimewa, mahal dan lezat, masih mengepul panas lagi, maka gembiralah hati para tamu. Semenjak beberapa hari menjadi tamu Ban-tok Mo-li, memang mereka sudah menjadi tamu-tamu terhormat yang dimanja dan disambut dengan baik sekali, akan tetapi malam ini sungguh merupakan pesta yang mewah!

Semua orang makan minum dengan gembira setelah Lui Seng Cu menyuguhkan arak dan beberapa mangkok masakan panas ke atas meja sembahyang, dan seorang pun agaknya tidak ada yang teringat atau mempedulikan dua orang calon korban yang masih menggeletak telentang di atas pembaringan dalam keadaan tidak mampu bergerak dan telanjang bulat itu. Tidak ada seorang pun kecuali Giok Cu! Dara remaja ini sejak tadi mengamati semua yang terjadi dan ketika semua orang makan minum berpesta pora, ia tidak ikut makan! la selalu memandang ke arah pembaringan di mana dua orang itu rebah telentang. Hatinya memberontak! Biarpun ia tidak peduli melihat gurunya masuk menjadi anggauta atau murid kepercayaan baru itu, penyembah setan yang disebut Raja Setan Langit Bumi, namun melihat dua orang calon korban itu, ia merasa tidak senang sama sekali! Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dua orang caloon korban itu, akan tetapi menduga bahwa tentu akan terjadi hal yang mengerikan. Mungkin dua orang itu akan dibunuh! Hatinya meronta dan ia sama sekali tidak mampu makan minum. Ia memang tidak pernah diajar lain kecual. ilmu silat dan sedikit baca tulis oleh gurunya, tidak pernah belajar tentang akhlak. Akan tetapi, lima tahun yang lalu ia telah mengerti tentang baik-buruk tentang susila dan akhlak yang diterimanya dari pendidikan ayah ibu kandungnya.

"Siauw-moi Giok Cu, kenapa kau tidak makan?" Tiba-tiba Siangkoan Tek bertanya. Sejak tadi pemuda ini memang selalu memperhatikan Giok Cu, dan pandang matanya kini bertambah dengan pandang mata kagum. Memang, sejak pertemuan pertama, Siangkoan Tek tergila-gila kepada gadis remaja ini, dan pengalaman pagi tadi di lautan membuat dia semakin kagum. Gadis remaja itu bukan saja cantik jelita, manis dan pandai ilmu silat, akan tetapi juga amat cerdik dan pandai ilmu bermain di air pula. Dan, yang lebih menyenangkan hatinya, ketika ia dalam keadaan pingsan, ternyata gadis itu tidak membunuhnya, bahkan menelanjanginya! Apalagi artinya perbuatan ini kalau bukan cinta, pikirnya. Gadis remaja itu bagaimanapun juga mencintanya!

Mendengar teguran halus itu, Giok Cu hanya menunduk, akan tetapi gurunya menoleh dan menegur pula, "Benar, mengapa engkau tidak ikut makan minum, Giok Cu?" Gurunya amat sayang kepadanya, dan hal ini terasa benar oleh Giok Cu, akan tetapi alangkah bedanya rasa sayang gurunya itu dengan rasa sayang yang pernah dirasakannya dari ayah ibunya.

"Aku aku tidak ada nafsu makan Subo. Aku masih

kenyang," jawabnya pendek. Gurunya pun tidak peduli lagi karena hati Iblis Betina itu sedang gembira bukan main, mana ia mau peduli tentang muridnya makan atau tidak?

Selain Siangkoan Tek, juga ada dua pasang mata sejak tadi melirik ke arah Giok Cu, yaitu mata Ji Ban To dan Gak Su. Suheng dan sute itu, semenjak tadi memang menderita kekecewaan beberapa kali. Pertama ketika permintaan mereka kepada dua orang murid Hoki houw Toa-to untuk mempermainkan gadis calon korban mereka tolak. Kemudian ketika tadi Hok-houw Toa-to di depan orang banyak menghardik mereka karena mereka berdua membantu Siok Boan dari Poa Kian So untuk melepaskan pakaian dua orang calon korban itu dan mereka mencoba untuk meraba dan membela tubuh gadis calon korban! Mereka berdua kini merasa kecewa sekali dan biarpun mereka ikut pula makan minum, mereka selalu melirik ke arah Giok Cu. Apalagi setelah mereka menuangkan banyak arak ke dalam perut mereka keduanya semakin sering melirik ke arah Giok Cu. Tidak salah, pikir mereka. Dara calon korban itu, kalau dibandingkan dengan Giok Cu, memang bukan apa-apanya! Mereka pun beruntung sekali pernah melihat Giok Cu menanggalkan pakaian ketika dara itu berganti pakaian kering di pantai. Ah, sungguh menggairahkan sekali, dan kini mata mereka seperti berubah hijau ketika mengerling ke arah Giok Cu.

Pikiran, badan dan perasaan melalui lima indera merupakan persekutuan yang selalu menyeret kita ke arah kemaksiatan atau perbuatan yang tidak sehat, bahkan kadang kala perbuatan jahat yang merugikan orang lain. Gairah nafsu bukan datang dari luar, melainkan dari dalam. Sebagai contohnya, gairah nafsu berahi. Mata melihat wanita cantik. Kalau pikiran tidak mencampuri dan mengotori, maka tidak akan terjadi sesuatu. Namun, biasanya, pikiran mencampuri, si-aku membayangkan kalau wanita itu menjadi miliknya, kalau wanita itu, dikuasainya, dan sebagainya, maka, timbullah gairah nafsu birahi. Pikir yang membayangkan ini merupakan cermin dari pengalaman melalui badan pula dengan perantaraan lima indera, perasaa nikmat dan enak mendatangkan mgata dan bayangan.Kalau nafsu sudah menguasai batin, maka kita melakukan segalanya untuk memuaskan tuntutan nafsu dan kadang-kadang kita menjadi sedemikian buta sehingga tidak segan melakukan perbuatan yang kotor, seperti melacur, berjina, atau bahkan memperkosa!

Kita lupa bahwa kita, manusia ini, pribadi-pribadi ini, bukanlah binatang! Kita bukanlah tubuh ini! Kita bukan pula pikiran ini, bukan perasaan panca indera ini, bahkan bukan kesadaran ini! Semua ini, tubuh, pikiran, perasaan, kesadaran ini hanya merupakan hal-hal yang sementara saja, yang akhirnya akan hancur lenyap begitu "rumah" ini menjadi tua atau rusak dan tidak tepakai lagi! Seperti juga rumah membutuhkan perlengkapan, perapian, penerangan dan sebagainya, tubuh juga membutuhkan perlengkapan, seperti

pikiran, perasaan, kesadaran. Kalau tubuh ini tertidur, atau pingsan, maka semua itu pun berhenti berfungsi. Pikiran, perasaan, kesadaran, kesemuanya itu pun berhenti bekerja. Seperti tubuh, mereka itu pun nya alat! Jelaslah bahwa kita ini bukan mereka! Namun, sudah menjadi kebiasaan kita tidak waspada akan kenyataan ini. Kita terlalu

terikat kepada darah daging (tubuh) kita ini, terlalu mencandu kepada panca-indera, hati akan kenikmatan dan keenakan, terlalu bergantung kepada pikiran sehingga kita lupa akan keadaan kita yang sesungguhnya! Kalau semua ikatan itu sudah dapa kita hancurkan, kalau si-aku sudah berhenti merajalela sehingga hidup kita bukan sepenuhnya merupakan penghambaan kepada nafsu-nafsu belaka, hanya mengejar kenikmatan, kesenangan dan keenakan saja, barulah mungkin terdapat suatu keadaan yang sama sekali berbeda. Berhentinya pikiran mendatangkan keheningan dan di dalam keheningan inilah mungkin sekali kita akan memasuki dimensi lain dari kehidupan inil menyentuh lingkaran cahaya Illahi yang tak pernah sedetikpun meninggaik kita. Tanpa adanya cengkeraman pikiran perasaan dan kesadaran panca indera maka si-aku pun runtuh dan tanpa adanya si-aku yang penuh keinginan ini, maka kita akan mengenal apa arti cinta kasih. Bukan cinta kasih antara aku dan engkau yang saling mengharapkan imbalan demi kesenangan diri pribadi, bukan cinta kasih jual belidi pasar, tak pernah mengharapkan imbalan, tak pernah berpamrih. Membiarkan diri penuh dengan cinta kasih ini, berarti membiarkan diri dipenuhi cahaya Illahi, membiarkan diri bersatu dengan Tuhan!

Post a Comment