Sang pangeran te rkejut, akan tetapi karena pute rinya sudah terlanjur bicara, diapun tak dapat berbuat sesuatu
Mendengar ini, Siauw Can membalik memandang kepada pute ri itu dengan mata bersinar dan wajah berseri, bibirnya te rsenyum dan diapun menjura dengan dalam
Saya akan mentaati perintah paduka!
katanya dan te ntu saja Ai Yin yang manja itu menjadi girang, te rsenyum dan mengangguk
Melihat ini, diam-diam Bi Lan merasa tidak enak
Ia sama sekali tidak merasa cemburu, akan te tapii menganggap bahwa sikap Siauw Can berle bihan
Pemuda itu akan menemui banyak kesukaran kalau bersikap seperti itu terhadap pute ri pangeran! Balum juga memperole h kedudukan, sudah bersikap seperti itu, sikap yang jelas sekali menunjukkan bahwa pemuda itu te rgila-gila oleh kecantikan sang pute ri
Atau mungkin juga oleh kedudukan pute ri itu, karena kalau hanya tertarik oleh kecantikannya, tidak mungkin
Gadis itu masih terlalu muda, dan mempunyai sifat genit dan manja, dan mengenai kecantikannya, tidaklah te rlalu hebatt sehingga kiranya tidak akan cukup untuk membuat seorang seperti Siauw Can tergilagila
Siauw Can sudah berhadapan dengan Gondulam
Tentu s aja jagoan ke dua lebih berhatihati dari pada saudaranya setelah melihat apa yang dialami oleh Gondalu
Dia sama sekali tidak, memandang rendah kepada lawannya, walaupun pemuda itu kelihatan kecil saja baginya
Dia sudah tahu bahwa orang Han banyak yang memiliki ilmu silat aneh dan sama sekali tidak te rduga-duga, penuh rahasia
Maka, sebelum maju dia telah mengerahkan kekuatan sihirnya, dibantu oleh saudara kembarnya, sehingga ketika dia melangkah maju, selain kedua le ngannya terisi kekuata sihir, juga bagi lawannya dia akan nampak mengerikan dan dahsyat! Selain itu juga dia menggosok-gosok kedua telapak tangannya dan telapak kedua tangan itu mengeluarkan uap panas! Begitu memandang wajah lawan dan melihat wajah itu menggiriskan Siauw Can maklum apa yang te rjadi! Akan tetapi, dalam hatinya dia te rtawa
Ia sendiri adalah pute ra dan murid mendiang Cui-beng Sai-kong (Kakek Muka Singa Pengejar Arwah), seorang yang ahli dalam hal ilmu hitam dan sihir
Maka, biarpun tahu bahwa lawannya mengeluarkan ilmu sihir sehingga membuat wajahnya nampak menyeramkan
Dia memejamkan kedua mata, berkemak-kemik lalu menggosok kedua matanya dengan telapak tangannya sendiri dan ketika dia membuka kembali matanya, wajah Gondulam nampak biasa saja! Melihat kedua telapak tangan lawan mengeluarkan uap, Siauw Can segera menghimpun sin-kang dan menyalurkannya ke arah kedua tangannya
Sobat, tidak perlu menggunakan ilmu setan menakut-nakuti anak kecil
Aku sudah siap
Nah, majulah!
tantang Siauw Can sambil te rsenyum manis karena dia menghadap ke arah sang pute ri agar dara itu dapat melihat senyumnya
Dan Ai Yin memang melihat semua lagak pemuda itu
Ia berbisik kepada ayahnya
Ayah, orang itu hebat, ya?
Hemmm......
Pangeran Tua Li Siu Ti mengerling kepadanya dengan alis berkerut
Di lubuk hatinya dia merasa tidak senang kalau puterinya tertarik kepada pemuda pendekar itu atau kepada siapapun juga
Baginya, hanya ada calon tunggal untuk pute rinya, yaitu ponakannya sendiri, sang pute ra mahkota atau panglima besar, Li Si Bin! Dia tahu bahwa mereka masih saudara sepupu, samasama bermarga Li
Akan tetapi pantangan menikah antara marga yang sama hanya berlaku untuk rakyat jelata
Keluarga kaisar boleh melakukan apa saja tanpa ada pantangan, karena bukankah yang membuat peraturan dan hukum adalah keluarga kaisar pula
Yang penting, Li Ai Yin, anak tunggalnya, harus menjadi isteri Li Si Bin dan kelak menjadi permaisuri, itu merupakan satu di antara cita-citanya! Gondulam diam-diam te rkejut melihat sikap pemuda itu
Jelas bahwa pemuda itu tidak te rpengaruh kekuatan sihirnya dan ini saja menunjukkan bahwa pemuda itu merupakan lawan yang tangguh
Huahhh.......!!
Dia mengeluarkan teriakan parau dan tanpa membuang waktu lagi, Gondulam sudah melakukan serangan kilat
Dia tidak mau meniru saudaranya yang tadi gagal
Begitu menyerang, dia menggunakan gerakan cepat sambil mengerahkan seluruh te naga
Menyerang dengan dahsyat sekali sehingga tulang-tulangnya mengeluarkan bunyi berkerotokan ketika kedua tangannya mencakar-cakar seperti kaki harimau
Siauw Can juga maklum akan kehe batan lawan
Akan te tapi, tingkat kepandaian Siauw Can jauh le bih tinggi daripada tingkat lawannya, Juga jauh le bih tinggi daripada tingkat kepandaian Bi Lan
Maka, dengan berani dia menyambut dengan kedua tangannya pula
Dukk! Dess.........!
Dua pasang tangan berte mu
Sepasang lengan yang kokoh kuat dan besar dari Gondulam bertemu dengan lengan Siauw Can yang biasa saja besarnya, dan akibatnya, tubuh Gondulam te rhuyung ke belakang, sedangkan Siauw Can tetap tegak dan tersenyum mengejek
Mana tenagamu
Keluarkan semua tenaga dan kepandaianmu,
kata Siauw mengejek
Ai Yin berte puk tangan, tepuk tangan tunggal di ruangan itu, akan tetapi dara itu tidak merasa janggal atau sungkan
Dan diam-diam sang pangeran juga kagum kepada Siauw Can
Pemuda itu dalam segebrakan saja membuat lawannya terhuyung
Semua orang merasa heran, termasuk Raja Muda Baducin
Hanya Bi Lan yang tidak merasa heran, karena biarpun belum dapat mengukur sampai di mana kehe batan Siauw Can, namun ia tahu bahwa pemuda itu memang lihai bukan main
Gondulam menjadi marah sekali ketika diejek
Dia mengeluarkan suara menggereng seperti binatang buas, lalu menyerang bertubi-tubi, mengeluarkan seluruh kepandaiannya
Kedua tangannya itu kalau sampai dapat menangkap bagian tubuh Siauw Can, te ntu akan segera menggunakan ilmu gulatnya dan jangan harap Siauw Can akan mampu melepaskan dirinya lagi sebelum seluruh tulangnya patah-patah! Akan tetapi, pemuda inipun bukan seorang bodoh
Selain memiliki pengalaman bertumpuk, pernah menghadapi lawan-lawan yang jauh lebih lihai dan berbahaya dibandingkan raksasa itu
Apa lagi sekarang dia sedang berlagak untuk memancing pujian dan kekaguman dari pute ri je lita itu! Dia sengaja hendak mempermainkan lawannya! De ngan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi, dia sengaja mengelak dengan langkahlangkah aneh dan loncatan-loncatan gesit dan lucu
Beberapa kali sengaja membiarkan tangan lawan menyentuhnya, akan tetapi segera dia mengelak sambil beberapa kali mencolek dan mendorong tubuh lawan
Kalau dia mau, sejak tadi dia akan mampu merobohkan lawan
Akan te tapi dia memang sengaja membuat pertandingan itu nampak seru! Padahal, Gondulam sendiri tahu bahwa dia kalah jauh, akan te tapi karena pemuda itu mempermainkannya
Ia menjadi marah sekali dan menyerang dengan dahsyat dan mati-matian, bahkan membabi buta
Brettt...........!
Siauw Can merobek baju lawan ketika dia mencengkeram baju itu dari belakang, sehingga tubuh bagian atas lawan menjadi telanjang
Kalau saja di situ tidak ada Bi Lan dan pute ri pangeran itu, tentu akan direnggutnya lepas pula celana lawan
Kembali terdengar te puk tangan dari puteri itu yang berte puk tangan gembira
Melihat ini, Bi Lan menjadi semakin khawatir
Ia tahu bawa Siauw Can menjual lagak, dan tahu pula bahwa gadis itu adalah seorang dara remaja yang masih hijau dan memang berpenampilan genit
Menghadapi seorang pemuda tampan gagah dan berpengalaman seperti Siauw Can, dara ingusan ini tentu amat mudah jatuh!
Ambilkan perhiasan itu untukku!
kata pula Ai Yin di antara tepukannya
Baik, tuan pute ri!
biarpun dihujani serangan dari lawan yang semakin marah, Siauw Can masih mampu menjawab
Heiii, gajah bengkak! Tuan pute ri minta perhiasan sorbanmu, tidak cepat kau serahkan?
katanya dan tiba-tiba tangan kirinya dengan jari-jari terpentang menusuk ke arah mata Gondulam
Ge rakan ini cepat dan tiba-tiba, membuat Gondulam terkejut
Tentu saja dia tidak ingin matanya menjadi buta tertusuk jari-jari tangan itu
Dia cepat menangkis , bahkan mencoba untuk menangkap tangan yang menusuk ke arah mata itu, sambil menarik tubuh atas ke belakang
Akan tetapi, pada saat itu Siauw Can s udah meloncat ke atas, berjungkir balik dan tangannya menyambar ke arah sorban di kepala lawan
Sebelum Gondulam dapat mengelak atau menangkis, perhiasan di sorbannya telah dapat dicabut oleh Siauw Can dan dengan membuat salto beberapa kali, tubuhnya sudah meluncur ke arah pangeran dan puterinya
Siauw Can turun dan memberi hormat kepada Ai Yin sambil menyodorkan perhiasan itu kepada sang puteri
Terima kasih, engkau hebat!
kata Ai Yin sambil te rtawa
Siauw Can sudah meloncat lagi ke depan Gondulam yang kini berdiri dengan mata melotot dan muka berubah merah sekali
Srattt!
Dia sudah mencabut pedang bengkoknya dan nampak sinar menyilaukan mata saking tajamnya pedang itu
Pemuda sombong, lawanlah pedangku kalau engkau berani!
tantangnya
Heiii, bagaimana ini, Raja Baducin
Bukankah paduka datang untuk menguji ilmu, bukan untuk menyuruh pengawal paduka membunuh orang
Kenapa menggunakan pedang?
Sejak tadi wajah Raja Muda Baducin sudah muram dan marah
Gondalu tadi telah kalah oleh Bi Lan, hal itu s aja sudah membuat dia kehilangan muka, membuat dia bermuram wajah
Kini, jelas nampak pula betapa Gondulam menjadi permainan pemuda itu
Sekali ini benar-benar dia menderita malu
Yang Mulia,
katanya dengan kata-kata tanpa senyum lagi
Gondulam hanya menantang untuk mengadu ilmu senjata
Kalau jagoan paduka itu takut, biarlah tidak perlu dilanjutkan.
Mendengar ini, Siauw Can yang ingin mencari muka, segera memberi hormat kepada sang pangeran
Maaf, Yang Mulia! Kalau raksasa ini menantang saya untuk mengadu senjata, biarlah akan saya layani dan paduka harap tidak merasa khawatir
Dia dan pedangnya bagi saya hanya seorang anak-anak yang memegang pisau mainan saja!
Mendengar ini, Ai Yin bersorak
Horreee.....! Bagus sekali! Layani raksasa itu, orang gagah!
Mendengar te riakan pute rinya, Pangeran Li Siu Ti merasa tidak enak terhadap tamunya
Maka diapun memesan,
Baiklah, akan tetapi jangan sekali-kali membunuh orang!
Harap paduka jangan khawatir
Raksasa ini tidak akan mati, juga tidak mengeluarkan setetespun darah yang akan mengotori ruangan ini
Akan te tapi kalau sekedar benjol-benjol di kepala dan memar di badan, boleh, bukan?
Semua orang tersenyum mendengar ini, pertanyaan yang lucu akan tetapi juga mengandung eje kan
Raja Muda Baducin berkata kepada Gondulam dalam bahasa mereka sendiri,
Gondulam, jangan membikin malu
Kerahkan semua kemampuanmu!
Melihat pemuda itu berdiri dengan tangan kosong di depan Gondulam yang sudah mencabut pedang, tiba-tiba Ai Yin turun dari te mpat duduknya dan dengan tangan diangkat ke atas ia berte riak
Berhenti! Ini tidak adil! Raksasa itu berpedang, kenapa jagoan tidak?
Pangeran Li Siu Ti baru menyadari akan hal ini
Tadi dia te rlalu kagum dan girang melihat bahwa tanpa dis angka-sangka dia telah mendapatkan dua te naga yang hebat itu
Benar, dia harus menggunakan senjata!
te riaknya
Harap paduka jangan khawatir, saya sudah memiliki senjata