Dia mengeluarkan suara gerengan nyaring dan le ngan kirinya bergerak, mencengkeram dari kiri atas ke arah kepala lawan, sedangkan tangan kanannya mendorong dengan te lapak tangan ke arah perut
Serangan ini hebat sekali dan dari sambaran anginnya, tahulah Bi Lan bahwa lawan mulai bersungguh-sungguh!
Plak! Plakk!
Ia sengaja mundur sambil menangkis dengan kedua lengannya untuk mengukur te naga lawan
Bi Lan merasa tubuhnya te rguncang! Benarlah dugaannya bahwa mengadu te naga dengan lawan seperti ini amat berbahaya
Ketika tangan itu menyambar selagi ia terguncang, ia sudah melompat ke atas dan kakinya mencuat, menendang ke arah muka lawan.! Ge rakan ini amat cepat karena dilakukan ketika tubuh mencelat ke atas, seperti serangan kaki seekor burung rajawali!
Uhhhh.........!
Gondalu te rkejut dan cepat dia menarik tubuh atas ke belakang
Nyaris mukanya te rcium sepatu! Dan kini Bi Lan berjungkir balik tiga kali, turun ke atas lantai di belakang lawan
Akan tetapi Gondalu sudah membalik sambil melakukan tendangan
Kakinya yang panjang dan besar itu menyambar seperti sebuah balok yang besar, mendatangkan angin bersiut
Bi Lan kembali melompat dan mengelak sehingga te ndangan itu hanya mengenai tempat kosong
Marahlah Gondalu
Lupa dia bahwa lawannya seorang wanita yang cantik mole k
Lenyap semua keinginannya merangkul, memeluk, meraba dan mencolek
De ngan beringas dia menyerang dan te rnyata raksasa ini memiliki gerakan silat yang amat ganas, dan tenaganya memang dahsyat
Namun, tidak percuma beberapa tahun Bi Lan digemble ng ilmu ole h guru yang kemudian menjadi suaminya, yaitu mendiang Sin-tiauw (Rajawali Sakti) Liu Bhok Ki! Tubuhnya berkelebatan bagaikan seekor burung rajawali, mengelak sambil membalas dengan serangan yang cepat sekali, dari kanan kiri, dari depan dan te rutama sekali dari atas
Ia pasti membalas dengan serangan dari atas yang membuat Gondalu te rkejut dan berkali-kali dia nyaris te rkena tamparan atau te ndangan lawan
Kini Raja Muda Baducin memandang bengong
Pertandingan itu jelas memperlihatkan bahwa jagonya sama sekali tidak mampu mendesak lawan, dan pertandingan itu hebat sekali
Bagaikan sekor beruang besar melawan seekor burung rajawali! Beruang itu mencoba untuk menangkap dan menyerang dari bawah dan rajawali menyambar-nyambar dari atas
Bukan main hebatnya wanita itu dan sekarang dia mengerti mengapa tujuh orang anggota pasukan Pedang Bengkok tidak mampu mengalahkan wanita itu
Memang hebat! Juga Gondulam menonton dengan penuh perhatian
Dia melihat betapa saudara kembarnya itu tidak kalah dalam hal te naga dan memiliki daya serang yang lebih dahsyat dan ganas, akan tetapi saudaranya itu tidak berdaya karena lawan te rlampau gesit, te rlampau cepat gerakannya dengan keringanan tubuh yang mengagumkan
Sukar memang menangkap atau menyerang lawan segesit itu, dan saudaranya itu berada dalam bahaya kalau dia tidak hati-hati
Sementara itu, Pangeran Tua Li Siu Ti juga memandang bengong, akan te tapi bengong dan kagum di samping perasaan gembiranya
Berulang kali dia memandang kepada Poa Kiu sambil mengangguk-angguk senang
Memang pilihan orang kepercayaannya itu benar sekali! Wanita ini hebat! Kalau dia mempunyai pengawal keluarga seperti ini, tentu aman! Dan puterinya, anak tunggalnya, Li Ai Yin yang akhir-akhir ini rewel ingin belajar silat, dapat berguru kepada wanita yang lihai ini! Tiba-tiba dia melihat puterinya itu muncul di ambang pintu ruangan itu
Para penjaga memberi hormat, akan tetapi gadis itu tidak memperhatikan, dan ia melangkah masuk, lalu berdiri bengong memandang ke arah pertandingan yang te ngah berlangsung
Li Ai Yin adalah seorang dara berusia tujuhbelas tahun yang cantik, berkulit putih mulus dengan dandanan seorang pute ri, serba indah dan mewah pakaiannya
Rambut digelung tinggi di atas kepala, dihiasi emas permata
Juga te linga, leher, le ngan dan jari tangannya berhiaskan emas permata gemerlapan
Gadis itu memiliki mata dan mulut yang manis dan genit menantang
Kerling matanya tajam, senyumnya menantang dan ia memang memiliki daya tarik yang mempesona
Karena pertandingan sedang berlangsung dan semua orang memperhatikan pertandingan itu
Pangeran Tua Li Siu Ti juga diam saja tidak menegur puterinya yang nampak tertegun dan berdiri di dekat pintu
Pertandingan itu kini sudah mencapai puncaknya
Tigapuluh jurus telah lewat dan belum pernah satu kalipun Bi Lan terjamah jari tangan Gondalu atau ujung kakinya
Gerakan wanita muda ini te rlalu cepat bagi Gondalu dan kini Bi Lan yakin bahwa kele mahan lawannya adalah pada gerakannya yang te rlalu lamban, karena berat badan dan karena kekakuan otot-otot yang dilatih te rlalu keras itu
Gondalu memang berhasil memiliki tenaga otot sebesar gajah, akan tetapi hal ini membuat gerakannya menjadi kaku dan lamban
Ia tahu pula bahwa lawan ini memiliki kekebalan, bahkan pernah ia menotok dengan jari tangan dan mengenai le her dan pundak, akan tetapi raksasa itu tidak banyak terpengaruh, hanya te rgetar sedikit akan tetapi tidak roboh! Sukar agaknya merobohkan raksasa ini kalau tidak menggunakan akal, pikirnya
Dari gurunya ia telah mendapat banyak petunjuk bagaimana menghadapi lawan yang tangguh, kebal dan sukar dilukai
Bi Lan mempercepat gerakannya dalam ilmu silat Hui-tiauw-sin kun (Silat Sakti Rajawali Terbang) sehingga Gondalu terpaksa harus ikut berputar karena lawannya seperti terbang berputaran
Gondalu menjadi pening juga karena gerakan lawan terlampau cepat
Tiba-tiba dia melihat bayangan lawan meloncat ke atas dan ketika wanita itu menukik turun, kedua tangannya menyambar ke arah ubun-ubun kepala dan matanya
Huhh.......!!
Gondalu menggereng dan kedua le ngannya diputar di depan kepala dan muka untuk melindungi bagian ini
Dia memang kebal, akan te tapi matanya jelas tidak kebal, dan ubunubun kepalanya merupakan bagian yang amat berbahaya walaupun sudah dilindungi dengan kekebalan
Jangankan te rluka, baru te rgetar keras atau terguncang saja sudah berbahaya
Akan te tapi, secepat kilat Bi Lan mengurungkan serangannya dan tubuhnya meluncur ke bawah, memutar dan dari belakang, kedua kakinya menghantam ke arah kedua kaki lawan, te pat di belakang lutut!
Bressss.........!!
Betapapun kuat dan kebalnya tubuh Gondalu, akan tetapi dihantam dengan te ndangan mengandung sin-kang dan tepat mengenai belakang lutut, te ntu saja dia tidak mampu bertahan untuk berdiri lagi
Kedua lututnya tertekuk dan diapun sudah jongkok dan berte kuk lutut
Biarpun dia tidak roboh, akan tetapi sudah jatuh berlutut seperti itu sungguh merupakan bukti bahwa dia te lah kalah! Kalau lawan menghendaki, ketika dia jatuh berlutut itu, te ntu lawan dapat menghabis inya dengan serangan maut ke arah kepalanya
Bi Lan cepat memberi hormat kepada Pangeran Tua Li Siu Ti dan pangeran itu tersenyum gembira bukan main
Tiba-tiba te rdengar te puk tangan yang nyaring
Semua orang menengok ke pintu dan melihat betapa yang bertepuk tangan adalah puteri sang pangeran, semua orang, te rmasuk para perajurit yang berjaga, ikut pula bertepuk tangan
Tepuk tangan Ai Yin dan ayahnya yang paling keras dan kedua orang inilah yang membuat semua orang berani ikut-ikut berte puk tangan, kecuali tentu saja Raja Muda Baducin dan dua orang pengawal pribadinya itu
Gondalu merasa penasaran sekali dan beberapa kali dia memprotes, mengatakan dalam bahasanya sendiri kepada Raja Muda Baducin bahwa dia belum kalah karena belum roboh
Akan tetapi agaknya Baducin tahu diri
Dia tadi melihat betapa jagoannya memang tidak mampu berbuat banyak
Wanita muda itu te rlalu cepat gerakannya sehingga jagoannya belum pernah berhasil menampar atau memukul lawan satu kalipun, sedangkan wanita itu sudah beberapa kali memukul dan menendang dengan te pat, walaupun tidak dapat merobohkan Gondalu yang kebal
Maka diapun membentak Gondalu disuruh mundur
Gondalu, dengan muka merah, lalu berdiri di belakang raja muda itu
Ayah, siapakah enci yang amat lihai ini
Ia hebat sekali!
Ai Yin menghampiri ayahnya
Ketika melihat Siauw Can memondong anak perempuan kecil dan Bi Lan yang dikagumi itu menghampiri pemuda itu dan kini menggantikan memondong Lan Lan, Ai Yin mengerutkan alisnya sambil memandang kepada Siauw Can dengan penuh perhatian
Dan dia ini siapa, ayah
Apakah suami dari enci ini dan anak itu puteri mereka ?
Ha-ha ha, wanita ini adalah pengawal keluarga kita yang baru, Ai Yin
Sudahlah, nanti saja kita bicara dan berkenalan dengan mereka
Sekarang masih ada sebuah pertandingan lagi
Duduklah di sini, kita nonton pertandingan yang te ntu akan le bih menarik lagi,
kata sang pangeran
Ai Yin menghampiri ayahnya dan Siauw Can yang diam-diam memperhatikan, menelan ludah
Tak disangkanya bahwa Pangeran Li Siu Ti mempunyai seorang pute ri yang demikian cantik jelitanya, dan ketika melangkah, dia menelan ludah
Langkah dara itu mengandung le nggang yang menggairahkan dan memikat dan sebagai seorang laki-laki yang berpengalaman, tahulah dia bahwa dara itu memiliki watak yang menantang dan genit
Langkah itu buatan, dan memang hebat, le mah gemulai dan menonjolkan lekuk-lengkung tubuhnya, dengan pinggul yang menari-nari di balik bayangan pakaiannya! Dan dengan sikap amat manja Ai Yin duduk di samping ayahnya, te rsenyum-senyum anggun dan bangga karena ia yakin bahwa penampilannya, gaya dan le nggang tadi tentu akan membuat semua pria yang memandangnya menjadi mabok kepayang! Apalagi pemuda yang tampan gagah itu! Siauw Can kini maju dan memberi hormat kepada sang pangeran, otomatis juga kepada Ai Yin karena dara ini duduk di samping ayahnya
De ngan memasang senyumnya yang paling menarik, dengan sepasang mata yang bersinarsinar dengan sikap yang dibuat paling gagah, dia memberi hormat dan berkata,
Kalau paduka mengijinkan, saya akan menghadapi tantangan jagoan raksasa ke dua dari Raja Muda Baducin.
Perlihatkan kemampuanmu kalau kau ingin kami beri kedudukan yang tinggi,
kata sang pangeran
Siauw Can mengangguk dan ketika dengan sikap gagah dia membalik untuk menghampiri lawan, Ai Yin berseru,
Heiiii! Ambilkan perhias an di sorban lawanmu itu untukku!