Tentu saja ucapan Bi Lan membuat tujuh orang itu terbelalak
Belum pernah ada orang, apa lagi wanita, berani menghina mereka, memaki mereka seperti itu! Si codet memberi kesempatan kepada si brewok tadi dalam bahasa mereka, dan sambil menyeringai, memperlihatkan gigi yang putih berkilat si brewok melangkah maju mendekati Bi Lan
Wanita ini maklum bahwa te ntu tujuh orang itu akan membuat ribut, maka ia lalu menyerahkan Lan Lan kepada Siauw Can
Can toako, tolong kau pondong dulu Lan Lan, aku akan menghajar anjing-anjing keparat ini!
Melihat betapa wajah Bi Lan sudah menjadi merah s ekali dan sinar matanya mencorong, Siauw Can khawatir kalau-kalau Bi Lan melakukan pembunuhan sehingga akan menggegerkan kota raja
Dia menerima Lan Lan dan berkata,
Jangan lupa diri sampai membunuh, Lan-moi.
Bi Lan te rse nyum
Biarpun ia marah sekali, akan te tapi iapun maklum bahwa melakukan pembunuhan di te mpat umum dekat kota raja te ntu akan mendatangkan keributan
I a tidak ingin menjadi pengacau dan dimusuhi petugas keamanan kota raja
Ia menggeleng
Jangan khawatir, toako.
Si brewok kini sudah makin mendekat
Nona manis, aku akan memaafkan kelancangan mulutmu tadi asal engkau mau menciumku.
Enak saja!
tiba-tiba si codet membentak
Ia harus mencium kita bertujuh bergantian, baru kita mau memaafkannya.!
Si brewok tertawa
Nah, kau dengar sendiri, manis
Memang sudah untungmu hari ini, akan diciumi tujuh orang laki-laki jantan perkasa, ha ha ha! Nah, aku akan menciummu le bih dahulu!
Si brewok mengembangkan kedua le ngannya yang panjang, dan dari kanan kiri, kedua tangannya menyambar hendak merangkul tubuh Bi Lan
Wuuuuuttt.....!
Si brewok merangkul dan rangkulan itu hanya mengenai te mpat kosong karena Bi Lan dengan kecepatan luar biasa telah dapat mengelak
Si brewok membalik dan hendak menubruk lagi, akan te tapi Bi Lan mendahuluinya dengan loncatan ke depan dan kakinya menyambar
Ciumlah sepatuku ini........plokk!
Ujung sepatu kiri Bi Lan menendang tepat mengenal hidung yang panjang besar dan melengkung itu
Si brewok te rjengkang dan ketika dia bangkit kembali dia memegangi hidungnya yang bocor berdarah! Si brewok ini menjadi korban kelancangannya sendiri
Karena te rlalu memandang rendah Bi Lan yang disangkanya seorang wanita lemah yang hanya galak saja, maka hidungnya hampir pecah oleh tendangan wanita perkasa itu
Tentu saja kawan-kawannya menjadi marah dan merekapun berte riak-te riak untuk berlomba untuk menangkap Bi Lan
Hanya si codet yang masih berdiri saja dengan pecut diputar-putar dan matanya mengamati kawan-kawannya yang berlomba untuk menangkap Bi Lan
Kalau wanita itu tertangkap, akan diikat dengan cambuknya dan dilarikan ke tempat tinggal mereka
Wanita itu harus dihukum karena te lah berani menghina bahkan melukai si brewok
Akan te tapi, ia te rbelalak dan baru menyadari bahwa Bi Lan bukan wanita biasa
Biarpun dikeroyok lima orang yang rata-rata bertubuh tinggi besar, dapat bergerak cepat dan berte naga besar pula, namun wanita itu memiliki gerakan seperti seekor burung walet saja cepatnya, berkelebatan di antara lima orang pengeroyoknya
Sambil mengelak mengandalkan kegesitan tubuhnya, Bi Lan yang marah kepada orang-orang kasar itu membagi-bagi tamparan dan te ndangan
Lima orang Turki itu sebetulnya bukanlah orang-orang le mah
Mereka adalah anggota pasukan Turki, pasukan pedang bengkok yang ganas dan kuat dalam perang
Namun, mereka terlalu memandang rendah Bi Lan, dan juga sekali ini mereka bertemu dengan seorang lawan ahli silat tingkat tinggi yang lihai sekali
Maka, dalam beberapa gebrakan saja merekapun te rkena tamparan atau tendangan, sehingga satu demi satu terpelanting
Tar-tar-tarrrr......!!
Si codet yang marah sekali melihat anak buahnya dikalahkan seorang wanita muda, menggerakkan cambuk panjangnya
Cambuk hitam itu terbuat dari kulit dan selain panjang, juga le mas dan kuat sekali
Cambuk ini tadi telah mencabik-cabik baju seorang wanita dusun tanpa melukai kulitnya
Hal itu menunjukkan bahwa si codet ini memang ahli dalam memainkan cambuk
Bi Lan bersikap te nang
Ketika ujung cambuk menyambar ke arah dadanya, ia menggeser kaki ke samping sehingga ujung cambuk itu luput
Si codet menjadi semakin beringas
Tangannya bergerak le bih kuat dan cepat
Cambuknya kini menyambarnyambar bagaikan seekor ular panjang yang hidup
Bi Lan tetap mengandalkan kelincahan gerakan tubuhnya untuk berloncatan ke sana sini mengelak sambil memperhatikan gerakan cambuk
Setelah ia melihat perubahan gerakan cambuk ketika menyusulkan serangan baru, dengan gerakan melengkung ke atas, ia lalu mengelak lagi dan pada saat cambuk itu melengkung ke atas untuk menyambung serangan yang luput, ia telah mendahului dan menggunakan tangan kanan menangkap ujung cambuk! Bi Lan mengerahkan te naga mempertahankan ketika si codet menarik cambuknya
De ngan kekuatan sin kang
ujung cambuk itu seperti melekat pada tangannya dan dengan perhitungan yang te pat, tiba-tiba Bi Lan melepaskan cambuknya
Wuuutttt......tarr.......! Aduhhh...!
Si codet berte riak kesakitan karena dagunya dicium ujung cambuknya sendiri dengan kuatnya sehingga te rluka dan berdarah! Melihat ini, enam orang anak buahnya mencabut pedang bengkok mereka dan bersama si codet yang semakin marah mereka hendak mengeroyok Bi Lan dengan senjata di tangan
Serang, bunuh perempuan jahat ini!
Si codet memberi aba-aba dan ia sendiripun sudah memutar cambuknya dengan kemarahan meluapluap
Luka di dagunya tidak ada artinya dibandingk luka di hatinya, karena dia merasa te rhina dan malu sekali dikalahkan seorang wanita muda, di depan umum pula
Bi Lan sudah siap siaga
Akan tetapi ketika tujuh orang itu mulai bergerak, tiba-tiba nampak bayangan berkelebat, didahului sinar menyilaukan mata
Terdengar suara senjata beradu, berdeting dan enam batang pedang bengkok itupun terpental dan te rlepas dari tangan pemiliknya, sedangkan cambuk itupun te rle pas
Tujuh orang itu te rhuyung ke belakang sambil memegangi tangan kanan yang te rasa nyeri karena sambaran sinar suling di tangan Siauw Can! Pemuda ini tidak melukai mereka hanya menotok dengan ujung sulingnya, ke arah tangan kanan mereka sehingga mereka terpaksa melepaskan senjata mereka dan te rhuyung ke belakang dengan mata terbelalak kaget
Lebih-lebih rasa kaget dan heran mereka ketika melihat bahwa yang membuat senjata mereka terlepas tadi adalah si kusir kereta, pemuda tampan itu yang tangan kirinya memondong anak perempuan kecil sedangkan tangan kanannya memegang sebatang suling! Hanya dengan sulingnya, dan sambil memondong anak kecil, pemuda itu mampu membuat senjata mereka bertujuh terlepas! Hal ini saja sudah membayangkan betapa lihainya pemuda ini
Akan te tapi, tujuh orang Turki itu bukan hanya mengandalkan kekerasan dan kepandaian saja untuk memaksakan kemenangan, melainkan te rutama mengandalkan kedudukan mereka! Biarpun mereka maklum bahwa mereka tidak akan mampu menang kalau berkelahi melawan wanita muda dan pemuda kusir yang lihai ini, namun mereka masih berani membentak
Kalian berani melawan kami, para anggota Pasukan Pedang Bengkok?
te riak si codet
Pada saat itu, dari kelompok penonton yang memenuhi tempat itu, muncul seorang pria berusia limapuluhan tahun, berpakaian bangsawan
Pria ini sejak tadi ikut pula menonton dengan kagum dari atas kudanya dan kini dia meloncat turun, membiarkan kudanya dipegangi kendalinya oleh seorang pengawal dan diapun maju menghampiri tujuh orang itu
Kalian ini selalu mendatangkan keributan!
te gurnya
Ketika si codet dan kawan-kawannya melihat bangsawan itu, mereka memberi hormat dengan membungkukkan tubuh
Poa-taijin (pembesar Poa)......!
kata si codet sambil memberi hormat ditiru semua anak buahnya
Pembesar yang bermata s ipit itu berkata dengan suara mengandung teguran
Kalian sungguh ceroboh, berani sekali mengganggu tai-hiap dan li-hiap ini! Tahukah kalian
Mereka ini adalah sanak keluarga dari Pangeran Tua Li yang baru tiba dari dusun!
Tujuh orang Turki itu te rbelalak dan muka mereka berubah pucat
Si codet cepat memberi hormat kepada Siauw Can dan Bi Lan, kembali diikuti ole h keenam orang anak buahnya
Mohon ji-wi (kalian) sudi memaafkan kami yang tidak mengenal ji-wi maka bersikap kurang hormat.
Setelah berkata demikian, mereka bertujuh cepat memungut senjata mereka dan pergi dari situ dengan langkah lebar dan muka ditundukkan
Melihat pembesar itu kini memandang kepada mereka sambil tersenyum ramah Siauw Can cepat memberi hormat dan berkata,
Maafkan kami, taijin, akan tetapi kami tidak mengerti..
Pembesar itu membuat gerakan dengan tangan menghentikan ucapan Siauw Can, lalu dia menoleh ke arah orang-orang yang masih berkerumun menonton di situ sambil membicarakan perkelahian tadi, memuji-muji Bi Lan dan Siauw Can
Hei, kalian menonton apa
Kami bukan tontonan, hayo pergi melanjutkan perjalanan dan pekerjaan kalian masing-masing!
Mendengar bentakan seorang pembesar yang berpakaian mewah, para penonton itu menjadi takut dan merekapun bubar
Keadaan menjadi sunyi kembali dan pembesar itu mendekati Siauw Can
Tai-hiap, kalau kami tidak mencampuri, kalian te ntu akan dikeroyok oleh ratusan orang anggota pasukan Turki itu
Akan tetapi di sini bukan te mpat kita bicara
Marilah ikut dengan kami menghadap Pangeran Tua
Kalian tentu akan mendapatkan kedudukan yang pantas kalau suka membantu beliau.
Siauw Can saling pandang dengan Bi Lan
Sungguh merupakan peristiwa yang amat kebetulan dan amat menguntungkan mereka
Tanpa dicari, pekerjaan datang sendiri, bahkan mereka akan dihadapkan kepada seorang pangeran! Dan Siauw Can sudah tahu siapa Pangeran Tua! Adik kaisar! Tentu mereka akan dapat memperoleh kedudukan yang amat baik!
I ngat, demi keselamatan kalian! Kalau kalian menolak dan melihat bahwa kalian bukan orangorang Pangeran Tua, tentu orang-orang Turki itu tidak akan membiarkan kalian bebas dan kalian akan te rancam bahaya besar.
kata pembesar itu ketika melihat keraguan pada wajah si wanita cantik