Akan tetapi kebaikan orang ini sudah berle bihan, bukan saja menyelamatkannya dan mengajaknya melarikan diri dari kota Peng-lu, akan tetapi bahkan hendak menyediakan kuda dan kereta.! Ini sudah melampaui batas dan menimbulkan kecurigaan
Sejenak Hong San tertegun karena kaget mendengar pertanyaan yang dirasakannya seperti suatu serangan kilat itu
Untung bahwa malam gelap menyembunyikan wajahnya
Dia segera dapat menenangkan hatinya yang tadi khawatir kalau-kalau gadis ini mengetahui latar belakang kehidupannya
Dia tertawa kecil dan berkata dengan suara halus
Aih, benar juga engkau, nona
Kita belum berkenalan, dan tentu saja nona curiga kepadaku
Nah, perkenalkan, aku Can Hong San.......
Dia berhenti lagi dan mencoba untuk menatap wajah cantik itu melalui kegelapan malam untuk melihat reaksi wanita itu ketika dia memperkenalkan namanya
Akan te tapi sunyi saja dan tidak ada tanda bahwa wanita itu mengenal namanya, maka diapun melanjutkan dengan hati lega
Aku hidup sebatangkara di dunia ini bebas le pas seperti seekor burung di udara
Kebetulan saja di dalam perjalanan, aku bertemu denganmu, nona
Aku te rtarik dan kasihan ketika melihat engkau dikeroyok perampok
Dan kebetulan pula di Peng-lu aku melihat nona memasuki rumah makan itu
Kemudian melihat nona pergi bersama para perwira naik kereta
Aku merasa curiga dan membayangi, kemudian turun tangan membantumu
Nah, demikianlah, nona
Dan te ntang memperhatikanmu dan baik kepada kalian, ehh.......kenapa
Bukankah sudah seharusnya hidup ini saling tolong?
Tapi.......tapi.......kalau engkau hidup sebatangkara, bagaimana engkau demikian royal, hendak membeli kuda dan kereta untuk kami seperti seorang hartawan besar saja?
Bi Lan menatap tajam, akan tetapi karena cuaca hanya remang-remang, te ntu saja ia tidak dapat melihat wajah pemuda itu dengan jelas
Oooooh, itukah?
Hong San te rtawa,
Pantas, saja engkau curiga, nona
Aku bukan seorang hartawan, bahkan rumahpun aku tidak punya
Akan tetapi sebulan yang lalu, aku menyelamatkan rombongan saudagar kaya dari serbuan para perampok
Mereka membawa barang dagangan yang banyak dan berharga sekali
Karena senangnya, mereka memaksaku menerima sekantung emas permata walaupun aku menolak dan tidak mengharapkan apa-apa
Melihat kerelaan dan kesungguhan hati mereka, agar tidak mengecewakan, aku menerimanya
Tadinya aku bingung, untuk apa harta itu bagiku, akan te tapi sekarang aku girang dapat menggunakan sebagian dari itu untuk membantumu
Engkau membawa anakmu yang masih kecil, maka sebaiknya kalau menggunakan kereta.
Lega rasa hati Bi Lan
Memang ia tidak mencurigai orang yang te lah dua kali menyelamatkannya dari ancaman bahaya, akan tetapi karena ia belum mengenal pemuda ini, ia harus berhati-hati
Kalau begitu, maafkanlah aku, tai hiap (pendekar besar), dan mari kita lanjutkan perjalanan ke dusun itu.
Ehhhh
Engkau belum memperkenalkan dirimu, nona.....
kata Hong San sambil mengejar ke depan
Nanti saja kita bicara lagi kalau sudah tiba di sana
Anak ini sudah tertidur.
Mereka melangkah, menuju ke dusun yang sudah kelihatan lampu-lampunya berkelap-kelip di kejauhan
Melihat wanita itu diam saja, Hong San merasa khawatir
Maaf, nona
Mungkin aku tadi keliru menyebut anak ini sebagai anakmu, mungkin ini adikmu atau keponakanmu.
Dalam kegelapan itu Bi Lan tersenyum
Ini anakku, namanya Lan Lan.
katanya singkat
Ah, maaf, kalau begini anda seorang nyonya, bukan nona.....! Kenapa nyonya melakukan perjalanan seorang diri bersama anak nyonya?
Sudahlah, nanti saja kita bicara.
Hong San maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita yang pendiam dan mungkin keras hati
Maka diapun tidak mau banyak bicara lagi dan menjadi penunjuk jalan memasuki dusun itu dan menghampiri sebuah rumah kecil yang berdiri di ujung jalan dusun itu
Dia mengetuk daun pintu sambil memanggil
Paman Gu, buka pintu, ini aku yang datang!
Daun pintu dibuka dari dalam dan seorang lakilaki berusia limapuluhan tahun, berpakaian petani sederhana, menyambut mereka
Begitu melihat Hong San, dia tersenyum ramah
Aih, kiranya Can-kongcu (tuan muda Can) yang datang! Bersama siapakah nona ini
Dan dari mana malam-malam begini..........?
Paman Gu, ini adikku dan pute rinya
Aku akan menyewa kamar itu, bekas kamar anakmu itu, untuk adikku dan keponakanku ini tidur
Aku sendiri dapat tidur bersama paman di kamar paman.
Ah, baiklah, kongcu
He mm, anak ini sudah pulas , sebaiknya cepat ditidurkan saja
Mari, nyonya muda, inilah bekas kamar anakku yang kini ikut suaminya
Tidurlah di sini bersama anakmu......
Petani itu membukakan pintu sebuah kamar sederhana yang cukup bersih
Aku pernah menyewa kamar ini selama seminggu
Tidurkanlah anakmu, di sini tenang.
kata Hong San
De ngan hati lega dan berterima kasih Bi Lan lalu memasuki kamar itu, menidurkan Lan Lan di atas pembaringan dan melepaskan buntalannya, meletakkannya di atas meja
Setelah menyalakan sebatang lilin lagi untuk menambah penerangan di kamar itu, iapun keluar dari dalam kamar
Baik, kongcu, aku akan berusaha mendapatkan apa yang kaucari itu
Nah, aku akan pergi sekarang juga
Nyonya, beristirahatlah, saya hendak pergi dulu mencarikan kuda dan kereta yang dipesan kongcu.
Petani itu menjura ke arah Bi Lan, lalu keluar dari pondok, menutupkan daun pintunya dengan hati-hati dari luar
Bi Lan kini duduk menghadapi meja bersama Hong San setelah pemuda itu mempersilakannya duduk
Mereka saling berpandangan, dan keduanya kagum
Di bawah sinar lampu yang remang-remang mereka saling mengagumi wajah masing-masing
Hong San melihat betapa wajah yang bulat itu berkulit putih mulus, juga leher dan tangan itu
Putih mulus yang wajar
Hidung yang mancung kecil itu mungil dan mata itu bagaikan sepasang bintang, gemerlapan tajam
Di lain pihak, Bi Lan juga kagum
Pemuda yang usianya sekitar duapuluh tujuh tahun itu memang tampan dan gagah
Pakaiannya seperti seorang sastrawan, sederhna namun bersih
Caping lebar yang tadi dipergunakannya, kini te rgantung di dinding
Wajah itu jantan
Hidungnya mancung dan besar, matanya tajam agak terlalu hitam, dan bibirnya kemerahan seperti bibir wanita, akan te tapi lebih besar dan penuh gairah
Kulitnya agak coklat dan wajah itu membayangkan ketampanan orang dari daerah barat
Hal ini tidak aneh karena Can Hong San memang berdarah Nepal
Ibu kandungnya seorang puteri Nepal!
Nah, sekarang kuharap engkau suka memperkenalkan dirimu, nyonya, te ntu saja kalau engkau percaya kepadaku.
Bi Lan menarik napas panjang
Tentu saja aku percaya kepadamu, tai-hiap.
!
Nanti dulu, nyonya!
Hong San menghentikan dengan mengangkat tangan kanan ke atas
Harap engkau tidak menyebut aku tai-hiap, sungguh hanya membuat aku merasa malu dan canggung!
Lalu ia menatap tajam wajah yang manis itu
Maukah engkau menyebut aku toako (kakak) saja
Namaku Hong San dan aku sama sekali tidak suka disebut tai-hiap (pendekar besar), apa lagi oleh seorang wanita perkasa seperti nyonya.
Bi Lan te rsenyum
Hemm, engkau melarangku menyebutmu tai-hiap, akan tetapi engkau sendiri menyebut aku nyonya! Seharusnya aku menyebut tuan kepadamu, akan te tapi engkau ingin aku menyebut toako
Kalau aku menyebut kakak, apa sebutan seorang kakak terhadap adiknya?
Hong San tertawa gembira
Biarpun tidak banyak bicara, te rnyata wanita ini dapat diajak berkelakar
Baiklah, aku akan menyebutmu moi-moi (adik perempuan)
Aneh, seorang kakak tidak tahu nama adiknya!
Toako, namaku Bi Lan, Kwa Bi Lan.
Hemmm, nama yang indah sekali!
Kiranya selain gagah perkasa, engkau juga seorang perayu, toako
Namaku biasa saja engkau katakan indah.
Maaf, Lan-moi
Aku bukan bermaksud merayu, hanya........ah, sudahlah, aku hanya berkelakar, lanjutkan bicaramu.
Bicara apa lagi
Sudah kuperkenalkan namaku
Aku Kwa Bi Lan dan ana kku itu, namanya Lan Lan.
Dan siapa nama suamimu
Di mana te mpat tinggalmu dan kenapa engkau melakukan perjalanan berdua saja dengan anakmu yang masih kecil
Darimana dan hendak ke manakah engkau pergi, Lan-moi?
Bi Lan melirik ke arah wajah pemuda itu, te rsenyum sedih
Orang ini demikian memperhatikan dirinya dan pertanyaannya datang seperti banjir saja
Toako, engkau ingin tnhu segalanya, akan tetapi engkau tidak mau menceritakan segalanya te ntang dirimu sendiri
Engkau hanya memperkenalkan namamu, dan akupun sudah membalas dengan memperkenalkan nama kami
Kalau ingin mendengar tentang keadaan dan keluargaku, tidakkah sepatutnya kalau seorang laki-laki lebih dahulu menceritakan tentang dirinya?
Ha-ha-ha, engkau tidak mau kalah, itu tandanya engkau belum percaya benar kepadaku
Baiklah, akan kuceritakan semua tentang diriku, akan tetapi tidak ada yang menarik tentang diriku
Aku berusia duapuluh tujuh tahun, aku hidup sebatangkara, belum pernah menikah, yatim piatu dan tidak mempunyai keluarga seorangpun
Aku tidak mempunyai te mpat tinggal yang te tap
Seorang kelana yang tidak mempunyai apa-apa
Guruku adalah ayahku sendiri yang sudah meninggal dunia, bernama Can Siok
Selama ini aku hanya mengembara, kemana saja hati dan kaki ini membawaku
Nah, hanya inilah cerita te ntang diriku, Lan-moi
Sama sekali tidak menarik, bukan?
Bi Lan mendengarkan dengan heran
Seorang pemuda yang begini tampan gagah, berilmu tinggi, usianya sudah sangat dewasa, kenapa hidup seorang diri saja dan tidak menikah
Tentu seorang pendekar petualang ynng selalu ingin hidup bebas.!
Eh
Kenapa engkau diam saja, Lan-moi
Aku sudah siap mendengarkan cerita tentang dirimu!
Bi Lan menghela napas panjang
Kalau engkau mengatakan bahwa riwayatmu tidak menarik, sebaliknya riwayatku le bih buruk lagi, malah hanya menyedihkan saja.
Yang sudah lalu hanya menjadi kenangan, Lanmoi, tidak ada gunan ya disedihkan lagi
Nah, ceritakanlah, aku ingin sekali mendengar agar perkenalan antara kita menjadi lebih akrab.
Akupun hidup berdua saja dengan anakku Lan Lan
Sekarang inipun aku masih belum mempunyai te mpat tinggal yang te tap.
Bi Lan berhenti seolah-olah cerita tentang dirinya habis sekian saja
Tapi, suamimu.........?
Hong San mendesak
Dan siapa pula gurumu, orang tuamu?
Kedua orang tuaku sudah lama meninggal dunia
Dan suamiku, dia juga guruku sendiri, dia sudah meninggal dunia.........