Dengan mengandalkan San-po Cin-keng, biarpun dikeroyok orang yang jauh lebih banyak lagi, Suma Lian akan mampu menyelamatkan dirinya. Yang membuat ia sibuk adalah memikirkan Yo Han. Anak itu masih berada di pinggiran, agaknya masih mencari-cari kesempatan untuk melarikan diri karena tempat itu masih terkepung-banyak orang berpakaian merah Agaknya Yo Han kini menjadi nekat. Melihat betapa gadis penolongnya itu masih dikeroyok dan kini lebih banyak lagi orang berpakaian merah mencabut pedang hendak maju mengeroyok, tiba-tiba dia melarikan diri hendak menerobos keluar. Akan tetapi, tiba-tiba Sin-kiam Mo-li meloncat dan sekali menotok, tubuh anak itu pun terjungkal dan tidak mampu bergerak lagi! Sin-kiam Mo-li menjadi marah.
"Hemm, kiranya engkau memiliki juga sedikit ilmu kepandaian!"
Katanya dan ia pun sudah mengeluarkan sepasang senjatanya, yaitu kebutan merah bergagang emas dan pedang di tangan kanan. Dengan sepasang senjatanya ini, Sin-kiam Mo-li meloncat ke depan dan seperti seekor burung saja, tubuhnya melayang ke atas, lalu menukik ke bawah, kebutan berbulu merah itu menotok ke arah ubun-ubun kepala Suma Lian sedangkan pedangnya membabat ke arah leher. Serangan ini cepat, kuat dan tidak terduga datangnya.
"Ihhh!"
Suma Lian terkejut juga. Tak disangkanya bahwa wanita cantik itu sedemikian lihainya. Cepat ia mengelak dengan geseran kaki ke kiri dan sulingnya diangkat untuk menangkis kebutan yang datang dari atas, berusaha untuk membabat bulu kebutan merah yang menotok ke arah ubun-ubun kepalanya!
Patut diketahui bahwa biarpun senjata yang berada di tangan Suma Lian itu sebatang suling emas yang tentu saja tidak setajam seperti pedang, namun karena ilmu yang dimainkan itu adalah ilmu pedang gabungan yang amat lihai, maka sinar suling itu saja sudah mengandung hawa kuat dan ketajaman seperti pedang! Sin-kiam Mo-li juga bukan seorang bodoh yang memandang rendah lawan. Ia tadi sudah tahu bahwa gadis yang memegang suling emas ini lihai bukan main dan suling itu sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Maka, melihat betapa sinar emas yang menyilaukan mata itu menyambar ke arah kebutannya, ia merasa khawatir kalau kebutannya rusak atau rontok bulunya. Cepat ia mengerahkan tenaganya dan dengan tenaga sin-kang ini ia membuat bulu-bulu kebutannya itu berubah kaku seperti kawat baja.
"Traaanggg....!"
Bunga api berpijar dan kembali Sin-kiam Mo-li terkejut karena tangan yang memegang gagang kebutan itu tergetar hebat dan ada hawa dingin sekali menyusup melalui tangannya sampai ke siku lengan!
"Ihhhhh...."
Cepat ia mengerahkan sin-kang untuk melawan dan mendorong hawa dingin itu agar keluar kembali karena kalau dibiarkan, hawa dingin itu akan terus memasuki tubuhya dan ia bisa celaka.
Wajahnya berubah agak pucat karena hawa dingin itu mengingatkan ia akan keluarga para pendekar Pulau Es. Ia melompat ke belakang dan membiarkan orang-orangnya yang berpakaian merah untuk terus melakukan pengepungan dan pengeroyokan. Akan tetapi, orang-orang Ang-i Mo-pang juga merasa jerih dan mereka hanya mengurung sambil berputaran saja. Liok Cit sendiri pun belum berani menyerang lagi. Melihat betapa Sin-kiam Mo-li saja yang mempergunakan pedang dan kebutannya kini meloncat mundur dengan kaget, apalagi dia! Sementara itu, Sin-kiam Mo-li yang meloncat mundur kini memandang tajam, karena ia teringat akan gadis yang bernama Pouw Li Sian itu, yang ternyata adalah murid mantu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es. Dan kini tiba-tiba saja muncul seorang gadis lain yang mempergunakan sin-kang yang mengandung hawa dingin pula.
"Kau.... kau murid keluarga Pulau Es?"
Tanyanya, agak gagap karena bagaimanapun juga, ia merasa jerih berhadapan dengan orang-orang Pulau Es. Melihat betapa wanita cantik yang lihai itu meloncat mundur, namun bagaimanapun juga tadi dapat menahan Swat-im Sin-kang yang ia pergunakan untuk menangkis kebutan, dan bulu kebutan itu pun berubah menjadi kaku seperti kawat baja, bahkan kini dapat mengenal sin-kangnya sehingga dapat menduga bahwa ia murid keluarga Pulau Es, diam-diam Suma Lian merasa kagum. Wanita ini jelas bukan orang sembarangan saja. Kalau saja ia dapat lebih lama bercakap-cakap dengan Kao Hong Li dan mendengar bahwa seorang di antara para pembunuh penghuni Istana Gurun Pasir adalah Sin-kiam Mo-li,
Wanita ini, tentu akan lain lagi sikapnya! Mendengar pertanyaan wanita itu, Suma Lian tersenyum. Ia tahu bahwa lawan ini lihai sekali, dan dibantu oleh demikian banyaknya anak buah yang juga tidak boleh dipandang ringan, kalau ia dikeroyok, keadaannya cukup berbahaya. Apalagi mengingat akan anak laki-laki yang kini sudah tertawan kembali dan tertotok oleh wanita itu bahkan kini telah dijaga oleh dua orang berpakaian merah, ia tahu bahwa pihaknya berada dalam keadaan yang lemah. Sebaliknya kalau ia dapat minta anak itu. secara damai. Ia sendiri tidak khawatir akan keselamatan dirinya karena ia yakin akan mampu membela diri, akan tetapi bagaimana dengan anak laki-laki itu? Maka ia pun tersenyum dan menjawab terus terang untuk mempergunakan nama besar keluarganya agar wanita itu tunduk.
"Enci, engkau sendiri seorang yang berilmu tinggi. Ketahuilah, namaku Suma Lian, aku cucu buyut dalam dari penghuni Istana Pulau Es. Dan siapakah engkau, dan kuharap engkau suka menyerahkan anak itu kepadaku agar dapat kuantar pulang ke rumah orang tuanya."
Akan tetapi, begitu mendengar pengaku-an gadis itu bahwa ia adalah cucu Pendekar Super Sakti, Sin-kiam Mo-li terkejut dan cepat memberi aba-aba kepada anak buahnya.
"Serang dan tangkap gadis ini, kalau perlu bunuh!"
Tentu saja Suma Lian terkejut mendengar ini dan ia pun marah. Mukanya menjadi merah dan sepasang matanya mengeluar-kan sinar mencorong.
"Bagus! Kau kira aku takut menghadapi pengeroyokan kalian? Majulah kalau kalian semua sudah bosan hidup!"
Mendengar perintah Sin-kiam Mo-li, Tok-ciang Hui-moko Liok Cit lalu memberi aba-aba rahasia kepada para anak buah Ang-i Mo-pang. Dua puluh empat orang membuat lingkaran mengepung Suma Lian dan mereka berlari-lari mengelilingi gadis itu. Suma Lian maklum bahwa mereka itu mempergunakan barisan yang teratur dan kalau ia terpengaruh oleh gerakan mereka yang berlari-larian mengelilingi, sedikitnya ia akan merasa pening. Oleh karena itu, ia tidak mempedulikan gerakan mereka yang berlarian mengelili-nginya itu.
Ia melihat pula betapa di luar barisan pertama yang berlarian mengelilinginya searah jarum jam itu, terdapat pula belasan orang berpakaian merah yang juga berlarian, akan tetapi dengan arah yang berlawanan dari barisan pertama yang berada di sebelah dalam. Ia tidak membiarkan dirinya terpengaruh. Sebagai puteri Suma Ceng Liong yang sudah digembleng oleh ayahnya dalam ilmu sihir, Suma Lian maklum bahwa dalam barisan ini pun ada unsur kekuatan sihirnya, maka ia pun tidak mau terpengaruh, melainkan berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang, tangan kanan memegang suling emas yang dilintangkan di depan dada, tangan kiri digantung di pinggang. Biarpun ia nampak santai saja, namun sesungguhnya ia telah siap siaga dan seluruh urat syaraf di tubuhnya sudah siap menghadapi serangan.
Terdengar Liok Cit memberi aba-aba dan mulailah barisan sebelah dalam yang terdiri dari dua puluh empat orang yang mengelilinginya itu mempersempit lingkaran, terpecah menjadi tiga kelompok dan kini delapan orang yang mengepungnya, dua masing-masing di depan belakang dan kanan kiri dan delapan orang ini sudah menyerangnya dalam saat yang bersamaan, mempergunakan pedang mereka. Adapun sisanya, dua kelompok lagi dari masing-masing delapan orang siap menjadi pasukan lapis ke dua dan ke tiga, dan masih ada lagi lapisan di sebelah luarnya! Diserang oleh delapan orang dari delapan penjuru, Suma Lian tidak merasa gentar. Ia seorang gadis yang cerdik dan ia tidak sudi membiarkan dirinya dikepung oleh barisan berlapis-lapis itu. Kalau ia melayani mereka, tentu akan habis tenaganya dan agaknya inilah yang akan dilakukan mereka. Maka, melihat dirinya diserang dari delapan penjuru, ia malah menubruk ke depan,
Memutar sulingnya dan dua orang penyerang di depannya terjungkal dan ia pun terus menerobos keluar kepungan itu karena serangan enam orang lainnya tidak mengenai sasaran dan kepungan itu pun bobol dengan robohnya dua orang di depannya. Ia sudah dihadang oleh barisan lapis ke dua, juga berjumlah delapan orang yang kiri langsung menyerangnya sambil lari berputar. Agaknya Liok Cit cukup pandai sehingga melihat cara Suma Lian membobolkan kepungan lapisan pertama, dia lalu memerintahkan lapisan kedua untuk menyerang sambil bergerak memutari gadis itu agar gadis itu tidak mampu membobol satu bagian saja seperti yang dilakukannya tadi. Akan tetapi, Liok Cit terlalu memandang rendah gadis itu kalau dia mengharapkan akalnya berhasil. Kalau ia menghendaki, sekali memutar sulingnya, tentu saja Suma Lian akan mampu merobohkan delapan orang penyerangnya itu, sekaligus membunuh mereka.
Akan tetapi, ia seorang pendekar wanita yang pantang membunuh sembarangan saja. Ia tahu bahwa orang-orang yang berpakaian serba merah itu hanyalah anak buah yang mentaati perintah atasan. Mereka itu tidak bermusuhan dengannya. Yang harus dirobohkan adalah Liok Cit dan pemimpinnya, yaitu wanita cantik itu. Kalau ia berhasil merobohkan mereka, tentu akan mudah baginya untuk menyelamatkan anak laki-laki yang mereka culik dan tawan. Dengan langkah ajaib San-po Cin-keng dan Ilmu Silat Kong-jiu Jip-tin (Tangan Kosong Memasuki Barisan) mudah saja baginya untuk melangkah dan mengelak dari sambaran delapan batang pedang itu dan tiba-tiba delapan orang itu menjadi terkejut dan bingung karena tiba-tiba saja ada bayangan berkelebat dan mereka tidak lagi melihat gadis itu, seolah-olah gadis itu dapat menghilang dari depan mata mereka.
Padahal, Suma Lian tadi memperguna-kan ginkangnya dan ia sudah mencelat ke atas, melampaui kepala delapan orang itu dan dari atas ia melihat betapa Liok Cit memberi aba-aba sambil berdiri di atas gundukan tanah yang tinggi. Maka, sekali meloncat, kini tubuhnya sudah meluncur ke arah orang itu! Tentu saja Liok Cit kaget setengah mati ketika melihat gadis itu kini meloncat ke arahnya dan menyerang dengan suling yang berubah menjadi gulungan sinar emas itu. Dia sendiri seorang ahli gin-kang yang bahkan lebih lihai dari gadis itu, akan tetapi karena serangan yang dilakukan Suma Lian itu tiba-tiba sekali datangnya dan tidak terduga lebih dahulu, dia pun tidak sempat untuk mengelak dan terpaksa mempergunakan pedangnya menangkis sinar emas yang menyambar ke arah dadanya.
"Tranggg....!"
Sungguh hebat pertemuan antara suling dan pedang itu dan akibatnya, pedang di tangan Liok Cit terlepas dan orang ini lalu menyelamatkan diri dengan melempar tubuh ke belakang, bergulingan di atas tanah! Suma Lian mengejar dan siap untuk menotok dengan sulingnya, akan tetapi, sebatang pedang menangkisnya.
"Cringgg....!"
Kiranya yang menangkis adalah Sin-kiam Mo-li dan wanita ini merasa kagum bukan main, juga kaget. Sungguh hebat ilmu kepandaian cucu buyut penghuni Istana Pulau Es ini. Sementara itu, melihat betapa pedang yang menangkisnya tadi berada di tangan wanita itu yang agaknya mulai turun tangan sendiri membantu anak buahnya, Suma Lian menjadi girang. Memang inilah yang diharapkan, yaitu langsung bertanding melawan wanita itu dan Liok Cit! Ia sudah siap menyerang wanita itu, akan tetapi tiba-tiba ia menghentikan gerakannya dan berdiri terpukau melihat betapa sambil tersenyum licik wanita itu menodongkan pedangnya ke dada anak laki-laki yang dicengkeram pundaknya!
"Suma Lian, menyerahlah atau terpaksa aku akan menusuk dada anak ini dengan pedangku, baru akan mengeroyokmu sampai engkau tertawan, hidup atau mati!"
Tentu saja Suma Lian menjadi bingung. Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa wanita yang cantik dan berkepandaian tinggi itu akan melakukan muslihat yang demikan curang, tanpa malu-malu melakukan siasat licik ini. Ia terlibat dengan mereka hanya untuk menyelamatkan anak laki-laki itu, apa artinya kalau sampai anak itu terbunuh karena ia mengamuk? Dan wanita itu bukan orang yang bodoh, agaknya tidak akan segan lagi membunuh anak itu untuk memaksakan kemauannya, untuk membuat ia tidak berdaya. Akan tetapi, meninggalkan anak itu begitu saja pun ia tidak tega. Ia pun menjadi bingung dan meragu, dan pada saat itu terdengar suara anak laki-laki itu, lantang dan penuh keberanian.