Kata Suma Lian marah, akan tetapi sikapnya tetap tenang.
"Akan tetapi jangan dikira bahwa aku takut menghadapi badut-badut ini!"
Padahal diam-diam ada suatu hal yang dikhawatirkan Suma Lian, yaitu anak itu. Bagaimana mungkin ia dapat melindungi anak itu kalau ia harus menghadapi pengeroyokan begitu banyak orang!
"Yo Han, dengar baik-baik. Kalau nanti aku berkelahi dengan mereka berusahalah untuk melarikan diri dari sini!"
Bisiknya kepada anak itu yang hanya dapat mengangguk, akan tetapi mata anak itu memandang ke sekeliling di mana orang-orang berpakaian serba merah telah bergerak maju mengepung. Dia memang sudah melihat orang-orang itu ketika dibawa pergi ke sini dan dia tidak tahu siapa mereka, apa pula maksud wanita cantik yang menahannya.
"Adik manis,"
Kata Sin-kiam Mo-li yang dapat menduga bahwa gadis itu tentu lihai dan ia justeru bertugas untuk menghimpun orang-orang lihai. Mengapa tidak dicobanya mendekati gadis ini dan membujuknya untuk bersahabat dan bersekutu?
"Di antara kita tidak ada permusuhan apa pun dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kami tidak berniat buruk terhadap Yo Han. Kalau kami berniat buruk, tentu dia tidak selamat sampai sekarang. Nah, setelah engkau datang memintanya, kami telah memberikan dengan suka rela. Apakah engkau tidak mau menghargai sikap persahabatan ini? Mari kita ber-sahabat dan siapa tahu di antara kita dapat bekerja sama!"
Suma Lian semakin waspada. Wanita ini mempunyai niat tertentu,pikirnya. Ia tersenyum. Orang itu menyebut adik, maka biarpun ia tahu bahwa usia wanita itu lebih tua dari ibunya, ia menyebutnya enci.
"Enci, aku adalah seorang yang suka hidup mengembara, seorang diri dan tidak ingin mengikatkan diri dengan kerja sama dengan orang lain. Dan masih banyak urusan yang harus kuselesaikan. Kalau kalian memang berniat baik dan mengembalikan anak ini kepadaku, terima kasih dan biarlah aku membawa Yo Han pulang ke rumahnya. Nah, selamat tinggal! Mari, Yo Han, kita pergi!"
Akan tetapi, tiba-tiba Sin-kiam Moli berseru marah.
"Tahan! Hemmm, engkau ini masih muda akan tetapi sungguh tinggi hati sekali. Engkau datang tanpa kami undang, engkau menggunakan kekerasan terhadap pembantu kami, dan sekarang hendak pergi begitu saja? Tidak mungkin! Engkau harus berjanji membantu kami, mau atau tidak. Kalau melawan celaka. Liok Cit, pergunakan pasukan tangkap gadis ini!"
Biarpun Liok Cit sudah merasa jerih terhadap gadis ini, namun kini di situ ada Sin-kiam Mo-li dan ada puluhan orang anak buah Ang-i Mo-pang, maka tentu nyalinya menjadi besar. Pula dengan gin-kangnya yang istimewa, dia masih mampu menyelamatkan diri kalau sampai gadis ini mengamuk.
"Kepung ia, tangkap!"
Teriaknya dan belasan orang anggauta Ang-i Mo-pang yang belum mengenal Suma Lian dan memandang rendah, lalu mengurungnya dan serentak mereka itu menubruk hendak menangkap, seperti sekawanan serigala memperebutkan kelinci yang muda dan segar dagingnya.
Mereka berlumba untuk dapat merangkul dan memeluk gadis yang cantik itu. Menghadapi sergapan mereka, Suma Lian memutar tubuhnya sambil menggerakkan kedua tangannya dan terjadilah hal yang membuat Sin-kiam Mo-li terkejut bukan main. Belasan orang itu seperti disambar halilintar, atau seperti sekumpulan daun kering diterjang angin keras. Mereka terpelanting dan terbanting jatuh sebelum dapat menyentuh tubuh gadis itu! Tentu saja Sin-kiam Mo-li terkejut. Belasan orang anggauta Ang-i Mo-pang itu bukanlah orang-orang lemah! Akan tetapi, bahwa hawa pukulan yang keluar dari kedua tangan gadis itu, juga gerakan memutar tubuh itu, menunjukkan ilmu yang tinggi tingkatnya! Tahulah ia kini mengapa Liok Cit menjadi seperti tikus yang tidak berdaya menghadapi gadis ini.
"Pergunakan senjata!"
Bentaknya dengan penasaran. Belasan orang anggauta Ang-i Mo-pang yang lain, yang marah melihat teman-teman mereka berpelantingan, sudah mencabut pedangnya. Juga Tok-ciang Hui-moko Liok Cit mencabut pedang. Kini, dibantu oleh belasan orang, timbul keberaniannya, bahkan dia bernafsu untuk membalas kekalahannya tadi ketika melawan Suma Lian. Melihat belasan orang mengepungnya dengan pedang telanjang di tangan, Suma Lian tersenyum mengejek.
"Orang yang suka mempergunakan kekerasan, akan menjadi korban kekerasannya sendiri. Kalian membawa pedang, nah, biarlah kalian rasakan bagaimana terluka oleh senjata itu!"
Dan ia pun mencabut suling emasnya dari pinggang. Melihat suling emas ini, Sin-kiam Mo-li terkejut sekali.
"Suling Emas....?"
Serunya kaget. Pernah ia dahulu melawan seorang pendekar yang amat lihai, yang juga mempergunakan sebatang suling, yaitu pendekar Sim Houw, suami dari Can Bi Lan. Pendekar itu hebat sekali ilmunya dan harus diakuinya bahwa melawan pendekar itu, ia tidak dapat menang. Dan kini, gadis ini mengeluarkan pula sebatang suling emas, walaupun tidak sepanjang suling naga di tangan pendekar Sim Houw itu. Akan, tetapi, Liok Cit dan belasan orang anak buah Ang-i Mo-pang sudah menerjang dan mengeroyok Suma Lian. Sin-kiam Mo-li hanya nonton saja sambil memperhatikan gadis yang bersenjata suling emas itu.
Ia melihat betapa suling itu digerakkan dan lenyap bentuknya, berubah menjadi gulungan sinar emas yang mengeluarkan suara berdengung seolah-olah suling itu ditiup orang. Dan kini, gulungan sinar emas itu menyambar-nyambar ke sekeliling, menyambut pengeroyokan belasan orang yang mulai menyerangnya. Terdengar suara nyaring berdencing berulang kali dan beberapa orang pengeroyok terdorong ke belakang, bahkan ada dua batang pedang yang terlempar dan terlepas dari pegangan. Demikian hebatnya kekuatan gulungan sinar keemasan itu. Liok Cit menusukkan pedangnya dari belakang, mengarah punggung Suma Lian, akan tetapi dengan amat mudahnya gadis itu menggeser kedua kakinya dan kini hujan senjata pedang itu dielakkannya dengan gerakan langkah-langkah ajaibnya.