Halo!

Kisah si Bangau Putih Chapter 70

Memuat...

Suma Lian memandang bingung tidak tahu apa arti ucapan itu karena memang ia tidak mengenal nama-nama yang disebutkan tadi.

"Aku datang untuk bicara dengan anak laki-laki yang telah dilarikan oleh orang ini. Suruh dia keluar, aku tidak mempunyai urusan lain dengan siapapun juga."

Sin-kiam Mo-li tersenyum lebar dan diam-diam ia pun terkejut. Ia tadi telah mengerahkan kekuatan sihirnya untuk mempengaruhi gadis ini, akan tetapi merasa betapa ada kekuatan yang membuat pengaruh sihirnya itu membalik!

"Ah, kiranya begitu, adik yang baik. agaknya engkau telah salah paham dengan Liok Cit. Anak itu adalah keponakanku dan dia kuajak ke sini untuk berlibur. Ibunya akan datang menjemputnya. Anak itu baik-baik saja, kalau engkau tidak percaya, tunggulah sebentar, akan kusuruh dia keluar."

Sin-kiam Mo-li masuk ke dalam pondoknya, diam-diam memberi perintah kepada anak buahnya, kemudian menuntun seorang anak laki-laki keluar pondok. Suma Lian memandang penuh perhatian. Seorang anak laki-laki yang usianya sekitar tujuh tahun. Pakaiannya agaknya baru diganti, masih bersih dan baru. Anak yang tubuhnya sedang, wajahnya tampan dan sepasang matanya tajam, akan tetapi pada saat itu, pandang matanya kosong.

"Nah, inilah dia Yo Han, keponakanku. Anak Han, cici di sana itu mengira bahwa engkau dipaksa datang ke sini. Katakan bahwa engkau mengunjungi bibi tuamu ini dan menanti jemputan ibumu dan bahwa engkau senang berada di sini,"

Kata Sin-kiam Mo-li. Anak itu memandang kepada Suma Lian dengan bingung, lalu menoleh ke arah Sin-kiam Mo-li yang menggandeng tangannya, dan dia pun bicara dengan suara gagap,

"Aku.... aku senang di sini...."

Suma Lian dapat mencium sesuatu yang tidak beres. Ia sudah tahu bahwa Liok Cit adalah seorang yang lihai dan pandai ilmu sihir, dan agaknya penculik anak ini membawanya menghadap kepada wanita cantik itu yang tentu saja sebagai pemimpinnya lebih lihai lagi. Ada sesuatu yang tidak beres pada anak itu. Matanya demikian tajam dan membayangkan kecerdikan, akan tetapi kehilangan cahayanya. Diam-diam ia pun mengerahkan tenaga batinnya seperti yang dia jarkan ayahnya baru-baru ini, memandang ke arah anak lak-laki itu di antara kedua matanya dan suaranya terdengar lantang penuh wibawa,

"Anak baik, engkau meninggalkan ibumu tanpa pamit! Engkau dibawa pergi laki-laki ini di luar kehendakmu dan engkau ingin bertemu dengan ibumu, ingin pulang. Katakan, apa yang telah terjadi?"

Tiba-tiba anak itu terbelalak dan seolah-olah dia baru teringat akan keadaan dirinya! Dengan kaget dia memandang ke arah Liok Cit, lalu menoleh kepada Sin-kiam Mo-li dan dia pun berteriak.

"Ibu! Mana ibuku! Katanya di sini....!"

Dan anak itu berusaha melepaskan pegangan tangan Sin-kiam Mo-li untuk melarikan diri. Akan tetapi, sekali menggerakkan tangan, Sin-kiam Mo-li sudah menangkap anak itu kembali. Kini marahlah Sin-kiam Mo-li dan dengan mata mencorong ia memandang kepada Suma Lian.

"Hemmm, siapakah engkau yang hendak mencampuri urusan kami?"

"Tidak perlu dikatakan aku siapa, akan tetapi kembali-kanlah anak itu, lepaskan biar kubawa dia kembali kepada orang tuanya,"

Kata Suma Lian.

"Hemmm, kalau aku menolak?"

Tantang Sin-kiam Mo-li.

"Terpaksa akan kurobohkan penculik ini lebih dulu sebelum aku merampas kembali anak itu dengan kekerasan!"

Suma Lian menjawab tenang, jari tangannya siap menotok tengkuk dan Liok Cit menjadi pucat wajahnya, tengkuknya terasa dingin seperti terkena es! Sin-kiam Mo-li yang tadi sudah membuat persiapan tetap tersenyum. Wanita ini memang memiliki pembawaan tenang, penuh kepercayaan akan kemampuan dirinya dan hal ini yang membuat ia semakin berbahaya.

"Nona, tidak perlu engkau menggunakan kekerasan. Anak ini adalah keponakanku sendiri, kami tidak ingin menyusahkan dia. Kalau memang engkau ingin membawa dia pulang ke rumah ibunya, silakan, akan tetapi harap kau bebaskan dulu Liok Cit. Dia tidak berdosa, dia hanya kusuruh jemput anak ini saja."

Suma Lian juga tersenyum. Ia seorang gadis yang lincah jenaka dan pintar bukan main. Mana mau dikelabuhi begitu saja?

"Hemmm, agaknya engkau mengajak tukar. Baiklah, lepaskan anak itu dan berikan kepadaku, baru aku akan melepaskan tikus ini!"

Diam-diam Sin-kiam Mo-li mendongkol juga terheran. Ia tahu akan kemampuan Liok Cit. Tidak semba-rang orang mampu mengalahkannya, akan tetapi mengapa kini di tangan gadis yang masih amat muda itu, Liok Cit menjadi seperti seekor tikus saja yang sama sekali tidak berdaya? Demikian lihaikah gadis ini?

"Nah, ambillah keponakanku ini kalau memang dia ingin pulang,"

Katanya sambil melepaskan pegangannya pada lengan Yo Han. Entah mengapa, begitu terlepas, Yo Han lalu berlari menghampiri Suma Lian. Ada sesuatu pada diri gadis itu yang menimbulkan kepercayaan dalam hatinya.

"Enci, benarkah engkau hendak mengantarkan aku pulang ke rumah ayah ibuku?"

Tanyanya sambil memegang ujung baju gadis itu.

"Jangan khawatir, aku pasti akan membawamu pulang,"

Kata Suma Lian dan dia pun melepaskan tangannya dari tengkuk Liok Cit. Orang ini seperti seekor tikus yang baru saja terlepas dari kurungan, cepat lari ke depan menghampiri Sin-kiam Mo-li.

"Jangan lepaskan, ia berbahaya sekali!"

Katanya. Sin-kiam Mo-li tertawa.

"Heh-heh-heh, siapa yang begitu bodoh hendak melepaskannya? Engkaulah yang tolol, tidak mampu mengatasi seorang ingusan!"

Sin-kiam Mo-li mengeluarkan suara melengking dan Suma Lian cepat menoleh ke kanan kiri mendengar ada gerakan di sekelilingnya. Kiranya tempat itu telah terkepung oleh puluhan orang yang memakai pakaian serba merah, menyeramkan sekali!

"Hemmm, sudah kuduga bahwa kalian bukanlah orang baik-baik!"

Post a Comment