Halo!

Kisah si Bangau Putih Chapter 68

Memuat...

"Hei, tunggu....!"

Suma Lian berseru dan ia pun mempergunakan ilmu berlari cepat melakukan pengejaran. Melihat gadis itu melakukan pengejaran, laki-laki itu mempercepat larinya. Hal ini membuat Suma Lian semakin curiga dan ia pun mengerahkan seluruh kepandaiannya sehingga tak lama kemudian ia dapat menyusul dan bahkan mendahului, lalu membalik dan menghadang.

"Tunggu dulu!"

Bentaknya lagi. Laki-laki itu terkejut bukan main, akan tetapi, ketika melihat bahwa gadis yang larinya melebihi kijang cepatnya ini bukanlah gadis yang kemarin membayanginya, wajahnya menjadi agak lega.

"Ah, kukira tadinya engkau adalah orang yang jahat itu, Nona,"

Katanya, dan sepasang matanya mengamati wajah Suma Lian penuh perhatian, dan penuh kagum pula. Sebaliknya, Suma Lian juga memperhatikan orang ini.

Seorang laki-laki muda, usianya tentu paling banyak tiga puluh tahun, agak kurus dan kedua pipinya nampak peyot seperti orang yang pemadatan, akan tetapi sepasang matanya tajam mencorong menandakan bahwa dia seorang yang "berisi", dan sinar mata itu tajam, juga mengandung kekejaman dan kelicikan. Mulutnya tersenyum dan nampak giginya yang agak menghitam karena banyak yang sudah rusak. Wajah yang sebetulnya tampan itu nampak tidak menarik lagi ketika dia tersenyum dan diam-diam Suma Lian bersikap waspada. Orang seperti ini tidak boleh dipercaya, demikian bisik hatinya. Sementara itu, pria yang kurus itu ketika melihat bahwa yang mengejarnya seorang gadis yang teramat cantik menarik, memperlebar senyumnya dan melangkah maju sambil menjura dengan sikap sopan.

"Aih, ada urusan apakah engkau mengejar dan menahan aku, Nona? Siapakah nama Nona dan ada keperluan apakah dengan aku?"

Suma Lian mengerutkan alisnya. Orang ini biasa mempergunakan topi caping lebar untuk menyembunyikan mukanya, akan tetapi sekarang dia mengangkat topi itu tinggi-tinggi sehingga nampak wajahnya yang sebenarnya tampan namun kurus sekali itu. Dan sepasang mata yang tajam itu, selain mengandung kelicikan dan kekejaman, juga Suma Lian merasakan adanya kekuatan yang tidak wajar, seperti dimiliki orang yang biasa mempergunakan ilmu sihir. Hal ini diketahuinya semenjak ia dilatih ilmu sihir oleh ayahnya, sepulangnya dari perguruan. Oleh karena itu, ia pun bersikap hati-hati.

"Tidak ada urusan antara kita, dan tidak ada perlunya aku memperkenalkan nama. Akan tetapi, semalam aku melihat engkau melarikan seorang anak laki-laki sehingga timbul keinginan tahuku apa yang terjadi dengan anak itu? Di mana adanya anak laki-laki itu sekarang dan mengapa engkau melarikannya malam-malam dari rumah penginapan itu?"

Pria itu terbelalak.

"Tapi.... tapi.... kulihat engkau bukanlah wanita yang membayangi dan mengejarku kemarin...."

"Memang bukan! Aku yang bermalam di kamar sebelah dan mendengarmu melarikan diri. Hayo katakan, siapakah anak itu dan mengapa pula engkau melarikannya dan di mana dia sekarang?"

"Bukan urusamu, Nona, dan kunasihatkan agar engkau tidak mencampuri urusanku yang sama sekali tidak ada sangkutpautnya dengan dirimu."

"Hemmm, setiap kali hidungku mencium sesuatu yang busuk, tak mungkin aku tinggal diam begitu saja sebelum aku tahu betul bahwa tidak ada kejahatan dilakukan orang! Bawa aku pada anak itu agar aku dapat bicara sendiri dengan dia baru aku percaya bahwa engkau tidak melakukan sesuatu yang jahat terhadap dia!"

Laki-laki ini mengerutkan alisnya dan sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat.

"Nona, engkau masih muda dan cantik, akan tetapi sombong amat. Engkau tidak memandang sebelah mata kepada orang lain, agaknya engkau belum mengenal siapa diriku. Aku Liok Cit tidak percuma mempunyai julukan Tokciang Hui-moko (Iblis Terbang Bertangan Racun), dan tidak biasa aku diperintah orang lain! Pergilah sebelum terlambat!"

Suma Lian belum pernah mendengar nama julukan itu dan ia tersenyum. Ia seorang gadis yang lincah jenaka dan pemberani, maka mendengar nama julukan itu ia merasa geli.

"Wah-wah, julukanmu demikian hebatnya, seolah-olah engkau pandai terbang dan seolah-olah tanganmu beracun. Kulihat mungkin hanya hatimu saja yang beracun, mukamu seperti orang berpenyakit keracunan yang sudah mendekati liang kubur. Kalau engkau tidak mau membawaku kepada anak itu, sekali dorong engkau tentu akan masuk liang kubur!"

"Bocah sombong!"

Liok Cit, laki-laki itu, memaki dan tiba-tiba dia pun menyerang dengan terkaman tangan kanan ke arah pundak Suma Lian, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah perut. Serangan ini ganas dan berbahaya sekali, namun dengan mudahnya Suma Lian mengelak sambil mundur dan kakinya mencuat dengan tendangan menyamping, mengarah lambung lawan.

"Dukkk!"

Liok Cit menangkis tendangan itu dan balas menyerang dengan lebih dahsyat lagi, tubuhnya mendoyong ke depan, kedua tangannya terbuka dan dipergunakan sebagai golok, yang kanan membacok leher, yang kiri menusuk ke arah dada. Melihat gerakan orang, Suma Lian maklum bahwa lawan ini memang bukan orang sembarangan, memiliki gerakan yang cepat dan dari sambaran kedua lengannya pun dapat dilihat bahwa dia memiliki tenaga sinkang yang kuat. Akan tetapi ia tidak takut. Ia melindungi kedua tangannya dengan tenaga Inti Bumi yang dapat menolak semua hawa beracun, dan menangkis sambil mengerahkan Swat-im Sin-kang.

"Plak! Plak!"

Kedua pasang lengan bertemu dan tubuh Liok Cit terdorong ke belakang dan dia agak menggigil karena ketika lengannya bertemu dengan lengan gadis itu, ada hawa dingin melebihi salju menyusup ke tubuhnya melalui lengan yang beradu dengan lengan gadis itu.

"Ihhhhh....!"

Post a Comment