Halo!

Kisah si Bangau Putih Chapter 66

Memuat...

"Kalau sudah ada?"

Tanya suaminya.

"Kita desak ia agar segera diada-kan kontak dan kita sebagai orang tua akan membicarakan dengan pihak sana."

"Bagaimana kalau ia belum mempunyai pandangan?"

"Wah, kalau begitu aku sendiri pun bingung,"

Kata Kam Bi Eng.

"Begini saja, kalau memang benar ia masih bebas, kita suruh saja ia pergi berkunjung ke tempat pertapaan kakak Suma Ciang Bun. Kasihan Bun-toako, hidup seorang diri. Biarlah Lian-ji berkunjung ke sana dan menyampaikan permintaan kita agar Bun-toako suka tinggal bersama kita di sini. Dengan demikian, memberi kesempatan kepadanya untuk bertemu dengan Hong Beng dan kita nanti bicarakan urusan jodoh itu, kalau-kalau Lian-ji menyetujuinya."

Kam Bi Eng menyetujui usul suaminya. Bagaimana-pun juga, sebagai seorang ibu tentu saja ia pun ingin sekali melihat puterinya menikah dan biarpun usianya baru empat puluh tahun, karena tidak mempunyai anak lain kecuali Suma Lian, maka Kam Bi Eng juga mendambakan adanya seorang cucu yang mungil. Demikianlah, pada keesokan harinya, Kam Bi Eng mengajak puterinya bercakap-cakap. Dipancingnya puterinya itu tentang pembicaraan mengenai perjodohan, Suma Lian tersenyum memandang ibunya.

"Aih, Ibu ini! Pagi-pagi bicara tentang perjodohan! Siapa sih yang memikirkan soal jodoh?"

Katanya sambil tertawa. Kam Bi Eng adalah seorang yang juga berwatak lincah jenaka, akan tetapi ia memiliki ketegasan.

"Hentikan main-main itu, anakku. Ingat, berapa usiamu sekarang?"

"Berapa, ya? Dua puluh tahun lebih kukira."

"Nah, biasanya, seorang wanita berusia dua puluh tahun lebih sudah menggendong seorang anak. Apakah engkau sama sekali belum memikirkan urusan perjodohan? Ayahmu dan aku menyerahkan pemilihan calon suami kepadamu, maka aku ingin sekali tahu apakah selama ini engkau sudah bertemu dengan seorang pria yang kau anggap cocok untuk menjadi calon suamimu?"

"Wah, Ibu ini ada-ada saja. Selama ini aku tekun berlatih silat, mana ada kesempatan untuk memikirkan soal itu? Tidak, Ibu, aku belum mempunyai pilihan siapapun juga."

"Sudahlah kalau begitu. Sekarang, ayahmu dan aku minta agar engkau suka mengundang paman tuamu Suma Ciang Bun. Kasihan dia, hidup seorang diri dan mengasingkan diri. Engkau kunjungi dia dan atas nama kami, undanglah dia ke sini. Sebentar, kupanggil ayahmu!"

Kam Bi Eng lalu memanggil suaminya yang berada di ruangan belakang. Suma Ceng Liong datang dan dia pun membenarkan apa yang dikatakan isterinya.

"Benar, Lian-ji. Kami merasa kasihan kepada Bun-toako. Engkau pergilah ke sana dan katakan bahwa kami mengundang ia untuk datang dan tinggal di sini bersama kita."

"Akan tetapi, di manakah paman Ciang Bun tinggal?"

"Dia bertapa di lereng Pegunungan Tapa-san, di dekat sumber air Sungai Han Sui, di Propinsi Shensi. Carilah dia sampai dapat, anakku, dan bujuklah dia agar suka ikut bersamamu ke sini. Kami sudah rindu padanya dan katakan bahwa kami ingin sekali agar dia tinggal bersama kami di sini, sedikitnya untuk beberapa waktu lamanya, syukur kalau dapat selamanya. Dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi, Lian-ji."

Suma Lian mengangguk. Memang tidak enak rasanya tinggal di rumah saja, dan ia pun tidak mengira sama sekali bahwa selain mengundang paman tuanya, juga kedua orang tuanya itu mengharapkan ia bertemu dengan Gu Hong Beng yang sudah ditunangkan dengannya secara diam-diam oleh mendiang neneknya!

Beberapa hari kemudian, setelah membawa bekal pakaian dan uang secukupnya, berangkatlah Suma Lian meninggalkan rumah orang tuanya. Kini ia sudah berbeda lagi dengan ketika ia pulang, karena ia sudah dibekali dua macam ilmu yang membuat dirinya menjadi semakin lihai. Dan di pinggangnya kini terselip sebatang suling emas! Seperti juga sumoinya, Li Sian, ia mampu mempergunakan setiap ranting kayu untuk menjadi pedang dan memainkan ilmu Lo-thian Kiam-sut, akan tetapi dengan suling emas itu, ia merasa lebih mantap dan lebih percaya akan kemampuan diri sendiri. Perjalanan yang dilakukan Suma Lian cukup jauh, menuju ke barat melalui Propinsi Honan dan Shensi. Kalau pulangnya, akan lebih mudah mengambil jalan air, yaitu naik perahu mengikuti aliran Sungai Kuning, akan tetapi berangkatnya, ia mengambil jalan darat.

Namun, bagi seorang gadis perkasa seperti Suma Lian, perjalanan itu bahkan amat menggembirakan dan ia sama sekali tidak khawatir akan adanya gangguan di dalam perjalanan karena ia sudah membawa bekal ilmu kepandaian yang tinggi. Akan tetapi, baru beberapa hari ia meninggalkan Cin-an dan tiba di perbatasan Propinsi Hopei karena dara ini mengambil jalan lurus ke barat, ia memasuki sebuah kota kecil, di perbatasan itu dan karena hari sudah mulai gelap, ia mengambil keputusan untuk bermalam di kota itu dan tidak disangkanya, di tempat itu ia bertemu dengan pengalaman yang berbahaya! Sore hari itu, setelah memasuki kota Bun-koan yang tidak berapa besar, Suma Lian segera menoleh ke kanan kiri untuk mencari rumah penginapan. Hari itu ia melakukan perjalanan sehari penuh melalui jalan berdebu dan ia merasa tubuhnya lelah, panas dan kotor.

Ia ingin mandi, lalu mencari makan malam yang enak sebelum beristirahat semalam suntuk agar tenaganya pulih kembali dan besok dapat melanjutkan perjalanan pagi-pagi dengan tubuh segar. Kota itu tidak besar dan ternyata hanya mempunyai sebuah rumah penginapan yang tidak berapa besar. Keadaan rumah penginapan itu terlalu kotor bagi Suma Lian, akan tetapi, gadis ini pernah hidup dalam keadaan yang serba sederhana bahkan sangat kekurangan ketika ia mengikuti gurunya hidup sebagai orang yang miskin, maka ia tidak dapat terlalu banyak memilih dan tidak pula merasa jijik ketika ia akhirnya memperoleh sebuah kamar yang tidak besar dan agaknya jarang dibersihkan. Ia hanya minta agar kain alas tempat tidur dan bantalnya diganti dengan yang bersih, dan untuk itu ia harus mengeluarkan beberapa uang kecil untuk pelayan.

Hanya dengan mengeluarkan uang persenan tambahan pula maka ia akhirnya bisa memperoleh cukup air untuk mandi. Tubuhnya terasa segar dan nikmat setelah mandi bersih dan mengenakan pakaian pengganti, dan atas petunjuk pelayan yang sudah dua kali menerima hadiah uang kecil darinya itu, ia memperoleh keterangan di mana ia dapat membeli makan malam yang enak. Benar saja, restoran kecil itu ternyata dapat menyuguhkan makanan yang cukup lezat, terutama sekali masakan udang kegemarannya. Dan harganya pun tidak mahal. Dengan puas Suma Lian kembali ke kamar di rumah penginapannya, siap untuk tidur. Selagi ia berjalan melalui lorong menuju ke kamarnya, tiba-tiba ia mendengar suara anak laki-laki yang merengek, datangnya dari kamar di sebelahnya.

"Aku mau pulang! Ah, antarkan aku pulang, atau aku mau pulang sendiri. Aku tidak mau lagi melanjutkan perjalanan dan ikut denganmu!"

Suara itu jelas suara seorang anak laki-laki dan suaranya terdengar seperti anak yang ketakutan. Karena tertarik, dan lorong di mana kamar-kamar berjajar itu sepi, Suma Lian menghentikan langkahnya dan mendengarkan.

"Hushhhhh, jangan ribut-ribut."

Terdengar suara seorang laki-lagi, suaranya membujuk.

"Kalau sampai terdengar olehnya dan ia menyusul ke sini, tentu kita akan dibunuh, terutama sekali engkau."

"Ah, kenapa wanita itu hendak membunuh aku? Kenapa?"

Anak itu membentak.

"Ssttt, ia adalah musuh ibumu. Dan hanya ibumu yang dapat melawannya, dapat melindungimu, karena itu aku akan mengantar pada ibumu, ia berada di kota So-tung, tak jauh dari sini. Besok pagi-pagi kita ke sana dan sekarang diamlah, kita sembunyi di sini...."

Anak itu tidak terdengar merengek lagi. Suma Lian tentu saja merasa heran mendengar ucapan laki-laki itu. Siapakah yang ingin membunuh seorang anak kecil dan mengapa? Akan tetapi, jangan-jangan laki-laki itu hanya menakut-nakuti saja dan karena bukan urusannya, maka ia pun melangkah menuju ke kamarnya dan merebahkan diri setelah membuka sepatunya. Akan tetapi, percakapan di kamar sebelah itu membuat ia tidak mudah untuk pulas. Perhatiannya tetap saja tertuju ke kamar sebelah dan kewaspadaannya tetap berjaga-jaga, siap untuk turun tangan menolong kalau-kalau benar ada bahaya mengancam anak di sebelah itu! Akhirnya, karena tidak terjadi sesuatu sampai jauh hampir tengah malam,

Suma Lian mulai mengantuk. Ketika ia hampir tertidur, tiba-tiba saja telinganya yang masih dalam keadaan waspada, menangkap sesuatu yang mencurigakan, Suara gerakan di atas genteng! Sedikit suara ini saja sudah cukup baginya untuk terbangun. Cepat disambarnya sepatunya, dipakainya dan ia pun membuka daun jendela, lalu tubuhnya sudah meluncur keluar dari jendela kamarnya. Pada saat itu, dia melihat seorang laki-laki yang menggendong seorang anak laki-laki berusia kurang lebih tujuh tahun, juga melompat keluar dari jendela kemudian melarikan diri. Itulah orang yang tinggal di kamar sebelah, pikirnya. Agaknya laki-laki itu pun sudah mendengar akan suara mencurigakan di atas genteng dan dia mengajak anak itu melarikan diri. Dan benar saja, pada saat itu, dari atas genteng menyambar turun bayangan orang yang berseru dengan halus.

"Hemmm, engkau hendak lari ke mana?"

Mendengar ini laki-laki yang menggendong anak itu mempercepat larinya dan terkejutlah Suma Lian melihat bahwa laki-laki itu ternyata dapat berlari cepat sekali, bukan larinya orang sembarang melainkan larinya orang yang menguasai ilmu berlari cepat dengan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang cukup hebat!

Akan tetapi wanita itu, bayangan yang membentak tadi, juga dapat berlari cepat melakukan pengejaran. Melihat ini, Suma Lian juga mengerahkan tenaganya dan mengejar pula. Untung baginya bahwa malam itu bulan bersinar terang sehingga ia dapat melihat jelas dua bayangan yang saling berkejaran itu. Laki-laki yang menggendong anak itu dapat berlari cepat sekali, akan tetapi pengejarnya agaknya lebih lihai lagi sehingga jarak di antara mereka menjadi semakin dekat. Suma Lian yang khawatir kalau-kalau dua orang itu terkejar dan terbunuh, mempercepat larinya dan ketika laki-laki itu meng-hilang ke dalam sebuah hutan kecil, pengejarnya meragu dan berhenti sebentar di luar hutan. Kesempatan ini dipergunakan oleh Suma Lian untuk mempercepat larinya dan membentak,

"Hai, engkau yang berniat jahat, tunggu dulu!"

Bentakannya nyaring dan membuat wanita yang tadi melakukan pengejaran itu terkejut, lalu membalikkan tubuhnya. Kini mereka berdiri berhadapan, dalam jarak antara dua meter. Sinar bulan cukup terang sehingga walaupun tidak sangat jelas, mereka dapat saling melihat dan keduanya diam-diam merasa heran. Suma Lian melihat bahwa wanita itu sama sekali bukan nampak seperti seorang penjahat. Sebaliknya malah ia seorang wanita muda, seorang gadis yang cantik jelita, matanya lebar dan sikapnya gagah sekali. Akan tetapi, wanita itu agaknya marah oleh gangguan-nya dan begitu mereka berhadapan, ia menegur Suma Lian, suaranya nyaring dan ketus.

"Siapakah engkau yang berani mencampuri urusan orang lain dengan lancang? Mau apa engkau mengejar aku?"

Suma Lian tidak marah, hanya ia merasa heran mengapa ada seorang gadis secantik dan segagah ini berhati kejam hendak membunuh seorang anak kecil.

"Aku mengejar untuk mencegah engkau melakukan suatu kejahatan, Sobat! Mengapa pula engkau mengejar orang yang membawa seorang anak kecil tadi? Tak usah kau lanjutkan niatmu yang jahat itu...."

"Lancang kau! Kalau aku mengejar mereka, engkau mau apa? Apamukah laki-laki itu?"

"Bukan apa-apa, aku kebetulan bermalam di kamar dekat kamar mereka dan mendengar bahwa mereka takut kepadamu yang hendak membunuh, maka aku lalu ikut pula mengejar. Kalau engkau lanjutkan pengejaranmu, terpaksa aku turun tangan menghalangimu."

"Hemm, manusia sombong dan lancang yang hendak mencampuri urusan orang! Atau mungkin engkau kaki tangannya, ya? Kalau begitu perlu kuhajar dulu engkau!"

Gadis itu sudah menerjang dengan tamparan ke arah muka Suma Lian. Tentu saja Suma Lian cepat mengelak dan balas menyerang dengan tak kalah cepatnya.

Namun, gadis itu meloncat ke samping dan kini ia menerjang lagi sambil menghujankan serangan dengan kaki tangannya, seolah-olah ingin cepat merobohkan Suma Lian agar ia dapat cepat melakukan pengejaran terhadap laki-laki yang melarikan bocah tadi. Menghadapi serangan yang luar biasa cepatnya ini, Suma Lian terkejut. Tak disangkanya bahwa gadis yang menjadi lawannya ini benar-benar lihai sekali. Serangannya bukan saja amat cepat, akan tetapi juga hawa pukulan yang keluar dari gerakan kaki tangannya amat kuat, tanda bahwa gadis itu memiliki sin-kang yang sudah tinggi tingkatnya. ia pun melindungi dirinya dengan langkah-langkah ajaib Sam-po Cin-keng sehingga dengan mudah ia dapat menghindarkan semua serangan lawan. Gadis itu menjadi semakin penasaran.

"Hemmm, kiranya engkau memiliki sedikit kepandaian, ya?"

Bentaknya.

"Nah, terimalah ini!"

Tangan kanannya menyambar cepat dan ada hawa yang panas sekali menyambar dari tangan kanannya itu, dan kehebatan serangan ini sukar untuk dielakkan lagi oleh Suma Lian. Ia terkejut, maklum akan hebatnya pukulan lawan, maka ia pun menggerakkan tangan kirinya sambil mengerakkan tenaga Swat-im Sin-kang untuk menyambut pukulan yang mengandung hawa panas itu.

"Dukkk!"

Dua lengan yang berkulit putih halus itu saling bertemu dan keduanya terdorong ke belakang dan keduanya memandang dengan mata terbelalak.

"Swat-im Sin-kang....!"

Post a Comment