Halo!

Kisah si Bangau Putih Chapter 65

Memuat...

Katanya. Li Sian juga teringat, walaupun hanya samar-samar bahwa Siangkoan Lohan dahulu memang mempunyai seorang anak laki-laki yang sebaya dengannya. Ia pun balas menjura.

"Aku pun masih ingat kepadamu, saudara Siangkoan Liong."

Mereka lalu masuk ke dalam rumah. Sin-kiam Mo-li tidak ikut masuk, namun diam-diam ia merasa tidak enak. Gadis itu lihai, dan agaknya pihak tuan rumah menghormatinya.

Kenyataan bahwa gadis itu masih keturunan murid keluarga Pulau Es, membuat hatinya merasa tidak enak. Gadis itu berbahaya, pikirnya, kecuali kalau sinar matanya mencorong gembira, benar. Itulah satu-satunya jalan. Gadis itu harus dapat ditaklukkan oleh Siangkoan Liong, menjadi kekasihnya atau isterinya, barulah diharapkan gadis itu akan benar-benar setia membantu gerakan persekutuan mereka! Ia akan membicarakan hal ini dengan Siangkoan Liong dan dengan bantuannya, mustahil gadis itu tidak akan dapat ditundukan oleh Siangkoan Liong! Sementara itu, Li Sian diajak bercakap-cakap di sebelah dalam, diterima dengan ramah dan hormat oleh Siangkoan Lohan dan puteranya, dijamu dan di dalam percakapan itu, pihak tuan rumah mulai menanamkan rasa permusuhan dan sakit hati terhadap Kerajaan Mancu yang telah membasmi keluarga Pouw.

"Kaum penjajah Mancu memang keterlaluan sekali,"

Antara lain Siangkoan. Lohan berkata,

"Bayangkan saja. Pihak kami, Tiat-liong-pang, kurang bagaimana dahulu membantu mereka dan kami telah mengorbankan segalanya untuk membantu mereka. Akan tetapi ternyata mereka itu merupakan bangsa yang tidak mengenal budi dan mudah melupakan jasa orang. Ayahmu sendiri, nona Pouw, adalah seorang di antara pembesar tinggi yang setia dan baik. Akan tetapi apa jadinya? Keluarga ayahmu dibasmi, hanya karena ayahmu berani menentang Hou Seng, padahal ayahmu menentang Hou Seng justeru untuk menyelamatkan negara dan kerajaan!"

Sedikit demi sedikit, hati Li Sian dibakar. Akan tetapi gadis ini masih ragu-ragu. Gurunya selalu memberi wejangan agar ia tidak menyimpan dendam terhadap siapapun juga, dan hidup sebagai seorang pendekar harus bebas dari api dendam karena dendam akan melenyapkan pertimbangan adil. Seorang pendekar haruslah bertindak adil, membela kebenaran dan keadilan tanpa memilih bulu. Sebaliknya dendam membutakan mata akan kebenaran dan keadilan, semata-mata hanya untuk melampiaskan nafsu dendam saja.

"Saya masih bingung, Paman. Saya ingin sekali berjumpa dengan kakak sulung saya, oleh karena itu saya mohon bantuan Paman, sukalah membantu saya mencari di mana adanya kakak saya itu bertugas agar saya dapat bertemu dengan anggauta keluarga yang tinggal satu-satunya itu."

"Tentu, tentu sekali, Nona, kami akan membantumu dan sementara ini, tinggallah di sini sebagai tamu kehormatan, ah, tidak, sebagai anggauta keluarga kami sendiri, sebagai keponakanku!"

Kata Siangkoan Lohan dengan ramah sekali. Li Sian merasa terharu. Kakek ini dan puteranya sungguh baik, menerimanya sedemikian ramahnya, bahkan menganggapnya sebagai anggauta keluarga. Ia pun bangkit berdiri dan memberi hormat.

"Paman sungguh melimpahkan budi kebaikan kepada saya, entah bagaimana saya akan mampu membalasnya. Akan tetapi, harap Paman jangan menyebut saya nona, membuat saya merasa kikuk saja, Paman."

Siangkoan Lohan tertawa.

"Ha-ha-ha, baiklah, Li Sian, baiklah. Engkau kuanggap keponakanku sendiri, karena mendiang ayahmu dahulu amat cocok denganku, seperti saudara pula. Nah, anak Liong, engkau mendengar sendiri. Sekarang, erigkau harus bersikap seperti seorang kakak terhadap Li Sian."

Siangkoan Liong bangkit berdiri dan Siangkoan Liong bangkit berdiri dan membalas penghormatan Li Sian sambil tersenyum.

"Aku merasa girang sekali dapat menjadi kakak misanmu, Sian-moi (adik Sian)."

Kedua pipi Li Sian berubah agak merah mendengar sebutan Sian-moi itu, akan tetapi, kalau ia dianggap sebagai keponakan dari Siangkoan Lohan, sudah sepatutnya pemuda itu menyebutnya adik.

"Terima kasih atas kebaikanmu, Liong-toako (kakak Liong),"

Jawabnya. Mereka lalu duduk kembali dan melanjutkan makan minum. Semenjak hari itu, Li Sian memperoleh sebuah kamar di rumah besar itu, diperlakukan sebagai seorang tamu terhormat. Bahkan ketika ia diperkenalkan kepada para murid Tiat-liong-pang, juga kepada Sin-kiam Mo-li,

Semua orang tidak berani bersikap kurang ajar kepadanya, maklum bahwa gadis itu selain lihai sekali, juga diterima sebagai keponakan Siangkoan Lohan. Bahkan Li Sian ikut pula. dalam latihan perang-perangan itu, membantu Sin-kiam Mo-li untuk mempertahankan "benteng kota raja"

Yang diserbu oleh pasukan yang dipimpin oleh Toat-beng Kiam-ong. Setelah latihan itu selesai, Li Sian diperkenalkan kepada para sekutu yang lain, kepada Toat-beng Kiam-ong, juga kepada Agakai kepala suku Mongol, dan kepada Song Ciangkun, tangan kanan Coa Tai-ciangkun yang menjadi komandan pasukan pemerintah yang bertugas jaga di utara. Song Ciangkun inilah yang berjanji kepadanya untuk menyelidiki di mana adanya Pouw Ciang Hin, kakak sulung Li Sian sehingga gadis ini merasa gembira sekali.

Hubungannya dengan Siangkoan Liong juga akrab sekali karena pemuda itu memang pandai mengambil hati, ramah, sopan dan memiliki pengertian yang mendalam tentang sastra dan silat. Bahkan pemuda itu, untuk melakukan penyelidikan, beberapa kali mengajak gadis itu berlatih silat dan dengan lega dia mendapat kenyataan bahwa betapapun lihai Li Sian, namun dia mampu mengatasi gadis itu walaupun selisihnya tidak berapa jauh! Sebaliknya, Li Sian kagum sekali akan pengertian pemuda itu tentang sastra, dan tentang pengetahuan lain yang membuat ia merasa bodoh ketinggalan dan ia dapat banyak belajar dari pemuda itu. Dalam hal ilmu silat, ia pun dapat melihat bahwa Siangkoan Liong ini bahkan jauh lebih lihai dari Sin-kiam Mo-li dan sungguhpun belum pernah mereka mengadu ilmu untuk menentukan siapa yang lebih unggul,

Namun ia sendiri merasa bahwa agaknya tidak akan mudah baginya untuk dapat menang menandingi ilmu kepandaian pemuda yang tampan itu. Tidaklah mengherankan kalau hati Li Sian mulai terpikat! Kita tinggalkan dulu Pouw Li Sian yang tanpa disadarinya telah terjatuh ke tempat yang amat berbahaya baginya, dan mari kita melihat keadaan Suma Lian. Gadis ini setelah pulang ke rumah orang tuanya, segera menambah kepandaiannya dengan gemblengan ayah ibunya. Dari ayahnya, Suma Ceng Liong, ia tekun berlatih Ilmu Coa-kun-ci, semacam ilmu totokan yang ampuh sekali karena jari tangannya yang sudah dilatih secara istimewa itu bukan hanya mampu menotok jalan darah dan menghentikan aliran darah,

Bahkan dapat menembus tulang sesuai dengan namanya, yaitu Coan-kut-ci (Jari Penembus Tulang)! Ilmu ini memang mengerikan dan agak kejam, karena ayahnya dahulu menerimanya dari seorang datuk sesat yang bernama Hek I Mo-ong (Raja Iblis Baju Hitam). Adapun dari ibunya, Kam Bi Eng, Suma Lian menerima ilmu yang hebat, yaitu ilmu pedang gabungan yang dimainkan dengan sebatang suling, diberi nama Koai-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Siluman), gabungan dari Koai-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Siluman). Kini ia sudah memiliki sebuah suling emas yang dapat dimainkan dengan hebatnya sehingga suling emas itu bagaikan sebatang pedang saja dapat bergulung-gulung dengan hebatnya sambil mengeluarkan suara melengking-lengking.

Hanya karena ia sudah memiliki dasar yang amat kuat berkat gemblengan mendiang, kakek Gak Bun Beng atau Bu Beng Lokai, maka gadis ini mampu mempelajari kedua ilmu yang hebat itu dalam waktu yang tidak berapa lama. Ayah bundanya gembira sekali melihat kemajuan puteri mereka. Akan tetapi, ada suatu hal yang membuat suami isteri ini agak gelisah, yaitu melihat betapa puteri mereka kini telah berusia dua puluh tahun lebih, hampir dua puluh satu dan puterinya itu bertunangan pun belum! Semenjak puteri mereka pulang, suami isteri itu hampir setiap malam membicarakan hal ini, akan tetapi mereka merasa ragu untuk mengajak puteri mereka bicara karena melihat betapa puteri mereka memiliki watak keras, dan puteri mereka demikian lincah jenaka dan gembira. Mereka khawatir kalau-kalau usul mereka akan diterima dengan hati yang tidak senang dan membuat puteri mereka menjadi murung.

"Bagaimanapun juga, kita harus memberitahunya, isteriku,"

Kata Suma Ceng Liong.

"Usia dua puluh tahun lebih sudah terlalu dewasa untuk seorang gadis! Sampai kapan kita harus menanti untuk menikahkan anak kita yang tunggal itu? Biarpun untuk gadis kang-ouw, urusan pernikahan tidak boleh disamakan dengan gadis biasa, akan tetapi bagaimanapun juga, seorang wanita haruslah membentuk rumah tangga dan mempunyai keturunan hidup sebagai seorang isteri atau ibu yang berbahagia. Dan kita menjadi kakek dan nenek yang bahagia pula."

"Baiklah, besok akan kuajak ia bicara. Mudah-mudahan saja, selama ini sudah ada pemuda yang menjadi pilihan hatinya."

"Aku meragukan hal itu. Bukankah baru saja ia meninggalkan tempat tinggal paman Gak Bun Beng setelah orang tua itu meninggal dunia? Aku jadi teringat akan cerita kakak Suma Ciang Bun dulu itu...."

"Hemmm, tentang muridnya, Gu Hong Beng itu?"

Tanya Kam Bi Eng. Memang,

Suma Ciang Bun pernah berterus terang kepada mereka bahwa ketika nenek Teng Siang In, ibu Suma Ceng Liong, akan meninggal dunia, ditunggu oleh Gu Hong Beng, nenek itu pernah minta Hong Beng berjanji agar kelak menjadi suami Suma Lian dan karena permintaan itu merupakan permintaan atau pesan terakhir seorang yang akan mati, pemuda itu tentu saja tidak sampai hati untuk menolaknya. Baru setelah nenek itu meninggal, Gu Hong Beng menjadi bingung dan tidak berani mengaku kepada Suma Ceng Liong dan isterinya, hanya berani menceritakannya kepada gurunya, yaitu Suma Ciang Bun. Gurunya inilah yang kemudian memberitahukannya kepada Suma Ceng Liong berdua. Akan tetapi ketika itu, Suma Lian sedang belajar silat kepada kakek Gak Bun Beng dan baru berusia tiga belas tahun, oleh karena itu ayah ibunya menjawab bahwa karena anak itu masih belum dewasa,

Maka urusan pernikahan ini sebaiknya ditunda pembicaraannya dan kelak akan diserahkan kepada Suma Lian sendiri. Mereka memberi tahu kepada Suma Ciang Bun bahwa tentang perjodohan puteri mereka, mereka menyerahkan kepada, pilihan Suma Lian sendiri dan kalau kelak Suma Lian suka menjadi jodoh Gu Hong Beng seperti yang diusulkan oleh mendiang nenek Teng Siang In, tentu mereka pun tidak berkeberatan. Kini, setelah puteri mereka dewasa dan mereka memikirkan perjodohan puteri mereka, tentu saja suami isteri itu teringat kepada Gu Hong Beng! Sudah lama sekali mereka tidak pernah bertemu dengan Gu Hong Beng atau pun gurunya, Suma Ciang Bun. Akan tetapi mereka pernah mendengar bahwa kakak mereka itu kini tinggal sebagai pertapa di lereng Gunung Tapa-san, di dekat sumber air Sungai Han-sui di Propinsi Shensi.

"Hemmm, entah berapa usianya sekarang. Kalau tidak keliru kakak Ciang Bun membicarakan urusan perjodohan itu, Hong Beng berusia sembilan belas tahun dan Lian-ji baru berusia tiga belas tahun. Kalau sekarang Lian-ji berusia dua puluh tahun, berarti Hong Beng sudah berusia dua puluh enam tahun,"

Kata Suma Ceng Liong mengingat-ingat.

"Pemuda itu cukup baik, gagah perkasa dan sederhana dan tentang ilmunya, walaupun mungkin tidak setinggi yang dikuasai Lian-ji, namun tentu selama ini dia telah memperoleh. banyak pengalaman dan kemajuan."

"Hanya kita tidak tahu apakah dia masih belum memperoleh jodoh, dan kita lebih tidak tahu lagi keadaan anak kita sendiri. Sebaiknya, biarlah besok kutanyai Lian-ji, apakah selama ini ia sudah bertemu dengan seorang pemuda yang cocok untuk menjadi calon suaminya."

Post a Comment