Ada pula yang merasa tidak senang karena mendengar betapa persekutuan Tiat-liong-pang itu merangkul tokoh-tokoh sesat, apalagi Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai disebut dalam persekutuan itu. Biarpun niatnya baik, yaitu menentang penjajah, akan tetapi kalau harus bekerja sama dengan golongan hitam, banyak diantara para pendekar yang tidak mau. Pendeknya, berita yang disebarluaskan Cin-sa-pang di dunia persilatan itu cukup menimbulkan kegemparan dan banyak di antara para pendekar meragukan kepatriotannya, apalagi kalau mereka mendengar dan mengingat bahwa Tiat-liong-pang tadinya adalah kaki tanggn pemerintah penjajah! Betapapun juga, peristiwa ini menarik perhatian banyak kaum pendekar untuk meninggalkan tempat mereka dan menuju ke selatan untuk melakukan penyelidikan sendiri.
Pada suatu pagi yang cerah nampak seorang pemuda memasuki perkampungan perkumpulan Cin-sa-pang di lembah Sungai Cin-sa. Semua orang yang bersua di jalan dengan pemuda ini pasti menengok dan merasa kagum. Pemuda itu usianya sekitar dua puluh tujuh tahun, tubuhnya tinggi besar dan nampak kokoh kuat, mukanya agak hitam akan tetapi bentuk muka itu gagah, dengan hidung mancung, mata tajam dan mulut membayangkan kekerasan hati dan keberanian. Sikapnya pendiam dan dia tidak pernah menengok ke kanan kiri, hanya lurus memandang ke depan sambil melangkahkan kedua kakinya dengan mantap. Ketika melangkah, tubuhnya bergerak seperti seekor harimau berjalan. Pakaiannya sederhana, terbuat dari kain tebal, dan di balik jubahnya terdapat sebatang pedang yang tergantung di pinggang, tersembunyi namun ujung gagang pedang masih nampak tersembul di bawah jubah.
Tanpa melihat pedangnya pun, baru melihat perawakannya, mudah diduga bahwa dia tentu seorang pemuda gemblengan, seorang jago silat yang tangguh. Dugaan ini tepat karena dia adalah Cu Kun Tek, jago silat muda dari Lembah Naga Siluman di Pegunungan Himalaya. Orang tua pemuda itu juga merupakan pendekar-pendekar yang lihai. Ayahnya bernama Cu Kang Bu, pewaris Lembah Naga Siluman dengan ilmu silat keluarga Cu yang amat tinggi, yaitu Koailiong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Siluman) dan Cu Kang Bu ini terkenal pula dengan julukan Ban-kin-sian (Dewa Bertenega Selaksa Kati). Adapun ibunya juga seorang pendekar wanita yang lihai dengan ilmu-ilmu pukulan Kiam-to Sin-ciang (Tangan Sakti Pedang dan Golok), dan Pat-liong Sin-kun (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin)!
Tentu saja Cu Kun Tek mewarisi ilmu-ilmu dari ayah bundanya. Cu Kun Tek meninggalkan tempat tinggal keluarga ayahnya ketika dia mendengar berita yang disebar oleh Cin-sa-pang itu. Sebagai seorang pendekar, hatinya tergerak dan dia tidak akan tinggal diam begitu saja, maka dia pun pergi dan berkunjung ke tempat perkampungan Cin-sa-pang untuk mendengar sendiri kebenaran berita itu. Dia pernah berjumpa dengan Ciok Kim Bouw ketua Cin-sa-pang yang dianggapnya seorang yang cukup gagah dan perkumpulannya juga merupakan perkumpulan orang-orang gagah. Ketika para anggauta Cin-sa-pang melaporkan kepada ketua mereka akan datangnya seorang tamu dan Ciok Kim Bouw cepat keluar, dia menjadi girang sekali melihat pemuda tinggi besar yang gagah perkasa itu.
"Aih, kiranya Cu-enghiong yang datang!"
Katanya sambil membalas penghormatan pemuda itu.
"Bagaimana kabarnya, Ciok Pang-cu? Mudah-mudahan baik-baik saja."
"Terima kasih, Cu-eng-hiong. Mari silakan duduk di dalam!"
Mereka masuk ke ruangan dalam dan bercakap-cakap. Dalam kesempat-an ini Cu Kun Tek bertanya tentang berita yang dia dengar tentang Tiat-liong-pang dan ketua Cin-sa-pang itu segera menceritakan semuanya tentang pengalamannya ketika dia menghadiri undangan Tiat-liong-pang, yaitu pada pesta ulang tahun ke enam puluh tahun dari Siangkoan Lohan.
"Bayangkan saja, hati siapa tidak menjadi geram melihat betapa di antara para tamu kehormatan itu terdapat orang-orang Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai, bahkan di sana aku melihat pula iblis betina Sin-kiam Mo-li dan Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek. Jelaslah bahwa Tiat-liong-pang hendak merencanakan sesuatu pemberontakan!"
Cu Kun Tek mendengarkan penuh perhatian, alisnya berkerut dan dia pun berkata,
"Akan tetapi, bukankah sudah menjadi idaman semua orang gagah untuk membantu usaha mengusir pemerintah penjajah dari tanah air, Pangcu?"
Ciok Kim Bouw menghela napas panjang.
"Kalau ada gerakan seperti itu, gerakan para patriot sejati dengan tujuan membebaskan bangsa dari cengkeraman penjajah Mancu, percayalah, kami seluruh anggauta Cin-sa-pang akan berdiri di belakangnya, akan bergabung dan siap mempertaruhkan nyawa untuk membantu gerakan itu! Akan tetapi, bagaimana mungkin orang-orang Tiat-liong-pang merupakan patriot-patriot sejati? Mereka bahkan berjasa terhadap penjajah Mancu, bahkan Siangkoan Lohan dihadiahi banyak harta dan seorang puteri dari istana kaisar! Kini, dia mengadakan persekutuan dengan para pemberontak, akan tetapi pemberontak macam Pek-lian-kauw, dan bersekutu pula dengan orang-orang dari kaum sesat! Bagaimana mungkin gerakan seperti itu mengandung niat bersih dan gagah untuk membebaskan rakyat jelata?"
Dia lalu menceritakan apa yang telah terjadi dalam pesta itu, tentang kecabulan dan lain-lain, kemudian menceritakan betapa dia secara terang-terangan mengatakan tidak senangnya dengan hadirnya tokoh-tokoh sesat sehingga dia dianggap menghina dan dikalahkan oleh Siangkoan Liong, putera Siangkoan Lohan.
"Ketika aku pergi meninggalkan pesta, masih banyak di antara teman-teman sepaham yang juga meninggalkan tempat itu, sebagai protes dan pernyataan tidak suka karena Tiat-liong-pang bersekutu dengan orang-orang golongan sesat. Dan tahukah engkau apa yang terjadi setelah aku pergi meninggal-kan tempat itu? Di tengah perjalanan, aku dihadang oleh Sin-kiam Mo-li dan Toat-beng Kiam-ong dan mereka itu sengaja hendak membunuhku!"
Lalu diceritakan betapa dia nyaris tewas kalau tidak muncul seorang pemuda lihai yang berhasil mengusir kedua orang itu, bahkan menyelamatkan nyawanya dari ancaman racun di lengannya akibat serangan Siangkoan Liong.
"Nah, melihat perkembangan itu, kami merasa amat khawatir, Cu-enghiong. Tadinya puteraku, Ciok Heng, berkeras hendak memimpin anak buah menyerbu ke Tiat-liong-pang, akan tetapi kularang dia karena hal itu sama dengan membunuh diri. Di sana berkumpul banyak orang pandai dan agaknya Tiat-liong-pang sudah menyusun kekuatan. Maka, kami lalu menyebarkan berita itu agar terdengar oleh para pendekar dan orang gagah sehingga gerakan yang berbahaya dari Tiat-liong-pang dapat dicegah."
Cu Kun Tek diam-diam merasa heran juga mendengar semua cerita itu. Dia. sudah mendengar perkumpulan macam apa adanya Tiat-liong-pang, sebuah perkumpulan yang pernah membuat jasa terhadap serbuan orang Mancu sehingga perkumpulan itu dianggap pro pemerintah Mancu. Akan tetapi kenapa kini mendadak saja perkumpulan itu hendak memberontak, bahkan bersekutu dengan orang-orang golongan hitam? Hal ini perlu diselidiki secara teliti sebelum dia mempercayai begitu saja keterangan Ciok Pangcu.
Hanya satu hari Cu Kun Tek berdiam di Cin-sa-pang sebagai tamu, bercakap-cakap dengan ketua Cin-sa-pang dan puteranya, Ciok Heng yang gagah perkasa. Kemudian dia minta diri karena dia hendak melanjutkan perjalanannya ke utara, untuk melakukan penyelidikan kepada perkumpulan yang katanya bersekutu dengan para penjahat hendak memberontak itu. Di dalam perjalanan ini, Kun Tek mengenangkan masa lampaunya, tujuh delapan tahun ketika dia baru berusia sembilan belas tahun, ketika dia bersama para pendekar lain seperti Gu Hong Beng, Can Bi Lan, Sim Houw dan yang lain-lain menghadapi musuh-musuh yang amat kuat seperti Kim Hwa Nio-nio, Sai-cu Lama, dan Sam Kwi yang amat lihai itu menjadi kaki tangan Thai-kam Hou Seng yang menjadi kekasih Kaisar dan yang hendak merajalela dengan kekuasaannya.
Dengan demikian, para datuk sesat itu seolah-olah bekerja sama dengan pemerintah, sehingga para pendekar kadang-kadang berhadapan dengan pasukan pemerintah (baca kisah Suling Naga). Akan tetapi kini keadaan berbalik. Tiat-liong-pang yang tadinya juga menjadi perkumpulan yang pro pemerintah penjajah, kini kabarnya tiba-tiba membalik dan hendak memberontak, akan tetapi, melihat betapa perkumpulan itu bersekongkol dengan datuk kaum sesat, Kun Tek meragukan kebersihan usaha pemberontakan mereka itu. Tentu mereka bukan ber-maksud berjuang untuk membebaskan rakyat dari cengkeraman kaum penjajah, melainkan hendak memberontak dan merebut kekuasaan, untuk mengangkat diri menjadi golongan pimpinan baru! Kalau benar demikian, maka gerakan itu harus ditentangnya! Dia hanya akan membantu perjuangan yang benar-benar ditujukan untuk membebaskan rakyat dari tindasan kaum penjajah.
Bagaimanapun juga, harus diakuinya bahwa Kaisar Kiang Long yang sekarang ini masih jauh lebih baik dan bijaksana daripada kaisar-kaisar Mancu yang lalu, dan dia tidak dapat membayangkan bagaimana akan jadinya kalau sampai kendali pemerintahan terjatuh ke dalam tangan para datuk sesat yang jahat dan kejam melebihi iblis itu. Teringat akan masa lalunya, dada yang bidang itu menghembuskan napas panjang. Dia pernah jatuh cinta kepada Can Bi Lan, cinta sepihak, karena akhirnya wanita itu menikah dengan Sim Houw, yang masih keponakannya sendiri biarpun usia Sim Houw lebih tua empat belas tahun darinya, dan semenjak itu dia kembali ke Lembah Naga Siluman dan tidak pernah memasuki dunia ramai. Dia tidak merasa patah hati, bahkan sudah melupakan peristiwa itu. Namun, kegagalan cintanya itu membuat dia malas dan segan untuk mencari jodoh seperti yang selalu dianjutkan kedua orang tuanya.
Sekarang, setelah kembali dia melakukan perjalanan seorang diri, baru dia dapat membayangkan betapa selama ini dia mengecewakan hati ayah bundanya, bahwa membuat mereka berduka dan kecewa merupakan suatu perbuatan yang tidak berbakti. Pula, kenapa dia seolah-olah menjadi putus asa dan tidak pernah mempunyai keinginan untuk berumah tangga? Ah, siapa tahu, sekali ini Thian akan menunjukkan jalan baginya, akan mempertemukan dia dengan jodohnya, atau mungkin juga dia akan gugur dalam menunaikan tugasnya sebagai seorang pendekar, menyelidiki Tiat-liong-pang. Bagaimana nanti sajalah! Keberuntungan atau kegagalan di masa depan, aku siap menghadapimu, demikian dia menyongsong masa depannya dengan hati lapang dan gagah. Cu Kun Tek memang keturunan keluarga Cu yang sudah ratusan tahun tinggal di Lembah Naga Siluman sebagai keluarga sakti yang mengasingkan diri.
Keluarga Cu ini memiliki ilmu silat keluarga yang sukar dicari bandingannya di dunia persilatan, dan nama besar keluarga Cu sudah dikenal oleh hampir semua tokoh dunia persilatan, baik dari golongan putih maupun golongan hitam. Dan kini, Cu Kun Tek, keturunan terakhir mereka, mengubah kebiasaan nenek moyangnya, dia keluar dari lembah untuk mencampuri urusan dunia ramai. Tentu saja sebagai seorang pendekar yang selalu membela kebenaran dan keadilan, siap untuk melindungi yang lemah dan tertindas dan menentang yang kuat sewenang-wenang, kalau perlu dengan taruhan nyawa! Juga diam-diam dia mengharapkan mudah-mudahan sekali ini dia akan bertemu dengan jodohnya karena bagaimanapun juga dia merasa kasihan kepada ayah dan ibunya yang sudah ingin sekali mempunyai seorang mantu dan terutama sekali menimang cucu!
Semenjak Siangkoan Liong membunuh dua orang anggauta Tiat-liong-pang yang hendak memperkosa Kwee Ci Hwa, para anggauta Tiat-liong-pang kini tidak berani lagi berbuat jahat dan sembarangan saja. Mereka semua maklum betapa kejam dan tanpa ampun adanya putera ketua mereka itu dan mereka kini patuh akan semua perintah atasan. Siangkoan Lohan juga sudah mendengar akan hal itu dan dia sempat menegur puteranya mengapa membunuh dua orang anak buah sendiri.
"Ayah, apa yang akan dapat diharapkan dari anak buah yang suka berbuat sewenang-wenang tanpa menurut peraturan? Akhirnya mereka takkan dapat dikendalikan dan kalau sudah begitu, mungkin kelak mereka akan berani membalik dan melawan kita. Mengendalikan orang-orang itu harus dengan tangan besi. Mereka harus takut dan tunduk, taat sepenuhnya kepada kita, barulah kita dapat mempergunakan mereka dengan baik. Apalagi, bukankah kita mempunyai tujuan yang tinggi dan membutuhkan disiplin yang kuat? Kalau mereka tidak berdisiplin, tidak sangat taat seperti sepasukan tentara yang terkendali baik, bagaimana mungkin usaha kita akan berhasil?"
Siangkoan Liong yang biasanya pendiam itu kini bicara penuh semangat dan Siangkoan Lohan menjadi girang sekali. Benar kata-kata Ouwyang Sianseng, pikirnya, puteranya ini memang ada bakat untuk menjadi kaisar!
Sikapnya saja sudah nampak jelas. Maka, mulai hari itu, Siangkoan Lohan lalu mengadakan peraturan-peraturan yang membuat para anak buahnya tidak lagi berani berbuat sewenang-wenang tanpa perintah atasan. Setiap hari mereka dilatih oleh Siangkoan Lohan sendiri, kadang-kadang dibantu oleh para sekutunya, yaitu Sin-kiam Mo-li, Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek, bahkan kadang-kadang Siangkoan Lohan turun tangan sendiri memberi gemblengan sehingga pasukan Tiat-liong-pang yang kini ditambah jumlahnya itu terbentuk sebagai pasukan yang cukup kuat, dengan jumlah hampir tiga ratus orang! Pada suatu hari, pasukan itu dilatih perang-perangan, dipimpin oleh Sin-kiam Mo-li dan Toat-beng Kiam-ong. Pasukan dibagi dua, dengan pakaian seragam yang berbeda pula, yang setengah dipimpin Sin-kiam Mo-li dan yang sebagian lagi dipimpin oleh Toat-beng Kiam-ong.