"Tentu saja tidak. Mari kita berangkat sekarang juga untuk mencari mereka,"
Kata isterinya penuh semangat.
"Tidak usah kalian sibuk,"
Kata nenek Bu Ci Sian.
"Aku yang akan mencari mereka. Aku memang sengaja mengantar Sian Li ke sini, kemudian aku akan kembali ke kota raja dan mencari mereka."
"Aih, Ibu sudah tua dan baru saja datang setelah melakukan perjalanan jauh. Biar Ibu beristirahat di sini ditemani Sian Li dan Sian Lun. Kami yang akan mencari mereka."
"Sian Lun? O ya, cucu muridku itu, di mana dia?"
Nenek itu bertanya dan memandang ke kanan kiri. Hampir ia lupa bahwa puteri dan mantunya mempunyai seorang murid, dan ia sendiri sayang kepada murid yang sudah dianggap sebagai anak angkat oleh Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng itu. Suami Isteri itu agaknya baru teringat dan Bi Eng lalu menoleh ke arah dalam lalu berteriak,
"Sian Lun....! Di mana engkau? Kesinilah, nenekmu datang!"
Dari arah belakang terdengar jawaban
"Teecu datang, Subo!"
Dan tak lama kemudian muncullah seorang pemuda remaja yang gagah perkasa. Pemuda ini biarpun baru berusia lima belas tahun, akan tetapi tubuhnya tinggi besar seperti seorang dewasa. Wajahnya yang tampan itu cerah, sepasang matanya bersinar-sinar dan mulutnya membayangkan senyum, akan tetapi dia pendiam dan sopan. Begitu tiba di situ, dia memberi hormat sambil berlutut ke arah nenek Bu Ci Sian.
"Nenek, selamat datang dan terimalah hormat saya."
Nenek itu memandang dengan wajah berseri, lalu menyentuh pundak anak muda itu dan menyuruhnya bangun berdiri.
"Cukup, Sian Lun. Wah, engkau kini sudah kelihatan dewasa!"
"Terima kasih, Nek."
Pemuda itu lalu memberi hormat kepada suhu dan subonya.
"Harap Suhu dan Subo maafkan teecu. Karena melihat nenek datang bersama tamu, meka teecu tidak berani ke luar, takut mengganggu pembicaraan penting."
"Ah, tamu ini bukan orang lain, Sian Lun,"
Kata Kam Bi Eng.
"Ia bernama Tan Sian Li. Puteri keponakan kami Tan Sin Hong dan Kao Hong Li di Ta-tung. Sian Li, perkenalkan, ini murid kami bernama Liem Sian Lun."
Dua orang remaja itu berdiri dan saling pandang. Sian Lun mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai penghormatan, dibalas oleh Sian Li dan gadis cilik ini memandang kepada Suma Ceng Liong lalu berkata dengan suaranya yang nyaring.
"Ku-kong (Paman Kakek), aku harus menyebut dia bagaimana? Mengingat dia murid Kakek den Nenek, sepatutnya aku menyebutnya Su-siok (Paman Guru)...."
Suma Ceng Liong tertawa.
"Memang seharusnya engkau menyebut dia paman, mengingat bahwa dia murid kami dan engkau cucu kami. Akan tetapi, karena engkau juga akan belajar ilmu dari kami, berarti engkau menjadi murid kami pula dan kalian adalah saudara seperguruan."