"Heh-heh, engkau memang anak yang manis sekali. Pantas anjing hitam itu menculikmu. Akan tetapi engkau terlalu manis untuk anjing macam dia. Engkau ikut saja denganku, anak manis!"
Sekali tongkatnya bergerak, kakek jembel itu telah membebaskan totokan dari tubuh Sian Li. Anak ini meloncat berdiri, agak terhuyung karena tubuhnya masih terasa kaku setelah beberapa lamanya dalam keadaan tertotok. Akan tetapi, ia segera dapat berdiri tegak dan dengan sikap tegas ia berkata,
"Aku tidak mau ikut denganmu atau dengan siapa pun."
"Ehh? Baru saja engkau kubebaskan dari tangan anjing hitam ini! Apa engkau lebih suka ikut dengan dia?"
Tongkat hitamnya menuding ke arah muka Hek-bin-houw yang sudah tak bernyawa lagi.
"Aku tidak sudi ikut dengan dia, juga tidak mau ikut denganmu. Aku hanya ikut Ayah Ibuku!"
"Tapi, engkau telah kutolong!"
"Aku tidak pernah minta pertolonganmu."
"Huh, engkau manis tapi tak kenal budi. Pantas ditawan anjing hitam ini, dan sekarang engkau harus ikut dengan aku, mau atau tidak!"
"Aku tidak mau!"
Kata Sian Li dan ia pun sudah siap untuk melawan. Melihat gadis cilik ini memasang kuda-kuda dengan sikap yang indah sekali, diam-diam pengemis itu terkejut. Dia mengenal dasar silat yang amat hebat, akan tetapi tahu bahwa anak itu belum memiliki tenaga sin-kang yang kuat, maka ilmu yang hebat pun tidak ada artinya tanpa didukung tenaga sin-kang yang mendatangkan kecepatan dan kekuatan.
"Hayo ikut!"
Katanya dan tangan kirinya menyambar. Sian Li tidak dapat mengelak lagi dan ia pun membuat gerakan menangkis.
Akan tetapi, karena tenaganya memang belum kuat, maka tangkisan itu membuat tangannya bahkan ditangkap Si Pengemis yang terkekeh dan di lain saat, Sian Li telah tertotok kembali dan sekali tarik, tubuhnya melayang naik dan hinggap di pundak pengemis bongkok itu yang segera meloncat keluar dari kuil dan berlari cepat di dalam kegelapan malam. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali kakek pengemis itu telah keluar dari kota Heng-tai sambil memanggul tubuh Sian Li di pundak kiri, dan dia berjalan perlahan-lahan di luar kota yang masih sunyi itu. Hawa udara pagi itu sejuk sekali. Siapakah pengemis bongkok yang amat lihai itu? Dia adalah seorang tokoh persilatan yang terkenal, namun dia termasuk tokoh sesat yang suka mengandalkan kepandaian untuk memaksa-kan keinginannya dan tidak pantang melakukan tindakan yang jahat.
Oleh karena itu, Hek-pang Sin-kai (Pengemis Sakti Tongkat Hitam) termasuk seorang tokoh sesat walaupun di selatan dia mempunyai perkumpulan yang terkenal, yaitu Hek-pang Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam) dan dia menjadi ketuanya. Karena dia seorang petualang yang suka berkelana, maka perkumpulan itu sering ditinggalkannya dan dia serahkan kepada para wakilnya untuk mengurusnya. Ketika Hek-pang Sin-kai menolong Sian Li dari tangan Hek-bin-houw, perbuatan itu dia lakukan bukan karena dia memang suka menolong orang. Dia turun tangan membunuh Hek-bin-houw hanya karena Si Muka Hitam itu berani menentangnya dan menyerangnya. Akan tetapi, ketika melihat Sian Li yang manis dan mungil, timbul rasa suka di hati kakek jembel itu dan dia ingin mengambil anak itu sebagai seorang muridnya. Saking lelahnya, ketika dibawa lari dari kuil,
Sian Li tertidur atau tak ingat diri di panggulan pundak kakek itu. Akan tetapi udara pagi yang dingin itu menyadarkannya dan kini, biarpun tubuhnya tidak tampak bergerak, ia depat bersuara dan berulang-ulang ia minta agar kakek itu melepaskan dirinya. Akan tetapi, Hek-pang Sin-kai hanya terkekeh dan tidak mempedulikannya. Pagi itu amat sunyi dan Sian Li sudah hampir putus asa. Suaranya sudah parau karena sejak tadi ia berseru minta dilepaskan dan kini ia berdiam diri. Percuma saja bicara, pikirnya. Saat itu masih pagi sekali dan di sepanjang jalan tidak pernah bertemu orang. Nanti saja kalau ada orang, ia akan menjerit minta tolong. Tiba-tiba ia melihat seorang nenek datang dari arah kiri di sebuah jalan persimpangan. Melihat ada orang, Sian Li lalu bicara lagi, kini ia bahkan mengerahkan tenaga agar suaranya terdengar lantang.
"Kakek jahat, lepaskan aku!"
Teriaknya dan karena kepalanya tergantung di belakang pundak kakek itu, Sian Li dapat melihat betapa nenek yang datang dari jalan simpangan itu menengok, kemudian nenek itu pun membelok dan mengikuti penculiknya dari belakang. Melihat ini, Sian Li berkata lagi.
"Kakek jahat, lepaskan aku. Engkau sungguh berani mati menculikku. Kalau Ayah Ibuku mengetahui, engkau tentu akan mereka bunuh!"
"Heh-heh-heh, aku tidak takut ayah ibumu, anak manis!"
Kata Hek-pang Sin-kai, terkekeh mendengar bahwa ayah ibu anak itu akan membunuhnya.
"Engkau tertawa karena tidak mengetahui siapa Ayah Ibuku. Kalau engkau tahu, engkau akan mati berdiri!"
Kata pula Sian Li dan ia melihat betapa nenek yang berjalan di belakang itu mempercepat langkahnya sehingga jaraknya semakin dekat, hanya sepuluh meter saja di belakangnya. Kembaii kakek jembel itu tertawa bergelak mendengar ancaman Sian Li yang dianggapnya hanya gertak belaka.
"Ayahku adalah Tan Sin Hong yang berjuluk Si Bangu Putih! Dan ibuku adalah keturunan Istana Gurun Pasir dan Istana Pulau Es!"
Kata pula Sian Li dan sekali ini, benar saja ia merasa betapa tubuh yang memanggulnya itu menegang.
"Hemm, engkau hanya membual!"
Kata kakek jembel itu, akan tetapi kini tawanya hilang karena dia benar-benar amat terkejut mendengar ucapan Sian Li.
"Siapa membual? Ibuku bernama Kao Hong Li. Kakekku Kao Cin Liong adalah putera Naga Sakti Istana Gurun Pasir, sedangkan nenekku Suma Hui adalah cucu Pendekar Super Sakti dari Istana Pulau Es!"
Kini Hek-pang Sin-kai tidak dapat berpura-pura lagi. Dia memang kaget bukan main mendengar ucapan itu. Dia tahu bahwa anak ini tidak mungkin membual karena dari mana anak ini dapat mengenal nama-nama besar itu? Akan tetapi, di samping kekagetannya, dia bahkan menjadi semakin gembira.
"Bagus! Kalau begitu, engkau keturunan para pendekar sakti. Engkau pantas menjadi muridku!"
Katanya gembira dan bangga karena kalau dia dapat mengambil murid keturunan Istana Gurun Pasir dan Istana Pulau Es, namanya tentu akan terangkat tinggi sekali! Tiba-tiba kakek jembel itu terkejut sekali ketika ada angin dahsyat menyambar ke arah kepala dan dadanya yang datang dari sebelah kanan. Dia mengenal serangan ampuh, maka cepat dia membalik ke kanan dan menggerakkan tongkat dan tangan kirinya untuk menangkis dan balas menyerang. Akan tetapi, tiba-tiba bayangan berkelebat dan tahu-tahu tubuh Sian Li yang dipanggul di atas pundak kanannya, telah dirampas orang! Ketika dia membalik, dia melihat seorang wanita tua sudah menurunkan Sian Li dan bahkan telah membebaskan totokan atas diri gadis cilik itu.
"Anak baik, engkau minggirlah, biar kubereskan jembel busuk ini!"
Kata nenek tadi sambil mendorong Sian Li dengan lembut ke samping. Sian Li menurut dan anak itu pun menjauh, berdiri di tepi jalan yang masih sunyi itu sambil memandang kepada dua orang tua yang sudah saling berhadapan itu dengan hati tegang. Ia masih belum tahu siapa nenek itu dan orang macam apa. Kalau nenek itu seorang penjahat pula seperti kakek jembel, ia pun tidak akan sudi ditolong dan ikut dengannya. Dengan muka merah karena marah. Hek-pang Sin-kai menudingkan tongkat hitamnya ke arah muka nenek itu.
"Nenek tua bangka, apakah engkau sudah bosan hidup maka berani menentang Hek-pang Sin-kai?"
Nenek itu tersenyum dan sungguh mengagumkan. Nenek yang usianya sedikitnya enam puluh tujuh tahun itu, yang rambutnya sudah hampir putih semua,
Begitu tersenyum, nampak jauh lebih muda karena giginya masih berderet rapi! Mudah diduga bahwa nenek ini di waktu mudanya tentu cantik manis. Bahkan dalam usia sekian tuanya, tubuhnya masih ramping padat. Memang ia bukan wanita sembarangan. Ia adalah nenek Bu Ci Sian, isteri dari pendekar Kam Hong yang terkenal sebagai Pendekar Suling Emas! Nenek ini, disamping sebagai isteri pendekar itu, juga terhitung sumoinya (adik seperguru-an) dan telah neenguasai ilmu Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Emas) dan Kim-kong Sinim (Tiupan Suling Sakti Sinar Emas). Disamping ilmu-ilmu yang khas sebagai pewaris Suling Emas, juga nenek ini seorang pawang ular yang ahli. Bahkan ia pernah menerima pelajaran sin-kang gabungan Im dan Yang dari mendiang Suma Kian Bu yang berjuluk Siluman Kecil, putera dari mendiang Pendekar Super Sakti!
"Bagus! Kiranya engkau yang berjuluk Hek-pang Sin-kai? Sudah lama aku mendengar akan nama busukmu. Kebetulan sekali, tidak perlu aku pergi jauh-jauh mencarimu untuk menghajarmu sampai engkau bertaubat dan tidak melakukan kejahatan lagi!"
"Nenek sombong! Katakanlah siapa engkau sebelum tongkatku menamatkan riwayat hidupmu."
Senyum itu masih belum menghilang dari wajah nenek yang pakaiannya serba putih seperti orang berkabung namun yang rapi dan bersih itu.
"Pengemis jahat, orang macam engkau tidak pantas mengenal siapa namaku."
"Bagus! Kalau begitu, mampuslah tanpa nama!"
Bentak Hek-pang Sin-kai dan dia pun sudah menerjang dengan tongkatnya.
Dari cara nenek itu tadi merampas Sian Li dari pundaknya saja dia sudah dapat menduga bahwa nenek ini merupakan seorang lawan yang tak boleh dipandang ringan, maka begitu menyerang, dia sudah mempergunakan tongkatnya tanpa peduli bahwa nenek itu bertangan kosong, dan dia pun menyerang dengan jurus-jurus maut dari ilmu tongkatnya. Tongkat hitam itu bagaikan seekor ular hidup, meluncur ke depan dan membuat gerakan memutar seperti hendak melingkari leher lawan. Ketika nenek itu melangkah mundur untuk menghindarkan diri dari serangan ke arah leher itu, ujung tongkat terus meluncur ke depan karena pengemis itu pun sudah melangkah maju dan kini ujung tongkat membuat gerakan serangan menotok bertubi-tubi ke arah jalan-jalain darah terpenting di bagian depan tubuh! Serangan itu sungguh dahsyat dan merupakan serangan maut.
"Hemm, kejam sungguh!"
Nenek Bu Ci Sian berseru lirih. Pengemis itu tidak pernah bermusuhan dengannya, akan tetapi kini agaknya berusaha sungguh-sungguh untuk membunuhnya! Ia menggunakan kelincahan gerakannya yang masih gesit untuk mengelak dengan loncatan-loncatan. Namun, totokan berikutnya terus mengancam sehingga terpaksa nenek itu mencabut sebatang suling dari ikat pinggangnya.
Nampak sinar keemasan dibarengi suara meraung nyaring dan tinggi sehingga mengejutkan hati Hek-pong Sin-kai. Suara melengking yang keluar dari suling yang digerakkan itu seperti menusuk telinganya dan menyerang jantungnya! Dia terkejut dan cepat mengerahkan tenaga sin-kang untuk melindungi diri dari suara itu, akan tetapi serangannya menjadi gagal. Dengan penasaran dan marah, dia pun mengatur serangkaian serangan berikutnya. Akan tetapi, kini dia mengalami hari naas bertemu dengan nenek yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi darinya! Begitu nenek Bu Ci Sian memainkan sulingnya, nampak sinar emas bergulung-gulung menyilauhan mata dan pengemis itu menjadi terkejut dan bingung karena selain gerakan tongkatnya selalu menemui tembok sinar keemasan yang menahan gerak serangannya,
Juga dia merasa terkurung oleh sinar emas itu yang selain menyambar-nyambar dengan ancaman dahsyat, juga selalu mengeluar-kan bunyi yang menusuk-nusuk telinganya! Tentu saja kakek jembel itu kewalahan karena nenek Bu Ci Sian telah memainkan ilmu Kim-siauw Kiam-sut yang pernah menggetarkan dunia persilatan. Nenek Bu Ci Sian bukanlah seorang yang kejam, walaupun dahulu di waktu mudanya ia terkenal sebagai seorang pendekar wanita yang galak dan tak mengenal ampun terhadap para penjahat. Setelah ia menjadi isteri suhengnya sendiri, yaitu pewaris Suling Emas, ia menjadi lembut dan tidak kejam untuk melakukan pembunuhan. Walaupun ia tahu bahwa yang dihadapinya adalah seorang jahat, namun ia tidak tega untuk membunuhnya.
Kalau ia menghendaki, dalam waktu dua puluh jurus saja ia akan mampu merobohkan dan menewaskan Hek-pang Sin-kai. Akan tetapi, kini ia hanya menggunakan sulingnya untuk mengepung dengan sinar yang bergulung-gulung, dan kadang-kadang memukul tidak terlalu keras ke arah pundak, punggung, lengan sehingga kakek jembel itu seperti anak nakal yang digebuki ibunya! Maklum bahwa dia tidak akan mampu menandingi nenek itu. Hek-pang Sin-kai lalu meloncat jauh ke belakang dan tiba-tiba dia melontarkan tongkatnya. Itulah ilmunya yang terakhir, yang diandalkan dan dilakukan di waktu dia telah tersudut dan kalah. Selain untuk dapat menyerang dan membunuh lawan secara tiba-tiba, juga lontaran tongkat itu dipergunakan untuk melarikan diri, agar lawan tidak dapat melakukan pengejaran. Tongkat meluncur dengan kecepatan seperti anak panah terlepas dari busurnya, menuju ke dada nenek Bu Ci Sian.
"Hemm....!"
Nenek itu menggerakkan suling emas di tangannya menyambut tongkat dan begitu tongkat yang meluncur itu bertemu suling, suling diputar dan tongkat itu berputaran menempel pada suling.