Halo!

Kisah Si Bangau Merah Chapter 67

Memuat...

"Plakkk!"

Dua telapak tangan bertemu dan akibatnya, kedua orang wanita itu terdorong ke belakang. Keduanya terkejut, akan tetapi yang merasa lebih penasaran adalah Ang I Moli. Setelah berhasil menguasai Toat-beng-tok-hiat, ia mengira bahwa di dunia ini tidak ada ilmu pukulan yang dapat menandingi ilmunya itu! Sebelum kedua orang wanita ini saling terjang lagi, mendadak nampak bayangan berkelebat dan Gangga Dewi telah berhadapan dengan Ang I Moli.

"Iblis betina Ang I Moli, sekarang aku mengenalmu! Di mana kau sembunyikan Yo Han? Hayo cepat beritahu atau terpaksa aku akah menyiksamu untuk mengaku!"

Bentakan Gangga Dewi ini selain mengejutkan hati Ang I Moli, juga membuat Kao Hong Li memandang heran. Ia tidak mengenal wanita cantik yang tadi ia lihat duduk di sebelah pamannya, Suma Ciang Bun. Dan kini wanita ini mengenal Ang I Moli, bahkan menyebut-nyebut nama Yo Han! Ang I Moli sudah pernah bertemu dan bertanding dengan Gangga Dewi dan ia tahu akan kelihaian wanita Bhutan itu. Tak disangkanya bahwa wanita itu dapat mengenal ia yang sudah menyamar.

"Mampuslah!"

Bentaknya dan ia pun menggerakkan pedangnya menusuk. Gangga Dewi memiliki gin-kang yang hebat dan ia mampu bergerak cepat bukan main. Serangan pedang itu dapat dielakkannya dengan mudah dan begitu tangan kirinya bergerak, nampak gulungan sinar putih mengkilat yang panjang seperti seekor ular menyambar. Kiranya Gangga Dewi telah membalas dengan serangan sabuk sutera putihnya. Sab"k itu meluncur kaku bagaikan berubah menjadi tongkat menotok ke arah dada Ang I Moli. Ang I Moli menangkis dengan pedangnya, dan tangan kirinya mendorong dengan ilmu yang diandalkannya, yaitu Toat-beng-tok-hiat. Uap putih yang berbau busuk menyambar dan Gangga Dewi cepat meloncat ke belakang, maklum bahwa lawannya itu menggunakan pukulan beracun yang amat jahat.

"Bibi, biar aku yang menghalau iblis betina ini!"

Kao Hong Li membentak dan ia pun menerjang maju, sekali ini menggunakan jurus-jurus Sin-liong Ciang-hoat dari Istana Gurun Pasir. Demikian hebatnya daya serang ilmu ini sehingga Ang I Moli yang memegang pedang itu tidak berani menyambut dan terhuyung ke belakang. Gangga Dewi sudah mendapat bisikan dari suaminya siapa Kao Hong Li, keponakan suaminya, puteri dari Kao Cin Liong dan Suma Hui, maka ia pun memutar sabuk suteranya dan berseru.

"Kao Hong Li, aku adalah isteri pamanmu Suma Ciang Bun. Namaku Gangga Dewi dari Bhutan."

Mendengar ini, Hong Li merasa heran akan tetapi juga gembira. Ia pernah mendengar akan keadaan pamannya, Suma Ciang Bun yang mempunyai kelainan, tidak menyukai wanita karenanya tidak mau menikah. Dan kini tahu-tahu dia mempunyai seorang isteri yang cantik, seorang wanita Bhutan. Dan ia pun teringat bahwa ayah dan ibunya pernah bercerita tentang seorang puteri Bhutan bernama Syanti Dewi yang menikah dengan pendekar Wan Tek hoat, saudara tiri dari neneknya, yaitu mendiang nenek, Wan Ceng!

"Apakah engkau puteri dari kakek Wan Tek Hoat, Bibi?"

Katanya sambil mengelak dari sambaran pedang Ang I Moli yang sudah membalas serangannya.

"Benar! Mari kita tundukkan iblis ini, Hong Li!"

Kao Hong Li semakin gembira dan kedua orang wanita ini mendesak Ang I Moli yang menjadi sibuk sekali. Menghadapi seorang di antara mereka saja, amat sukar baginya untuk mendapatkan kemenangan. Kini mereka maju bersama mengeroyoknya. Tentu saja ia kewalahan dan terus mundur.

"Singg....!"

Dengan nekat Ang I Moli membacokkan pedangnya ke arah kepala Gangga Dewi. Wanita Bhutan ini mengelebatkan sabuknya yang kini menjadi lemas dan sabuk itu menyambut pedang, terus melibatnya dengan kuat. Ang I Moli terkejut dan berusaha menarik lepas pedangnya. Namun sia-sia saja karena sabuk sutera putih itu sudah melibat pedang dengan amat kuatnya. Ketika ia bersitegang dan menarik-narik pedangnya agar terlepas, Hong Li sudah meloncat ke depan dan sekali jari tangannya meluncur dan menotok, Ang I Moli roboh terkulai dengan lemas. Hong Li menginjak perut Ang I Moli dan melihat ini, Gangga Dewi berseru,

"Jangan bunuh dulu!"

Hong Li memandang wanita Bhutan itu dan tersenyum.

"Bibi, aku tidak ingin membunuhnya. Akan kuserahkan kepada Liu Tai-ciangkun. Akan tetapi, ia harus lebih dulu mengatakan di mana ia menyembunyikan puteriku. Hayo, Moli, tiada gunanya engkau melawan lagi. Aku dapat membunuhmu, menyiksamu. Katakan dimana engkau menyembunyi-kan puteriku, dan aku tidak akan menyiksamu, melainkan menyerahkan engkau kepada Liu Ciangkun.

"Aku tidak tahu, aku tidak pernah melihat puterimu,"

Jawab Ang I Moli dengan sikap acuh. Ia tahu bahwa ia telah kalah dan tertawan, akan tetapi wanita sesat yang lihai dan cerdik ini tidak merasa gentar. Selama ia masih hidup, ia takkan pernah putus asa dan menyerah.

"Bohong! Puteriku yang kami tinggalkan di rumah penginapan itu hilang. Siapa lagi kalau bukan engkau dan kawan-kawanmu yang telah manculiknya? Hayo katakan, di mana ia!"

"Sudah kukatakan bahwa aku tidak tahu. Terserah engkau mau percaya atau tidak,"

Jawab Ang I Moli acuh.

"Iblis busuk, engkau patut dihajar!"

Hong Li yang amat mengkhawatirkan puterinya, mengangkat tangan hendak memukul. Akan tetapi Gangga Dewi menyentuh pundaknya.

"Nanti dulu, Hong Li. Ia harus memberitahu dulu di mana adanya Yo Han. Ang I Moli, engkau dan dua orang tosu itu melarikan Yo Han. Beberapa tahun yang lalu aku mengejarmu dan mencarimu, akan tetapi gagal. Nah, katakan di mana Yo Han sekarang?"

Ang I Moli tersenyum mengejek.

"Yo Han telah menjadi murid para pimpinan Thian-li-pang dan dia sudah menjadi orang Thian-li-pang. Kalau engkau hendak mencarinya, carilah Thian-li-pang."

Karena dapat menduga bahwa dalam keadaan seperti itu, Ang I Moli kiranya tidak ada perlunya lagi membohong. Hong Li tidak mendesaknya lagi melainkan menyerahkan wanita itu kepada seorang perwira untuk dibelenggu dan dijadikan tawanan.

"Bibi, kita tangkap yang lain dan paksa mereka mengaku di mana anakku Sian Li dan di mana pula adanya Yo Han,"

Kata Hong Li dan kedua orang wanita ini lalu terjun lagi ke dalam pertempuran.

Sementara itu, Sin Hong yang juga sudah berhasil menundukkan dan merobohkan Ouw Cun Ki tanpa membunuhnya. Bekas perwira pasukan pengawal hasil selundupan Thian-li-pang ini dibelenggu dan menjadi tawanan. Melihat betapa isterinya dan wanita Bhutan itu mengamuk, membantu Suma Ciang Bun, Sin Hong juga membantu mereka dan keadaan para tokoh Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw semakin terdesak. Akhirnya belasan orang dapat ditawan dan beberapa orang tewas. Kaisar Kian Liong marah sekali mendengar bahwa Ouw Cun Ki yang dipercaya dan diberi anugerah pangkat tinggi itu ternyata adalah mata-mata pemberontak Thian-li-pang yang diselundupkan ke istana. Dia memerintahkan para panglimanya untuk menghukum berat kepada para pemberontak itu, hukum buang dan hukum mati bagi para pemimpinnya.

Biarpun tidak ada bukti bahwa Siang Hong-houw terlibat langsung dengan para pemberontak, namun permaisuri itulah yang memberi angin dan yang memperkenalkan Ouw Cun Ki kepada Kaisar. Akan tetapi ketika Kaisar yang merasa tidak enak hati dan tidak senang mengunjungi permaisurinya, dia mendapatkan bahwa Siang Hong-houw sedang rebah dan dalam keadaan sakit keras. Melihat keadaan Siang Hong-houw, Kaisar tidak tega untuk menegur atau bertanya. Dan memang penyakit permaisuri itu cukup payah, bahkan pertolongan para tabib tidak dapat mengurangi penderitaannya. Permaisuri ini merasa amat berduka dan kecewa karena telah dibohongi untuk kedua kalinya oleh orang-orang Thian-li-pang. Hampir saja semua pangeran tewas keracunan dan kalau hal itu sampai terjadi,

Maka ialah yang bertanggung jawab. Bahkan kematian Pangeran Kian Ban Kok juga membuat ia merasa bersalah besar, Ia merasa bahwa kematian itu tidak akan terjadi kalau saja ia tidak memasukkan Ouw Cun Ki ke dalam istana! Hal itu berarti bahwa ialah pembunuh pangeran itu dan perasaan ini membuat ia berduka dan menyesal bukan main. Ia memang mendendam terhadap pemecintah Mancu yang telah menghancur-kan kehidupan keluarganya. Akan tetapi, harus diakuinya bahwa Kaisar Kian Liong amat menyayangnya dan bersikap amat baik kepadanya sehingga kalau ia sebagai seorang isteri yang dicinta sampai melaku-kan kejahatan terhadap Kaisar dan keluarganya, maka ialah yang berdosa besar. Perasaan bersalah ini, mendatangkan penyesalan yang membuat Siang Hong-houw jatuh sakit parah.

Demikian parah sakitnya sehingga beberapa bulan kemudian, Permaisuri Harum ini meninggal dunia karena sakitnya. Setelah merobohkan banyak orang tokoh Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang, Sin Hong, Hong Li, dibantu Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi, mencoba untuk mencari keterangan tentang Sian Li dan Yo Han kepada mereka. Akan tetapi, ternyata tidak ada seorang pun di antara mereka tahu tentang dua orang itu. Akhirnya, setelah menyerahkan semua tawanan kepada Liu Ciangkun, empat orang itu meninggalkan istana tanpa mengharapkan balas jasa sama sekali. Mereka berempat keluar dari istana dan saling menceritakan pengalaman masing-masing. Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi menceritakan tentang pertemuan mereka dengan Yo Han yang diculik dan dilari-kan Ang I Moli dan dua orang tosu Pek-lian-kauw.

"Menurut pengakuan Ang I Moli tadi, Yo Han diserah-kan kepada para pimpinan Thian-li-pang dan menjadi murid mereka. Aku harus pergi mencarinya di sarang Thian-li-pang!"

Post a Comment