Akhirnya Sin Hong berkata.
"Kalau engkau benar tidak tahu, tidak mengapa dan pergilah. Akan tetapi awas, kalau engkau berbohong, kelak masih belum terlambat bagi kami untuk menghukummu!"
"Terima kasih, Taihiap, terima kasih, Lihiap.... kalau saya melihat atau mendengar tentang Siocia, tentu akan segera saya laporkan kepada Jiwi...."
Hong Li mengangguk dan pelayan yang sudah menggigil ketakutan dengan muka pucat itu, kini bagaikan seekor tikus yang baru saja lolos dari cengkeraman kucing, dia berlari keluar.
"Heran, ke mana Sian Li pergi?"
Sin Hong berkata lirih.
"Tentu ada hal yang tidak beres! Akan kuserbu saja ke dalam dan akan paksa mereka mengaku di mana anak kita!"
Kata Hong Li. Akan tetapi Sin Hong memegang lengannya.
"Sssttt, perlahan dulu. Tidak ada gunanya menggunakan kekerasan. Kita berhadapan dengan perwira yang mempunyai pasukan! Tidak bisa kita menuduh mereka begitu saja tanpa bukti. Sebaiknya kita mengamati kepergian mereka. Kalau Sian Li berada dengan mereka, baru kita turun tangan menyelamatkan puteri kita. Kalau tidak ada, kita harus mencari jalan lain."
Hong Li menurut, akan tetapi ia nampak agak pucat dan gelisah.
"Kalau Ang I Moli yang melakukan penculikan terhadap Sian Li, sekali ini aku akan mengadu nyawa dengannya!"
"Yang penting, kita harus dapat menemukan dulu di mana adanya Sian Li, dan melihat anak kita itu dalam keadaan selamat,"
Kata Sin Hong.
"Tidak ada kemungkinan lain,"
Kata Hong Li.
"Lenyapnya anak kita itu pasti ada hubungannya dengan komplotan pemberontak yang semalam mengadakan rapat di sini. Tentu orang-orang Pek-lian-kauw, Thian-li-pang dan para pemberontak itu yang bertanggung jawab."
"Karena itu, kita amati saja mereka. Dan kita pun akan menghadapi mereka di istana. Di sana kita lebih banyak mendapat kesempatan untuk menangkap Ang I Moli dan memaksanya mengaku untuk mengembalikan anak kita."
Setelah mencari-cari tanpa hasil, kemudian mengintai keberangkatan Ouw Ciangkun dan pasukannya dan tidak melihat adanya Sian Li di sana bersama pasukan itu. Juga mereka berdua tidak melihat adanya Ang I Moli dan para tokoh Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang, terpaksa, walaupun dengan hati berat, Sin Hong dan Hong Li segera berlari ke benteng Liu Tai-ciangkun. Panglima itu terkejut bukan main mendengar bahwa puteri sepasang pendekar itu lenyap dari kamar rumah penginapan.
"Jangan khawatir, Taihiap dan Lihiap, kami akan menyebar penyelidik untuk mencari keterangan tentang puteri Jiwi (Kalian) itu."
Dan seketika panglima itu menyebar anak buahnya yang ahli untuk melakukan penyelidikan ke kota Heng-tai dan sekitarnya, mencari jejak nona Tan Sian Li, gadis cilik berusia dua belas tahun itu. Adapun suami isteri itu sendiri oleh Liu Tai-ciangkun lalu diselundupkan ke dalam istana, menyamar sebagai pengawal-pengawal yang tergabung dalam pasukan pengawal istana bagian luar. Dengan memegang tanda perintah khusus dari Liu Tai-ciangkun dan seorang perwira pasukan pengawal yang menjadi sahabatnya. Sin Hong dan Hong Li dapat bergerak bebas dalam istana itu tanpa dicurigai orang. Namun, keduanya menyembunyikan diri sambil menanti datangnya saat yang ditentukan, yaitu pada malam bulan purnama di taman besar, di mana Siang Hong-houw hendak mengadakan pesta ulang tahunnya, dihadiri oleh semua pangeran.
Penanggalan Im-lek dibuat menurut peredaran bulan mengelilingi bumi. Oleh karena itu, setiap tanggal lima belas, dapat dipastikan bahwa bulan purnama sebulat-bulatnya dan seterang-terangnya. Malam itu bulan purnama amat cerahnya karena di langit tidak ada awan menghalang. Dan kemulusan bulan ini menambah meriahnya pesta di taman istana yang amat indah. Lampu-lampu gantung beraneka bentuk dan warna menambah indahnya suasana, seolah menggantikan bintang-bintang yang tidak nampak di langit karena sinarnya ditelan cahaya bulan purnama. Bunga-bunga di taman sedang mekar semerbak, menambah keindahan malam itu. Siang Hong-houw sudah berusia empat puluh tahun lebih. Akan tetapi permaisuri ini masih nampak anggun dan jauh lebih muda dari usia yang sesungguhnya.
Sanggulnya tinggi dan dihias emas permata, pakaiannya juga gemerlapan dan semua itu ditambah kecantikannya dan senyumnya yang tak pernah meninggalkan bibirnya, membuat ia nampak cantik jelita dan menarik sekali. Para pangeran yang hadir adalah putera-putera tirinya, dan semua pangeran menyayang Siang Hong-houw yang selalu bersikap manis terhadap mereka. Pesta berjalan dengan meriah. Delapan orang pangeran dan enam belas orang puteri hadir. Mereka semua adalah saudara-saudara seayah berlainan ibu. Kaisar sendiri tidak hadir, juga tidak ada selir lain yang hadir. Hal ini memang dikehendaki Siang Hong-houw yang ingin berpesta dengan anak-anak tirinya saja untuk menghibur hatinya. Untuk membuat pesta bertambah meriah, serombongan besar pemusik, penyanyi dan penari menyajikan hiburan-hiburan yang bermutu. Kesempatan ini dipergunakan oleh Sin Hong dan Hong Li, tentu saja atas usaha Liu Tai-ciangkun,
Untuk berbaur dengan rombongan seniman dan seniwati itu agar mereka hadir lebih dekat dengan para pangeran. Kalau mereka menyamar menjadi pengawal, maka kehadiran mereka tentu dalam jarak yang jauh dan sukar bagi mereka untuk melindungi para pangeran. Taman itu sendiri dijaga oleh tiga puluh tebih orang pengawal yang merupakan pasukan istimewa dan yang dipimpin oleh Ouw-ciangkun. Biarpun mereka berada di antara para seniman, Sin Hong dan Hong Li selalu waspada mengamati keadaan sekeliling. Terutama sekali mereka memperhatikan para perajurit yang berjaga di situ karena mereka tahu bahwa di antara para perajurit itu tentu terdapat para tokoh sesat yang menyelundup. Mereka melihat betapa Ouw-ciangkun sendiri melakukan perondaan di dalam taman itu,
Seolah hendak menjaga dan melindungi semua orang yang sedang berpesta di dalam taman. Tempat pesta itu sendiri berada di tengah taman, di mana terdapat sebuah kolam ikan yang dikelilingi petak rumput yang luas. Di atas petak rumput inilah dipasangi kursi-kursi dan meja yang mengelilingi kolam ikan. Suasana sungguh meriah dan gembira, walaupun yang sedang berpesta tidak terlalu banyak. Ketika Sin Hong dan Hong Li melayangkan pandang mata mereka ke arah mereka yang sedang berpesta, kedua orang suami isteri ini terkejut bukan main. Terkejut, heran dan juga girang karena mereka melihat seorang kakek yang gagah, yang mereka kenal karena kakek itu bukan lain adalah Suma Ciang Bun! Dan di dekat kakek itu duduk seorang wanita setengah tua yang nampak asing, namun wanita ini masih nampak cantik dan juga sikapnya gagah sekali.
Sin Hong dan Hong Li tidak mengenal wanita itu, akan tetapi kehadiran Suma Ciang Bun di tempat itu sungguh membuat mereka heran akan tetapi juga girang. Bagaimana Suma Ciang Bun dapat berada di taman itu dan seorang di antara mereka yang ikut berpesta? Seperti kita ketahui, Suma Ciang Bun dan nenek Gangga Dewi melakukan perjalanan bersama untuk mencari Yo Han yang diculik Ang I Moli. Mereka terus membayangi Ang I Moli selama bertahun-tahun, akan tetapi akhirnya mereka kehilangan jejak iblis betina itu. Setelah mencari dengan sia-sia, akhirnya mereka berdua terpaksa menghentikan usaha mereka mencari Yo Han. Mereka telah bergaul dengan akrab dan mudah bagi mereka untuk menyadari bahwa api yang puluhan tahun lalu membakar hati mereka ternyata masih belum padam.
Mereka masih saling mencinta! Dan pada suatu hari yang baik, Gangga Dewi yang lebih tegas dan berani dibandingkan Suma Ciang Bun, menyatakan perasaannya itu kepada Suma Ciang Bun. Pendekar ini menyambutnya dengan terharu dan gembira sampai tak tertahan lagi Suma Ciang Bun menangis! Dan akhirnya, Suma Ciang Bun mengajak Gangga Dewi untuk berkunjung ke sebuah kuil. Kepala kuil itu adalah seorang sahabatnya, seorang pendeta Agama To. Tosu itulah yang mengatur upacara pernikahan antara Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi, tanpa dihadiri seorang pun tamu, hanya disaksikan oleh tujuh orang tosu lainnya. Namun, secara hukum agama pernikahan itu sudah sah dan sejak saat itu, Suma Ciang Bun hidup bersama Gangga Dewi sebagai suami isteri!
Dalam perjalanan mereka melakukan perantauan, keduanya hidup dengan rukun saling mencinta, saling menghormati dan dalam banyak hal, Gangga Dewi bersikap kejantanan dan menjadi pemimpin, sedangkan Suma Ciang Bun lebih kewanitaan dan selalu menyetujui apa yang diputuskan oleh isterinya. Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi mengunjungi keluarga pendekar itu. Mereka sudah berkunjung ke rumah Kao Cin Liong dan Suma Hui kakak perempuannya juga mengunjungi rumah Suma Ceng Liong. Dua orang saudaranya ini menerima mereka dengan gembira sekali. Mereka itu semua menyatakan perasaan sukur bahwa akhirnya Suma Ciang Bun menemukan jodohnya, walaupun sudah agak terlambat.
Apalagi yang dipilihnya adalah bekas kekasihnya dahulu, dan puteri dari mendiang Wan Tek Hoat pula. Masih ada hubungan yang tidak jauh! Demikianlah, ketika mereka berdua merantau sampai ke kota raja, Gangga Dewi teringat kepada Siang Hong-houw yang sudah dikenalnya sebelum menjadi selir Kaisar, ketika masih tinggal di barat dahulu. Karena pengawal istana melaporkan kepada Siang Hong-houw bahwa seorang wanita bernama Gangga Dewi dari Bhutan datang berkunjung bersama suaminya, permaisuri itu menjadi gembira bukan main. Cepat ia menyambut dan ketika bertemu, kedua orang wanita itu saling rangkul dengan akrab sekali. Demikian girangnya hati Siang Hong-houw bertemu dengan sahabat lamanya yang mendatangkan kenangan lama sebelum ia menjadi selir Kaisar,
Sehingga ia menahan Gangga Dewi dan Suma Ciang Bun agar tinggal di istana sebagai tamunya, tamu kehormatan dan dapat ikut menghadiri pesta ulang tahunnya yang diadakan pada tanggal lima belas. Gangga Dewi yang berpengalaman itu melihat betapa sesungguhnya sahabatnya itu menderita tekanan batin walau-pun hidup dalam gemerlapnya kemewahan dan kemuliaan. Maka, ia merasa kasihan kepada sahabatnya itu. Dibandingkan dengan sahabatnya yang hidup sebagai seorang permaisuri yang mulia, ia merasa berbahagia sekali dan merasa jauh lebih beruntung walaupun ia bersama suaminya hidup sederhana, bahkan selama ini hidup sebagai perantau yang tidak tentu tempat tinggalnya. Oleh karena itu, ia membujuk suaminya untuk memenuhi permintaan Siang Hong-houw dan tinggal di istana sampai tiba saatnya pesta ulang tahun itu.
Ketika akhirnya pesta pada malam hari itu tiba, diam-diam mereka pun merasa heran mengapa Siang Hong-houw merayakan ulang tahunnya secara demikian sederhana, tidak dihadiri Kaisar, tidak pula dihadiri para selir lain atau pejabat tinggi, melainkan dihadiri oleh semua pangeran dan puteri, anak-anak tiri Siang Hong-houw. Suma Ciang Bun sama sekali tidak pernah menduga bahwa di antara para seniman dan seniwati yang menghibur di pesta itu, terdapat Tan Sin Hong dan Kao Hong Li! Tentu saja Suma Ciang Bun tidak mengenal kedua orang itu karena Sin Hong dan Hong Li mengenakan bedak yang tebal dan mengubah corak wajah mereka. Sementara itu Ang I Moli berpakaian sebagai pelayan kepala. Ia pun memakai penyamaran agar jangan dikenal orang. Ketika Ouw Ciangkun menyerahkan kepada Siang Hong-houw agar Ang I Moli diterima sebagai kepala pelayan, dengan alasan bahwa keamanan di situ harus dijaga ketat,
Siang Hong-houw yang tidak menyangka buruk menerimanya begitu saja. Dapat dibayangkan betapa kagetnya rasa hati Ang I Moli ketika ia mengenal Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi. Sungguh tidak dinyana sama sekali bahwa dua orang yang amat lihai itu berada pula di situ sebagai tamu! Tentu saja ia menjadi bingung. Apa artinya itu? Apakah Siang Hong-houw sudah menduga akan sesuatu dan sengaja mendatangkan dua orang lihai itu untuk menjamin keamanan di situ? Beberapa kali Ang I Moli mencari-cari Ouw Ciangkun dengan pandang matanya. Akan tetapi ia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berunding dengan perwira itu. Munculnya Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi demikian tiba-tiba dan tak tersangka-sangka sehingga ia tidak mempunyai waktu untuk berunding dengan sekutunya lagi.