Halo!

Kisah Si Bangau Merah Chapter 63

Memuat...

"Engkau tahu betapa gawatnya keadaan, Sian Li,"

Kata Sin Hong dengan sikap serius.

"Ibu dan ayahmu harus cepat melakukan usaha untuk mencegah terjadinya kejahatan di istana itu. Maka, sebaiknya kalau engkau tinggal di kamar ini lebih dulu, agar gerakan kami tidak terhalang dan leluasa. Engkau tahu, kami menghadapi lawan-lawan yang amat jahat dan berbahaya, juga lihai. Lebih aman bagimu kalau engkau bersembunyi dulu di sini sampai kami kembali."

Sian Li mengangguk-angguk. Ia maklum bahwa kalau ia ikut, tentu ayah dan ibunya tidak akan leluasa bergerak. Apalagi kalau sampai terjadi bentrokan, ia tidak akan dapat membantu bahkan menjadi beban perlindungan orang tuanya. Pihak lawan amat lihai, merupakan datuk-datuk sesat. Ilmu kepandaiannya masih jauh untuk dapat membantu orang tuanya.

"Akan tetapi, sebaiknya engkau bersembunyi saja di kamar, anakku. Kalau engkau membutuhkan makan minum, pesan saja kepada pelayan agar dibelikan dan dibawa ke sini. Jangan engkau bepergian keluar."

"Baiklah, Ibu. Akan tetapi, apakah Ibu dan Ayah akan pergi malam-malam begini?"

"Benar, kami harus pergi sekarang juga. Tanggal lima belas tinggal tiga hari lagi. Bagaimanapun juga, besok pagi-pagi kami tentu sudah pulang,"

Kata Sin Hong.

"Andaikata belum selesai urusan ini pun kami tentu akan kembali ke sini untuk menjengukmu, Sian Li,"

Kata Hong Li.

"Baiklah, Ayah dan Ibu. Aku akan menanti di sini sampai Ayah dan Ibu kembali."

Setelah sekali lagi memesan kepada anak mereka agar berhati-hati dan jangan keluar dari kamar, suami isteri pendekar itu lalu meninggalkan rumah penginapan, menggunakan kepandaian mereka sehingga tidak ada orang lain melihat mereka meninggalkan tempat itu. Tentu saja para perajurit penjaga di gardu penjagaan depan rumah gedung tempat tinggal Panglima Liu merasa curiga ketika Sin Hong dan Hong Li minta agar melapor kepada panglima itu bahwa suami isteri itu minta menghadap Liu Tai-ciangkun, Malam telah larut. Bagaimana mungkin mereka berani meng-ganggu atasan mereka yang sedang tidur?

Liu Tai-ciangkun adalah seorang panglima tua, berusia enam puluh tiga tahun, yang dikenal oleh hampir semua pendekar. Panglima ini terkenal sebagai seorang panglima yang setia dan adil. Juga dia dapat menghargai para pendekar, bahkan seringkali dia mengulurkan tangan mengajak kerja sama dengan para pendekar untuk mengamankan negara dari gangguan para penjahat. Karena inilah maka Sin Hong mengajak isterinya untuk malam-malam menghadap panglima itu. Kiranya hanya panglima itu yang dapat mereka harapkan untuk mengatasi kemelut di istana itu, untuk menghadapi Ouw Ciangkun, murid keponakan wakil ketua Thian-li-pang yang berhasil menyelundup menjadi perwira pasukan pengawal istana. Akan tetapi, mereka kini berhadapan dengan lima orang perajurit penjaga yang berkeras tidak dapat menerima tamu pada malam-malam begitu.

"Kalau memang Jiwi (Kalian Berdua) mempunyai kepentingan dengan Liu Tai-ciangkun, sebaiknya Jiwi kembali besok saja. Malam-malam begini, bagaimana panglima dapat menerima tamu? Beliau tentu sudah tidur dan kami tidak berani lancang mengganggunya,"

Kata kepala jaga.

"Hemm, kalian tidak mengenal kami bentak Hong Li yang berwatak keras.

"Kalau Liu Tai-ciangkun mendengar bahwa kami yang datang, dia tentu akan cepat keluar menyambut!"

Para penjaga mengerutkan alisnya, dan Sin Hong yang selalu berwatak sabar dan lemah lembut, cepat maju memberi hormat kepada mereka.

"Harap saudara sekalian memaafkan isteriku. Akan tetapi sungguh, kami mempunyai urusan yang teramat penting yang harus kami sampaikan kepada Liu Tai-ciangkun sekarang juga."

Para penjaga itu sudah merasa tidak senang dengan sikap keras Kao Hong Li tadi, maka kepada jaga itu sambil memandanq kepada nyonya muda yang cantik dan galak itu, bertanya,

"Sebetulnya, siapakah Jiwi? Kami tidak mengenal Jiwi, dan apa keperluannya? Karena kami belum mengenal Jiwi, bagaimana kami dapat percaya kepada Jiwi?"

"Hemm, kalian ingin mengenal kami? Nah, jagalah baik-baik!"

Kata Hong Li dan sebelum suaminya mencegahnya, nyonya muda itu sudah bergerak cepat sekali menyerang dengan totokan-totokan. Tangannya bergerak cepat bukan main dan tubuhnya berkelebatan di antara lima orang penjaga itu. Para penjaga tentu saja berusaha untuk mengelak, menangkis bahkan memukul. Namun, tanpa mereka ketahui bagaimana, tiba-tiba saja tubuh mereka menjadi lemas dan mereka terkulai roboh satu demi satu, tidak mampu bangkit kembali!

"Nah, kalian lihat. Apa sukarnya bagi kami untuk langsung saja mencari sendiri Liu Tai-ciangkun ke dalam? Akan tetapi kami tidak mau melakukan itu. Kami menggunakan tatacara dan sopan santun, akan tetapi kalian malah menolak kami! Kalian mau tahu siapa kami? Katakan saja kepada Liu Tai-ciangkun bahwa yang datang adalah Pendekar Bangau Putih dan isterinya, puteri pendekar Kao Cin Liong!"

Setelah berkata demikian, dengan gerakan cepat sekali, tangan Hong Li bergerak membebaskan totokannya kepada lima orang penjaga itu. Kini lima orang itu yang tadi terkejut, tidak banyak tingkah lagi. Mereka bukan saja berkenalan dengan kelihaian nyonya muda itu, akan tetapi juga mendengar nama Pendekar Bangau Putih dan puteri bekas Jenderal Kao Cin Liong,

Mereka sudah menjadi tunduk dan tanpa banyak cakap lagi, kepala jaga cepat-cepat berlari masuk untuk melapor, walaupun untuk itu terpaksa dia harus mengetuk pintu kamar tidur Sang Panglima, suatu hal yang dalam keadaan biasa, biar bagaimanapun juga tidak akan berani dia melakukannya! Tak lama kemudian, kepala jaga itu kembali dan dengan sikap hormat dia mempersilakan suami isteri pendekar itu untuk memasuki ruangan tamu yang berada di sebelah kiri bangunan. Ketika Sin Hong dan Hong Li tiba di rumah yang lebar itu, mereka mendapatkan Liu Tai-ciangkun sudah duduk menanti. Nampak panglima tua itu baru bangun tidur, bahkan agaknya dia mengenakan pakaian pengganti baju tidur secara tergesa-gesa, rambutnya juga nampak kusut. Mereka saling memberi hormat dan panglima itu bangkit dengan wajah berseri.

"Tai-ciangkun, mohon maaf sebesarnya kalau kami telah mengganggu Ciangkun dari tidur,"

Kata Sin Hong dengan sikap hormat.

"Ahh, tidak apa-apa, Taihiap dan Lihiap. Silakan duduk!"

Kata panglima itu dengan ramah sambil mempersilakan mereka duduk di kursi-kursi yang sudah diatur berhadapan dengan dia, hanya terhalang meja besar.

"Kalau Jiwi malam-malam begini menemuiku, sudah pasti Jiwi membawa urusan yang teramat penting. Nah, para pengawal sengaja kularang mendekat Kita hanya bertiga saja. Katakanlah apa kepentingan itu!"

Sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang pembesar tinggi militer, Liu Ciangkun bersikap tegas. Sin Hong lalu menceritakan dengan sejelasnya apa yang telah dialaminya dengan isterinya ketika mereka mengintai dan mendengarkan percakapan para tokoh Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang yang dijamu oleh Ouw Ciangkun, perwira pasukan pengawal istana. Mendengar laporan yang jelas itu, muka Liu Tai-ciangkun berubah merah dan dia marah bukan main, di samping juga amat terkejut.

"Sudah kuragukan perwira muda itu! Dia terlalu cepat mendapat kenaikan pangkat, dan itu atas perintah Sri Baginda sendiri! Kiranya para pemberontak itu diam-diam mempergunakan pengaruh Siang Hong-houw. Sungguh berbahaya sekali. Sekarang juga aku harus mengerahkan pasukan untuk menangkap semua pengkhianat dan pemberontak itu!"

Panglima itu bangkit berdiri.

"Maaf, Tai-ciangkun. Kukira itu bukan tindakan yang tepat dan bijaksana!"

Kata Kao Hong Li. Panglima itu mengerutkan alisnya dan menghadapi wanita itu dengan sinar mata penasaran.

"Aku hendak mengerahkan pasukan menangkapi para pemberontak itu dan Lihiap mengatakan tidak tepat dan tidak bijaksana? Apa maksud Lihiap?"

"Tai-ciangkun, mereka berada di rumah penginapan umum di kota Heng-tai. Kalau Ciangkun mengerahkan pasukan ke sana, tentu makan waktu lama dan setelah malam lewat, tentu mereka sudah tidak lagi mengadakan rapat di sana. Ciangkun akan terlambat,"

Kata Hong Li.

"Pula, di tempat terbuka mereka akan dapat melakukan perlawanan dengan baik. Ingat, mereka memiliki banyak orang yang lihai!"

Kata pula Sin Hong.

"Andaikata Ciangkun tidak terlambat dan menangkap mereka, lalu apa alasan Ciangkun untuk menuntut mereka? Tidak ada bukti sama sekali. Ciangkun hanya mendengar laporan kami. Kalau Ouw-ciangkun itu menyangkal, apa yang akan dijadikan bukti? Ingat, Ouw-ciangkun dekat dengan Siang Hong-houw. Kalau terjadi perdebatan tanpa bukti, apakah Ciangkun mampu melawan pengaruh Siang Hong-houw yang tentu akan melindungi Ouw-ciangkun?"

Mendengarkan ucapan suami isteri itu, Liu Tai-ciangkun mengerutkan alisnya, meraba-raba jenggotnya dan dia mengangguk-angguk.

"Benar sekali apa yang Jiwi katakan. Untung Jiwi mengingatkan aku sehingga tidak bertindak tergesa dan gegabah. Akan tetapi, lalu apa yang harus kita lakukan?"

"Maaf, Ciangkun,"

Kata Hong Li.

"Mereka bersiasat, sebaiknya kita hadapi dengan siasat pula. Ciangkun pura-pura tidak tahu akan rencana jahat mereka, agar mereka lengah. Akan tetapi diam-diam Ciangkun mengatur siasat pula untuk menghadapi rencana mereka itu, untuk menggagalkan rencana jahat mereka. Tanggal lima belas kurang tiga hari lagi, masih ada waktu bagi Ciangkun untuk bersiap-siap mengatur siasat."

"Kalau Ciangkun dapat menyergap mereka di taman istana, ada dua keuntungan. Pertama, Ciangkun dapat menangkap basah dengan bukti-bukti bahwa orang-orang Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang menyusup ke dalam pasukan pengawal yang dipimpin Ouw-ciangkun di samping menangkap Ang I Moli yang hendak meracuni cawan para pangeran. Dan ke dua, penyergapan itu pasti berhasil baik karena penjahat-penjahat itu telah terkurung di lingkungan istana, bagaimana mereka akan mampu lolos?"

Kata Sin Hong. Panglima itu mengangguk-angguk

"Bagus! Jiwi sungguh berjasa besar. Usul Jiwi baik sekali!"

Panglima itu lalu berunding dengan mereka. Dia akan mengerahkan pasukan yang kuat untuk diam-diam mengepung taman pada saat pesta ulang tahun Siang Hong-houw berlangsung sehingga seluruh pasukan pengawal bersama Ouw-ciangkun akan tertangkap semua.

"Akan tetapi, kami membutuhkan bantuan Jiwi. Permainan ini terlalu berbahaya. Keselamatan nyawa para pangeran terancam dan menurut keterangan Jiwi sendiri, Ang I Moli yang akan bertindak sebagai kepala pelayan itu yang akan meracuni cawan arak para pangeran. Oleh karena itu, sebaiknya kalau Jiwi yang membantu kami melindungi para pangeran dan mencegah perbuatan Ang I Moli itu. Demi kepentingan negara, kami mohon Jiwi tidak menolak dan jangan kepalang membantu kami menyelamat-kan para pangeran dan mencegah terjadinya perbuatan yang amat keji dan jahat."

Suami isteri itu saling pandang. Memang tidak semestinya kalau mereka membantu setengah-setengah. Apalagi, mereka tahu bahwa bantuan mereka bukan berarti mereka berpihak kepada Kerajaan Mancu semata, melainkan terutama sekali menentang golongan sesat yang hendak melakukan kejahatan besar.

"Baiklah, Tai-ciangkun,"

Kata Sin Hong dan isterinya juga mengangguk setuju.

"Kami akan membantumu, akan tetapi karena kami datang ke kota Heng-tai bersama puteri kami yang sekarang masih berada di kamar rumah penginapan itu, kami akan menjemputnya lebih dulu dan kalau kami membantu Ciangkun, kami ingin menitipkan anak kami di rumah Ciangkun agar keselamatannya terjamin."

Post a Comment