Halo!

Kisah Sepasang Rajawali Chapter 72

Memuat...

"Mengapa pertalian jodoh dapat menimbulkan ramai dan ribut, ciangkun?"

"Sebetulnya pernikahan itu sendiri tidak akan menimbulkan ribut, bahkan merupakan peristiwa yang menggembirakan. Kabarnya Puteri Bhutan itu cantik bukan main, seperti bidadari...."

"Hemm, sayapun sudah mendengar, bahkan melebihi bidadari,"

Kata Gak Bun Beng secara kelakar untuk sekedar melenyapkan kekagetan Syanti Dewi. Dara itu menoleh kepada "ayahnya"

Dan tersenyum.

"Akan tetapi di balik pernikahan itu tersembunyi maksud-maksud tertentu dari kedua pihak. Pihak Bhutan tentu saja suka berbesan dengan kaisar kita, karena ingin mendapat perlindungan dari para pemberontak Tibet dan Mongol yang dipimpin Raja Muda Tambolon. Sebaliknya, pihak kaisar juga ingin menaklukkan negara itu secara halus melalui ikatan kekeluargaan tanpa perang. Namun maksud kaisar ini mendapatkan tantangan dari banyak pangeran dengan bermacam-macam dalih, akan tetapi saya kira dasarnya hanyalah karena tidak ingin melihat kedudukan kaisar makin kuat dengan adanya banyak negara lain yang bersekutu! Maka kabarnya terjadi bermacam-macam usaha untuk menggagalkan pernikahan itu, bahkan kabarnya rombongan penjemput puteri yang dipimpin Panglima Tan Siong Khi telah diserbu dan puteri itu sendiri kabarnya lenyap ditawan pemberontak. Inilah sebabnya mengapa Jenderal Kao Liang mengamuk dan menumpas para pemberontak di perbatasan. Celakanya ada kabar angin bahwa usaha itu diatur dari kota raja sendiri, oleh para pangeran yang secara rahasia memberontak."

Kaget bukan main hati Gak Bun Beng mendengar ini. Kiranya segala kekacauan itu bersumber kepada perebutan kekuasaan di istana! Bagaimana dengan Milana?

"Lalu bagaimana kabarnya sikap pangeran yang akan dikawinkan dengan Puteri Bhutan?"

"Pangeran Liong Khi Ong? Hemm, tidak ada berita tentang dia, kelihatannya tenang-tenang saja, bahkan belum lama ini diapun ikut rombongan Jenderal Kao Liang meninjau ke barat, akan tetapi lalu terpisah dan berpesiar menggunakan perahu melalui sungai dikawal oleh pasukannya sendiri. Masih untung Puteri Bhutan yang seperti bidadari itu tidak jadi menikah dengan pangeran itu!"

"Kenapa demikian? Bukankah enak menikah dengan pangeran yang tinggi kedudukannya?"

Tiba-tiba Syanti Dewi bertanya, tidak dapat menahan hatinya lagi karena yang dibicarakan itu sesungguhnya adalah dirinya sendiri. Perwira gendut memandang dan tersenyum menyeringai, senang hatinya mendengar dara itu bertanya,

"Menarik sekali ceritaku, ya?"

"Ceritamu menarik dan hebat, tai-ciangkun,"

Jawab Syanti Dewi.

"Biarpun andaikata engkau sendiri, nona, akan sengsara kalau menjadi isteri Pangeran Liong Khi Ong."

Perwira itu berkata sambil mengurut kumisnya yang tebal.

"Pangeran itu terkenal sebagai seorang mata keranjang, selain selirnya banyak sekali, juga setiap malam dia harus berganti teman baru. Maka, andaikata puteri itu menjadi isterinya, dalam beberapa hari saja tentu dia akan disia-siakan begitu saja!"

"Ahhh....!"

Tentu saja berita ini membuat Syanti Dewi terkejut dan marah.

"Ceritamu menarik sekali, ciangkun dan terima kasih atas segala keterangannya. Dengan ceritamu itu, saya malah ingin sekali segera tiba di kota raja untuk mendaftarkan masuk perajurit lagi. Sekarang, hari sudah malam, mari kita mulai dengan pertunjukan sebagai upah kebaikan ciangkun. Dan sebungkus obat ini adalah obat yang amat manjur terhadap luka-luka, saya haturkan kepada ciangkun."

"Terima kasih, terima kasih."

Perwira itu menerima bungkusan obat, lalu mengantarkan mereka keluar. Api unggun dipasang di pelataran yang luas itu, dan para perajurit sudah berkumpul untuk menonton. Gak Bun Beng mengeluarkan sulingnya dan Syanti Dewi mengeluarkan selendang. Suling kemudian ditiup, semakin malam semakin mengalun nyaring dan kemudian mulailah Syanti Dewi menari dengan selendang merahnya. Gak Bun Beng meniup suling sambil duduk dan matanya mengikuti gerakan Syanti Dewi, juga siap waspada melindungi dara itu, sedangkan Syanti Dewi menari di dalam api unggun, membuat selendang itu nampak seperti api bernyala dan wajah yang cantik itu kemerahan, amat cantik jelitanya.

Ketika melihat betapa dara itu tenggelam ke dalam tariannya dan menari dengan amat indah, Gak Bun Beng cepat mengangkat sedikit jari penutup lubang sulingnya sehingga suara sulingnya menjadi sumbang. Syanti Dewi terkejut mendengar suara ini, teringat dan menengok ke arah Gak Bun Beng sambil tersenyum, lalu tangan kanannya digerakkan secara kaku, sungguhpun tangan kirinya masih bergerak halus dan lemas sekali. Makin sumbang suara suling, makin kaku gerakan Syanti Dewi dan tak lama kemudian suara suling itu bunyinya se-perti suling ular! Tari-tarian dara itupun makin kacau, akan tetapi karena hatinya geli, dia tersenyum-senyum dan senyumnya inilah yang menyelimuti semua kejanggalan itu! Seluruh penonton terpesona oleh senyumnya!

Setelah suara suling berhenti dan Syanti Dewi juga menghentikan tariannya, terdengar tepuk sorak riuh rendah diselingi permintaan agar dara itu melanjutkan tari-tariannya. Gak Bun Beng maklum bahwa kalau dituruti para prajurit yang sudah lama tinggal di asrama dan rata-rata "haus wanita"

Itu keadaannya akan menjadi runyam, apalagi kalau Syanti Dewi secara tak sadar begitu banyak mengobral senyumnya. Selain itu, juga si perwira gendut bisa saja menuntut yang bukan-bukan nanti. Keterangan yang resmi dan jelas tentang keadaan di kota raja sudah didapat, dan itulah memang sasaran utamanya. Setelah berhasil, perlu apa tinggal lebih lama lagi di tempat ini? Bagi dia tidak apa-apa, akan tetapi bagi Syanti Dewi amat berbahaya. Juga dia yakin kalau Jenderal Kao Liang tiba, tentu jenderal itu akan marah dan mungkin akan menghukum si perwira gendut yang melalaikan tugas dan bersenang-senang.

"Saudara sekalian,"

Tiba-tiba dia bangkit berdiri dan menghampiri Syanti Dewi yang masih menerima sorak sorai itu sambil tersenyum dan membungkuk-bungkuk. Suara berisik berhenti dan semua orang hendak mendengarkan kata-kata ayah dara yang amat mempesona itu.

"Saudara-saudara sekalian, kami masih mempunyai pertunjukan yang menarik lagi, yaitu tarian bersama antara anakku dan aku sendiri, akan tetapi harap Saudara sekalian suka duduk dan jangan berdiri agar yang berada di belakang dapat menonton pula dengan senang."

Semua orang tertawa dan mulailah mereka duduk di atas tanah dengan hati senang karena jarang terdapat hiburan seperti ini. Setelah melihat semua orang duduk, Gak Bun Beng lalu meniup sulingnya sambil menggerakkan kedua kaki seperti orang menari. Hal ini mengherankan Syanti Dewi. Dia tahu bahwa "ayahnya"

Ini mempunyai suatu niat tertentu, akan tetapi tidak tahu niat apa. Diapun membantu dan mulai menari lagi dengan indahnya. Tiba-tiba Gak Bun Beng berbisik sambil menghentikan sebentar tiupan sulingnya,

"Kau nanti naik ke punggungku!"

Lalu terus menyuling, mengejapkan mata ke pada Syanti Dewi agar mendekati dan mengikutinya. Gak Bun Beng melangkah makin ke pinggir, kemudian secara tiba-tiba dia berbisik,

"Hayo sekarang!"

Syanti Dewi yang cerdik mengerti bahwa pendekar itu tentu akan membawanya lari tanpa menimbulkan pertempuran, maka cepat dia meloncat ke punggung pendekar itu. Gak Bun Beng mengeluarkan suara melengking nyaring sekali, tangan kirinya menahan tubuh Syanti Dewi yang digendongnya di belakang punggung, tangan kanan memegang suling dan tubuhnya sudah melesat seperti terbang saja melalui kepala orang-orang yang duduk itu! Semua orang bersorak, mengira bahwa ayah dan anak itu masih memperlihatkan pertunjukan yang memang amat hebat dan menarik. Akan tetapi ketika kedua orang itu lenyap ditelan kegelapan malam dan keadaan sunyi kembali, terdengar mereka ribut-ribut,

"Ke mana mereka?"

"Mereka menghilang!"

"Wah, tentu telah lari!"

"Mengapa lari?"

"Mata-mata! Mereka tentu mata-mata!"

Perwira gendut itu memerintahkan semua anak buahnya untuk mencari dan mengejar, namun sia-sia belaka karena Gak Bun Beng dan Syanti Dewi telah pergi jauh sekali, jauh dari markas itu dan sudah berjalan sambil tertawa-tawa.

"Paman, mengapa kau harus mempergunakan akal untuk lari? Bukankah perwira itu baik sekali dan kita tidak akan terganggu?"

"Hemm, belum tentu. Kalau hanya aku sendiri, pasti tidak ada gangguan. Akan tetapi ada engkau, Dewi!"

Post a Comment