Halo!

Kisah Sepasang Rajawali Chapter 70

Memuat...

"Syanti Dewi, kau lah satu-satunya manusia yang berhak mengetahui segala mengenai diriku."

"Terima kasih, paman. Aku yakin bahwa memang engkau akan menceritakan kepadaku, karena kiranya tidak ada lagi manusia yang demikian mulia seperti engkau, paman."

Gak Bun Beng memegang tangan dara itu, akan tetapi ketika dia merasa ada getaran kemesraan yang luar biasa keluar dari tangan dara itu, dia cepat melepaskannya kembali dan menghela napas, membuang pandang matanya ke tanah, menunduk.

"Dewi, engkau terlalu tinggi memandang diriku. Aku hanyalah seorang tua yang bodoh, yang canggung dan lemah."

"Bukan aku yang memandang terlalu tinggi, melainkan engkau yang selalu merendahkan diri, dan itulah satu di antara sifat-sifat paman yang kukagumi. Sekarang ceritakan, paman, mengapa paman tadi menangis ketika melihat aku menari?"

"Syanti Dewi, karena kau mengingatkan aku akan seorang lain...."

"Seorang wanita?"

Gak Bun Beng mengangguk.

"Wanita yang paman cinta?"

Kembali Gak Bun Beng mengangguk.

"Dan diapun mencinta paman?"

Untuk ketiga kalinya Gak Bun Beng mengangguk. Syanti Dewi menunduk, kelihatan berduka sekali. Sampai lama keduanya diam saja, kemudian terdengar dara itu bertanya, suaranya gemetar menahan isak,

"Paman Gak, sudah lamakah dia meninggal?"

Gak Bun Beng mengerutkan alisnya, lalu mengerti bahwa dara ini menyangka kekasihnya itu sudah meninggal.

"Sampai sekarang dia masih hidup, Dewi."

Muka dara itu menjadi pucat sekali, kemudian merah dan dia meloncat bangkit berdiri dan suaranya nyaring penuh rasa penasaran dan kemarahan,

"Kalau begitu dia telah meninggalkan paman, sungguh kejam sekali!"

Gak Bun Beng cepat menggeleng kepalanya.

"Bukan! Bukan dia, melainkan akulah yang meninggalkan dia...."

Wajah yang tadinya merah menyala itu menjadi pucat, kedua tangannya yang dikepal terbuka dan tubuh yang menegang itu menjadi lemas.

"Ouhhh....!"

Syanti Dewi mengeluh dan duduk kembali di depan pendekar itu. Syanti Dewi melihat Gak Bun Beng pendekar pujaannya itu duduk termenung, wajahnya pucat sekali, alisnya yang tebal berkerut dan di permukaan wajah itu terbayang kenyerian yang sukar dilukiskan. Melihat wajah pendekar itu sepecti ini, Syanti Dewi tidak dapat menahan tangisnya. Dia terisak dan memegang kedua tangan pendekar itu, mengguncang-guncangnya sambil bertanya di antara isaknya.

"Akan tetapi.... mengapa, paman? Mengapa....? Mengapa....?"

Suaranya bercampur isak dan dia membiarkan air matanya berderai menuruni pipinya.

Melihat keadaan dara ini, Gak Bun Beng merenggutkan kedua tangannya. Dia takut kepada dirinya sendiri karena seluruh tubuhnya, seluruh hati dan perasaannya, seakan-akan mendorongnya untuk memeluk dan mendekap dara itu penuh cinta kasih. Dia melawan hasrat ini dan karenanya dia merenggutkan ketua tangan dari pegangan dara itu, lalu menutupkan keduanya tangannya ke mukanya sambil menahan air matanya dengan jari-jari tangannya. Sampai lama mereka tidak berkata-kata, yang terdengar hanya suara isak Syanti Dewi dan tarikan napas panjang Gak Bun Beng. Setelah Syanti Dewi agak mereda dan berhasil menekan perasaan harunya dan ibanya, dia mengangkat muka yang basah dan merah, memandang punggung kedua tangan yang menutupi muka pendekar itu, bertanya,

"Paman, saya yakin pasti ada sebab-sebab yang memaksa paman meninggalkannya. Pasti ada, dan maukah paman menceritakan kepadaku?"

Mendengar suara gadis itu telah tenang kembali biarpun masih gemetar, Gak Bun Beng yang juga telah berhasil meredakan gelora hatinya, menurunkan kedua tangannya dan tampaklah wajahnya yang pucat dan muram.

"Syanti Dewi, sudah kukatakan bahwa aku akan menceritakannya kepadamu. Memang ada se-babnya, dan sebab itu adalah karena aku bodoh dan serba canggung! Begitu banyak aku melihat perkawinan gagal, cinta kasih berantakan setelah terjadi perkawinan, kemesraan lenyap terganti cemburu, kekecewaan dan kemarahan yang berakhir dengan kebencian dan dendam, sehingga aku menjadi muak dan ngeri. Aku menjadi takut kalau-kalau diapun akan menderita apabila kasih di antara kita yang murni itu akan menjadi palsu dan kotor setelah kita menikah. Aku tidak tega membiarkan dia kelak menderita, karena itu, aku mundur.... tidak tahu bahwa aku membawa pergi racun yang menggerogoti dan merusak hidupku hari demi hari. Dengan kekuatan batin aku bisa menundukkan semua itu, membuat hatiku keras dan melupakan segala."

Dia menarik napas panjang dan menengadah, memandang ke langit seolah-olah hendak mengadukan nasibnya kepada Thian.

"Jadi.... itukah sebabnya, paman, seorang pendekar besar mengasingkan dan menyembunyikan diri di antara orang-orang biasa, menjauhkan diri dari segala urusan dan kesenangan duniawi?"

Gak Bun Beng mengangguk.

"Dan selama itu paman tidak lagi tertarik kepada wanita yang manapun?"

"Hemmm.... sebelum mengenal dia, aku belum pernah mencintai orang lain, sesudah itupun aku tidak ada minat dan waktu.... aku malah muak dan tidak percaya akan cinta kasih antara pria dan wanita yang kesemuanya kuanggap palsu belaka! Aku tidak percaya lagi akan kata-kata cinta yang pada hakekatnya hanyalah penonjolan keinginan pribadi untuk mencari kesenangan dan kepuasan hati sendiri. Akan tetapi.... sikapku karena patah hati itu ternyata keliru dan baru aku sadar bahwa memang ada cinta kasih yang murni, yang tanpa pamrih.... yaitu setelah aku bertemu denganmu, Dewi. Setelah aku berjumpa denganmu, setelah aku bergaul beberapa lamanya denganmu, kau mengingatkan aku kepada dia...."

"Aduh, paman Gak.... sungguh kasihan kau! Kalau begitu, mengapa kita tidak pergi mencari dia? Di manakah kekasihmu itu? Sekarang belum terlambat untuk menyambung kembali pertalian kasih sayang yang secara paksa paman putuskan itu! Marilah, aku akan menceritakan kepadanya betapa paman adalah seorang jantan yang hebat, seorang pria yang budiman, yang sampai saat inipun tidak pernah melupakan dia, tidak pernah mengurangi cinta kasihnya yang mendalam dan murni!"

Gak Bun Beng menggeleng kepala.

"Dia.... dia sudah menikah dengan orang lain, Dewi...."

"Ihhhh....!"

Mata yang indah itu terbelalak memandang Bun Beng.

"Mana mungkin....? Bukankah dia mencinta-mu, paman?"

"Dia tidak berdaya, kehendak orang tuanya."

Tiba-tiba Gak Bun Beng teringat bahwa dia telah berlarut-larut, melihat wajah dara itu yang biasanya seperti matahari pagi kini menjadi muram, pucat dan layu, dia hampir memukul kepalanya sendiri. Tiba-tiba dia memegang tangan dara itu, ditariknya berdiri dan sambil tersenyum dia berkata,

"Aahhh, apa yang telah kita lakukan ini? Kita mendongeng tentang cerita-cerita duka, menggali pendaman-pendaman busuk! Padahal dunia ini begini indah, matahari begitu terang! Hapuskan air matamu itu, Dewi! Engkau masih muda belia, muda remaja. Lihat, masa depanmu seperti sinar matahari itu, cerah dan terang! Perlu apa hidup sekali ini di dunia harus berkeluh kesah dan berduka cita! Air mata darah sekalipun tidak akan dapat membangkitkan kembali yang telah mati! Ha-ha-ha, aku bodoh dan canggung! Mari, Dewi, kita lanjutkan perjalanan. Lihat di sana itu, genteng-gentengnya masih baru, tentu itu merupakan bangunan baru, dan kalau tidak salah, itulah markas pasukan yang akan kita selidiki."

Melihat perubahan sikap pendekar itu, Syanti Dewi yang berperasaan tajam halus dan memang cerdik itu, maklum bahwa pendekar itu selain hendak mengkubur kembali kenangan yang menyedihkan, juga tidak ingin menyeretnya berlarut-larut ke dalam awan kedukaan. Dia makin kagum dan bersyukur, dan diapun membantu agar pendekar itu tidak kecewa. Dia menghapus semua keharuannya dan mulai tampaklah senyum di bibir dara itu dan matanya mulai bercahaya ketika dia memandang wajah Gak Bun Beng.

Post a Comment