"Heiii....! Yang berada di dalam rumah kosong! Hayo kalian semua keluar!"
Terdengar teriakan seorang di antara para perajurit yang memegang obor. Obor itu besar sekali dan amat terang dan di atas sebuah tandu pikulan duduklah seorang panglima yang berpakaian lengkap dan gagah, pakaian perang, sikapnya gagah sekali mengingatkan Gak Bun Beng akan tokoh Kwan Kong di dalam cerita Sam Kok, seorang panglima perang yang jarang bertemu tanding saking gagah perkasanya.
"Tenanglah, Dewi, mari ikut aku keluar,"
Kata Gak Bun Beng dan dia menggandeng tangan dara itu, diajaknya keluar menghadap panglima itu.
"Suruh pergi mereka semua! Kalau mereka tidak menyembunyikan pemberontak, sudahlah, jangan ganggu penduduk di sekitar sini! Akan tetapi cari di rumah-rumah kosong, di guha-guha dan basmi semua pelarian pemberontak, barulah daerah ini akan aman. Kalian jangan terlalu malas, bekerja kepalang tanggung. Satu kali mengeluarkan tenaga hasilnya harus dapat dirasakan selama satu tahun! Tidak setiap hari mengalami gangguan terus!"
Beberapa orang panglima dan perwira yang mendengar perintah ini membungkuk-bungkuk dan kelihatannya mereka takut sekali kepada panglima gagah perkasa ini. Tiba-tiba panglima gagah perkasa ini memandang ke arah Gak Bun Beng dan Syanti Dewi. Gak Bun Beng terkejut. Pandang mata itu menunjukkan bahwa jelas pembesar militer ini benar-benar bukan orang sembarangan, akan tetapi dia balas memandang dengan sikap tenang. Pembesar itu memberi isyarat dengan tangan dan seorang perajurlt menggapai kepada mereka sambil berkata,
"Heii, kalian berdua majulah menghadap tai-goanswe!"
Gak Bun Beng menarik tangan Syanti Dewi menghadap pembesar itu dan menjura dengan dalam-dalam, akan tetapi tidak berlutut karena dia ingin menguji watak pembesar ini.
"Hei, berlutut kalian!"
Bentak seorang perajurlt.
"Biarkan mereka!"
Jenderal besar (tai-goanswe) itu berkata, melambaikan tangan kepada Gak Bun Beng memberi isyarat agar mereka berdua maju. Sekali lagi pandang mata Jenderal itu memandang tajam penuh selidik, kemudian bertanya kepada Syanti Dewi dengan suara membentak dan tiba-tiba,
"Kau, wanita muda katakan, siapa namanya laki-laki ini?"
Tentu saja Syanti Dewi terkejut bukan main karena biasanya, dalam setiap urusan selalu Gak Bun Beng yang maju ke depan dan Gak Bun Beng yang melayani semua tanya jawab. Sekali ini, secara tiba-tiba jenderal yang kelihatan galak seperti seekor singa itu menanya kepadanya. Saking kagetnya, dia menjawab tanpa dapat dipikir lebih dulu secara otomatis,
"Namanya adalah Gak Bun Beng!"
Jenderal ini mengerutkan alisnya yang tebal, mengingat-ingat, kemudian dia meloncat turun menghadapi Gak Bun Beng. Tepat dugaan pendekar sakti ini, cara jenderal itu meloncat menunjukkan pula kemahiran ilmu silat tinggi, biarpun tubuhnya tegap tinggi besar namun gerakannya ringan sekali dan ketika kedua kakinya menginjak tanah, tidak mengeluarkan bunyi apa-apa seperti kaki kucing meloncat saja.
"Kau Si Jari Maut?"
Tiba-tiba jenderal itu membentak. Gak Bun Beng melepaskan tangan Syanti Dewi dan menyuruh dara itu minggir. Syanti Dewi juga kaget sekali, apalagi mendengar nama Si Jari Maut. Mengapa pula penolongnya itu disangka Si Jari Maut? Bukankah Si Jari Maut adalah tukang perahu itu? Gak Bun Beng juga merasa heran dan dia menggeleng kepala.
"Bukan, tai-goanswe. Saya tidak punya nama lain kecuali yang dikatakan tadi."
"Siapa dia?"
Jenderal itu menuding ke arah Syanti Dewi.
"Dia anak saya."
"Hemm, wajahnya bukan wajah wanita Han. Jangan membohong kau!"
"Memang anak saya ini berdarah campuran, tai-goanswe. Ibunya adalah seorang Tibet."
Jenderal ini meraba jenggotnya.
"Hem.... kau dari mana hendak ke mana?"
"Saya dari Tibet di mana selama belasan tahun saya merantau dan menikah di sana, sekarang hendak pergi ke Se-cuan."
"Kau bukan Jari Maut?"
"Bukan, tai-goanswe."
"Tapi kau tentu bisa ilmu silat, bukan?"
Sukarlah bagi Gak Bun Beng untuk mendusta terhadap jenderal yang bermata tajam ini. Tentu saja bagi seorang ahli, dapat melihat bahwa dia seorang yang "berisi", maka dia bersenyum dan menjawab,
"Sedikit-sedikit saya pernah mempelajari."
"Nah, coba kau hadapi seranganku ini, ingin aku melihat sampai di mana kepandaianmu!"
Tiba-tiba saja jenderal itu menerjang maju, gerakannya cepat bukan main, sama sekali tidak sesuai dengan tubuhnya yang besar tegap itu, apalagi dengan memakai pakaian perang yang cukup berat. Selain cepat, juga pukulan kepalan tangannya didahului angin yang menyambar dahsyat, hawa yang mengandung rasa panas ke arah dada Gak Bun Beng. Pendekar sakti ini maklum bahwa sang jenderal sudah dapat melihat bahwa dia memiliki kepandaian dan agaknya dia hendak menguji karena curiga, maka diapun tidak mau berpura-pura lagi karena toh akan sia-sia saja dan akan ketahuan oleh jenderal yang cerdik itu, maka diapun cepat menangkis sambil mengerahkan tenaganya sebagian saja cukup untuk menandingi tenaga sin-kang penyerangnya.
"Dukkk!"
Jenderah itu berseru kaget ketika pukulannya tertangkis dan lengannya terpental. Dia dapat memukul lagi dan tahulah Gak Bun Beng bahwa pukulannya tadi ternyata hanya menggunakan tenaga setengahnya karena jenderal itu belum tahu sampai di mana kekuatannya. Kini jenderal itu menghantam dengan tenaga penuh, tenaga yang melebihi kekuatan seekor kerbau jantan mengamuk!
"Dess....!"
Kembali pukulan tertangkis dan jenderal itu terhuyung ke belakang.
"Coba pergunakan jari mautmu!"
Bentak sang Jenderal dan kini dia menerjang lagi, kaki tangannya bergerak dan sekaligus Gak Bun Beng menghadapi penyerangan pukulan, tamparan, totokan dan tendangan sebanyak delapan kali berturut-turut. Maklumlah dia bahwa jenderal ini benar-benar pandai, dan agaknya sang jenderal sengaja mendesaknya dengan jurus luar biasa itu untuk memancing dia agar dia, kalau memang mempunyai, mengeluarkan llmunya yang paling hebat, yang diharapkan akan membuka rahasia Jari Maut. Tentu saja kalau Gak Bun Beng menghendaki, dengan apa saja, dia sekali turun tangan akan mampu membunuh lawannya ini. Akan tetapi tentu saja dia tidak mau, bahkan dia menangkis dan sengaja memperlambat gerakannya sehingga dua kali pukulan mengenai bahu dan dadanya.
"Bukk! Dess....!"
Gak Bun Beng terhuyung ke belakang sambil becseru,
"Maaf, tai-goanswe, saya tidak kuat bertahan!"
"Ha-ha-ha-ha!"
Jenderal itu tertawa bergelak, berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang dan perutnya sampai bergoyang-goyang ketika dia tertawa sambil mendongak ke angkasa.
"Ha-ha-ha, engkau terang bukanlah Si Jari Maut, sungguhpun engkau pandai sekali merendah. Sobat, aku Kao Liang kagum sekali kepadamu!"
Terkejutlah hati Gak Bun Beng mendengar nama ini. Kiranya inilah jenderal yang ditakuti oleh para pelarian tadi. Pantas saja! Memang seorang jenderal yang hebat! Untung jenderal ini agaknya tidak pernah atau jarang sekali muncul di kota raja sehingga tidak mengenalnya, pula, andaikata pernah, tentu sudah sejak mendengar namanya tadi pembesar itu lain sikapnya.
"Ah, kiranya Kao-taigoanswe....! Saya pernah mendengar nama besar tai-goanawe dari para pemberontak yang lari terbirit-birit ke barat."
"Ha-ha-ha, dan aku tadinya mencurigaimu sebagai anggauta pemberontak. Tidak mungkin. Apalagi dengan anakmu ini. Nah, kalian berdua hendak ke Se-cuan? Silahkan, kalau di jalan bertemu kesukaran, katakan bahwa engkau adalah sahabat Kao Liang, tentu akan dapat menolong!"
Gak Bun Beng menjura, menghaturkan terima kasih lalu mengajak Syanti Dewi pergi dari situ cepat-cepat, biarpun malam itu cukup gelap karena bintang di langit terhalang sedikit awan. Gak Bun Beng mengajak Syanti Dewi berhenti di bawah sebatang pohon besar di dekat padang rumput.
Tidak mungkin melanjutkan perjalanan melintasi padang rumput yang demikian rimbun, takut kalau-kalau ada ularnya atau binatang lain. Melihat lampu-lampu di sebelah kiri, mereka lalu bangkit lagi dan menuju ke tempat itu. Kiranya itu adalah sebuah dusun yang lumayan besarnya. Akan tetapi karena dusun itu baru saja mengalami pemeriksaan dan pembersihan, semua penduduk masih merasa takut dan pintu rumah ditutup rapat-rapat. Beberapa kali Gak Bun Beng mengetuk pintu, dan mendengar suara bisik-bisik di dalam, namun tidak pernah ada yang menjawabnya. Bahkan ketika mereka melihat sebuah rumah penginapan dan mengetuk pintunya, tidak ada pelayan yang membukainya. Barulah setelah Syanti Dewi yang bersuara minta dibukakan pintu, daun pintu terbuka oleh seorang pelayan yang memandang mereka penuh curiga.