Halo!

Kisah Sepasang Rajawali Chapter 67

Memuat...

Syanti Dewi tahu-tahu telah berada di sampingnya dan menyentuh lengan pendekar itu karena diapun dapat merasakan betapa pendekar itu kelihatan tidak tenang, bahkan seperti orang berduka.

"Engkau banyak repot karena aku saja...."

Gak Bun Beng menoleh dan melihat wajah yang cantik dan agung itu menyuram, dia tersenyum dan mengelus kepala Syanti Dewi. Bukan main halusnya perasaan anak ini, pikirnya terharu.

"Tidak apa-apa, Dewi. Akupun hanya menakut-nakuti mereka saja. Marilah kita melanjutkan perjalanan."

"Akan tetapi di timur ada perang dan pertempuran, siok-siok."

"Bukan perang, hanya pasukan pemerintah mengadakan pembersihan terhadap sisa-sisa gerombolan pemberontak seperti mereka tadi."

"Akan tetapi, mendengar omongan mereka tadi, mereka bukanlah pemberontak, melainkan patriot-patriot yang berjuang untuk mengusir penjajah dari tanah air mereka."

Puteri itu membantah. Biarpun hanya seorang wanita, namun sebagai puteri raja tentu saja dia sudah banyak membaca kitab-kitab sejarah dan ketatanegaraan sehingga pengetahuannya agak luas daripada wanita-wanita terpelajar biasa. Gak Bun Beng menghela napas panjang. Ucapan puteri ini menyentuh perasaannya, perasaan muak terhadap ulah tingkah manusia dalam hidup ini, maka dengan suara bersemangat. Di luar kesadarannya dia berkata,

"Manusia di dunia ini siapakah yang tidak akan membenarkan dirinya sendiri? Pemerintah Mancu menganggap mereka pemberontak karena mereka melawan pemerintah yang syah dan menganggap diri sendiri sebagai penolong rakyat, sebaliknya mereka itu menganggap pemerintah sebagai penjajah laknat dan menganggap diri sendiri sebagai patriot. Namun keduanya tetap sama saja, tetap saja melakukan kekerasan dan kekejaman dengan dalih kebenaran masing-masing. Padahal, apa sih bedanya manusia? Dari kaisar, jenderal, pedagang, petani, si jembel sekalipun, hanya dibedakan oleh pakaian dan embel-embel di luar badan. Coba kumpulkan mereka semua, telanjangi mereka semua di dalam sebuah kandang, apa bedanya mereka dengan sekumpulan domba atau kuda? Manusia hanyalah mahluk biasa yang mempunyai kelebihan, inilah yang merusak hidup!"

Syanti Dewi mendengarkan dan memandang wajah pendekar itu dengan mata terbelalak. Baru satu kali ini selama hidupnya dia, mendengarkan pandangan orang tentang manusia seperti itu. Ada artinya yang mendalam, ada kesungguhan dan kebenarannya, akan tetapi juga lucu sekali. Kalau dibayangkan betapa seluruh manusia di dunia ini tidak berpakaian, tidak dihias segala benda-benda yang hanya menjadi pemisah dan penentu dari tingkat masing-masing, alangkah lucunya dan memang sukar membedakan mana raja mana jembel mana kaya mana miskin! Dia sendiripun tadinya seorang penghuni istana dan memakai pakaian puteri. Sekarang? Setelah berpakaian gadis petani seperti itu, siapa percaya bahwa dia seorang puteri? Apalagi kalau harus telanjang bersama seluruh manusia lain!

"Kau.... kau hebat, paman!"

Katanya lirih. Gak Bun Beng sadar lagi dan memegang tangan Syanti Dewi.

"Kau.... kau semuda ini, sudah dapat menangkap arti kata-kataku tadi?"

Syanti Dewi mengangguk, lalu mengangkat mukanya memandang wajah yang masih tampan dan gagah itu. Gak Bun Beng dahulunya memang seorang pemuda yang tampan, gagah, matanya mengeluarkan cahaya tajam, mulutnya terhias kumis kecil terpelihara rapi, demikian juga jenggotnya yang pendek saja. Pakaiannya sederhana, pakaian petani atau nelayan, namun bersih dan kuku-kuku tangannya terpelihara baik, giginya terawat.

"Paman Gak, di manakah adanya keluargamu?"

Gak Bun Beng terbelalak dan mengerutkan alisnya.

"Apa? Keluarga?"

"Ya, isteri dan anakmu...."

"Ah, mari kita cepat melanjutkan perjalanan, aku khawatir mereka datang lagi mengganggu."

Dia memegang tangan Syanti Dewi dan diajaknya dara itu pergi meninggalkan tempat itu. Sampai lama mereka berjalan menyusup-nyusup hutan karena Gak Bun Beng tidak ingin terganggu lagi oleh gerombolan pemberontak atau pejuang yang melarikan diri karena diobrak-abrik oleh pasukan pemerintah yang kabarnya tadi dipimpin oleh Jenderal Kao Ling yang ditakuti. Beberapa kali Syanti Dewi menengok dan memandang wajah pendekar itu, namun Gak Bun Beng berjalan terus tanpa mengeluarkan kata-kata. Akhirnya Syanti Dewi tidak dapat menahan hatinya.

"Paman Gak, di manakah isteri dan anak-anakmu?"

Sesungguhnya pertanyaan ini sejak tadi bergema di telinga Gak Bun Beng dan dia sengaja mengalihkan perhatian dan mengharapkan gadis itu lupa akan pertanyaannya yang terngiang-ngiang di telinga hatinya. Maka mendengar pengulangan pertanyaan ini, dia menahan napas sejenak untuk menekan perasaannya, baru dia menjawab tenang saja.

"Tidak ada."

"Ehhh....?"

Syanti Dewi terkejut.

"Aku tidak pernah mempunyai isteri atau anak, tidak mempunyai saudara, tidak ada orang tua lagi, aku sebatangkara di dunia,"

Kembali jawaban yang keluar dari mulut pendekar itu terdengar datar seolah-olah seorang nelayan membicarakan jalan atau pancingnya, biasa saja.

"Tapi.... tapi tidak mungkin itu, paman Gak!"

"Apa maksudmu, tidak mungkin? Mengapa harus tidak mungkin?"

"Seorang seperti paman ini.... eh, tidak mungkin tidak menikah! Paman, apakah tidak ada wanita di dunia ini yang mencintamu?"

Tanpa menengok Gak Bun Beng menggeleng kepala dan matanya memandang jauh ke depan.

"Hemm, mustahil! Dan apakah paman tidak ada mencinta seorangpun wanita di dunia ini?"

Gak Bun Beng tersenyum ketika menoleh dan melihat wajah puteri ini diliputi penasaran besar, bahkan seperti orang marah!

"Dewi, engkau kenapa? Aku tidak pernah memikirkan hal itu dan hidupku sudah cukup bahagia."

"Tidak masuk akal! Seorang pria seperti paman!"

"Hemm, hanya seperti aku ini, apa sih bedanya dengan orang lain?"

"Tidak sama sekali, jauh sekali bedanya! Pangeran-pangeran di Bhutan, bahkan orang berpangkat jauh di bawah pangeran dan orang berharta, mereka itu sedikitnya mempunyai tiga empat orang isteri! Padahal dibandingkan dengan paman, mereka itu tidak ada sekuku hitam paman!"

"Aihh, Dewi, aku seorang tua yang miskin tidak memiliki apa-apa, mana ada ingatan yang bukan-bukan?"

Gak Bun Beng berkata untuk menghibur diri karena percakapan ini tanpa disengaja oleh puteri itu telah menusuk-nusuk perasaannya, mengingatkan dia kepada Milana.

"Jangan paman berkata demikian. Siapa bilang paman sudah tua? Usia paman tidak akan lebih dari empat puluh tahun! Dan pangeran yang namanya Liong Khi Ong itu, yang akan mengawiniku, kabarnya malah berusia lima puluh tahun, dan aku berani bertaruh potong rambut bahwa dibandingkan dengan paman, dia itu bukan apa-apa!"

Gak Bun Beng berhenti melangkah dan memegang kedua tangan Syanti Dewi.

"Dewi, kuminta kepadamu, janganlah kau membicarakan urusan diriku. Aku minta dengan sangat, ya? Banyak hal yang pahit getir telah berlalu, pembicaraanmu hanya akan menggali segala kepahitan yang telah lewat itu saja."

Ucapan ini keluar dengan suara agak gemetar. Syanti Dewi mengangkat muka memandang dan melihat wajah penolongnya ini diliputi awan kedukaan, hatinya terharu dan dua titik air mata menetes seperti dua butir mutiara di atas kedua pipinya.

"Eh? Kau.... menangis?"

"Aku kasihan kepadamu, paman Gak."

Gak Bun Beng tersenyum dan menggunakan telunjuknya menghapus dua butir mutiara itu.

"Kau anak yang aneh! Kau memperlakukan aku seolah-olah aku ini seorang yang jauh lebih muda daripada engkau. Sudahlah, jangan membicarakan tentang diriku, tidak ada harganya dibicarakan. Sekarang aku ingin bicara tentang dirimu. Mengapa engkau membicarakan pribadi calon suamimu seperti itu? Agaknya engkau tidak suka kepadanya?"

"Hemm, tentu saja,"

Jawab Syanti Dewi ketika mereka melangkah lagi.

"Siapa orangnya suka dikawinkan dengan seorang kakek yang belum pernah dilihatnya selama hidupnya? Dia seorang pangeran, dan kulihat pangeran-pangeran di Bhutan hanyalah orang-orang yang berlomba mengejar kesenangan, tenggelam dalam kemewahan dan aku berani bertaruh bahwa Pangeran Liong Khi Ong itu tentu sudah mempunyai isteri sedikltnya selosin orang, apalagi usianya sudah lima puluh tahun. Aku tentu sudah gila kalau aku mengatakan suka kepadanya, paman Gak."

Gak Bun Beng tersenyum geli. Bukan main anak ini! Pandangannya selalu tepat, membayangkan pengetahuan luas dan pertimbangan yang masak, kata-katanya tepat mengenai sasaran dan perasaannya amat halus bukan main.

"Dewi, kalau kau memang tidak suka, kenapa kau mau?"

"Paman, masa paman tidak mengerti? Aku hanya bertugas di dalam perkawinan ini untuk menjadi paku utama dalam singgasana ayah."

"Eh....?"

"Aku kawin bukan karena cinta, melainkan kawin politik. Agar kedudukannya di Bhutan kuat apalagi dalam menghadapi pemberontakan Bangsa Mongol dan Tibet yang dipimpin oleh Tambolon, ayah mengorbankan aku untuk menjadi mantu kaisarmu di sana!"

Kedua pipi itu menjadi merah karena penasaran dan matanya yang indah bersinar-sinar. Gak Bun Beng mengangguk-angguk.

"Kau kan bisa menolak?"

"Aih, paman. Apa dayaku sebagai seorang puteri raja? Kalau aku menolak, andaikata aku bisa menolak, kemudian terjadi sesuatu yang bisa merobohkan kerajaan, bukankah namaku akan dicatat di dalam sejarah sebagai seorang anak yang paling durhaka terhadap orang tua, sebagai seorang puteri yang tidak dapat menjaga negaranya? Ahh, kalau saja aku hanya seorang gadis petani biasa, tentu tidak ada yang usil mulut!"

Gak Bun Beng maklum akan hal ini dan dia menghela napas panjang, merasa kasihan sekali kepada gadis ini, dan dia teringat pula akan nasib Milana yang juga menikah karena terpaksa oleh kaisar!

"Akan tetapi, sekarang engkau telah bebas, bukan? Engkau telah menjadi seorang gadis petani, bukan?"

"Apa gunanya? Tak mungkin aku menjadi begini terus. Setelah paman nanti menyerahkan aku ke istana, apa dayaku selain menurut dan menerima pernikahan itu dengan mata meram dan perasaan mati?"

"Kalau aku tidak menyerahkan engkau ke istana, bagaimana?"

Sepasang mata itu terbelalak.

"Benarkah, paman? Akan tetapi, tidak diserahkanpun aku tidak berdaya. Mana mungkin aku bisa hidup sendiri di dunia ini? Aku sudah terbiasa hidup keenakan di istana. Aihh, kalau saja ada adik Ceng Ceng.... tentu dia akan dapat mencarikan akal."

"Tenanglah, Dewi. Aku akan membawamu ke kota raja, akan tetapi aku menjamin bahwa tidak ada seorang iblispun akan dapat memaksamu menikah dengan siapapun yang tidak kau suka. Aku tidak akan membiarkan itu, Dewi."

Syanti Dewi memegang tangan kanan Gak Bun Beng yang terkepal itu erat-erat, membawa kepalan tangan itu ke depan hidungnya dan menciuminya sambil terisak. Di dalam diri penolongnya itu dia tidak hanya menemukan seorang penolong, akan tetapi juga seorang kawan baik, seorang yang menjadi pengganti ayah bundanya, seorang pelindung dan pembela yang dia percaya sepenuh hatinya, seorang yang menimbulkan kasih sayang di hatinya.

"Bangun....! Gak-siok-siok.... bangunlah....!"

Gak Bun Beng membuka matanya.

"Paman, lihat, ada pasukan tentara datang....!"

Gak Bun Beng mengeluh dan merasa kasihan sekali kepada dara itu. Baru saja mereka beristirahat di dalam rumah kosong yang rusak itu. Setelah membuat api unggun dan menyelimuti tubuh Syanti Dewi yang tidur di atas rumput kering, dia sendiri lalu duduk bersandar dinding rusak di dekat pintu, menjaga sambil beristirahat, dan diapun tertidur saking lelahnya. Baru saja tidur, belum ada sejam karena diapun belum pulas benar, sudah ada orang yang mengganggu. Dia bangkit dan berdiri, menggosok-gosok kedua matanya dan memandang keluar.

Post a Comment