Halo!

Kisah Sepasang Rajawali Chapter 66

Memuat...

"Marilah, nona. Demi keselamatanmu sendiri dan keselamatan Syanti Dewi."

Dengan hati penuh kengerian Ceng Ceng lalu mengikuti laki-laki itu melarikan diri. Dia percaya penuh karena bukankah dia sudah menyaksikan dan mendengarkan sendiri pertemuan dan percakapan antara Pangeran Liong Khi Ong dan Ang Tek Hoat? Kiranya pemuda itu seorang mata-mata pemberontak! Kiranya malah musuh dari kerajaan kaisar dan kerajaan Bhutan, hendak mencelakakan Syanti Dewi! Bahkan yang merencanakan pencegatan rombongan yang mengakibatkan terbunuhnya kakeknya, adalah para pemberontak itu! Dan dia sudah tertarik hatinya oleh Tek Hoat.

"Ahhhh....!" "Ada apa, nona Lu?"

Tanya kakek itu.

"Tidak apa-apa...."

Jawab Ceng Ceng karena yang terasa nyeri adalah jauh di dalam lubuk hatinya, bukan badannya. Setengah malam penuh mereka berjalan terus, melalui hutan-hutan dan pegunungan. Dalam perjalanan ini, kakek tadi menceritakan keadaan kerajaan yang diancam pemberontakan, dan memperkenalkan dirinya. Dia adalah seorang pe-ngawal kaisar pula, di bawah Tan Siong Khi dan bernama Souw Kee It. Dia bertugas untuk menyelidiki secara diam-diam keadaan rombongan itu.

Tentu saja dia tidak secepat Pendekar Super Sakti yang juga melawat ke Bhutan dan berhasil menolong Raja Bhutan, akan tetapl sebagai seorang penyelidik yang tahu akan keadaan negara, dia mempunyai pendengaran dan penciuman yang lebih tajam. Dia mendapatkan rahasia dari pemberontak yang menaruh tangan-tangan kotor ke dalam pencegatan itu, maklum bahwa raja liar Tambolon juga digerakkan oleh tangan kotor dari kota raja sendiri. Dia telah melihat pula sepak terjang Tek Hoat yang hebat, dan maklumlah dia bahwa dia bukan pula lawan pemuda itu. Maka ketika memperoleh kesempatan, dia mengajak lari Ceng Ceng. Mendengar semua penuturan ini, Ceng Ceng makin terheran-heran dan bingung. Tak disangkanya bahwa pernikahan Syanti Dewi akan membawa akibat sedemikian hebat dan peristiwa itu terlibat dengan pemberontakan yang ruwet.

"Bagaimana dengan enci Syanti Dewi?"

Tanyanya dengan khawatir.

"Sudah kuselidiki, nona. Kabarnya puteri itu juga tertolong secara ajaib oleh seorang nelayan tua yang tidak dikenal siapa sebenarnya. Cara menolongnya amat ajaib sehingga sukar aku mempercaya cerita mereka itu. Akan tetapi, laki-laki gagah yang menolongnya itu telah pergi bersama sang puteri. Sekarang yang saya ingin ketahui, ke manakah rencana nona dan sang puteri tadinya setelah terpaksa meninggalkan kakek Lu yang gugur?"

"Kakek meninggalkan pesan agar supaya kami pergi ke kota raja, minta perlindungan dan bantuan kepada Puteri Milana...."

Souw Kee It mengangguk-angguk.

"Memang tepat sekali pesan kakekmu. Akan tetapi beliau tidak tahu akan perubahan di kota raja. Kalau engkau dan Puteri Syanti Dewi sudah tiba di kota raja dan berada di tangan Puteri Milana, kiranya tidak ada setanpun yang berani mengganggu. Akan tetapi, justeru perjalanan menuju ke kota saja itulah yang amat sukar dan berbahaya. Kaki tangan mereka sudah disebar di mana-mana untuk menangkap kalian berdua."

"Ouhhh, habis bagaimana?"

"Harap nona jangan khawatir. Aku juga mempunyai teman-teman, dan nanti akan kita atur bagaimana membawa nona pergi ke timur dengan selamat. Akan tetapi, kurasa tidak tepat kalau sebelum bertemu dengan Puteri Syanti Dewi nona pergi ke kota raja, kalau kita berhasil sampai ke timur, lebih baik kalau nona untuk sementara berlindung di benteng yang dikuasai Jenderal Kao Liang di tapal batas utara ibu kota."

Hati Ceng Ceng agak lega mendengar bahwa Syanti Dewi juga tidak tewas dan telah tertolong orang pandai, sungguhpun dia bingung memikirkan mengapa begitu banyak orang pandai muncul? Siapakah penolong Syanti Dewi dan ke mana perginya kakak angkatnya itu? Dua hari kemudian, tibalah mereka di sebuah dusun dan di sini terdapat pasukan kaisar yang masih setia kepada kaisar. Souw Kee It lalu mendandani Ceng Ceng sebagai seorang pria, lengkap dengan kumis palsu sehingga andaikata Tek Hoat sendiri bertemu dengannya kiranya akan sulitlah untuk mengenalnya,

Demikian pendapat Ceng Ceng ketika dia memperhatikan wajahnya sendiri di depan cermin. Setelah membawa bekal secukupnya, Souw Kee It bersama Ceng Ceng, lalu menunggang kuda-kuda pilihan, melanjutkan perjalanan mereka ke timur. Kita tinggalkan dulu Ceng Ceng dengan pengawal kaisar Souw Kee It yang melakukan perjalanan amat jauh ke timur, dan mari kita mengikuti perjalanan Puteri Syanti Dewi. Secara kebetulan dan aneh sekali, Puteri Syanti Dewi tertolong oleh Pendekar Sakti Gak Bun Beng. Pendekar ini sudah mengenyampingkan urusan dunia, hidup tenteram di antara rakyat kecil, kadang-kadang menjadi petani, kadang-kadang bercampur dengan para nelayan, selalu memilih tinggal di dusun-dusun yang dianggapnya tidak akan terjadi hal yang penting.

Sungguh di luar dugaannya bahwa hari itu dia terlibat dalam urusan yang amat besar, bukan hanya menyangkut urusan diri pribadi seorang gadis cantik, melainkan diri seorang puteri Raja Bhutan, bahkan menyangkut urusan kerajaan! Gak Bun Beng yang usianya sudah mendekati empat puluh tahun itu melakukan perjalanan dengan hati kadang-kadang berdebar keras. Benarkah yang dilakukannya ini, mengantarkan Syanti Dewi ke kota raja? Benarkah dia kalau kini dia akan menjumpai Milana? Sesungguhnya tidak benar dan amat berbahaya, seperti orang hendak membuka balutan luka yang amat parah, akan tetapi apa dayanya? Tidak mungkin dia membiarkan Syanti Dewi begitu saja setelah dia mengetahui siapa adanya gadis ini. Calon mantu kaisar! Dan terancam bahaya karena dikejar-kejar oleh mereka yang hendak menggagalkan perkawinan itu.

Apa boleh buat, demi gadis ini, dan terutama demi kesejahteraan negara, kerajaan kaisar dan Bhutan, dia harus menanggung semua itu, harus berani menghadapi resiko perjumpaannya dengan Puteri Milana! Perjalanan yang amat jauh itu dilakukan dengan hati-hati oleh Gak Bun Beng yang menjaga agar jangan sampai terjadi keributan di perjalanan. Dia sudah muak akan keributan dan permusuhan yang dibuat oleh manusia-manusia yang mengaku berkepandaian. Untuk menjaga agar perjalanan dapat dilalui dengan aman, dia menyamar sebagai seorang perantau yang baru pulang dari perantauannya ke Tibet, dan Syanti Dewi diakuinya sebagai anaknya. Agar tidak dicurigai orang, dia mengaku bahwa ibu Syanti Dewi seorang wanita Tibet dan memang Syanti Dewi selain pandai dalam bahasanya sendiri, yaitu Bahasa Bhutan, juga pandai berbahasa Tibet dan Bahasa Han.

Berpekan-pekan telah lewat tanpa ada peristiwa penting yang mengganggu perjalanan Gak Bun Beng dan Syanti Dewi. Pada suatu hari, ketika mereka sedang berjalan melalui jalan raya kasar di lereng pegunungan, mereka berpapasan dengan serombongan pasukan yang terdiri dari kurang lebih seratus orang. Pasukan ini kelihatan letih dan banyak yang terluka, dan sekali pandang saja Gak Bun Beng dapat melihat bahwa mereka adalah Bangsa Han yang bercampur dengan orang-orang Mongol. Agaknya pasukan yang hanya tinggal sisanya dari suatu pertempuran yang merugikan fihak mereka. Diam-diam Gak Bun Beng terkejut. Apakah kini sudah timbul perang lagi? Ataukah hanya sisa-sisa pemberontak ataukah pemberontak baru yang sedang ditindas oleh pasukan pemerintah?

Dia tahu bahwa pemberontak Mongol yang amat hebat, yang dipimpin oleh Pangeran Galdan, telah dihancurkan oleh pasukan Kaisar Kang Hsi, bahkan kabarnya Galdan sendiri telah dibinasakan. Apakah sekarang Bangsa Mongol memberontak lagi, bergabung dengan orang Han yang masih merasa penasaran akan penjajahan Bangsa Mancu? Karena dilihatnya masih banyak rombongan-rombongan pasukan campuran itu lewat, Gak Bun Beng hendak menghindarkan keributan, maka dia mengajak Syanti Dewi untuk melalui jalan hutan. Untung bahwa rombongan pertama yang lewat tadi terlalu lelah dan terlalu tertekan batinnya untuk melakukan sesuatu, hanya mereka memandang tajam kepada Syanti Dewi saja, bahkan ada pula yang menyeringai, dan ada yang mengeluarkan kata-kata tak senonoh akan tetapi hanya sambil lalu. Dasar mereka harus mengalami keributan.

Ketika mereka melalui jalan sunyi, menyelinap-nyelinap di hutan tak jauh dari jalan raya itu, mereka bertemu dengan rombongan lain yang hanya terdiri dari belasan orang, akan tetapi rombongan ini semua duduk melepaskan lelah. Mereka terdiri dari tujuh orang Han dan delapan orang Mongol dan ada seorang Han dan empat orang Mongol sedang minum arak, agaknya untuk menghibur hati yang penasaran karena keka-lahan mereka. Melihat bahwa rombongan ini hanya lima belas orang, timbul niat di hati Gak Bun Beng untuk bertanya, maka dia mengajak Syanti Dewi untuk mendekat. Orang-orang itu memandang kepadanya dengan curiga, akan tetapi ada yang tersenyum lebar ketika melihat Syanti Dewi yang biarpun berpakaian sederhana seperti gadis dusun, namun kecantikannya masih menonjol.

"Maaf, laote,"

Kata Gak Bun Beng kepada seorang Han yang duduk bersandar pohon sambil menekuk lutut duduk pula dekat orang itu, diikuti oleh Syanti Dewi di belakangnya,

"bolehkah kami bertanya mengapa banyak pasukan yang mundur dan banyak yang terluka? Apa yang telah terjadi? Kami ayah dan anak dari Tibet hendak ke Se-cuan, akan tetapi kami khawatir melihat cu-wi terluka, seolah-olah ada perang di sana."

Orang itu yang mukanya dilindungi brewok, memandang kepada Gak Bun Beng kemudian melirik ke arah Syanti Dewi.

"Lebih baik kalian kembali ke barat."

"Ya, kembali saja bersama kami! Biar kami yang melindungi kalian!"

Teriak orang Han yang sedang minum arak bersama empat orang Mongol tadi.

"Kami mempunyai urusan penting sekali di timur, sobat,"

Kata Gak Bun Beng.

"Apakah yang terjadi di sana? Dan siapakah cu-wi?"

"Apakah tidak tahu bahwa kami adalah pendekar-pendekar sejati, patriot-patriot?"

Tiba-tiba orang berewok itu menjawab marah. Gak Bun Beng menggangguk-angguk.

"Ahh, kiranya laote dan cu-wi sekalian adalah pejuang-pejuang yang menentang penjajah, benarkah? Lalu, apa yang terjadi?"

Dipuji sedemikian, si brewok agak sabar, lalu menarik napas panjang.

"Si keparat Jenderal Kao Liang itu! Anjing penjilat kaki Mancu dia! Begitu dia datang meronda di bagian barat dan memimpin sendiri pasukan pembersihan, kita dipukul hancur!"

"Paman, kembalilah saja ke barat, dan sebelum anakmu itu diperebutkan anjing-anjing Mancu, lebih baik diberikan kepadaku!"

Orang Han yang minum arak, usianya kurang lebih tiga puluh tahun itu berkata. Gak Bun Beng menahan kesabarannya.

"Apakah tentara pemerintah itu melakukan perbuatan jahat?"

"Siapa bilang tidak? Merampok, membunuh, menculik dan memperkosa! Dari-pada diperkosa oleh anjing-anjing Mancu dan para penghianat dan penjilat, lebih baik diberikan kepada kami agar menghibur kami para patriot. Dengan demikian, kau dan anakmu itu ikut berjasa untuk tanah air dan bangsa!"

Kata pula orang itu.

"Akur! Jumlah kita hanya lima belas orang, bisa dibagi rata. Marilah, manis, kau layanilah aku!"

Kata seorang Han yang lain yang berkumis panjang melintang. Gak Bun Beng bangkit berdiri sambil tersenyum.

"Kami tahu penderitaan dan perjuangan kalian, sobat-sobat. Akan tetapi anakku ini adalah pembantuku yang utama, seolah-olah tangan kananku sendiri, bagaimana bisa kuberikan kepada orang lain? Mana mungkin aku memberikan tangan kananku?"

"Ahhh, dasar kau pelit! Apakah kau hendak peluki anakmu sendiri? Tak tahu malu! Masa menolong dan meringankan penderitaan kaum pendekar dan pahlawan sedikit saja tidak mau?"

Mereka semua sudah bangkit berdiri dari mengurung. Syanti Dewi terkejut dan mukanya berubah pucat, kedua tangannya sudah dikepal untuk membela diri. Dan tidak hanya takut, akan tetapi juga marah sekali mendengar omongan yang kotor itu. Akan tetapi Gak Bun Beng tetap tenang dan sabar. Dia mengangkat kedua tangan ke atas dan berkata,

"Bukan aku pelit, akan tetapi sungguh mati, kalau kalian memaksa hendak mengambil anakku, sama saja dengan kalian memaksa mengambil tangan kananku. Sebelum kalian mengambil anakku, biarlah kuberikan saja kedua tanganku. Hidup tanpa tangan kanan kepalang tanggung. Nah, siapa mau lebih dulu membuntungi kedua tanganku?"

Dia mengacungkan kedua tangannya ke atas.

"Ha-ha-ha! Orang sinting, tapi anaknya cantik manis sekali! Biar kupenuhi permintaannya!"

Teriak orang muda Han yang mabok itu sambil menghunus goloknya yang sudah berkarat karena darah orang dalam pertempuran.

"Baiklah, mari kau buntungi tangan kiriku lebih dulu!"

Bun Beng memberikan tangan kirinya. Golok itu menyambar, kuat sekali ke arah tangan kiri Gak Bun Beng yang diacungkan ke atas. Tangan itu tidak mengelak, malah memapaki golok.

"Krekkkk!"

Golokk itu patah-patah dan pemiliknya memandang gagang goloknya dengan mata terbelalak!

"Sayang, golokmu sudah berkarat dan rapuh!"

Gak Bun Beng berkata dengan suara biasa.

"Siapa lagi yang mempunyai senjata lebih tajam untuk membuntungi tanganku?"

"Biar kulakukan itu!"

Bentak seorang Han lainnya sambil meloncat maju, pedangnya menyambar tangan kanan Gak Bun Beng. Kembali pendekar sakti ini tidak mengelak, melainkan memapaki pedang itu dengan tangannya.

"Krak.... krakkk!"

"Hayaaa....!"

Si pemilik pedang terbelalak memandang gagang pedangnya yang hanya tinggal pendek saja itu karena pedangnya sendiri sudah patah-patah. Melihat ini, tiga belas orang lain serentak maju dengan senjata mereka yang bermacam-macam, ada tombak, golok, pedang dan toya. Gak Bun Beng membiarkan mereka mencabut semua senjata, kemudian dia meloncat ke depan dan menerima semua serangan dengan kedua tangan dan juga kakinya sambil mengerahkan sin-kangnya. Terdengar suara krak-krek-krak-krek disusul oleh teriakan si pemilik senjata dan dalam sekejap mata saja semua senjata milik dari lima belas orang itu sudah patah-patah semuanya.

"Ilmu siluman....!"

Terdengar seorang di antara mereka berteriak dan larilah mereka lintang pukang ketakutan, meninggalkan segala perbekalan yang tadi mereka taruh di atas tanah. Gak Bun Beng menghela napas, lalu menyambar guci arak yang ditinggal di situ, menenggak isinya sampai habis. Dilemparkannya guci kosong dan diusapnya mulut yang basah itu dengan ujung lengan bajunya. Dia kelihatan tidak senang sekali. Memang dia tidak senang karena terpaksa dia harus memperlihatkan kepandaiannya lagi setelah secara terpaksa dia mengeluarkan kepandaian itu ketika menyelamatkan Syanti Dewi.

"Gak-siok-siok...."

Post a Comment