Tek Hoat yang terlupa dan membuka mata memandang tadi, cepat-cepat memejamkan mata dan memutar tubuhnya membalik, diam-diam dia mengutuk diri sendiri mengapa dia mau bersumpah seperti itu. Akan tetapi, dia sudah terlanjur bersumpah dan memang dia memerlukan gadis ini untuk dapat bertemu kembali dengan Syanti Dewi dan melaksanakan cita-citanya terhadap puteri Bhutan itu. Kalau segala itu sudah tercapai, membunuh gadis ini apa sih sukarnya? Biarlah sementara ini dia mengalah dulu.
Pula, dia juga merasa kurang enak dan tidak aman kalau harus melanggar sum-pahnya. Siapa tahu, sumpah itu benar-benar manjur dan kalau dilanggarnya dia akan mati muda! Dia bergidik! Nanti dulu, ya! Dia masih mempunyai banyak cita-cita yang belum terlaksana. Pokok-nya hanya terletak pada saputangan itu. Kalau kelak dia membunuh gadis ini, atau setidaknya merampas kembali saputangannya, berarti sumpahnya sudah punah karena tidak ada lagi saksinya! Dengan hati gembira Ceng Ceng mengganti jubah yang kedodoran itu dengan pakaiannya sendiri, menyimpan saputangan di balik kutangnya, dan sambil berganti pakaian dia memandang punggung pemuda itu dengan tersenyum. Dia menang! Tak disadarinya lagi, dia memberes-bereskan pakaian dan rambutnya agar kelihatan patut. Dia mempersolek diri untuk pemuda itu tanpa disadarinya!
"Aku sudah selesai!"
Akhirnya dia berkata, ingin melihat pemuda itu memandangnya dengan kagum. Setelah mengenakan pakaiannya sendiri, tentu dia akan tampak lebih cantik! Akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak menoleh, bahkan melanjutkan memancing ikan dan tiba-tiba mengangkat tangkai pancingnya dan seekor ikan lele yang gemuk menggelepar-gelepar. Ceng Ceng kecewa, akan tetapi segera teringat. Celaka! Pemuda itu tentu tidak akan memandangnya! Karena sumpah itu! Perlu apa dia bersolek? Wah, serba berabe kalau begini. Akan tetapi dia tahu bahwa pemuda ltu lebih repot lagi karena harus menghindarkan pandang matanya dari Ceng Ceng. Biar tahu rasa dia! Pikiran ini mengusir kekecewaannya.
"Nona Ceng...."
"Tak usah nona-nonaan. Aku biasa disebut Ceng Ceng."
"Hemm.... Ceng Ceng, apakah kau tidak lapar?"
Tanya Tek Hoat tanpa menoleh.
"Tentu saja."
"Nah, ini ada sisa ayam panggang...."
"Aku tak sudi makan sisamu!"
"Kalau, begitu, ikan ini kau boleh ambil dan bakar."
Tanpa menoleh Tek Hoat menyerahkan ikan itu yang diterima oleh Ceng Ceng dan tak lama kemudian Ceng Ceng sudah memanggang daging ikan yang gemuk dan makan dengan lahapnya tanpa menawarkannya kepada Tek Hoat. Hari mulai gelap, senja telah mendatang.
"Kita harus pergi mencari majikan...."
"Apa? Siapa kau maksudkan?"
"Siapa lagi kalau bukan Puteri Syanti Dewi?"
"Tek Hoat, kau jangan sembarangan omong, dan aku bukanlah pelayannya. Mengerti?"
Tek Hoat mengangguk-angguk dan merasa girang. Tidak keliru dia mengalah kepada gadis liar ini, kiranya sudah diaku sebagai adik angkat. Kalau dia membunuhnya, tentu sukar baginya untuk berbaik dengan Syanti Dewi.
"Kau tergila-gila kepada kakakku, ya?"
Tek Hoat terkejut, akan tetapi hanya mengangguk. Dia masih duduk membelakangi Ceng Ceng.
"Wah, tidak enak benar begini! Masa aku bicara dengan.... pinggul saja?"
Tek Hoat tersenyum akan tetapi menahan gelak tawanya.
"Habis bagaimana? Aku tidak berani melanggar sumpah."
"Wah, kau menghadap ke sini dan memejamkan mata, masa tidak bisa?" "Lebih tidak enak lagi buat aku, terus memejamkan mata, masa seperti orang buta."
"Kalau begitu, tutup saja dengan saputangan."
"Saputanganku sudah kau bawa."
Terpaksa Ceng Ceng memberikan saputangannya sendiri yang berbau harum. Tek Hoat menerimanya, menutupkan saputangan itu di depan matanya dan mengikatkan kedua ujung di belakang kepala, kemudian membalik menghadapi Ceng Ceng. Gadis itu tersenyum lebar menutupi mulutnya. Lucu sekali, seperti anak kecil bermain-main!
"Ceng Ceng, kau mengatakan aku tergila-gila kepada kakakmu? Memang, bukan tergila-gila, melainkan aku.... aku jatuh cinta kepadanya."
"Hemm, bagus! Betapapun juga, engkau bukan pemuda yang buruk rupa dan masih muda lagi. Daripada kakakku itu menikah dengan Pangeran Liong Khi Ong yang kabarnya sudah hampir lima puluh tahun usianya, lebih baik menikah denganmu."
"Benarkah?"
Tek Hoat bertanya girang.
"Ya. Dan aku suka membantumu agar enciku suka kepadamu, asal saja engkau tidak melanggar sumpahmu. Kalau kau melanggar, tidak saja engkau tidak dapat berkenalan dengan enci Syanti Dewi, malah engkau akan mampus di waktu usiamu masih muda. Sayang, kan?"
Kembali dia tersenyum dan menutupi mulutnya. Dia sama sekali tidak mengira bahwa Tek Hoat dapat melihatnya dari balik saputangan sutera yang tipis itu! Akan tetapi pemuda inipun tidak berani memandang langsung, takut akan sumpah.
"Hari telah malam, tidak mungkin kita mencari enci Syanti. Malam ini gelap tidak ada bulan. Lalu bagaimana kita akan melewatkan malam?"
"Tak jauh dari sini, di tepi sungai ini terdapat sebuah kuil tua yang kosong. Kita dapat bermalam di situ dan tempat itu memang tidak jauh dari Sungai Nu-kiang. Besok pagi-pagi, kita mencari lagi, mendengar-dengarkan, mungkin ada nelayan yang tahu bagaimana nasib encimu itu."
Lega hati Ceng Ceng.
"Kalau begitu, mari kita ke kuil."
Dia bangkit berdiri dan pergi.
"Haii, bagaimana aku bisa berjalan kalau mataku ditutup begini?"
Ceng Ceng tersenyum.
"Bodoh, kalau begitu mengapa tidak dibuka?"
"Kalau dibuka, mana bisa jalan bersama? Aku tidak mau berjalan dengan mata terpejam, salah-salah bisa terjatuh ke dalam sungai!"
Ceng Ceng tertegun dan bingung.
"Habis bagaimana?"
"Kecuali kalau kau sudi menuntun...."
Karena hari sudah hampir gelap dan hutan itu kelihatannya menakutkan, terpaksa Ceng Ceng menyambar tangan pemuda itu dan menuntunnya.
"Ke mana jalan?"
Dia bertanya.
"Terus saja menurutkan aliran sungai ini,"
Jawab Tek Hoat yang diam-diam merasa geli dan juga bangga bahwa kini dia dapat membalas. Sesungguhnya dia dapat melihat melalui saputangan tipis itu, akan tetapi biarlah, biar gadis itu tahu rasa, pikirnya. Betapapun juga, gadis yang liar dan galak ini ternyata cukup baik, mau menuntunnya. Mereka tiba di kuil kosong. Karena ruangan yang merupakan kamar tertutup hanya sebuah, maka Ceng Ceng berkata,
"Aku tidur di sini dan biar kau tidur di mana sesukamu asal jangan di kamar ini."
Berkata demikian dia lalu menutupkan daun pintu. Perbuatan ini sia-sia saja karena biar pintu ditutup, jendela di kamar itu melongo tanpa daun! Lalu dia membuat api unggun dan tidak memperdulikan lagi kepada Tek Hoat. Pemuda ini luar biasa, pikirnya. Ilmu kepandaiannya amat tinggi dan kalau pemuda ini berwatak jahat, sukar untuk melawannya. Dan dia.... agak aneh rasanya.
Mengapa hatinya tidak enak mendengar pengakuan pemuda itu yang mencinta Syanti Dewi? Mengapa dia tidak puas? Mengapa dia tadi merasa jantungnya berdebar-debar ketika tangannya menggandeng tangan Tek Hoat? Seolah-olah ada getaran dari tangan itu yang menyentuh hatinya, menimbulkan rasa girang yang luar biasa. Mengapa? Celaka, jangan-jangan dia telah jatuh hati seperti yang hanya dikenalnya dalam cerita dongeng! Itukah cinta? Memang pemuda itu cukup segala-galanya untuk menjatuhkan hati seorang gadis, memang patut dicinta. Betapa tidak? Tampan, gagah perkasa, lucu dan pandai mengalah, biarpun agak kasar, akan tetapi buktinya tidak suka melakukan pelanggaran susila. Wah, jangan-jangan aku jatuh cinta kepadanya, bisik Ceng Ceng sebelum tidur.
Menjelang tengah malam dia terbangun karena mimpi ditelanjangi oleh Tek Hoat! Ditelanjangi selagi dia sadar dan anehnya, dia diam saja. Setelah kelihatan pemuda itu hendak merabanya dan hendak memeluknya, barulah dia meronta dan terbangun! Bulu tengkuknya berdiri. Kalau tadi bukan mimpi, melainkan sungguh-sungguh terjadi, tentu dia akan membunuh pemuda itu! Atau, kalau dia kalah, dia akan melawan mati-matian, kalau perlu mempertaruhkan nyawa untuk membela kehormatan-nya. Bedebah! Dia memaki pemuda itu akan tetapi segera teringat bahwa yang dikalahkan pemuda itu hanya dalam mimpi saja! Mungkin kenyataannya tidak demikian, buktinya Tek Hoat juga tidak melakukan sesuatu terhadap dirinya. Tiba-tiba dia bangkit duduk. Terdengar suling ditiup orang amat merdu dan indahnya. Akan tetapi hanya lapat-lapat terdengar, agaknya dari jauh.
Ceng Ceng membereskan rambut dan pakaiannya, kemudian meloncat keluar melalui jendela. Biarpun tidak ada bulan malam itu, namun langit bersih terhias bintang sejuta, cukup memberi cahaya penerangan di permukaan bumi. Dia melangkah dengan hati-hati, mencari-cari, akan tetapi ternyata Tek Hoat tidak berada di kuil itu! Ke mana perginya pemuda itu? Buntalannyapun tidak nampak. Ceng Ceng mulai bergidik. Ngeri dia memikirkan bahwa dia ditinggal sendirian saja di kuil tua itu. Kuil yang biasanya dalam dongeng kalau sudah kosong dan kuno begitu selalu dihuni oleh siluman-siluman! Cepat dia keluar dari kuil dan mendengar suara suling lapat-lapat dari depan, dia lalu melangkah maju menuju ke arah suara itu. Tak lama kemudian dia sudah mengintai dari balik pohon, memandang ke arah Tek Hoat yang berdiri di tepi sungai besar.
Sungai Nu-kiang! Kiranya dia telah berada di tepi sungai itu, di mana anak sungai dari hutan memuntahkan airnya ke situ dan di tepi sungai tampak Tek Hoat yang tadi meniup suling. Kini pemuda itu sudah berhenti meniup suling dan menyelipkan kembali sulingnya. Yang menarik perhatian Ceng Ceng adalah sebuah perahu besar yang bergerak mendekat pantai di mana pemuda itu berdiri, sebuah perahu yang indah dan mewah, dan tampak diterangi lampu-lampu sehingga dia melihat beberapa orang berpakaian tentara mengiringkan seorang berpangkat tinggi yang mewah pakaiannya ke pinggir perahu. Ceng Ceng mengintai penuh perhatian dan memasang pendengarannya agar dapat mendengarkan apa yang akan terjadi. Dia melihat Tek Hoat memberi hormat kepada pembesar itu dari pantai sambil berkata,
"Maafkan, hamba tidak sempat melapor karena hamba tidak dapat meninggalkan gadis itu sebelum dia tidur."