Bahkan ada beberapa penduduk aseli, yakni orang-orang kampung di situ ikut pula datang dengan wajah mengancam seakan-akan mereka juga hendak mengeroyok Sin Wan! Sin Wan mencabut pedangnya dan sebentar saja ia dikeroyok banyak orang yang bersenjata pedang panjang dan yang kesemuanya memiliki ilmu pedang yang cukup baik.
Tapi menghadapi Pek Liong Kiam-sut, mereka ini tidak berdaya.
Yang mengherankan Sin Wan ialah betapa pedang-pedang mereka ini kesemuanya terbuat daripada bahan yang baik dank eras hingga tidak mudah terbabat putus oleh pokiamnya! Ini sungguh mengagumkan! Kemudian, penduduk kampong ikut pula mengeroyok dengan segala macam senjata yang dapat mereka pakai, karena mereka menganggap bahwa pemuda itu hanya membuat kacau saja di kampung mereka.
Melihat hal ini, Sin Wan lalu memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga empat orang kate roboh dengan mandi darah, kemudian Sin Wan berseru keras, "Hai, saudara-saudara! Tidak tahukah kalian bahwa bajak-bajak kate ini menguras kekayaan di negeri kita? Mereka ini tidak saja membajak bangsa kita, tapi juga merampol hasil bumi kita! Hayo kita usir mereka ini!" Tapi orang-orang kampung init tak seorangpun mau mendengarkan kata-katanya, bahkan ada seorang yang berteriak keras, "Aah, obrolan apa yang kau jual ke sini? Kau rupanya bukan hendak menolong, tetapi bahkan hendak mengacau dan mencelakakan kami!" Tiba-tiba Sin Wan ingat bahwa kalau ia mengusir bajak-bajak ini, tentu para banyak yang banyak sekali jumlahnya itu akan sakit hati sekali kepada orang-orang kampung dan akhirnya penduduk dusun itulah yang akan menerima balasan dan tertimpa bencana besar.
Mengingat demikian, Sin Wan lalu meloncat pergi dan lari keluar dari dusun itu dengan cepat.
Ia merasa bingung dan tidak tahu dengan cara bagaimana ia dapat mengusir para bajak laut itu.
Malam itu ia bermalam di dalam sebuah dusun yang terdapat di hutan yang memanjang di tepi laut.
Berbeda dengan keadaan dusun yang dikuasai para bajak itu, di dusun yang dikuasai para bajak itu, di dusun ini orang-orang hidup sederhana sekali dan keadaan mereka sungguh-sungguh miskin! Tapi mereka sangat ramah tamah dan seorang keluarga yang terdiri dari seorang kakek dan seorang puternya yang sudah duda, menerima Sin Wan dan memberi tempat kepadanya untuk bermalam.
Karena lelahnya Sin Wan tidur nyenyak sekali.
Tapi menjelang fajar, ia dikejutkan oleh suara gemuruh dari kaki kuda dan sepatusepatu dari ratusan pasang kaki orang yang mendatangi ke arah dusun itu! Ia segera bangun dan terdengar pekik dan jerit tangis penduduk dusun di situ.
"Ada apakah?" Sin Wan meloncat keluar dan bertanya kepada seorang yang lari ketakutan.
"Bajak-bajak itu mengganas lagi!" katanya, Sin Wan menjadi gemas sekali.
Jadi kalau di sekitar pantai bajak-bajak itu berlaku baik terhadap penduduk di situ untuk memikat hati mereka, di pedalaman mereka merampok dengan kejam.
Dalam marahnya, Sin Wan mencabut pedangnya dan lari memapaki kedatangan para bajak itu.
Dan apa yang dilihatnya membuat dia kaget sekali! Yang datang itu, bukanlah bajak-bajak biasa, karena pakaian yang dipakai oleh orang-orang kate itu adalah seragam hingga mereka lebih tepat disebut tentara yang berdisplin dan teratur! Pergerakan mereka teratur sekali dan di sana sini terdengar aba-aba yang dikeluarkan dengan suara keras dari atas kuda! Tentara yang bergerak ini jumlahnya cukup besar, ditaksir tidak kurang dari lima puluh orang.
Hendak menyerbu kemanakah rombongan bajak yang merupakan barisan teratur ini, pikir Sin Wan.
Tapi pada saat itu telah terlihat oleh seorang anggauta barisan itu dan atas aba-aba seorang pemimpin, beberapa belas orang dengan pedang dan tombak lari menyerbu.
Sin Wan menerima kedatangan mereka dengan pedang di tangan dan ia lalu mengamuk hebat! Tapi segera ia mendapat kenyataan bahwa para pengeroyoknya ini benar-benar orang berilmu silat lumayan juga dan jika dibandingkan dengan kepandaian para pengawal kaisar, maka agaknya tidak boleh disebut lebih lemah! Terutama ilmu pedang mereka yang mempunyai gerakan aneh, sungguh sukar dilawan.
Baiknya ia memiliki ilmu pedang yang cepat dan hebat gerakannya, maka sebentar saja ia dapat merobohkan beberapa orang hingga tempat itu menjadi ramai dengan pekikan-pekikan mereka dan rumput-rumput di situ menjadi basah oleh darah! Tapi keberanian dan kenekatan orang-orang itu sungguh membuat Sin Wan merasa bingung dan gugup.
Jatuh seorang datang dua dan jatuh dua datang empat! Ia sampai merasa kewalahan dan kini dirinya terkurung rapat! Ia telah merobohkan sepuluh orang lebih, tapi tenaganya mulai lemah karena ternyata musuh-musuhnya makin banyak saja.
Pada saat itu terdengar bentakan-bentakan nyaring dan kepungan Sin Wan menjadi buyar dan keadaan menjadi kacau balau! Ketika Sin Wan merasa kepungan yang mengurung dirinya mengendur, ia lalu meloncat keluar dari kepungan untuk melihat apa yang telah terjadi di luar kepungannya.
Ternyata terdapat dua bayangan putih dengan jubah lebar berkibar-kibar sedang mengamuk hebat! Dua bayangan itu menyambar-nyambar ke sana kemari dan dimana saja mereka tiba, tentu terdengar pekik ngeri dan tampak tubuh seorang pengeroyok roboh! Sin Wan terkejut sekali melihat kehebatan sepak terjang dua orang itu, karena mengingatkan ia akan kakek jembel gila.
Tiba-tiba dua orang itu menghentikan gerakan mereka dan mereka berdiri di atas sebuah batu besar sambil bertolak pinggang.
Ternyata bahwa mereka adalah dua orang kakek yang berwajah angker dan gagah sekali.
Pakaian mereka seperti dua orang petani dan jubah mereka longgar, di punggung mereka tampak gagang pedang.
Rambut mereka yang putih dan panjang digelung ke atas dan kini ujung rambut itu berkibar-kibar tertiup angin.
Mereka sungguh gagah perkasa! "He, kamu sekalain bajak laut, dengarlah! Kamu telah melihat sepak terjang kami berdua dan ternyata baru kami dua orang tanpa memegang senjata saja kalian sudah tak dapat melawan.
Apalagi kalau bangsa kami bangkit serentak melawan kalian, pasti kalian akan dilempar semua ke laut! Kembalilah ke negarimu sendiri dan jangan mengganggu rakyat kami! Kalau dalam tiga hari kami masih melihat kamu, maka jangan harap akan mendapat ampun lagi! Kedua kakek itu berbicara perlahan, lalu seorang diantara mereka berkata lagi dengan suara keras, "Ketahuilah, kami berdua adalah Pai-san Sianjin dan Nam-hai Sianjin.
Dan jangan kira bahwa di negeri kami hanya ada kami dua orang saja yang memiliki kepandaian! Masih ribuan orang yang memiliki kepandaian lebih tinggi daripada kami.
Kalian lihatlah pohon siong di sana itu dan lihat apakah diantara kalian ada yang sanggup menahan serangan pedang kami seperti yang hendak kami lakukan kepada pohon itu!" Setelah berkata demikian dua orang kakek itu lalu mencabut pedang dari punggung, lalu berbareng mereka enjot tubuh mereka.
Dua bayangan putih berkelebat ke arah puncak pohon itu dan tibatiba daun-daun dan ranting-ranting kecil jatuh berhamburan ketika dua orang kakek itu gerakkan pedang mereka membabat! Sebentar saja keduanya telah melayang turun di atas batu yang tadi dan ketika semua orang melihat ke arah pohon, mereka lelettkan lidah karena daun-daun pohon itu telah dicukur sedemikian rupa hingga pinggirnya rata dan potongannya bundar! Setelah menyaksikan demonstrasi ini, terdengar aba-aba keras di fihak bajak laut dan mereka lalu lari mundur dengan cepat! Kedua kakek itu tertawa bergelak-gelak menyaksikan mereka.
Kemudian mereka memandang ke arah Sin Wan dan memberi tanda kepada pemuda itu supaya datang mendekat.
Sin Wan lalu memberi hormat sambil berlutut.
"He, anak muda yang gagah perkasa.
Bukankah kau mendapat pelajaran dari Bu Beng?" tegur Nam-hai Sianjin.
"Benar, locianpwe.
Teecu adalah murid dari Bu Beng Lojin dan mendengar nama jiwi locianpwe yang besar serta menyaksikan kehebatan ilmu pedang jiwi locianpwe, sungguh teecu merasa beruntung sekali sudah dapat bertemu dengan jiwi locianpwe!" Terdengar Pai-san Sianjin menghela napas, ?"Sayang sekali orang-orang seperti kita kebanyakan berlaku sesat dan tidak melihat akan penderitaan rakyat.
Kau mendengar tadi betapa kami membohong agar mereka jangan berani datang lagi.
Nah, sampaikan salam kami kepada suhumu?" Dan kedua tokoh persilatan yang terkenal itu berkelebat menghilang dari pandangan Sin Wan.
Setelah kenyang merantau, lima tahun kemudian, Sin Wan kembali ke Kam-hong-san.
Maksudnya hendak mulai mendidik anak perempuan Li Lian yang dulu dititipkan kepada janda Thio.
Tapi alangkah herannya ketika mendapat keterangan bahwa anak itu telah dibawa oleh Giok Ciu.
Sin Wan lalu mengejar dan menjumpai Giok Ciu di bekas tempat tinggal ayahnya, yakni di sebelah timur bukit Kamhong-san.
"Sumoi," katanya ketika bertemu dan melihat betapa benar-benar anak itu berada disitu.
?"Kau berikanlah anak ini kepadaku untuk kudidik menjadi muridku." "Tidak suheng.
Akulah orangnya yang mempunyai dosa terhadap Li Lian, maka biarlah aku menebus dosa itu dengan memberi didikan kepada anaknya ini," jawab Giok Ciu.
Mereka berdua mempertahankan pendirian mereka sendiri-sendiri, karena Sin Wan juga suka sekali melihat anak perempuan yang mungil itu dan yang wajahnya mirip sekali dengan Li Lian.
Akhirnya sambil tersenyum Giok Ciu mencabut ouw Liong Pokiam dan berkata tenang, "Suheng, kalau begitu, biarlah pedang kita yang memutuskan." "Apa maksudmu?" tanya Sin Wan terkejut.
?"Marilah kita mengukur kepandaian masing-masing, yang lebih tinggi berhak menjadi guru anak itu!" Sin Wan tersenyum dan heran, karena biarpun sikap dan bicara gadis itu telah berubah dan tenang tapi sebenarnya watak keras masih ada di dalam hatinya.
Iapun lalu mencabut Pek Liong Pokiam dan menghadapi sumoinya.
Mereka lalu menggerakkan kedua pedangnya itu dan sebentar kemudian pertemuan mereka ini dirayakan dengan adu pedang! Mereka dalam hal memberi pelajaran kepada kedua muridnya, Bu Beng Lojin tidak berlaku berat sebelah, maka kepandaian mereka berimbang.
Sin Wan dapat merobohkan sumoinya yang keras hati ini, tapi ia tidak tega dan pula agaknya ia takkan dapat merobohkan kalau tidak dengan menggunakan kekerasan.
Karena inilah maka mereka bertempur sampai ratusan jurus bagaikan dua ekor naga sakti berebut mustika.
Anak perempuan yang baru berusia kurang lebih lima tahun itu bertepuk-tepuk tangan gembira dan suka sekali melihat pertempuran itu, seakan-akan ia melihat pertunjukan yang bagus sekali.
Tiba-tiba terdengar suara lemah lembut dan suara tertawa menyeramkan.
Sin Wan dan Giok Ciu kenal suara ini maka mereka segera meloncat mundur dan menjatuhkan diri berlutut.
Bu Beng Lojin dan kakek jembel gila yang lihai itu telah berada di depan mereka.
"Sin Wan dan Giok Ciu! Bagaimana keputusanmu yang terkahir? Perlukah kedua pokiam itu kau kembalikan kepadaku? Biarlah aku yang menyimpannya!" Sin Wan memberi hormat dan berkata, ?"Suhu, hal ini murid hanya menyerahkan sepenuhnya kepada Giok Ciu!" Giok Ciu menundukkan muka dan kulit mukanya berubah merah.
Ia pandang Ouw Liong Pokiam di tangannya dan agaknya ia tak mungkin dapat berpisah dari pedang ini.
Pula, niatnya untuk berumah tangga, biar dengan Sin Wan sekalipun, telah lenyap dari sanubarinya.
"Maaf, suhu.
Teecu telah bersumpah hendak hidup menyendiri dengan pokiam ini." Bu Beng Lojin tertawa bergelak-gelak, diiringi oleh suara tertawa oleh kakek jembel gila itu.
?"Kalau begitu, kau bertapalah disini, dan Sin Wan boleh tinggal di gua naga.
Ketahuilah muridmuridku, memang kalianlah yang berjodoh untuk mengembangkan Sinliong Kiam-sut dan kelak kalaian pulalah yang akan menurunkan kepandaian dan kedua pokiam ini kepada orang-orang atau muridmurid yang berbakat.
Dengan demikian, takkan sia-sialah hidupmu di dunia ini.
Kalian telah memilih jalan benar, karena sekarang aku mau membuka rahasia, yakni menurut penglihatanku, kalian mempunyai watak yang bertentangan dan jika tertangkap menjadi suami isteri, maka akan lebih banyak pahitnya daripada manisnya kalian rasakan!" "Suhu, mohon petunjuk suhu tentang anak ini," kata Sin Wan, juga Giok Ciu mendesak gurunya.
Tiba-tiba si kakek jembel gila berkata dengan suaranya yang parau.
"Hanya akulah seorang yang berhak menjadi suhunya!" Giok Ciu dan Sin Wan terkejut, tapi Bu Beng mengangguk-angguk, "Kalian masih terlampau muda untuk menerima murid.
Matangkanlah dulu kepandaianmu, dan kalian taruhlah kasihan kepada kawan baikku ini.
Anak ini akan menjadi obat penawar baginya." Akhirnya Sin Wan dan Giok Ciu menurut dan mengalah.
Semenjak saat itu, Bun Sin Wan bertapa di puncak gunung Kamhong-san sedangkan Kwie Giok Ciu bertapa di bekas tempat tinggal ayahnya.
Keduanya telah dapat menahan segala nafsu keduaniaan dan tekun memperdalam ilmu mereka.
Tapi adat yang terbawa ketika lahir tak dapat dirobah dengan mudah, karena dalam beberapa tahun sekali, tentu Giok Ciu mengunjungi Sin Wan untuk diajak bertanding mengukur kepandaian! Sering pula Sin Wan atau Giok Ciu turun gunung untuk melakukan tugas sebagai pendekar-pendekar gagah pembela keadilan, hingga nama Pek Liong Pokiam dan Ouw Liong Pokiam makin terkenal di kalangan persilatan sebagai dua pedang naga sakti yang hebat dan sebagai penggempur kejahatan! Kelak, berpuluh puluh tahun kemudian, setelah mereka menjadi orang-orang tua, Bun Sin Wan akan menggunakan nama Kam Hong Siansu, sedangkan Kwie Giok Ciu tak mengubah nama hingga disebut orang Kwie Giok Ciu Suthai.
TAMAT