Halo!

Kisah Sepasang Naga Chapter 54

Memuat...

Aku hanya malu dan ragu-ragu mengaku akan cintaku padamu, karena kalau benar-benar cinta, mengapa sikap dan tindakanku yang sudahsudah demikian macamnya terhadapmu? Sekarang, biarlah kita berpisah dan meluaskan pengalaman masing-masing, sementara itu,berilah waktu padaku, suheng." Sin Wan menghela napas panjang dan dengan jari-jari tangan gemetar ia melepaskan tali pengikat sepatu kecil itu, lalu diberikannya kepada Giok Ciu.

"Terimalah ini, sumoi.

Aku tak berhak menyimpannya." Giok Ciu menganggap bahwa hal itu sepantasnya, maka sambil mengeraskan hatinya yang sangat terharu, iapun menerima barang itu dengan tangan gemetar pula.

"Sebelum kita berpisah, beritahukanlah di mana kau titipkan anak Li Lian dulu itu suheng?" Karena tidak menduga sesuatu, Sin Wan lalu menceritakan betapa Li Lian meninggalkan anaknya demikian saja hingga ia menjadi bingung dan akhirnya menitipkan anak Li Lian itu kepada seorang janda she Thio di kampong kecil di kaki gunung Kam-hongsan itu.

Kemudian mereka lalu berpisah dan melanjutkan perjalanan masing-masing.

Biarpun kini di dalam lubuk hati kedua anak muda itu terdapat sesuatu yang mengganjal dan membuat mereka merasa sunyi dan kosong, namun tidak ada pula segala kejengkelan, kekecewaan dan kemarahan mengganggu mereka.

Sin Wan merantau ke daratan sebelah Timur dan ia melakukan perjalanan menjelajah sepanjang pantai timur.

Pada waktu itu, daratan timur di Tiongkok seringkali terganggu oleh bajak-bajak laut yang ganas.

Bajak-bajak laut itu menggunakan perahu-perahu layar yang cepat gerakannya dan mereka terkenal mempunyai anggauta-anggauta yang rata-rata berilmu silat tinggi.

Tubuh mereka pendek dengan tangan yang panjang-panjang, sedangkan mereka biasa bersenjata pedang panjang yang mereka mainkan dengan secara cepat dan ganas.

Banyaklah sudah dusun-dusun di pinggir pantai yang menjadi kurban keganasan para bajak laut ini, dan para penduduk dusun itu tidak tahu dari manakah datangnya bajak-bajak itu.

Bahasa yang digunakan oleh para bajak laut itu walaupun tidak mereka mengerti, namun ada persamaan dengan Bahasa dusun pantai timur.

Pemerintah setempat telah pula mendengar tentang gangguan bajak laut ini, tapi karena pemerintah pada waktu itu sangat lemah dan sama sekali kurang menaruh perhatian akan nasib rakyat, maka hal itupun tidak diperdulikan.

Pendirian pemerintah Tiongkok di kala itu, asalkan kedudukan para bangsawan dan kaisar tidak terancam dan tidak terganggu, maka amanlah! Rakyat dirampok? Rakyat diganggu bajak laut? Rakyat kelaparan? Aah, itu soal kecil dan soal biasa, tidak ada sangkut pautnya dengan mereka yang menduduki pangkat.

Asal saja gangguan-gangguan itu tidak merugikan mereka! Karena keadaan pemerintah yang lalim dan alat-alat pemerintah yang buruk sekali ini, maka para bajak laut itu makin ganas dan kurang ajar.

Mereka bahkan berani menculik wanitawanita dan membawanya ke pulau tempat tinggal mereka.

Bahkan tiga buah dusun kecil di dekat pantai yang tadinya merupakan dusun nelayan yang ramai dan makmur, kini boleh dibilang menjadi dusun para bajak laut itu! Tiga dusun itu dijadikan seksi pendaratan mereka, bahkan yang memerintah disitu sekrang orang-orang anggauta bajak laut itu! Bukan tidak ada orang-orang gagah dan hohan-hohan yang mencoba untuk memberantas keganjilan ini, tapi karena jumlah bajak laut sangat banyak dan semua memiliki kepandaian berkelahi yang baik sekali sedangkan fihak orang-orang gagah hanya ada beberapa orang saja sedangkan alat pemerintah tidak ada yang membantu, beberapa kali mereka ini tidak berhasil, bahkan mengalami kekalahan yang pahit! Ketika di dalam perantauannya mendengar tentang hal ini, Sin Wan merasa maah dan penasaran sekali.

Ia lalu langsung menuju ke dusun Tin-siang, sebuah daripada tiga dusun yang menjadi sarang bajak laut di timur itu.

Tapi alangkah herannya ketika ia memasuki dusun itu, krena keadaan dusun bukanlah seperti yang disangkanya semula.

Tadinya ia menduga akan melihat sebuah dusun yang sengsara di mana penduduknya hidup tertindas dan serba kekurangan.

Sebaliknya, dusun itu ramai sekali dan penghidupan penduduk dusun Tin-siang tampak seperti biasa, juga wajah orang-orang disitu tidak kelihatan sedih! Ini sungguh aneh sekali, pikir Sin Wan.

Lalu ia berjalanjalan ke pantai laut melihat kapal-kapal layar yang berlabuh disitu.

Ternyata kapal-kapal dari pedalaman, juga mengangkut kayukayu dari hutan, yakni kayu untuk pembangunan yang disebut kayu besi yang sukar dicari dan mahal harganya.

Semua pekerjaan dilakukan oleh penduduk dusun itu dan yang mengepalai mereka adalah beberapa orang pendek yang tampaknya ramah tamah.

Maka otak yang cerdik dari pemuda itu lalu dapat menduga.

Ia pikir bahwa bajak-bajak laut itu tentu menggunakan siasat halus untuk membujuk para penduduk dusun itu hingga tenaga mereka digunakan.

Bajak-bajak itu tentu tidak mengganggu mereka, tidak mengganggu pekerjaan sehari-hari mereka, karena hasilnya tak seberapa besar.

Sebaliknya, mereka melakukan perampokan di dalam hutan-hutan dan mengangkut pergi hasil-hasil bumi Tiongkok yang kaya, dan yang mengerjakan semua itu adalah tenaga-tenaga penduduk dusun itu, mungkin dengan diberi sedikit upah! Sin Wan melanjutkan penyelidikannya.

Ia memasuki sebuah rumah makan dan memesan arak serta makanan.

Karena ada beberapa orang yang sedang duduk di dalam rumah makan itu dan tampaknya seperti orang-orang pedagang dari lain tempat, sengaja Sin Wan mendekati mereka, lalu secara iseng-iseng ia berkata, "Dusun ini tampaknya ramai dan penduduknya hidup senang." Seorang di antara mereka yang menengok dan mendengar katakatanya itu, lalu menghampiri.

Agaknya orang ini telah minum arak agak terlampau banyak, maka lidahnya terlepas, ?"Mengapa tidak, kawan? Kau tentu bukan orang sini maka agaknya heran melihat keadaan kami! Sudah banyak orang-orang seperti engkau yang datang ke sini.

Tentu kau tadinya menyangka bahwa kita tentu hidup sengsara, bukan? Ha, ha! Tidak, kita tidak merasa terganggu.

Mereka itu mengangkut hasil-hasil hutan dan tanah bukan milik kami.

Mereka menguasai kami tapi tidak membuat kami sengsara.

Tahukah kau bahwa dulu sebelum mereka datang, kepala dusun ini, seorang bangsa kita sendiri, bahkan merupakkan lintah darah yang menghisap habis darah kami? Aah, kami lebih senang mempunyai kepala dusun bangsa lain daripada kepala dusun bangsa sendiri yang menindas kami!" Mendengar kata-kata ini Sin Wan meras muak sekali.

Celaka dua belas! Beginilah kalau pemerintah sendiri tidak becus memerintah dan buruk keadaannya! Rakyat menjadi penasaran dan sakit hati, hingg bahkan mereka lebih suka diperintah oleh pemerintah asing daripada oleh pemerintah bangsa sendiri, karena mereka itu hanya menghendaki hidup senang! Celaka sekali! Tentu saja bagi orangorang beriman dan mempunyai jiwa gagah perkasa seperti Sin Wan, diperintah oleh orang-orang asing itu merupakan hinaan yang besar sekali.

Apalagi ketika melihat betapa kekayaan tanah air dibawa dan diangkut pergi leh orang-orang kate itu, Sin Wan merasa mendongkol sekali.

Pada saat itu, tiba-tiba orang yang doyan mengobrol itu diam bagaikan orong-orong terpijak, karena dari luar masuklah seorang kate yang agak gemuk.

Orang kate itu memandang Sin Wan dengan curiga dan ia lalu menunding ke arah Sin wan sambil bertanya kepada pengobrol tadi, "Siapakah orang ini? Dan dari mana datang?" Sebelum ada yang menjawab, Sin Wan menghampiri orang itu dan bertanya, ?"Kau perduli apakah? Kau siapa dan apa hakmu maka bertanya demikian?" Orang itu tersenyum menghina.

?"Kau mencari susah sendiri!" Dan ia membalikkan tubuh hendak pergi, tetapi Sin Wan telah menangkap lengan tangan orang itu.

?"Tahan dulu, bukankah kau ini anggauta bajak-bajak asing yang mengganggu pantai Tiongkok?" orang itu memandang dengan ancaman di matanya.

?"Habis kau mau apa?" Sehabis berkata demikian, dengan sekali renggut terlepaslah tangannya dari pegangan Sin Wan sehingga pemuda itu diam-diam terkejut sekali karena tidak disangkanya bahwa si pendek ini memiliki tenaga besar.

Kemudian si pendek itu menyerang dengan pukulan yang mempunyai gerakan aneh.

Datangnya serangan ini cepat sekali dan kedua tangannya digunakan bagaikan cengkeraman garuda.

Inilah semacam ilmu Eng-jiauw-kang atau Cengkeraman Garuda, dan ilmu ini mengandalkan tenaga dan kecepatan mencengkeram tubuh atau tangan musuh.

Tapi Sin Wan dengan mudahnya dapat berkelit dan balas menyerang.

Setelah bergerak tiga jurus saja, Sin Wan berhasil mendorong tubuh yang kate itu sehingga bergulingan menabrak meja.

Orang kate itu bersuit keras dan dari arah pantai berlarilarilah beberapa orang kate lain, yakni anggauta-anggauta dan anak buah bajak laut yang bertugas di situ.

Post a Comment