Halo!

Kisah Sepasang Naga Chapter 53

Memuat...

Tiba-tiba jembel gila itu tertawa lagi, nyaring dan panjang, "Ha, ha, ha! Kau sungguh lihai, kau hampir selihai.

Bu Beng.! Ya, kau hampir selihai Bu Beng!" Mendengar ini, Beng Hoat Taisu menjadi terkejut.

"Pernah apakah kau dengan Bu Beng Lojin?" tanyanya sambil mengirim serangan.

"Ha, ha! Bu Beng kawan baikku.

Kau kenal Bu Beng?" balas tanya jembel itu, suaranya mengandung keramahan hingga Beng Hoat Taisu menjadi heran.

"Aku kenal baik padanya," jawabnya.

Tiba-tiba saja desakan si gila mengendur.

"Kalau begitu, aku tidak jadi membunuhmu! Kau kawan baik Bu Beng! Ah.

Murid, kau tunggu sajalah.

Pasti tiba saatnya pembunuh ini menemui maut, dan aku juga tentu akan menyusulmu kelak..

Ha, ha, ha!" Setelah berkata demikian, jembel gila itu meniup keras ke arah muka lawannya.

Tiupan ini demikian hebat dan bertenaga hingga cepat sekali Beng Hoat Taisu berkelit, namun masih saja jenggot dan rambutnya yang panjang putih berkibar-kibar bagaikan tertiup angin besar! Ia menjadi kaget sekali, tapi pada saat itu si jembel gila telah meloncat mendekati Sin Wan dan Giok Ciu.

Pada saat si jembel tadi bertempur dengan hebatnya melawan Beng Hoat Taisu, kedua orang muda itu mengamuk dan biarpun dikeroyok oleh belasan orang pengawal-pengawal kaisar yang berkepandaian tinggi, namun Pek Liong Pokiam dan Ouw Liong Pokiam menyambar-nyambar demikian hebatnya hingga sebentar saja beberapa orang telah menjadi kurban dan sisa pengeroyok mereka menjadi jerih.

Pada saat mereka masih mainkan pedang, tiba-tiba Sin Wan dan Giok Ciu merasa betapa lengan tangan mereka di betot orang dan mereka tahu bahwa si jembel itu mengajak mereka pergi.

Mereka meloncat pula ke atas dan mengikuti si jembel yang telah lari lebih dulu sambil memondong tubuh Suma Li Lian yang telah menjadi mayat.

Kakek jembel itu berhenti di sebuah hutan, lalu ia meletakkan muridnya di atas tanah sambil beberapa kali mengeluh, "Muridku, kau sungguh kejam telah meninggalkan aku lebih dulu" dan menitik keluarlah air mata dari kedua mata si kakek jembel.

Sementara itu, malam telah berganti fajar dan ayam mulai berkeruyuk, tapi masih saja kakek jembel itu berlutut di dekat jenazah muridnya, sedangkan Sin Wan dan Giok Ciu berdiri memandang keadaan kakek aneh itu dengan terharu.

Tiba-tiba kakek itu tertawa lagi, dan suara ketawanya terdengar seperti biasa, terlepas dan gembira.

"Aah, lebih baik begini, muridku.

Lebih baik begini.

Bukankah sekarang kau telah terlepas dari semua kedukaan? Bukankah sekrang tiada orang lagi bisa mengganggumu? Aah, benar lebih baik begini biarlah aku yang melanjutkan penderitaanmu.

Kau harus dikubur, ya, kau harus dikubur!" Setelah berkata demikian, kakek itu lalu menggunakan kedua tangannya menggaruk-garuk tanah dengan maksud menggali lubang! Sin Wan dan Giok Ciu merasa terharu sekali mendengar kata-kata itu.

Biarpun kakek itu sangat mencinta muridnya, namun ia rela muridnya itu mati agar terlepas dari segala kesengsaraan.

Ah, inilah cinta! Inilah cinta suci, cinta yang tidak mengharapkan sesuatu untuk kesenangan diri.

Cinta yang semata-mata didasarkan atas keinginan melihat orang yang dicintainya bahagia dan tidak menderita, biarpun harus mengurbankan perasaan sendiri! Memikir sampai di situ, Sin Wan dan terutama Giok Ciu, merasa tersinggung dan tersindir, maka mereka menundukkan muka dengan wajah merah.

Sementara itu, kedua mata Giok Ciu mengalir air mata.

Sin Wan dan Giok Ciu, tanpa diminta lalu menggunakan pedang mereka mereka untuk membantu menggali lubang untuk menguburkan Suma Li Lian.

Setelah jenazah gadis yang bernasib malang itu dikubur baik-baik, jembel gila itu lalu berkata kepada Sin Wan dan Giok Ciu.

"Kalian anak-anak baik.

Nah, aku pergi hendak mencari Bu Beng." Melihat betapa pikiran kakek itu agaknya mulai ingat, Sin Wan cepat berkata, "Locianpwe, teecu berdua adalah murid-murid Bu Beng Lojin!" Kakek itu memandang tajam kepada mereka.

"Bagus, dimana sekarang adanya Bu Beng?" Sin Wan tak dapat menjawab, dan Giok Ciu yang menjawab, "Teecu tidak tahu di mana suhu berada, karena suhu telah meninggalkan Kam-hong-san dan berjanji hendak bertemu dengan teecu berdua sepuluh tahun kemudian." "Ha, ha! Bu Beng memang gila!" kata kakek itu dan sekali berkelebat tubuhnya telah lenyap dari situ! Sin Wan dan Giok Ciu yang ditinggal di situ saling pandang.

Giok Ciu lalu berlutut di depan makam Suma Li Lian dan berkata dalam bisikan, "Li Lian.

Li Lian.

Aku telah banyak menyakiti hatimu.

Kau orang baik dan setia, tidak seperti ah, Li Lian, kau tentu dapat mengampunkan aku, sungguhpun aku sendiri tidak akan sanggpu mengampunkan diri sendiri." Sin Wan lalu berkata kepada Giok Ciu, "Sumoi, marilah di depan makam Li Lian kita mengadakan pembicaraan sungguh-sungguh dan dari hati ke hati." Kedua anak muda itu di pagi hari yang cerah itu duduk di depan makam yang masih baru, saling berhadapan.

Sikap mereka tenang dan sungguh-sungguh.

"Giok Ciu," kata Sin Wan sambil memandang wajah yang menunduk di depannya itu, "Bagaimanakah pikiranmu setelah sekarang semua menjadi terang dan kau tahu akan duduknya persoalan yang sebenarnya?" Giok Ciu mengangkat mukanya dan menahan air matanya yang hendak menitik turun.

"Suheng, untuk apa kita bicarakan hal ini? Kau tahu, aku merasa menyesal dan malu sekali." "Bukan begitu, sumoi, hal itu tak perlu lagi dimalukan atau disesalkan.

Semua telah lewat dan habis, seperti halnya Li Lian yang telah menjadi gundukan tanah ini.

Tak perlu lagi dipersoalkan.

Yang penting adalah persoalan kita, yang akan datang, sumoi.

Kesalahpahaman diantara kita telah lenyap.

Bagaimanakah sekarang pendirianmu mengenai...

perjodohan kita?" Gadis itu sekali lagi mengangkat muka dan memandang wajah Sin Wan dengan terharu, "Kau sendiri bagaimana, suheng? Bagaimana pendirianmu?" Sin Wan merasa tak enak mendengar sebutan gadis itu kepadanya kini telah berubah.

Dulu menyebut koko atau kanda, sekarang menyebung suheng atau kakak seperguruan.

Ia lalu mengangkat tangan ke arah leher dan mengeluarkan sepatu kecil yang tergantung di lehernya.

"Kau lihatlah sendiri, barang ini selalu masih menempel di dadaku! Masih kurang jelaskan ini?" Giok Ciu merasa terpukul dan teringatlah ia akan suling tanda perjodohan yang dulu ia hancurkan, maka tiba-tiba ia menangis perlahan.

"Giok Ciu terus terang saja kukatakan bahwa betapapun juga dan apapun yang terjadi, cintaku kepadamu tetap tak berubah.

Mungkin terjadi perubahan sedikit, yakni tentang sifat cintaku itu.

Kalau dulu cintaku disertai kandungan harapan untuk menjadikan kau sebagai isteriku sekarang sifat cintaku itu berubah setelah mendengar kata-kata Li Lian.

Cintaku bukan berdasarkan hendak mengawinimu saja, tapi hendak melihat kau bahagia, Giok Ciu." Giok Ciu makin terharu dan tak dapat menjawab, maka Sin Wan lalu melanjutkan kata-katanya.

"Sumoi, jangan kau terlalu bersedih, Yang lalu biarlah lalu, sekarang marilah kita hadapi kenyataan.

Aku hendak berterus terang saja kepadamu agar jangan sampai terulang lagi kesalahpahaman di antara kita.

Aku masih tetap cinta kepadamu, tetapi aku sekali-kali tidak akan menggunakan hakku dan memaksamu menjadi isteriku.

Terserah kepadamu, sumoi, apakah kau hendak melanjutkan perjodohan kita atau tidak.

Tapi yang pasti, selain dengan engkau, selama hidup takkan ada wanita lain yang dapat menjadi isteriku!" Giok Ciu tunduk untuk beberapa lama, akhirnya ia dapat juga menjawab, "Suheng, kau memang seorng pemuda yang mulia.

Hal ini seharusnya telah kuketahui sejak dulu dan seharusnya memperkuat kepercayaanku.

Tapi memang aku gadis bodoh.

Bodoh, lemah, dan tolol, tepat seperti dikatakan oleh Li Lian dulu! Setelah segala kebodohan yang kulakukan, termasuk penghancuran tanda perjodohan yang kuterima darimu, rasanya tak mungkin aku ada muka untuk menjadi isterimu, suheng! Tentang cinta dan perasaan hatiku kepadamu.

Entahlah! Aku menjadi ragu-ragu sekali untuk memikirkan tentang ini setelah mendengar ucapan-ucapan Li Lian dulu itu.

Aku menjadi ragu-ragu apkah benar-benar ada cinta suci di dunia ini! Kalau kusesuaikan dengan ajaran suhu kepada kita tentang pemiliharaan tenaga rohani, aku menjadi ragu-ragu.

Aku.

Aku tidak berani berkata secara membuta membuat pengakuan bahwa aku aku cinta padamu, suheng.

Maafkan aku yang bodoh." Sin Wan tersenyum pahit dan memegang lengan sumoinya.

"Bagus, sumoi, memang seharusnya demikianlah sikap kita sebagai orangorang yang telah mendapat latihan suhu.

Kita harus beani menghadapi kenyataan, betapa pahit dan tidak enaknya kenyataan itu." Giok Ciu memandang Sin Wan dengan kasihan.

"Maafkan kalau aku menyakiti hatimu, suheng.

Aku juga tidak berani berkata bahwa aku tidak cinta kepadamu, karena percayalah bahwa selain dengan engkau, akupun tak mungkin kawin dengan seorang pemuda lain.

Post a Comment