Bahkan Sin Wan dan Giok Ciu yang mendengar pekik gila ini, merasa betapa dada mereka berdebar aneh dan keras! Pada saat Gak Bin Tong memandang kepada Li Lian dengan mata terbelalak takut dan tubuhnya lemas, sepasang pedang hitam dan putih itu meluncur cepat dan tahu-tahun telah menusuk dada Gak Bin Tong hingga tembus! Li Lian tertawa bergelak-gelak, tapi pada saat itu dari pintu di belakang Gak Bin Tong yang terbuka menyambar angin besar yang membuat tubuh Li Lian terlempar keras dan jatuh di pangkuan kakek jembel gila yang sedang melenggut.
Ketika kakek gila itu membuka matanya, ternyata muridnya telah meringkuk di atas pangkuannya dalam keadaan mati! Juga Sin Wan dan Giok Ciu terkejut sekali.
Mereka tahu bahwa Li Lian telah terkena pukulan dari jauh yang dilakukan oleh orang berilmu tinggi.
Mereka tidak berani sembarangan bergerak, hanya berlaku waspada dan hati-hati menjaga segala kemungkinan.
Jembel gila itu beberapa kali merasa jidat Li Lian.
Tiba-tiba ia meletakkan tubuh muridnya di atas lantai, lalu ia berdiri dan menangis! Suara tangisan ini diseling-seling suara tertawa yang terdengar sangat aneh dan membuat bulu tengkuk Sin Wan dan Giok Ciu meremang karena merasa ngeri.
Dan pada saat itu dari pintu di dekat tempat Gak Bin Tong berdiri, muncullah seorang tosu tua sekali dengan tubuh bongkok dan tongkat di tangan.
Ia memasuki ruangan itu dan kedua matanya yang tajam menyambar-nyambar.
Ia melihat betapa Cin Cin Hoatsu dan Kwi Kai Hoatsu rebah mandi darah dan mati di atas lantai, maka ia membuka mulutnya dan bertanya dengan suara kecil tinggi bagaikan suara kanak-kanak.
"Siapa orangnya yang berani membunuh kedua orang ini?" Tapi pada saat itu, lain suara terdengar, dan sungguh jauh bedanya dengan suara kakek bongkok tadi, karena suara ini terdengar besar,parau, dan bernada aneh dan janggal.
"Siapa orangnya yang berani membunuh muridku ini?" Kakek bongkok ini tujukan pandang matanya kepada si jembel gila yang berdiri di sudut lain.
Ia memandang heran dan bertanya, "Siapa pulakah orang gila ini?" tanyanya.
"He, siapa namamu dan ada apakah kau berada di sini?" Jembel gila itu balas memandang.
"Siapa aku, siapa namamu? Aku sendiri tidak tahu.
Aku adalah aku, dan mengapa aku berada di sini, entahlah.
Tapi siapa yang telah membunuh muridku ini? Kaukah, orang bongkok?" Si bongkok tersenyum.
"Ya, akulah yang melakukan itu.
Kau tidak mau memberitahukan nama, tapi aku tidak demikian pengecut.
Pinto adalah Beng Hoat Taisu dan kedua orang ini adalah muridmurid keponakanku.
Nah, sekarang jawablah, kau siapa orang gila?" Si jembel gila itu mendengar pengakuan ini maju perlahanlahan dan tertawa-tawa sambil menangis.
"Kau membunuh mati dia? Kalau begitu aku harus membunuhmu juga!" Beng Hoat Taisu tertawa kecil.
Ia belum pernah melihat orang ini dan belum pernah pula mendengar seorang tokok persilatan yang seperti orang gila ini, maka ia memandang rendah sekali.
Sebaliknya, ia berhati-hati terhadap Sin Wan dan Giok Ciu, karena kedua anak muda ini tampaknya memiliki kepandaian tinggi.
Maka ia lalu menujukan pertanyaannya kepada mereka, "He, orang-orang muda! Siapakah yang membunuh Cin Cin Hoatsu dan Kwi Kai Hoatsu?" "Aku yang membunuh mereka!" jawab Sin Wan dengan gagah.
"Bukan, akulah yang membunuh mereka!" kata Giok Ciu tak mau kalah.
Tiba-tiba terdengar gelak tawa si jembel gila dan dari tangannya menyambar seutas tali panjang yang meluncur cepat dan membelit gagang kedua pedang yang masih menancap di tubuh Gak Bin Tong yang telentang.
Sekali sendal saja, kedua pokiam itu tercabut keluar dan sendalan kedua membuat kedua pedang itu melayang ke arah Sin Wan dan Giok Ciu! Kedua pemuda pemudi itu segera mengulurkan tangan dan menyambut pedang mereka dengan girang dan kagum sekali.
Sebenarnya mereka tadi hendak mengambil pedang mereka dari tubuh Gak Bin Tong, tapi mereka kuatir kalau-kalau kakek bongkok yang lihai itu menyerang mereka.
Melihat kelihaian jembel gila itu, si kakek bongkok merasa heran sekali.
Ia lalu menjura dan sekali lagi bertanya, "Toheng siapakah sebenarnya nama dan julukanmu?" Si jembel kini telah maju dekat dan berdiri di hadapan Beng Hoat Taisu.
"Aku adalah aku dan mengapa kau bunuh mati muridku? Aku harus membunuh kau!" Marahlah Beng Hoat Taisu mendengar ini karena ia merasa dipandang rendah sekali.
"Orang gila, baiklah kuantar kau menyusul muridmu!" Baru saja kata-katanya habis diucapkan tiba-tiba tongkatnya bergerak dan cepat sekali meluncur ke arah dada si jembel gila merupakan totokan maut yang berbahaya sekali.
Sin Wan dan Giok Ciu terkejut sekali, tapi si jembel gila sambil mengeluarkan suara ketawa bergelak lalu bergerak dengan aneh dan tahu-tahu ia telah dapat berkelit dan talinya yang kecil panjang itu meluncur dalam serangan balasan! Beng Hoat Taisu tak berani memandang rendah serangan ini dan menangkis dengan tongkatnya.
Tapi tali itu bergerak bagaikan ular dan ujungnya dapat membelit tongkat itu lalu ditarik untuk merampas tongkat lawan.
Mereka berdua mengerahkan tenaga, tapi ternyata tenaga lweekang mereka sama kuat hingga tali dan tongkat itu masing-masing masih terpegang kencang, sama sekali tidak dapat terbetot! Si jembel gila tertawa keras dan talinya mengendur dan melepaskan belitan, lalu mereka bertempur pula.
Sin Wan dan Giok Ciu yang tahu bahwa jembel gila itu berdiri di fihak mereka, lalu maju membantu dngan pedang mereka di tangan.
Tapi mereka segera mundur kembali dengan kaget, karena sekali saja pedang mereka beradu dengan tongkat Beng Hoat Taisu, mereka merasakan tangan mereka linu dan lemas, tenaga mereka terpukul kembali oleh tenaga si bongkok yang benar-benar lihai dan memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari mereka.
Pada saat itu, terdengar seruan-seruan ramai dan ternyata dua puluh pengawal keraton kaisar yang tadinya tertotok tak berdaya oleh si jembel gila, kini berserabutan masuk dengan senjata di tangan mereka.
Mereka tadi telah tertolong oleh Beng Hoatsu Taisu yang baru saja datang, dan setelah mereka dapat bergerak kembali, lalu membawa senjata masing-masing dan maju menyerbu! Karena tidak tahu akan kelihaian si jembel, mereka sambil berteriak-teriak membantu Beng Hoat Taisu dan menyerang si jembel.
Tapi sekali saja si jembel gila itu menggerakkan talinya yang aneh, tali itu bersiutan nyaring dan empat orang roboh dengan kulit terbeset dan mengeluarkan darah karena kena di cambuk oleh ujung tali itu! Kini mereka mundur dengan jerih, lalu menujukan perhatian mereka kepada Sin Wan dan Giok Ciu.
Melihat kedua anak muda ini, ramailah mereka menyerbu hendak menangkap.
Sin Wan dan Giok Ciu memutar pedang mereka dan pertempuran hebat terjadi di dalam ruang gedung yang sangat luas itu.
Sementara itu, Beng Hoat Taisu dan si jembel gila telah lenyap dari pandangan mata.
Tubuh kedua orang tua aneh dan berilmu tinggi itu telah tertutup sama sekali oleh sinar kedua senjata mereka yang walaupun hanya tongkat biasa dan tali saja, namun kehebatannya jauh melebihi puluhan senjata tajam terbuat daripada baja tulen! Angin gerakan kedua kakek itu membuat kursi dan meja bergoyang-goyang dan menimbulkan suara berdesir-desir.
Karena tidak merasa puas dengan adu tongkat dan tambang, mereka lalu melempar kedua senjata itu ke lantai, dan mulai berhantam dengan menggunakan sepasang kaki dan tangan! Pertempuran dilanjutkan dengan lebih mati-matian.
Beng Hoat Taisu merasa penasaran dan heran sekali, karena selama hidupnya yang sudah lebih dari tujuh puluh tahun itu, belum pernah ia bertemu dengan seorang lawan yang demikian tangguhnya.
Mungkin tak lebih tangguh daripada Bu Beng Lojin yang pernah juga menjatuhkannya, tapi ilmu pukulan si jemb el ini sungguh-sungguh aneh sekali! Gerakan-gerakannya tak teratur sama sekali, pukulan-pukulannya ngawur belaka namun, tiap kali serangannya seperti akan mendatangkan hasil baik, tiba-tiba saja gerakan si jembel itu berubah dan tepat sekali dapat menangkisnya atau berkelit seakan-akan di seluruh bagian tubuh jembel itu ada matanya yang melihat datangnya bahaya! Juga, serangan-serangan ngawur yang dilancarkan oleh si jembel ini, sungguh-sungguh sukar diduga.
Kalau serangannya seperti yang tepat dan hampir berhasil, tiba-tiba jembel itu dan menarik kembali tangannya, sedangkan jika seranganya dapat ditangkis atau dikelit oleh Beng Hoat Taisu, tibatiba serangan yang gagal itu masih dapat dilanjutkan dengan serangan lain yang terlebih lihai dan aneh! Beng Hoat Taisu adalah seorang tosu kelas satu dari pegunungan Tibet dan ia telah terkenal sekali sebagai seorang jagoan kelas tertinggi dan sukar dicari bandingannya pada masa itu.
Hampir semua jago-jago silat di Tibet mapun di daratan Tiongkok, telah dicobanya dan belum pernah ia menderita kekalahan.
Paling buruk tentu bermain seri, yakni ketika ia melawan jago-jago dari seluruh Tiongkok Selatan dan jago-jago dari seluruh Mongol.
Baru tiga kali ia pernah benar-benar dikalahkan orang, yakni ketika bertemu dan melawan Bu Beng Lojin dan paling akhir ketika ia bertemu dengan Pai-san Sianjin dan Nam-hai Sianjin dua orang tokoh terbesar di Tiongkok timur.
Tapi ketiga orang inipun hanya menang sedikit saja darinya.
Ia mengira tadinya bahwa hanya tiga orang itulah yang memiliki kepandaian lebih tinggi darinya.
Tapi sungguh tidak dinyana, ini hari ia bertemu dengan seorang jembel gila yang memiliki kepandaian sungguh-sungguh istimewa dan aneh.
Pula, angin gerakan pukulan si jembel gila itu seperti mendatangkan hawa gila yang menyeramkan dan aneh, hingga seakanakan ia merasa seperti sedang bertempur melawan mahluk bukan manusia.
Ia takkan ragu-ragu untuk percaya jika dikatakan bahwa ia sedang bertempur melawan iblis sendiri1 Gerakan silat macam ini memang tak mungkin dicipta oleh manusia kecuali manusia iblis! Beng Hoat Taisu mengerahkan tenaga batin dan lweekangnya untuk menjatuhkan jembel gila itu tapi selalu tenaganya ini buyar dan terpukul oleh hawa aneh yang keluar dari pukulan-pukulan dan gerakan si jembel.