Halo!

Kisah Sepasang Naga Chapter 51

Memuat...

Ia merasa gemas sekali mengapa tanpa diduga sama sekali Sin Wan bisa datang di situ dan mengacau rencananya.

Tapi yang mengherankan sekali, mengapa dua pulih orang gagah yang beada di sekitar tempat itu tidak muncul-muncul? Ia ingin sekali meloncat naik dan melihat mereka, tapi kuatir kalau-kalau gerakan ini akan terlihat oleh Sin Wan dan Giok Ciu hingga menimbulkan kecurigaan, maka ia diam saja sambil berdiri bingung.

Sama sekali mereka tidak menduga bahwa dua puluh orang yang menjaga di sekeliling tempat itu, semuanya telah kaku karena tertotok oleh tangan yang luar biasa gerakannya! Dengan gerakan Pek-liong-ciau-hai atau Naga Putih Lintasi Laut, pedang Sin Wan akhirnya berhasil menusuk leher Kwi Kai Hoatsu yang berteriak keras dan roboh di atas lantai! Setelah berhasil merobohkan lawannya, tanpa banyak cakap lagi Sin Wan lalu menerjang Cin Cin Hoatsu yang masih bertempur seru melawan Giok Ciu.

Gadis itu merasa gemas sekali melihat Sin Wan ikut menyerbu, maka berkata marah, "Jangan mencampuri urusanku, biarkan aku membalas sendiri sakit hati ayahku!" Sin Wan menjawab, "Bukan hanya engkau yang menaruh dendam, aku juga ingin membalaskan sakit hati Kwie-suhu!" lalu ia menggerakkan pedangnya dengan hebat.

Giok Ciu kertak gigi dan perhebat serangannya karena ia tak ingin didahului oleh Sin Wan.

Kembali sepasang pedang pusaka itu seakan-akan berlumba memperebutkan pahala.

Cin Cin Hoatsu merasa takut sekali ketika tiba-tiba kedua lawannya yang masih muda itu lenyap dari pandangan matanya dan seakan-akan berubah menjadi dua sinar hitam putih yang bergulung-gulung menyerang dirinya, seakan-akan sepasang naga hitam dan naga putih yang mencakar-cakar dan menyambar-nyambar.

Imam yang sesat itu menjadi terdesak dan ia masih mencoba untuk menangkis dengan pedang dan kebutannya.

Dalam bingungnya ia teringat akan paman gurunya yang berjanji hendak dating.

Mengapa belum juga susioknya itu muncul? Ia berseru, "Susiok bantulah susiok" Tapi Sin Wan dan Giok Ciu tak memberi ketika kepadanya untuk berteriak-teriak terus, karena dengan gerakan mematikan kedua pokiam itu berbareng menyambar dan tahu-tahu telah menembusi dada musuh besar itu dari kanan kiri! Pedang dan kebutan Cin Cin Hoatsu terlepas dan tangan, tubuhnya kejang dan ketika dua pedang itu ditarik keluar, tubuhnya terhuyung dan akhirnya mandi darah! Giok Ciu yang masih merasa penasaran karena lagi-lagi Sin Wan telah memperlihatkan ketangkasannya hingga robohnya musuh besar inipun disebabkan oleh serangan mereka yang berbareng, segera maju dan mengayunkan pedangnya hingga putuslah kepala Cin Cin Hoatsu! Tapi Sin Wan setelah melihat betapa musuh besar itu dapat dibinasakan, kini menghampiri Gak Bin Tong yang berdiri dengan wajah pucat.

Sikap Sin Wan yang menakutkan itu membuat ia mundurmundur hingga sampai di tembok.

Giok Ciu berpaling dan kaget melihat sikap Sin Wan.

"Bangsat hina dina! Laki-laki rendah! Kalau belum membunuh engkau, aku takkan merasa puas!" terdengar Sin Wan berkata perlahan.

"Saudara Bun jangan jangan mengapa kau hendak membunuh.?" Gak Bin Tong merasa takut melihat wajah Sin Wan yang menyeramkan karena menahan marah dan gemasnya.

Tapi Sin Wan tak dapat banyak berkata lagi, dengan loncatan cepat ia mengayun Pek Liong Pokiam ke arah leher Gak Bin Tong yang mencoba menangkis dengan pedangnya.

Terdengar suara "trang!" keras sekali dan pedang pemuda she Gak itu putus menjadi dua potong! Ketika Sin Wan menyerang untuk kedua kalinya, tiba-tiba sinar hitam berkelebat dan tahu-tahu pedangnya telah tertangkis oleh pedang Giok Ciu! "Pengecut hina juga kau main bunuh saja orang yang lebih lemah! Lebih pantas kau bunuh dirimu sendiri, atau kau bunuh aku!" kata Giok Ciu.

Sin Wan balas memandang dengan marah.

"Hem, jadi kau juga telah kena tipuannya dan pikatnya? Bagus! Bertambahlah alasanku untuk membinasakan anjing ini!" Kembali ia menyerang Gak Bin Tong tanpa perdulikan Giok Ciu, tapi gadis itu yang merasa dipandang rendah sekali, lalu menggerakkan pedangnya menangkis lagi hingga sebentar saja mereka berdua lalu bergebrak seru sekali.

Tapi pada saat itu terdengar suara wanita yang nyaring dan merdu, dibarengi suara tertawa aneh, "Suhu, kau rampas pedang mereka!" Dari atas melayang turunlah tubuh seorang yang tinggi besar.

Tangan kiri orang itu memegang lengan tangan seorang wanita yang riap-riapan rambutnya.

Begitu turun, orang tinggi besar itu melepaskan tangan wanita itu, lalu ia maju cepat menghampiri Sin Wan dan Giok Ciu yang sedang bertempur.

Beberapa kali ia berloncatloncatan dan kedua tangannya bergerak secara aneh dan tahu-tahu Pek Liong Pokiam dan Ouw Liong Pokiam telah terampas olehnya! Sin Wan dan Giok Ciu terkejut sekali karena tengah mereka bertempur, tiba-tiba mereka melihat bayangan orang yang bergerak secara aneh di dekat mereka dan ada gerakan angina menyambar dan menyerang jalan-jalan darah mereka hingga mereka segera berkelit.

Tidak tahunya, tiba-tiba pedang mereka secara gaib telah terlepas dan terampas oleh bayangan itu.

Sungguh satu gerakan ilmu merampas senjata dengan tangan kosong yang hebat sekali! Orang itu tertawa bergelak-gelak dan angsurkan kedua pedang kepada wanita yang menyebutnya suhu.

Ketika Sin Wan dan Giok Ciu memandang, mereka terkejut sekali karena orang tinggi besar yang merampas pedang mereka itu ternyata bukan lain ialah si jembel gila yang dulu pernah menolong mereka.

Tapi lebih hebat kekagetan mereka ketika mereka lihat wanita muda yang menjadi murid si kakek gila itu, karena biarpun pakaiannya seperti orang gila dan rambutnya riap-riapan menutupi muka, mereka masih mengenali bahwa wanita itu bukan lain orang ialah Suma Li Lian adanya! Tak terasa lagi, dari mulut Sin Wan keluar seruan tertahan dan ia berbisik, "Suma-siocia engkau.?" Sementara itu, Gak Bin Tong yang tadinya berdiri mepet di tembok karena merasa takut kepada Sin Wan kini memandang Suma Li Lian dengan kedua mata terbelalak ngeri, juga ia memandang kakek tinggi besar itu dngan heran karena tidak tahu siapakah orang yang aneh dan luar biasa ini.

Suma Li Lian menerima kedua pedang Pek Liong dan Ouw Liong Pokiam di tangan kanan kiri dan memutar-mutar kedua senjata itu sedemikian rupa sehingga Sin Wan dan Giok Ciu tak terasa lagi saling pandang dengan bengong, karena gerakan-gerakan gadis itu adalah tipu-tipu silat Sin-liong Kiam-sut! Kemudian mereka merasa ngeri ketika mendengar gadis itu tertawa pula bergelak-gelak seperti suara ketawa kakek gila itu.

Suma Li Lain memandang kedua pedang itu berganti-ganti, lalu ia mendekati Sin Wan dan Giok Ciu.

Pandang mata gadis yang agaknya telah menjadi gila itu membuat Sin Wan dan Giok Ciu tak terasa pula mundur satu tindak kebelakang.

"Ha, ha, ha, kau kau.

orang! Orang-orang bodoh..

ha, ha, ha! Sin Wan, kau telah mengecewakan dan menghancurkan hati seseorang, tapi kau telah menerima balasanmu.

Kau juga dikecewakan, bukan? Ha, ha, ha! Itulah cinta! Cinta gila yang membuat orangorang menjadi gila pula! Kau cinta kepada Giok Ciu? Tentu saja, gadis itu cantic jelita.

Kalau Giok Ciu telah bercacad, telah menjadi gila seperti aku, masih akan cintakah kau padanya? Tak mungkin ha, ha inilah cinta!" Sin Wan memandangnya dengan muka menjadi merah.

Pemuda itu merasa kasihan sekali melihat betapa Li Lian menjadi demikian, tapi ia juga merasa heran betapa ucapan-ucapan gila itu menikam jantungnya seakan-akan ucapan itu mengandung filsafat yang nyata.

Kemudian gadis gila itu memandang kepada Giok Ciu.

"Kau..

ha, ha! Kau lebih gila lagi! Kau bodoh dan mudah tertipu.

Kau terlalu menurutkan perasaan hatimu, tidak mau menggunakan pertimbangan sehat! Kau mencinta Sin Wan? Bohong! Cintamu palsu.

Kalau betul mencinta mengapa sedikit rasa cemburu saja dapat merobah cintamu menjadi benci.

Itu bukan cinta! Kau mencinta diri sendiri! Giok Ciu kau gadis tolol.

Ha, ha,ha.." Dan Giok Ciu terbelalak heran.

Ia tidak tahu harus berbuat bagaimana.

Menurut rasa hatinya, ingin ia menyerang gadis ini dan merampas kembali pedangnya.

Tapi ia malu, karena baru saja gadis gila itu menyatakan bahwa ia terlampau menurutkan perasaan hatinya! Kemudian Suma Li Lian membalikkan tubuh dengan cepat sekali, dan dengan tindakan perlahan dan mengancam ia menghampri Gak Bin Tong! Pemuda itu melihat hal ini menjadi takut sekali dan tubuhnya bergemetar bagaikan api lilin besar yang berada di ruang itu dan pada saat itu tertiup angina.

Sementara itu, kakek tua gila itu menjatuhkan diri duduk dan menyandarkan diri di tembok, melenggut, dan sebentar lagi ia mendengkur! "Gak Bin Tong, manusia rendah! Bukan bukan manusia, kau binatang hina! Dosamu besar sekali dan kau lebih gila daripada segala yang gila! Kau telah menodaiku, menghancur-leburkan hidupku, tapi secara pengecut sekali kau telah melemparkan tanggung jawab perbuatanmu itu kepada Sin Wan! Kau tidak hanya merusak hidupku, tapi kaupun merusak perhubungan dan kebahagiaan sepasang kekasih itu! Ha, ha! Tahukah apa hukumannya karena kau telah menipuku dan berpura-pura menjadi Sin Wan lalu memasuki kamarku! Ha, ha! Lihatlah dua pedang ini.

Dengan pedang ini, aku hendak mengeluarkan jantungmu! Hendak kulihat apakah jantungmu berwarna hitam atau merah!" Sambil berkata demikian, ia maju makin dekat.

Terdengar seruan tertahan dari Giok Ciu, karena gadis ini ketika mendengar pengakuan dan keterangan Li Lian yang membuka rahasia persoalan menjadi demikian terkejut dan terharu hingga ia memekik perlahan dan menangis sambil menggunakan kedua tangan menutupi mukanya! Ia merasa malu, menyesal dan marah kepada Gak Bin Tong.

Ternyata Sin Wan benar-benar tak pernah melakukan perbuatan sesat sebagaimana yang dikiranya! Sin Wan tetap bersih, dan Gak Bin Tong pemuda jahanam itulah gara-gara semuanya.

Kini terbuka matanya betapa ia telah tertipu oleh pemuda muka putih itu, betapa pemuda itu sebenarnya adalah pengkhianat dan "pertolongan" yang diberikan padanya sekarang ini sebetulnya hanyalah sebuah perangkap untuk menangkap dan menjatuhkannya! Ah, betapa bodohnya, betapa tololnya.

Benar belakalah kata-kata Li Lian tadi yang mengatakan bahwa ia adalah seorang gadis bodoh dan tolol! Tapi, demikian pikirnya, setolol-tolol dia masih lebih tolol Suma Li Lian yang dapat terpedaya oleh Gak Bin Tong! Maka ia lalu membuka tangannya dan sambil menahan tangis ia melihat kepada gadis yang telah berada di hadapan Gak Bin Tong.

Pemuda muka putih itu dengan bibir gemetar berkata," Li Lian..

Li Lian.

ampunilah aku.

Biarlah aku menebus dosa-dosaku dan merawatmu baik-baik Li Lian, mana anakku..? Marilah kita mulai hidup baru lagi, kau ampunilah aku, Li Lian?" Terdengar pekik ngeri dari mulut Li Lian, seakan-akan katakata ini menusuk anak telinganya.

"Bangsat rendah! Jangan ulangi kata-kata palsu itu! Siapa yang sudi mendengarnya? Tahukah kau bahwa jika kuketahui kaulah orangnya yang menggangguku, pada saat itu juga aku lebih baik membunuh diriku? Siapa sudi dicinta olehmu? Cintamu kotor dan hina.

Rasakanlah sekarang pembalasanku!" Setelah berkata demikian, Li Lian maju menyerang dengan kedua pedang di kanan kiri, menyabet ke arah leher Gak Bin Tong.

Sebetulnya kepandaian Gak Bin Tong bukanlah lemah dan kalau baru Li Lian saja yang hanya belajar silat selama satu bulan, tak mungkin dapat melawannya, biarpun gadis itu menyakinkan ilmu silat yang mujijat.

Akan tetapi, pada saat itu Gak Bin Tong telah kehilangan tigaperempat bagian semangatnya yang membuatnya lemas da lambat.

Ia telah putus asa melihat ancaman-ancaman Sin Wan dan kini setelah rahasianya terbuka oleh Li Lian, tentu Giok Ciu takkan dapat mengampuninya pula.

Juga, selain tiga orang ini, masih ada lagi kakek gila yang duduk melenggut sambil mendengkur itu.

Ia maklum bahwa jembel itu tentu seorang sakti, karena ia dapat menduga bahwa dua puluh orang pahlawan yang kini tidak munculmuncul itu tentu telah dibuat tak berdaya oleh kakek jembel itu! Maka apakah harapannya untuk tinggal hidup? Keputus-harapan inilah membuat ia setengah hati untuk menahan serangan Li Lian yang biarpun lemah tapi telah mempelajari ilmu silat aneh.

Dengan mudah saja sambil menundukkan kepala, Gak Bin Tong dapat mengelit dua pedang yang menyambar di atas kepalanya, tapi pada saat itu Li Lian mengeluarkan teriakan demikian gila dan menyeramkan hingga seluruh tubuh Gak Bin Tong terasa lemas! Inilah lweekang luar biasa yang diajarkan oleh kakek gila itu, dan teriakan ini cukup untuk melumpuhkan seorang yang lweekangnya belum begitu tinggi.

Post a Comment