Kakek ini mempunyai kepandaian luar biasa, maka kalau ia menjadi muridnya dan mempunyai kepandaian tinggi, tak mungkin manusiamanusia macam Gak Bin Tong itu berani menghinanya.
Gakkk Bin Tong! Teringat akan nama ini, mata Suma Li Lian memancarkan cahaya kemarahan.
Kalau ia memiliki kepandaian tinggi, bahkan ia akan dapat membalas dendamnya kepada pemuda muka putih yang jahanam itu! "Muridku, sekarang juga kau harus mulai belajar!" kata kakek gila itu.
Ia lalu memutuskan sepotong tali dan gunakan itu untuk mengikat ujung celana Li Lian di bagian pergelangan kaki kiri, demikianpun dengan ujung celana di pergelangan kaki kanan muridnya.
Lalu ia pergi ke bawah pohon dan berjungkir balik dengan kepala di atas tanah dan kaki ke atas.
"Kau tiru ini, dan sandarkan kedua kakimua di batang pohon!" katanya kepada Li Lian.
Semenjak kecil memang Li Lian belum pernah belajar silat hingga ia sama sekali tidak tahu bagaimana cara orang bersilat, maka mendapat perintah demikian itu, dengan membuta ia turut dan taat.
Sebentar saja ia merasa kepalanya pening dan berdenyutdenyutan ketika ia berdiri degan kepala di bawah macam itu.
Kalau tidak ada batang pohon yang menahan tubuhnya, tentu sudah taditadi ia terguling! Tapi karena hati dan perasaan Li Lian telah dibikin kaku dan membatu oleh penderitaan batin yang dipikulnya, ia bulatkan kemauannya dan biarpun andaikata sampai matipun tak nanti ia menyerah dan mundur! Agaknya gurunya yang gila itupun maklum akan kekerasan hati muridnya, maka ia lalu membuka rahasia pelajaran mengatur napas dan latihan lweekang yang sangat luar biasa, karena di kalangan persilatan tidak ada latihan-latihan yang kesemuanya dilakukan secara aneh dan terbalik macam yang diajarkan oleh si gila ini.
Demikianlah, berhari-hari Suma Li Lian, gadis bangsawan yang sopan santun terpelajar, dan halus budi pekertinya itu, kini menjadi murid seorang gila yang sakti dan mempelajari ilmu-ilmu yang sakti yang mujijat sekali! Karena Li Lian telah mendapat pukulan batin yang hebat sehingga keadaannya boleh dikata tidak sewajarnya lagi, dan kini mendapat seorang orang guru yang gila pula, maka sikapnyapun makin tidak karuan dan ketidakacuhannya akan keadaan diri sendiri membuat ia lebih mendekati kegilaan! Latihan-latihan aneh dilakukan tiada hentinya di dalam sebuah hutan yang tak pernah dikunjungi manusia, dan mereka hanya berhenti berlatih apabila perut terasa lapar dan tak tertahan atau mata merasa ngantuk sekali.
Selain keperluan khusus yang tak dapat ditahan atau ditunda lagi, mereka siang malam terus berlatih matimatian! Kakek tua jembel yang berotak miring ini sebetulnya dahulu adalahseorang gagah yang berwatak berani, jujur, dan jantan.
Tapi karena tersesat seorang diri dalam sebuah gua siluman, ia mendapatkan ilmu mujijat yang penuh mengandung hawa siluman dan tanpa sadar mempelajarinya.
Ilmu yang dipelajarinya itu demikian mujijat hingga setelah keluar dari gua itu ia menjadi gila tapi memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa anehnya pula, karena gerakan-gerakannya demikian aneh, sesuai dengan orangnya yang menjadi gila! Pengalaman-pengalaman hebat di waktu mudanya, dapat diikut dalam cerita "Bu Beng Kiam-hiap" yang ramai.
Entah apakah yang menggerakkan jiwa empek gila itu untuk merasa sangat tertarik dan sayang kepada Suma Li Lian sehingga ia menerima gadis sengsara itu sebagai muridnya dan menurunkan ilmu mujijat yang dimilikinya kepada murid ini.
Setelah mereka berdua bersembunyi di dalam hutan itu selama sebulan lebih, maka si jembel gila lalu mengajak muridnya keluar untuk ikut dalam perantauannya yang tiada tentu tujuan itu.
Kecantikan Li Lian lenyap tertutup oleh kekotoran yang menutupi mukanya dan oleh rambutnya yang riap-riapan mengerikan.
Tapi sepasang matanya tetap bening dan jeli, hanya sepasang mata itu mengeluarkan sinar yang seakan-akan merasa jemu melihat segala yang berada di sekelilingnya.
Di sepanjang jalan tiada hentinya dan bosannya, Li Lian berlatih silat dan lweekang yang aneh-aneh.
Kita kembali kepada Giok Ciu, gadis jelita yang patah hati karena kecewa kepada Sin Wan kekasihnya.
Ia tetap menganggap bahwa pemuda itu telah terpikat oleh kecantikan Li Lian dan telah bermata gelap hingga melakukan perbuatan rendah, maka perasaan cintanya terhadap pemuda itu berubah benci sekali, benci bercampur kecewa dan memandang rendah.
Setelah berpisah dari Sin Wan pada malam itu, yakni sesudah berhasil membunuh Keng Kong Tosu bersama-sama dengan Sin Wan seakan-akan mereka sekali lagi berlumba dan tidak mau kalah dalam hal mengeluarkan kepandaian membasmi musuh-musuh mereka, Giok Ciu lari cepat di malam gelap.
Setelah keluar dari dusun itu dan memasuki sebuah hutan, ia melihat sebuah kelenteng kecil atau bio yang berdiri terpencil di pinggir jalan.
Bio tua itu tampak sunyi terpencil hingga menarik perhatian Giok Ciu.
Ia lalu masuk ke dalam bio itu.
Di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah patung Dewi Kwan Im yang sudah luntur catnya.
Melihat patung kecil itu berada di tempat terpencil dan sunyi, biarpun di dalam keadaan remang-remang dan gelap, namun Giok Ciu seakan-akan melihat betapa patung itu merasa kesunyian dan sengsara karena tiada kawan, sebatang kara di dunia ini, maka sedihlah rasa hatinya.
Ia lalu menangis dan mencurahkan semua kedukaan hatinya.
Di depan patung kecil itu sambil berlutut.
Sampai fajar menyingsing, gadis itu berlutut di depan patung Kwan Im.
Kemudian ia lalu duduk bersila dan menjalankan siulian untuk menenangkan pikiran dan istirahat.
Untuk beberapa lama ia bersamadhi, kemudian ia merasa seakanakan ada orang yang memandangnya, maka sadarlah ia lalu membuka mata.
Ternyata, seperti dulu ketika di puncak Kam-hong-san, tak jauh di depannya tampak Gak Bin Tong duduk pula memandangnya dengan sepasang mata yang sangat kagum dan tertarik.
Seketika itu juga naiklah warna merah di kedua pipi Giok Ciu dan ia lalu meloncat berdiri.
"Eh, kau lagi! Mau apa kau mengganggu aku?" bentaknya ambil mencabut pedangnya.
Tapi Gak Bin Tong buru-buru berdiri dan mengangkat kedua tangannya menyabarkannya.
"Maafkan aku, lihiap.
Aku tidak mempunyai maksud jahat terhadapmu, hal ini kau tahu dengan baik.
Kalau dulu-dulu aku pernah mengeluarkan kata-kata kurang ajar, maka lupakanlah itu dan aku mohon maaf sebesar-besarnya." "Jangan bicarakan lagi hal dulu-dulu!" Giok Ciu membentak pula, tapi ia agak sabar melihat sikap pemuda itu.
"Baiklah, lihiap.
Aku selalu ingin sekali bersahabat dengan engkau, sama sekali tak ingin menjadi lawan.
Bukankah dulu aku telah memperingatkan kau dari segala keburukan? Aku pernah mengatakan bahwa Li Lian dan Sin Wan.." "Tutup mulutmu! Sekali lagi kau menyebut hal mereka, terpaksa pedangku ini yang akan berbicara!" Gak Bin Tong tersenyum dan mengangkat kedua tangan memberi hormat.
"Maaf! Baiklah, aku takkan mengulangi hal itu.
Agaknya kau masih saja tidak percaya dan membenciku, lihiap, sungguh hal itu sangat kusesalkan, karena sebetulnya aku ingin menolongmu dalam segala hal." Giok Ciu menjadi tidak sabar.
"Sudahlah, katakan saja apa maksudmu mengikuti aku dan datang kesini mengganggu istirahatku?" Gak Bin Tong memperlihatkan muka terkejut."Aku tidak mengikutimu, lihiap.
Hanya kebetulan saja aku lewat disini.
Alangkah girang hatiku melihat kau berada dalam bio ini.
Aku.
aku mempunyai dugaan bahwa mungkin sekali kau akan mencari musuh besarmu, bukan? Nah, kalau betul dugaanku ini, agaknya aku akan dapat menolongmu." Tiba-tiba lenyaplah segala kegalakan Giok Ciu.
Wajahnya yang tadi muram kini tampak berseri dan penuh semangat,"Betulkah? Tahukah dimana tempat tinggal siluman itu? Beritahukanlah padaku!" Diam-diam Gak Bin Tong tersenyum.
Ia telah menggunakan senjata terampuh dalam menghadapi gadis ini.
"Begini, lihiap.
Aku sendiri pada saat sekarang ini tidak dapat menentukan di mana ia tinggal, tapi karena aku kenal semua tempat dan orang-orang di kota raja, mudah sekali bagiku untuk menyelidikinya.
Aku tanggung, jika kau ikut aku ke kotaraja, pasti dalam waktu beberapa hari saja aku akan memberi tahu padamu dimana tempat sembunyinya siluman tua itu!" Giok Ciu adalah seorang gadis yang biarpun memiliki kepandaian tinggi sekali namun masih hijau dan belum banyak mengenal kepalsuan dan kelicinan muslihat orang.
Mendengar kata-kata Gak Bin Tong ini, ia percaya penuh dan merasa bersyukur sekali.
Lenyaplah sebagian besar rasa tidak sukanya kepada pemuda muda putih yang tampan itu.
Ia lalu mengangkat kedua tangan di dada dan menjura.
"Saudara Gak, sungguh kau ternyata seorang sahabat yang baik.
Maafkan kelakuan kasarku yang sudah-sudah karena aku bercuriga kepadamu." "Sama-sama, Kwie Lihiap, akupun sebagai seorang muda tentu banyak kekhilapan, maka harap dari pihakmu juga yang banyak memaafkan segala kesalahanku yang sudah-sudah." Demikianlah, dengan kata-kata yang halus, sopan, dan manis, Gak Bin Tong memasang perangkapnya, dan Giok Ciu si dara muda yang masih bodoh ini bagaikan seekor lalat yang tanpa merasa mendekati jaring laba-laba yang berbahaya.
Namun, Giok Ciu yang mempunyai kepercayaan besar sekali kepada diri sendiri, sedikitpun tidak merasa betapa pemuda muka putih itu sedang memasang perangkap untuknya.
Hal ini sebenarnya dapaat terjadi demikian mudahnya karena sikap Giok Ciu yang memandang rendah kepada pemuda itu.
Ia menganggap bahwa betapapun juga, pemuda itu takkan berdaya menghadapinya dan ia tahu betul bahwa kepandaiannya masih jauh lebih tinggi hingga tak perlu berkuatir apa-apa.
Ia tidak tahu bahwa disamping kelihaian ilmu silat, masih ada kepandaian yang lebih hebat dan lebih berbahaya lagi, yakni tipu muslihat yang banyak digunakan orang untuk menjatuhkan lawan yang lihai dan tangguh! "Saudara Gak, menurut dugaanmu di manakah adanya Cin Cin Hoatsu pada waktu ini?" "Kalau tidak salah tentu ada di kota raja, tapi entah di gedung mana.
Kita harus berlaku hati-hati sekali, karena pada waktu ini di kota raja terdapat seorang yang sangat tangguh dan sakti, yakni Beng Hoat Taisu, seorang utusan dari Tibet yang masih paman guru dari Cin Cin Hoatsu sendiri.
Aku mendengar berita bahwa kepandaian taisu ini tinggi sekali, maka kau harus waspada dan berhati-hati lihiap." "Aku tidak takut, marilah kita berangkat mencari mereka!" Di dalam hatinya, Gak Bin Tong merasa girang sekali karena ternyata muslihatnya berhasil baik.
Ia telah dicap sebagai pengkhianat oleh para pengawal kota raja semenjak rahasianya dibuka oleh Suma Li Lian dulu itu hingga ia dikejar-kejar sampai di puncak Kam-hong-san.
Kini ia mendapat kesempatan untuk menebus kedosaannya.
Kalau saja ia dapat menjebak gadis pemberontak ini dan dapat menyerahkannya kepada Cin Cin Hoatsu, tentu ia akan mendapat muka terang dan mendapat jasa! Tentu saja Giok Ciu sedikitpun tak pernah menyangka akan apa yang terpikir di dalam kepala pemuda tampan muka putih ini.
Di sepanjang jalan dalam perjalanan mereka ke kota raja dan mencari tahu akan keadaan Cin Cin Hoatsu, Gak Bin Tong berlaku sopan santun dan baik hingga sedikit kecurigaan yang masih bersisa di dalam hati Giok Ciu dan membuatnya berlaku waspada terhadap pemuda itu, kini lenyap sama sekali, terganti kepercayaan besar.
Berhari-hari mereka melakukan perjalanan dan setelah masuk ke kota raja, Gak Bin Tong mengajaknya secara sembunyi-sembunyi tinggal di dalam sebuah rumah di pinggir kota.
Dari tempat itu, tiap malam mereka keluar melakukan penyelidikan.
Kadang-kadang mereka berpisah, untuk melakukan penyelidikan masing-masing.
Pada hari kelima setelah mereka berada di kota yang besar itu, Gak Bin Tong berkata dengan wajah girang setelah kembali dari penyelidikannya.
"Nah, terpeganglah sekarang olehku! Aku telah menemukan tempat tinggal siluman itu, lihiap!" Bukan main girang hati Giok Ciu mendengar ini.
Dengan wajah berseri-seri ia segera menanyakan di mana tempat itu.
"Kita harus berhati-hati, lihiap.
Sekali-kali tidak boleh berlaku lancang dan sembrono.
Cin Cin Hoatsu sendiri kepandaiannya tinggi, sedangkan aku belum tahu jelas siapa saja yang tinggal di gedung besar itu.
Mungkin Beng Hoat Taisu juga berada di situ pula, dan ini berbahaya sekali.
Lebih baik malam nanti kita berdua pergi menyelidiki ke sana dan kalau kiranya ada kesempatan baik, kita turun tangan!" Giok Ciu memandang wajah pemuda itu dan menghela napas.
"Saudara Gak, kau sungguh baik hati kepadaku.