Halo!

Kisah Sepasang Naga Chapter 46

Memuat...

Biarpun ilmu lari cepat dari tosu itu sudah cukup tinggi, tapi mana ia dapat melawan Sin Wan yang selain mendapat didikan seorang suci dan berilmu tinggi, juga lteha makan buah-buah mujijat yang membersihkan darahnya dan membuat tubuhnya menjadi ringan.

Lambat laun jarak antara mereka makin dekat.

Tapi, ketika Kwi Kai Hoatsu tiba di dalam sebuah hutan dan Sin Wan telah dekat benar dengannya, tiba-tiba tosu itu mengeluarkan sebuah benda dan membantingnya ke belakang.

Benda itu pecah dan mengeluarkan asap hitam tebal bergulung-gulung di belakangnya dan membuat ia lenyap dari pandangan mata pengejarnya.

Sin Wan merasa terkejut dan cepat ia membelokkan arah jalannya agar jangan sampai menerjang asap hitam itu karena ia menduga tentu asap itu adalah asap berbisa yang berbahaya.

Tapi, ternyata tosu itu telah dapat melenyapkan diri di belakang tabir asap itu karena tanpa diketahui oleh Sin Wan ke mana arah yang ditempuh imam itu.

Sin Wan merasa penasaran dan kecewa sekali mengapa tidak ia robohkan saja imam jahat itu tadi agar dapat ia paksa untuk mengaku dimana tempat tinggal Cin Cin Hoatsu.

Kini ia kehilangan pegangan dan tidak tahu harus mencari keman.

Tapi ia pikir bahwa keadaan Giok Ciu juga sama dengan dia sendiri yakni tidak mempunyai tujuan yang tetap dalam mencari musuh besarnya.

Maka besar kemungkinan gadis itu akan mencari di kota raja, karena di situlah pusat para pembatu kaisar berkumpul dan disitu pula akan dapat dicari keterangan tentang musuh besar itu.

Karena pikiran ini, maka Sin Wan segera menuju ke kota raja.

Pikiran Sin Wan yang berotak cerdas ini memang tidak keliru.

Giok Ciu dengan hati sedih dan kalbu hancur lari turun dari Kamhong-san.

Gadis itu berlari-lari sambil tiada hentinya menangis.

Kini ia tidak pedulikan segala apa dan tujuan hidupnya hanya satu, yakni mencari Cin Cin Hoatsu dan membunuh orang yang telah membunuh ayahnya itu.

Ia merasa bingung sekali karena tidak tahu harus mencari kemana, maka ia lalu menuju ke kotaraja, karena teringat bahwa selain dari tempat itu, agaknya sukar untuk mencari tahu tempat tinggal pendeta Tibet itu.

Karena sedihnya, ia tidak mau berhenti berlari dan lupa makan lupa tidur.

Setelah sehari semalam lari cepat tanpa berhenti sedikitpun, ia tiba di kota Anglen dan karena merasa kepalanya pening sekali dan tubuhnya panas, terpaksa ia mencari sebuah rumah penginapan dan minta sebuah kamar.

Begitu tutup pintu kamar dan merebahkan diri di atas pembaringan, ia jatuh pingsan.

Ternyata karena mendapat serangan dari dalam dan luar, gadis itu tidak kuat menahan lagi.

Dari dalam ia mendapat pukulan hebat sekali karena hatinya merasa hancur dikecewakan oleh kenyataan betapa Sin Wan, pemuda kekasihnya dan orang satu-satunya di dunia ini yang dicintanya dan dijadikan sandaran hidupnya telah mencemarkan kesucian ikatan jodoh mereka dan ternyata pemuda itu telah melakukan perbuatan yang hina dina dan yang tak mungkin dapat ia maafkan lagi.

Dari luar ia mendapat serangan penyakit panas yang tentu akan dapat dilawan oleh kekuatan tubuhnya kalau saja ia tidak memaksa tubuhnya berlari terus-menerus sehari semalam tanpa mengaso dan tanpa makan.

Akhirnya tubuhnya tak kuat bertahan lagi dan jatuh sakit! Setelah sadar dari pingsannya, Giok Ciu merasakan tubuhnya sangat lemah dan kepalanya pusing sekali.

Juga tubuhnya terasa panas seakan-akan ada api yang membakar tubuhnya dari dalam.

Ia maklum bahwa gangguan kesehatan ini terjadi karena kesalahannya sendiri, terjadi karena kacaunya keadaan hati dan pikirannya, juga karena ia tidak memperhatikan pemeliharaan tubuhnya.

Ia teringat betapa suhunya, Bu Beng Lojin yang sakti itu, pernah berkata demikian, "Alam telah mempunyai hukum-hukum tertentu dan siapa saaja yang tidak menyesuaikan dirinya dengan hukum alam, pasti akan mengalami bencana dan hukuman.

Siapa yang melanggar hukum alam, pasti akan terhukum dan menderita, sesuai dengan ketentuanketentuan hukum alam itu sendiri.

Sebagai contoh, sebuah daripada hukum-hukum alam itu ialah hukum kesehatan, misalnya ketentuan bahwa manusia harus makan pada saat tubuhnya membutuhkan makanan, harus beristirahat pada waktu tubh lelah dan membutuhkan istirahat.

Kalau kita paksakan diri dan melanggar ketentuan hukum ini, tak dapat tidak pasti akan menderita hukumannya, yakni mendapat sakti! Penyakit bukan datang dari luar, tapi terjadi karena pelanggaran hukum itu tadilah! Demikian pula dengan hukuman-hukuman yang lain, yang kesemuanya terjadi karena pelanggaran-pelanggaran hukum alam yang kita lakukan sendiri, bagaimana macamnya hukuman dan penderitaan itu.

Maka hati-hatilah menghadapi percobaan dalam hidupmu, karena sekali kau salah tindak, bukan orang lain yang akan menerima hukumannya tapi kau sendiri.

Inilah keadilan alam!" Mengingat akan semua nasihat-nasihat dan petuah-petuah suhunya yang sangat berharga, agak terobatlah luka di hati Giok Ciu.

Ia menjadi tenang, walaupun rasa bencinya kepada Sin Wan masih menghebat.

Ia lalu turun dari pembaringan dengan perlahan dan memanggil pelayan.

Ketika pelayan datang, ia minta dibelikan makanan dan makan dengan hati-hati, kemudian ia memerintahkan pelayan untuk membeli obat pelawan panas dan setelah merawat diri baik-baik dan membantu pekerjaan obat itu dengan bersamadhi dan mengatur napas, maka dua hari kemudian sembuhlah ia.

Setelah merasa sembuh betul, barulah ia melanjutkan perjalanannya.

Malam hari berikutnya ia bermalam di sebuah kota kecil, di dalam sebuah hotel.

Menjelang tengah malam, ia terjaga dari tidurnya oleh suara kaki orang yang dengan hati-hati sekali berjalan di atas hotel itu! Giok Ciu dengan telinga terlatih dan tajam, dapat menduga bahwa yang berjalan di atas genteng itu hanyalah seorang yang memiliki kepandaian yang tidak seberapa tinggi.

Namun tindakan orang itu cukup mencurigakan dan karena menduga akan terjadinya kejahatan, Giok Ciu segera berganti pakaian dan meloncat keluar dari jendela, terus melayang naik ke wuwungan rumah.

Ia melihat bayangan hitam meloncat dan berlari-lari di atas genteng rumah di depan maka ia segera mengejarnya.

Giok Ciu sengaja mengikuti orang itu untuk melihat apakah yang hendak dilakukan olehnya.

Ternyata setelah berputar-putar di atas rumah-rumah orang, bayangan hitam itu meloncat turun ke dalam sebuah rumah.

Giok Ciu cepat mengejar dan meloncat turun pula.

Ia melihat betapa bayangan hitam itu menggunakan goloknya membuka jendela sebuah kamar dan meloncat masuk.

Terdengar teriakan tertahan dan suara laki-laki yang kasar membentak, "Diam kalau tak ingin mampus!" Giok Ciu marah sekali karena teriakan itu adalah teriakan seorang wanita.

Ia dapat menduga bahwa bayangan hitam itu tentulah seorang penjahat.

Kalau bukan jai-hoat-cat atau Penjahat Pemetik Bunga, tentulah seorang pencuri atau perampok! Maka ia segera membentak dari luar jendela, "Bangsat hina yang berada di dalam kamar orang.

Ayo lekas kau keluar kalau tidak ingin kepalamu kutabas putus!" Dari dalam kamar terdengar seruan marah dan heran dan pada saat selanjutnya bayangan hitam itu meloncat keluar dari dalam kamar sambil memutar-mutarkan goloknya ketika melalui jendela agar jangan sampai disergap musuh.

Tapi Giok Ciu hanya tertawa menyindir sambil bertolak pinggang dan menanti di atas genteng.

Ketika penjahat itu telah berada di atas genteng, ia heran sekali melihat di bawah sinar bulan bahwa yang mengganggunya hanyalah seorang dara berpakaian serba hitam yang cantik sekali.

Dalam pakaiannya yang hitam itu, Giok Ciu tampak cantik dan gagah, sedangkan kulit muka dan kedua tangannya tampak putih sekali.

Bayangan hitam itu ternyata seorang laki-laki yang masih muda dan mempunyai sepasang mata bangsat yang liar.

Kini, menghadapi Giok Ciu, ia menyeringai dan berkata, "Aduh, nona yang cantik seperti bidadari! Apa kehendakmu maka kau memanggil aku kemari?" Giok Ciu marah sekali mendengar kata-kata orang ini mengandung kekurangjaran.

Ia berkata dingin,"Kau mencari celaka sendiri! Tadinya kusangka kau hanya seorang penjahat rendah yang patut dikasihani dan diberi ampun dengan menerima peringatan keras saja, tidak tahunya kau seorang yang lancang mulut pula! Untuk kelancanganmu ini, kau harus meninggalkan sebelah tanganmu!" Marahlah orang itu dan ia lalu menerjang dengan goloknya setelah berseru,"Bagus! Perlihatkan kepandainmu, nona cilik!" Tapi Giok Ciu dengan sekali sabet saja telah membuat golok penjahat itu terbabat putus, kemudian cepat bagaikan kilat Ouw liong Pokiam berkelebat dan ebelum kuasa menghilangkan kagetnya karena goloknya terbabat putus, tahu-tahu orang itu merasa tangan kirinya perih dan dingin.

Ketika ia melihat, ternyata tangannya sebelah kiri telah terpotong pula pada sebatas pergelangan tangan itu! Ia membelalakan mata dan lari sambil berteriak-teriak, "Aduh.

aduh tolong..

Post a Comment