Setelah semua anggauta berkumpul, kurang lebih seratus orang banyaknya, dan mereka bertanya-tanya mengapa pembantu ketua baru itu memukuli ken-tungan tanda bahaya.
Seng Bu menghenti-kan perbuatannya dan dengan napas ter-engah dia berkata, "Celaka, terjadi pem-bunuhan besar-besaran!" "Apa" Siapa yang dibunuh" Di mana" Apa yang terjadi?" pertanyaan-pertanya-an itu saling susul dengan gencar, dituju-kan kepada Seng Bu.
"Mari kalian semua ikut aku dan lihat sendiri!" katanya dan dia pun berlari keluar dari perkampungan, diikuti oleh semua anggauta.
Melihat pemuda itu lari menuju ke sumur tua yang merupakan tempat yang ditakuti dan dikeramatkan, para anggauta menjadi semakin heran, akan tetapi mereka mengikuti terus sam-pai akhirnya Seng Bu berhenti di dekat sumur tua yang tertutup semuk belukar.
"Nah, kalian lihat sendiri!" katanya sambil menunjuk ke arah tiga sosok ma-yat di atas tanah.
Ketika para angguta melihat tiga buah mayat itu, mula-mula mereka tidak mengenal, akan tetapi setelah mereka mengamati wajah-wajah menghitam itu dan mengenal mereka, tentu saja mereka menjadi gempar.
Ketua lama, ketua baru dan wakilnya telah mati dibunuh orang, mati dalam keadaan yang amat menyedih-kan, dengan seluruh tubuh menjadi ha-ngus! Segera terdengar jerit tangis dan keadaan menjadi amat gaduh, di samping pertanyaan yang dihujankan kepada Seng Bu.
"Ouw-sute, apa yang telah terjadi?" "Ouw-suheng, siapa pembunuh me-reka?" Demikian pertanyaan yang datang dari para suhengnya, sutenya atau suci-nya, juga para paman dan bibi gurunya.
Seng Bu mengangkat kedua tangan ke atas.
"Harap kalian suka tenang dulu.
Da-lam keadaan gaduh begini, bagaimana aku dapat bicara" Tenanglah, tenang dan hentikan lolong dan tangis itu!" Suaranya halus namun tegas dan mengandung ke-kuatan yang membuat semua orang me-nahan diri untuk tidak mengeluarkan suara agar dapat mendengarkan dengan jelas.
Setiap orang anggauta Thian-li-pang merasa marah, sedih dan ingin se-kali tahu apa yang telah terjadi.
"Tadi aku bangun pagi-pagi sekali dan berjalan-jalan, seperti sering kulakukan.
Ketika tiba di dekat tempat ini, aku melihat sesosok bayangan berlari cepat menuruni lereng.
Aku segera mengejar-nya karena curiga, akan tetapi aku hanya dapat mengenalnya dari jauh saja.
Pagi masih terlampau gelap dan dia meng-hilang di dalam hutan di kaki bukit itu.
Aku lalu kembali ke sini, untuk melihat mengapa orang itu datang ke sini dan aku menemukan Suhu, Suci dan Suheng telah menggeletak dan tak bernyawa lagi.
Aku lalu cepat turun dan memukul kentungan untuk memberitahu kepada kalian." "Tapi siapakah orang yang melarikan diri itu" Apakah dia pembunuh jahanam itu?" "Biarpun tidak melihat dia membunuh Suhu bertiga, akan tetapi aku yakin dia yang membunuh." "Siapa dia" Kau tadi mengatakan, mengenalnya dari jauh.
Siapakah pem-bunuh itu?" "Dia adalah....
Si Tangan Sakti Yo Han!" kata Seng Bu dengan suara tegas.
"Yo-taihiap....!" "Ah, tidak mungkin!" "Bagaimana dia yang mengangkat Lauw-pangcu menjadi ketua malah mem-bunuhnya?" "Aku tidak percaya!" Riuh rendah suara mereka yang me-nyanggah dan menentang keterangan Seng Bu.
Tak seorang pun di antara para anak buah Thian-li-pang percaya bahwa Yo Han yang melakukan pembunuhan ter-hadap tiga orang pimpinan Thian-li-pang itu.
Kembali Seng Bu mengangkat kedua tangan ke atas, minta agar semua orang tenang dan mendengarkannya.
Setelah semua orang diam, Seng Bu berkata, "Kalian percaya atau tidak, akan tetapi aku yakin bahwa Yo Han yang telah membunuh Suhu, Suci dan Suheng." "Tapi engkau tidak melihat dia de-ngan jelas!" Kini Thio Cu, seorang yang termasuk tokoh Thian-li-pang, masih adik sepergu-ruan Lauw Kang Hui walaupun tingkatnya kalah jauh, Thio Cu ini adalah seorang yang mewakili Thianli-pang ketika meng-hadiri pertemuan para tokoh di sarang Pao-beng-pai, dan dia memberi isyarat kepada semua orang untuk tidak mem-buat gaduh lagi.
"Ouw Seng Bu, bagaimana engkau dapat merasa yakin bahwa Yo-taihiap yang melakukan pembunuhan itu" Coba jelaskan alasanmu!" Seng Bu mengangguk.
"Begini, Thio-sausiok (paman guru Thio).
Kita semua mengetahui belaka bahwa Yo Han adalah murid mendiang kakek guru Ciu Lam Hok, bukan" Nah, kakek paman guru Ciu Lam Hok pernah dibuntungi dan dihukum ke dalam sumur tua oleh kedua kakek guru pendiri Thian-li-pang.
Oleh karena itu, sudah sepantasnya kalau kini kita mencurigai Yo Han.
Dia tentu menden-dam kepada Thian-li-pang dan kini dia datang membunuh para pimpinannya." Semua orang terdiam, akan tetapi Thio Cu mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepalanya.
"Alasan itu kurang kuat.
Kalau memang dia mendendam kepada Thian-li-pang kenapa tidak dari dulu dia membasmi Thian-li-pang" Dia bahkan menunjuk suhu Lauwpangcu men-jadi ketua.
Tidak, Seng Bu.
Itu bukan merupakan bukti bahwa pembunuhnya adalah Yo-taihiap." Mendengar ucapan Thio Cu ini, para anggauta Thian-li-pang menyatakan per-setujuan mereka.
"Kalau minta bukti bahwa pembunuh-nya adalah Yo Han" Lihat saja keadaan tiga mayat itu.
Tubuh mereka hangus, jelas akibat pukulan beracun yang amat hebat.
Aku yakin bahwa itu hanyalah dapat dilakukan oleh orang yang telah menguasai Bu-kek Hoat-keng dan ilmu itu, seperti kita telah mendengarnya, dikuasai oleh Yo Han ketika dia belajar di dalam sumur.
Bukti itu sudah amat kuat.
Yo Han yang membunuh Suhu, Suci dan Su-heng.
Dan aku yang kelak akan mem-balaskan sakit hati ini!" "Hemmm, Ouw Seng Bu, jangan te-kebur kau! Andaikata benar, pembunuhnya adalah Yotaihlap, jelas bahwa mereka bertiga ini saja tidak mampu mengalah-kan Yo-taihiap, apalagi engkau! Pula, tidak ada yang dapat membuktikan bah-wa mereka ini tewas karena pukulan Bu-kek Hoat-keng yang dilakuksn oleh Yo--taihiap." "Thio-suciok, lupakah engkau bahwa aku adalah pembantu ketua baru, men-diang Lu-suci" Setelah Lu-suci dan Lauw--suheng sebagai ketua dan wakilnya di Thian-li-pang tewas, maka aku sebagai pimpinan ke tiga, berhak untuk meng-gantikan mereka menjadi pemimpin Thianli-pang! Nah, dengan demikian, akulah orangnya yang berhak untuk menyelidiki urusan pembunuhan ini." Thio Cu mengerutkan alisnya.
"Tidak, urusan ini terlalu besar! Pembunuhan ini harus dibongkar! Dan tentang pemilihan ketua baru, sebaiknya kalau kita menunggu munculnya Yo-taihiap agar dia yang mengadakan pemilihan ketua baru!" "Thio-susiok, aku telah dipilih Suhu untuk menjadi orang ke tiga di Thian--li-pang, dan engkau berani memandang rendah kepadaku" Sekarang begini saja.
Siapa di antara para anggauta Thian--li-pang yang menyetujui pendapat susiok Thio Cu, silakan berdiri di belakangnya! Yang menganggap aku sebagai pimpinan Thian-li-pang sehubungan dengan kemati-an Suhu, Suci dari Suheng, harap jangan mendekati mereka!" Ada lima orang yang kini berdiri di belakang Thio Cu.
Mereka adalah orang--orang yang masih disebut paman guru oleh Seng Bu.
Tentu karena mereka me-rasa lebih tua dan lebih tinggi kedudukan-nya sebagai anggauta Thian-li-pang, me-reka berpihak kepada Thio Cu.
Kini enam orang itu, dipimpin oleh Thio Cu, ber-diri berhadapan dengan Seng Bu.
Melihat sikap mereka yang menantang, Seng Bu tiba-tiba tertawa dan semua orang ter-kejut.
Suara tawa itu amat menyeram-kan, dan kini mereka melihat betapa mata pemuda itu mencorong aneh, senyumnya dingin mengerikan.
"Paman Thio Cu dan lima Paman lain, kalian berenam tetap tidak per-caya bahwa Yo Han yang membunuh Suhu, Suci dan Suheng" Tidak percaya bahwa ilmu pukulan Bu-kek Hoatkeng yang telah dipergunakan Yo Han mem-bunuh mereka?" "Kami tidak percaya karena tidak ada buktinya.
Siapa dapat membuktikan tu-duhanmu itu?" tanya Thio Cu.
"Akulah orangnya yang dapat mem-buktikannya! Aku menguasai ilmu itu, bukan hanya Yo Han, maka aku yakin benar bahwa Yo Han menggunakan ilmu Bu-kek Hoat-keng untuk membunuh me-reka bertiga!" Tentu saja ucapan ini mengejutkan dan mengherankan semua orang.
Thio Cu dan kawankawannya mengerutkan alis-nya, memandang aneh kepada Seng Bu, menyangka bahwa pemuda itu telah men-jadi gila.
"Ouw Seng Bu, jangan engkau bicara yang bukan-bukan.
Siapa dapat mempercayai omonganmu yang seperti orang gila itu?" Kembali Beng Bu tertawa dan kini dia menoleh ke arah semua anggauta Thian--li-pang.
"Kalian semua lihat baik-baik.
Thio Cu dan lima orang ini tetap tidak percaya.
Biarlah mereka membuktikan sendiri dan kalian menjadi saksi.
Aku akan mempergunakan Bu-kek Hoat-keng kepada mereka seperti yang dilakukan Yo Han kepada Suhu, Suci dan Suheng, dan kalian nanti lihat akibatnya!" "Seng Bu, apakah engkau sudah gila?" Thio Cu berseru lagi.
"Kalian berenam, bersiaplah untuk membuktikan kebenaran tuduhanku!" Tiba--tiba pemuda itu mengeluarkan suara melengking yang amat menyeramkan, seperti suara iblis dari neraka atau seekor binatang buas sedang menderita hebat, tubuhnya bergerak ke depan secara aneh, kedua tangannya bergerak seperti orang mabuk.
Thio Cu dan lima orang saudara-nya yang mengira Seng Bu telah men-jadi gila, cepat bersiap siaga untuk me-nangkap dan menundukkan murid ke-ponakan yang mendadak menjadi gila itu.
Akan tetapi, dapat dibayangkan be-tapa kaget perasaan hati mereka ketika mereka dilanda angin topan yang dasyat.
Mereka sudah berusaha menangkis, namun semua tangkisan sia-sia belaka, lengan mereka seperti lumpuh dan enam orang itu terkena tamparan tangan kiri Seng Bu pada dada mereka.
Bagaikan daun--daun kering dihembus angin badai, tubuh mereka terlempar dan terjengkang, roboh malang-melintang, berkelojotan dan te-was! Dan yang membuat semua anggauta Thian-li-pang terbelalak dan memandang ngeri adalah ketika mereka melihat be-tapa wajah dan tubuh enam orang itu menjadi kehitaman dan hangus! Seng Bu telah biasa kembali.
Kini dengan penuh wibawa dia berdiri bertolak pinggang, menghadapi semua anggauta Thian-li-pang dan suaranya terdengar halus namun penuh wibawa.
"Ada lagi di antara kalian yang tidak percaya kepada-ku bahwa pembunuh Suhu, Suheng dan Suci adalah Yo Han" Dan apakah ada lagi yang tidak setuju kalau aku mulai saat ini menjadi ketua Thian-li-pang dan memimpin kalian?" Tidak ada seorang pun berani men-jawab.
Peristiwa itu terlampau hebat dan semua orang masih tertegun, seperti patung.