Ji Ban To dan Gak Su tersipu malu, wajah mereka menjadi kemerahan, apalagi ketika para hadirin menahan tawa dan tersenyum simpul melihat kegenitan mereka tadi. Lebih mendongkol lagi ketika dengan tangannya, Lui Seng Cu menyuruh mereka berempat pergi meninggalkan pemuda dan gadis yang kini telentang di atas pembaringan dengan telanjang bulat itu.
Lui Seng Cu menghampiri dua orang calon korban, memeriksa di bawah penerangan lilin dan dia mengangguk- angguk. "Bagus, pilihan dua orang muridku memang tepat. Mereka mulus dan bersih, masih suci. Akan tetapi, tubuh mereka perlu disucikan dan dibersihkan lengan air bunga suci, baru mereka akan diterima dengan gembira oleh yang mulia Thian-te Kwi-ong!"
Kini Lui Seng Cu lalu membakar seikat dupa biting, lalu melakukan sembahyangan di depan meja sembahyang mana terdapat sebuah arca batu yang menyeramkan. Arca itu melukiskan si orang pria yang wajahnya seperti singa, matanya melotot dan mulutnya menyeringai, tubuhnya kokoh kuat. Tinggi arca itu hanya dua kaki, namun nampak menyeramkan sekali. Setelah bersembahyang, Lui Seng Cu membawa seikat dupa biting itu ke dekat pembaringan, menghembus asap yang keluar dari dupa itu ke arah muka dan tubuh kedua orang muda yang telentang di atas pembaringan. Dia lalu menancapkan seikat dupa it di atas meja dan ruangan itu pun kin penuh dengan asap yang baunya harum akan tetapi juga mengerikan. Agaknya dupa itu pun bukan dupa harum biasa, melainkan dupa istimewa dan khas dibuat untuk upacara ini. Kemudian d ambilnya sebuah tempayan air dan kembang-kembang bermacam-macam, kemudian dengan sikap seperti orang suci, Lui Seng Cu mendekati pembaringan dan mulai mencuci tubuh perjaka dan perawan itu dengan air kembang. Para pemuda yang berada di situ, kecuali Siangkoan Tek, memandang dengan jakun naik turun melihat betapa tangan kanan Hok-houw Toa-to itu mencuci dan mengusap seperti membelai tubuh dara itul Akan tetapi, Lui Seng Cu sebagai seorang pemuja yang sudah lama dan percaya, sama sekali tidak terangsang ketika melakukan pemandian itu.
Setelah pemandian selesai dilakukan, dua orang yang akan menjadi korban itu bergerak, bahkan gadis itu mengeluarkan jerit tertahan dan menangis. Melihat ini, teringatlah Lui Seng Cu bahwa mereka tentu sudah terbebas dari pengaruh totokan, maka cepat dia pun menghampiri mereka dan dua kali tangannya bergerak, perjaka dan perawan itu sudah lumpuh kembali.
Kemudian, dengan lagak dan sikap seperti seorang pendeta agung Lui Seng Cu berdiri tegak, lalu mengambil ikatan dupa yang masih membara, dan menggerakkannya di atas mukanya yang tengadah. Abu yang berada di ujung ikatan hio itu terjatuh ke atas mukanya. Ketika dia mengembalikan ikatan hio itu, mukanya kini menjadi coreng moreng dengan abu hio, dan dengan tangan kirinya dia mengusap mukanya, bukan untuk menghapus abu, melainkan untuk meratakannya!
Tiba-tiba tubuhnya terhuyung lalu dia jatuh terduduk, tubuh itu menggelepar seperti ayam disembelih, kaki tangannya kejang-kejang dan menggelepar, matanya mendelik lidahnya keluar. Dua orang muridnya nampak tenang saja maka para tamu yang hadir juga diam saja hanya mengamati dengan bulu tengkuk meremang. Mereka tadi telah diberitahu oleh Lui Seng Cu bahwa dari upacara itu, akan ada "setan pembantu” dari Thian-te Kwi-ong memasuki dirinya dan kalau dia melakukan hal-hal yang aneh, diharapkan para hadirin tidak menjadi kaget karena yang melakukan itu adalah roh atau setan pembantu yang memasuki dirinya. Kini semua orang mengamatinya, ada yang percaya dan ada pula yang setengah-setengah, ada pun yang belum percaya sehingga mereka ini tersenyum mengejek, menganggap bahwa Lui Seng Cu hanya berpura-pura dan berlagak saja untuk mendatangkan kesan. Akan tetapi, Ban-tok Mo-Ii sudah percaya betul karena sebelum ini, Hok-houw Toa-to sudah membuktikan bahwa dia memang memiliki kekuatan gaib yang didapatnya dari Thian-te Kwi-ong! Sebelum menyatakan diri ingin masuk menjadi anggauta atau anak buah atau murid Thian-te Kwi-ong, lebih dahulu Ban-tok Mo-Ii menguji Lui Seng Cu.
Di dalam ruangan ini pula, beberapa hari lalu, mereka berdua duduk berhadapan dalam jarak empat meter. Ban-tok Mo-Ii yakin bahwa ilmu silatnya, ilmu gin-kang maupun kekuatan sin-kang-nya, masih lebih tinggi dan lebih kuat dibandingkan Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu. Akan tetapi ketika ia menguji orang itu, yang lebih dulu membiarkan dirinya "kemasukan" Thian-te Kwi-ong, sebelum menyentuh tubuh Lui Seng Cu, ia berkali-kali terpelanting, kemudian bahkan ia tidak mampu bergerak dari tempat duduknya! Lui Seng Cu lalu memberitahu bahwa itu hanya satu di antara kesaktian Thian-te Kwi-ong! Murid yang tekun akan menjadi sakti, kaya raya, dan juga panjang umur sampai lebih seratus tahun! Inilah sebabnya, ketika melihat Lui Seng Cu menggelepar di depan meja sembahyang, Ban-tok Mo-li tidak merasa heran, juga ia percaya sepenuhnya bahwa orang itu sedang mulai kemasukan roh halus atau setan pembantu seperti yang telah diceritakan sebelumnya.
Kini Lui Seng Cu tidak menggelepar lagi, menjadi tenang dan berlutut di depan meja sembahyang, menghadap ke arca Thian-te Kwi-ong dan menyembah sampai tiga belas kali, mengeluarkan suara mengaum seperti harimau. Kemudian bangkit berdiri, mukanya masih coreng moreng terkena abu, matanya mendelik dan berdirinya tegak lurus dan nampak seolah-olah tubuhnya lebih jangkung daripada tadi. Lalu dia memutar tubuh menghadap ke arah Ban-tok Mo-li, lalu terdengar suaranya lantang sekali, terdengar bergetar biarpun agak parau.
"Phang Bi Cu, Ong-ya memanggil engkau untuk menghadap ke sini, sekarang juga!"
Semua orang terkejut. Nama besar Ban-tok Mo-li, siapakah yang tidak tahu? Akan tetapi nama kecilnya, Phang Bi Cu jarang ada yang tahu dan mereka yang tahu pun tidak berani mempergunakannya. Kini, Lui Seng Cu yang kemasukan iblis itu menyebut nama kecilnya begitu saja seolah-olah memanggil seorang pelayan atau seorang anak kecil! Kalau orang lain berani memanggilnya seperti itu, tentu sekali menggerakkan tangannya, Ban-tok Mo-li akan membunuhnya! Akan tetapi sekali ini, Ban-tok Mo-li sama sekali tidak menjadi marah, bahkan ia lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Ong-ya, saya datang menghadap!" Dan wanita yang dikenal sebagai Iblis Betina itu melangkah dengan lambat, lengan lenggang lemah gemulai penuh gairah, menuju ke meja sembahyang lalu nenjatuhkan diri berlutut di depan meja sembahyang, menghadap patung Thian-te Kwi-ong.
"Phang Bi Cu, kami mewakili Thian-te Kwi-ong bertanya kepadamu agar kamu menjawab dengan sejujurnya!" kembali terdengar suara parau Lui Seng Cu yang masih berdiri tegak. "Dengarkan baik-baik!"
"Saya mendengarkan dan akan menjawab sejujurnya," kata Ban-tok Mo-li dengan perasaan aneh karena selama hidupnya belum pernah ia berjanji untuk menjawab dengan jujur! Selama ini kejujuran dianggapnya suatu kelemahan dan kebodohan, tanda dari hati yang takut Akan tetapi sekali ini ia berjanji untuk menjawab dengan jujur. Mungkin karena takut di dalam hatinya terhadap kekuasaan Thian-te Kwi-ong, atau karena ada harapan di lubuk hatinya agar mendapatkan berkah, terutama sekali umur panjang?
"Phang Bi Cu, benarkah engkau ingin menghambakan diri kepada Thian-te Kw ong-ya?"
"Benar."
"Dan engkau siap untuk menghaturkan korban suci kepada Ong-ya?"
"Saya sanggup dengan senang hati." "Apakah korban sudah disediakan?" "Sudah disediakan dan siap dikorbankan."