Halo!

Si Tangan Halilintar Chapter 84

Memuat...

Dua hari kemudian dia mendengar berita bahwa di kota Kian-si terjadi pembunuhan atas diri seorang pembesar Mancu. Mendengar ini Siauw Beng segera menuju ke kota itu dan menjelang tengah hari dia memasuki pintu gerbang kota Kian-ci. Dia tidak mau bermalam di dalam kota karena keadaannya mungkin akan menarik perhatian orang. Dia memasuki pintu gerbang hanya untuk membeli makanan. Setelah membeli makanan dia membawa itu keluar dari kota. Dia makan di sebuah gubuk yang berada di sawah. Gubuk itu tentu milik petani yang menggunakannya sebagai tempat mengaso setelah lelah bekerja.

Sama sekali dia tidak mengira bahwa kehadirannya yang hanya sebentar di pinggir kota Kian-si untuk membeli makanan itu, yang nampaknya tidak menarik perhatian orang, ternyata telah diawasi beberapa pasang mata dengan penuh perhatian yang mengikuti semua gerak-geriknya.

Setelah dia hampir selesai makan, tiba-tiba saja dia melihat bahwa tempat itu telah di kepung belasan orang. Siauw Beng menghentikan makannya dan keluar dari gubuk, berdiri tegak dan memandang ke sekeliling dari bawah capingnya yang lebar. Diam-diam dia terkejut bukan main melihat bahwa yang mengepungnya itu adalah tujuh orang Kang- lam Jit-hiap yang tempo hari mengeroyok dia dan Ai Yin. Akan tetapi yang lebih baik mengejutkan lagi adalah ketika dia melihat empat orang yang lain, yang bukan lain adalah Ciang Hu Seng, Bhe Kam, Lee Bun dan Song Cin, empat orang dari Ciong-yang Ngo- taihiap bersama keponakannya mereka, putera kedua dari mendiang Song Kui ! Akan tetapi orang yang dulu membuntungi lengan kirinya, bahkan yang telah memperkosa Mayani, yaitu Song Cun, Kakak Song Cin itu, tidak tampak. Sebelas orang itu agaknya sudah sejak tadi membayanginya dan kini mereka mengepung dengan senjata di tangan dan wajah bengis membayangkan kemarahan besar!.

Berdebar juga rasa jantung Siauw Beng. Bukan karena takut, melainkan karena merasa tidak enak. Sebelas orang itu adalah pendekar-pendekar yang gagah perkasa. Tentu saja dia tidak ingin melukai mereka. Akan tetapi untuk melarikan diri begitu saja agaknya juga amat sukar. Maka, dia lalu mengangkat tangan kiri, dimiringkan depan dada sambil membungkuk sedikit sebagai tanda penghormatan. "Kalau saya tidak salah duga, cuwi (anda sekalian) mencari saya? Sadarlah bahwa cuwi telah salah sangka. Bukan saya pelaku kejahatan yang mengaku berjuluk Si Tangan Halilintar itu!”.

"Keparat busuk, engkau telah memperkosa dan membunuh seorang murid wanita kami! Engkau harus menebusnya dengan nyawamu untuk membuat perhitungan dengannya di alam baka!” bentak orang pertama dari Kang-lam Jit-hiap yang bermata sipit, berwajah pucat dengan jenggot panjang sambil mengelebatkan pedangnya.

"Lauw Beng, manusia terkutuk kau ! Engkau telah merusak kehidupan puteriku!” bentak Bhe Kam dengan muka berubah merah.

"Engkau harus mencuci aib yang kau lemparkan kepada Cen-moi tunanganku dengan darahmu!” Song Cin juga membentak marah.

Siauw Beng terkejut. Dia mengetahui bahwa Bhe Kam mempunyai seorang puteri dan agaknya puterinya itu, yang menjadi tunangan Song Cin, juga menjadi korban penjahat itu. Dalam hatinya dia mengutuk penjahat itu.

"Cu-wi, saya bersumpah tidak melakukan semua itu!” katanya tenang.

"Huh, tidak ada maling mengakui perbuatannya!” kata pemimpin Kang-lam Jit-hiap.

"Engkau bahkan membunuh murid Siauw-lim-pai dan puterinya!” kata Ciang Hu Seng.” Lauw Beng, menyerahlah saja untuk kami bawa ke Siauw-lim-pai menerima pengadilan!”.

"Sungguh, saya tidak bersalah”, kata Siauw Beng.” Bagaimana saya harus menyerah? Saya tidak melakukan semua kejahatan itu!”.

Kang-lam Jit-kiam sudah mengatur Jit-seng-kiam-tin (Barisan Pedang Tujuh Bintang) dan empat orang dari Liong-san juga sudah siap dengan pedang mereka. Siauw Beng memandang dan dia tahu betapa dia kini dikepung lawan-lawan yang amat tangguh. Tak mungkin dia melawan mereka dengan sebelah tangan yang kosong. Terpaksa dia mencabut Lui-kong Sin-kiam (Pedang Sakti Halilintar) yang tadinya dipakai sebagai ikat pinggangnya. Dia harus menggunakan pedang itu untuk melindungi dirinya.

"Maafkan, saya sungguh tidak ingin berkelahi dan bermusuhan dengan cuwi”, katanya.” Kalau tidak ingin berkelahi, menyerahlah!” Ciang Hu Seng membentak. "Saya tidak mungkin menyerah karena saya tidak merasa bersalah”.

"Lihat pedang!” bentak orang pertama dari Kang-lam Jit-kiam dan barisan pedang tujuh bintang itu sudah bergerak menyerang secara sambung menyambung dan saling melindungi. Gerakan mereka mantap dan kuat, juga teratur rapi sekali. Siauw Beng menggerakkan pedangnya, di putar cepat melindungi dirinya dan tampaklah sinar pedang menyambar-nyambar seperti kilat, bergulung-gulung membentuk lingkaran sinar yang menutupi tubuhnya dari semua serangan. Terdengar bunyi dentang dan dencing logam di susul muncratnya bunga api berpijar-pijar. Kini tiga orang pendekar Ciang-yang itu menerjang dengan gerakan pedang mereka yang cepat dan kuat, di ikuti pedang di tangan Song Cin yang juga menyerang dengan pengerahan tenaga sekuatnya karena pemuda ini membalaskan dendam penghinaan yang menimpa diri tunangannya.

Setelah puluhan jurus telah lewat, Siauw Beng merasa repot. Mana mungkin berkelahi hanya menangkis terus? Dikeroyok sebelas orang yang memiliki ilmu pedang tinggi lagi, apa pula barisan pedang itu sungguh amat berbahaya. Kalau saja dia mau menggunakan pedangnya untuk balas menyerang, mungkin dia dapat merobohkan satu dua orang sehingga makin meringankan pengeroyokan itu. Akan tetapi dia tidak mau melakukan hal ini. Dia maklum bahwa sebelas orang itu adalah pendekar-pendekar dan mereka semua tidak bersalah karena agaknya mereka yakin benar bahwa dia telah melakukan semua perbuatan jahat yang terkutuk itu.

Dia mulai mencari kesempatan untuk melarikan diri. Kalau aku membiarkan terluka, mungkin hal ini mengendurkan desakan mereka dan membuka kesempatan baginya untuk melarikan diri, pikirnya. Setelah membuat perhitungan masak-masak, tiba-tiba setelah lingkaran sinar pedangnya dapat menangkis dan membuat semua pedang para pengeroyok terpental, Siauw Beng membuat dirinya terpeleset dan sengaja membuka pundak kirinya agar dapat dimasukiserangan lawan. Para pengeroyok yang rata-rata ahli pedang itu melihat kesempatan ini, maka secepat kilat Ciang Hu Seng menusukkan pedangnya kea rah pundak kanan Siauw Beng itu.

"Tranggg ….!” Pedang Ciang Hu Seng terpental seperti di tangkis benda yang keras dan kuat sekali. Ternyata yang menangkisnya itu adalah sebuah batu sebesar kepalan tangan yang dilontarkan orang, menangkis pedang yang nyaris melukai pundak Siauw Beng. Ciang Hu Seng terkejut dan melompat ke belakang. Akan tetapi pada saat itu, terjadi hujan batu yang paling besar hanya sekepalan tangan. Akan tetapi batu-batu itu meluncur dengan cepat dan kuat sekali.

Terdengar suara berkerontangan dan semua pedang dihantam batu sehingga hampir terlepas dari tangan pemegangnya. Kemudian ada batu-batu sebesar ibu jari kaki meluncur dan mengenai tubuh sebelas orang itu. Semua tepat mengenai jalan darah sehingga mereka semua tergetar kesemutan hampir lumpuh. Selagi sebelas orang itu mengaduh dan berlompatan dengan terhuyung terdengar suara nyaring.

"Orang-orang tak tahu diri! Pantaskah kalian disebut pendekar-pendekar sejati kalau mengeroyok seorang seperti ini? Dan kalau orang itu sudah mengalah, tidak membalas serangan kalian, akan tetapi kalian tidak tahu diri ! Sungguh tidak tahu malu!”.

Dua bayangan berkelebat cepat dan tahu-tahu di dekat Siauw Beng telah berdiri dua orang yaitu Nanek Bu dan Puteri Mayani!. Yang bicara tadi adalah Puteri Mayani. Gadis itu berdiri tegak dan matanya memandang sebelas orang itu satu demi satu. Ketika ia bertemu pandang dengan Song Cin, sinar matanya berkilat dan Song Cin teringat betapa dia dan Song Cun dulu menyeret gadis itu ke depan makam orang tuanya dan betapa Song Cun memperkosa puteri itu sedangkan dia walaupun tidak ikut melakukan bahkan tidak setuju, namun diam saja tidak mencegah perbuatan terkutuk itu dilakukan ! Nenek Bu yang berdiri di dekat Mayani, hanya tersenyum-senyum dan seolah tidak peduli kepada sebelas orang itu. Sebelas orang itu terkejut dan mereka siap dengan pedang di tangan karena maklum bahwa ada lawan tangguh membela Siauw Beng. Empat orang dari Liong-san itu memandang kepada puteri Mayani dan Nenek Bu. Mereka tentu saja mengenal Puteri Mayani yang dulu dibela oleh Siauw Beng, dan mengenal pula nenek itu sebagai nenek gila yang dulu membawa lari Puteri Mayani!. "Mayani ….. jangan ….. jangan serang mereka …..!” Siauw Beng berseru, khawatir kalau- kalau Mayani dan nenek itu membunuh sebelas orang itu akan tetapi suaranya juga mengandung keharuan dan kegirangan dapat bertemu kembali dengan puteri yang selalu menjadi kenangan itu, yang kini muncul menyelamatkan dirinya dari bahaya.

"Siauw Beng, orang-orang ini tidak tahu diri dan tidak tahu malu. Mengapa engkau melarang aku menghajar mereka?”.

"Tidak, Mayani. Mereka bukan orang jahat. Mereka menyerangku karena mereka mengira aku yang memperkosa gadis-gadis itu dan melakukan pembunuhan – pembunuhan. Tentu saja mereka mendendam”.

"Hemmmm, gadis-gadis mana yang kau perkosa, Siauw Beng?”. "Hush, bukan aku yang memperkosanya!”.

"Hik-hik, aku tahu, akan tetapi orang-orang ini menyangka engkau yang melakukannya. Gadis siapa saja yang menjadi korban?”.

"Yang seorang adalah murid dari Kang-lam Jit-hiap ini, dan yang kedua adalah …… tunangan saudara Song Cin itu”.

"Ah, begitukah?” Puteri Mayani memandang kepada Song Cin.”Baru tahu rasa sekarang!” katanya seperti kepada diri sendiri, akan tetapi Song Cin menundukkan mukanya. Dia merasa disindir. Karena dulu membiarkan kakaknya memperkosa Mayani, maka kini Mayani menganggap tunangannya diperkosa orang sebagai pembalasan terhadap dirinya!.

"Kui Siang ….. kau tadi bilang apa? Siauw Beng …… atau Lauw Beng ….? Yang mana dia ….?” Suara nenek itu tergetar, bahkan seluruh tubuhnya menggigil.

"Inilah, dia cucumu Lauw Beng alias Siauw Beng!” kata Mayani sambil menudingkan kearah pemuda itu.” Siauw Beng, ini adalah nenekmu, Nyonya Bu, ibu dari ibumu Bu Kui Siang!”.

Siauw Beng terkejut sekali. Dia terbelalak memandang nenek itu dan nenek itu pun memandang kepada Siauw Beng dengan mata terbelalak dan wajahnya berubah pucat sekali.

"Lauw Beng ….. engkau …. Anak Kui Siang …..? Ya … ya …. Engkau mirip ayahmu, Lauw Heng San ….. dan matamu itu …. Itu mata Kui Siang ….!”

Siauw Beng merasa terharu sekali dan dia segera menjatuhkan dirinya berlutut depan kaki nenek itu.

"Nenek ….!” serunya dan Siauw Beng tidak dapat menahan keharuan hatinya sehingga beberapa tetes air mata menuruni kedua pipinya.

"Siauw Beng …. Ah, cucuku …. Ahhhh ….!” Nenek itu terkulai dan jatuh pingsan ke dalam rangkulan lengan kanan Siauw Beng.

Melihat nenek yang mereka takuti itu pingsan dan Siauw Beng memondongnya, sebelas orang itu bergerak lagi hendak menyerang. Puteri Mayani mencabut sebatang pedang bengkok hendak mengamuk. Akan tetapi Siauw Beng cepat berkata.

"Mayani, kita lari!” Lalu dengan lengan kanan memanggul tubuh nenek itu di atas pundaknya, dia melompat jauh dan melarikan diri, di ikuti oleh Puteri Mayani yang mengomel panjang pendek.

Ketika mereka telah tiba jauh dan tidak tampak lagi ada yang mengejar karena yang mengejar tertinggal jauh, Siauw Beng berhenti dalam sebuah hutan. Mayani juga berhenti dan gadis itu mengomel. "Sialan kau, Siauw Beng! Mengapa mengajak lari? Aku tidak takut kepada mereka ! Biar ditambah sepuluh orang lagi aku tidak takut. Akan ku buntungi lengan mereka satu demi satu!”.

"Sudahlah, Mayani, maafkan aku. Sekarang paling penting merawat nenek”. Dia lalu menurunkan tubuh Nenek Bu ke atas tanah berumput dan memeriksa denyut nadinya. "Hemmm, dia mengalami guncangan batin yang hebat, Mayani”. katanya sambil mengerutkan alisnya, merasa khawatir sekali.

Mayani ikut memeriksanya, lalu berkata.” Siauw Beng, nenekmu ini menguasai ilmu-ilmu aneh dengan cara latihan yang aneh-aneh pula. Ia mengajarkan beberapa macam ilmu kepadaku dan yang hebat adalah Hwe-tok-ciang (Tangan Racun Api). Mungkin dalam latihan itu ia membuat kesalahan. Ketika aku menerima ajaran darinya, aku telah memiliki dasar sinkang sehingga aku dapat melindungi tubuh bagian dalam. Menghimpun tenaga untuk Hwe-tok-ciang mendatangkan hawa yang luar biasa panasnya dan mungkin saja latihan itu yang membuat nenek Bu mudah terluka apabila ia mengalami sesuatu yang mengguncang perasaannya”.

"Engkau benar, Mayani. Sebelum aku mencoba untuk merawatnya, ceritakan dulu pertemuanmu dengannya sehingga aku dapat mengerti latar belakangnya”.

Mayani lalu menceritakan betapa ia dahulu diselamatkan Nenek Bu ketika akan dibunuh keluarga Ciong-yang Ngo-taihiap, lalu dibawa pergi nenek itu. Ia disangka Bu Kui Siang oleh nenek itu dan dilatih ilmu-ilmu yang tinggi. Ia menceritakan kepada Siauw Beng betapa nenek itu bersikap seperti orang yang lupa keadaan dan sakit ingatannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment