Halo!

Si Rajawali Sakti Chapter 82

Memuat...

i bangsal" Si Han Lin berkata me lli teman-temannya setelah mereka ua menyatakan tidak menerima ta-ian pangkat itu.

Sung Thai Cu menghela napas panil dan mengangguk-angguk. "Kami seperti jiwa seorang pendekar yang i menghendaki kebebasan, tidak it oleh apa pun juga.

Baiklah, kalian rlima menolak kedudukan, akan tetapi mi harap kalian berlima tidak menolak mberian bingkisan dari kami sebagai rnyataan rasa sukur dan terima kasih mi." Kaisar lalu memberi isarat kepada orang pelayan pribadi yang mengambil na buah kantung kain merah berisi g emas yang sudah dipersiapkan. Lalu tas perintah Kaisar pelayan itu merahkan lima kantung uang emas Itu patta lima pendekar Itu, masing-masing buah kantung. Lima orang muda itu tidak berani menolak. Mereka menerima dan menghaturkan terima kasih. Setelah pertemuan Itu dinyatakan selesai, lima orang pendekar itu lalu meninggalkan istana, diantar oleh Pangeran Chou* Kuang] sampai di halaman isfana. *

Liu Cih dan Ong Hui Lan yang lakukan perjalanan bersama berhenti luar kota raja bagian selatan. Tadi ketika meninggalkan kota raja. Hui yang menyatakan bahwa ia harus mel kan pengejaran terhadap Chou Kian dan dalam perjalanan melakukan pe jaran Itu, ia sekalian akan singgah rumah orang tuanya, yaitu Ong Su y tinggal di Nan-king. Kini di jalan u yang sunyi, di kaki sebuah bukit, hutan, Liu Cin yang menahan agar m ka berhenti. Hui Lan menurut dan reka lalu duduk di bawah

sebatang po besar yang rindang dan yang meljnd mereka dari terik sinar matahari. Si itu memang matahari memutahkan sin nya yang panas sehingga, menyengat, dan dan amat enak duduk di bawah

yang rindang itu, disejukkan angin illif. .

u Cin eh, maaf, Cin-ko," kata Lan yang belum lama ini ketika ber-i di kota raja. ia

sudah bersepakat Mgan Liu Cin untuk menyebut Cin-dan Lan-moi. "Kenapa engkau meng-k aku berhenti di sini? Apakah engkau kth dan ingin beristirahat?"

Liu Cin tersenyum. "Ah, tidak» Lan-ii. Hanya aku ingin bicara denganmu n tidak enak rasanya' kalau bicara ius sambil melakukan perjalanan." Hui Lan memandang wajah pemuda kj penuh perhatian dan sinar matanya mienyelidik. "Engkau hendak membicara-in apakah, Cin-ko, yang demikian serius u?"

"Lan-moi, sejak engkau menyatakan hendak melakukan pengejaran terhadap ! hou Kian Ki, aku merasa heran sekali, an tetapi di sana, di depan banyak rahg, aku tidak mau banyak bertanya. Akan tetapi hal itu selalu mengganggu pikiranku yang merasa heran dan tidak mengerti. Maka sekarang kuharap engkau suka menjelaskan, mengapa engkau susah payah hendak melakukan pengrj an terhadap putera pangeran pembe tak itu? Apa yang ingin kau laki kalau sudah dapat mengejarnya?" Dengan alis berkerut, muka mei mata mencorong marah Hui Lan biasanya lembut itu berkata tegas, harus membunuhnya!"

Liu Cin terkejut juga melihat wa gadis itu tampak penuh kebencian kel mengucapkan kata-kata itu.

"Akan tetapi maafkan aku, ^

mol, memang bukan urusanku, hanya, aku merasa penasaran sekali. Menga engkau begitu membencinya? Mengj engkau begitu benci sampai harus ngejarnya dan membunuhnya?"

Hui Lan berpikir sejenak dan tamg ragu-ragu. Kemudian ia berkata, kemo lembut. "Cin-ko, aku minta maaf pa< mu, terus terang saja, aku hanya dar, mengatakan bahwa aku harus membunv ya. Aku berjanji kepadamu, kalau sudah berhasil membunuhnya, baru ar akan memberitahu kepadamu mengaj

harus membunuh jahanam itu.** Di dalam hatinya Liu Cin menduga-a. Ada yang aneh dalam sikap Hui «' ini, pikirnya. Dulu dia menemukan fi sempat menolong Hui Lan yang hen-k bunuh diri. Gadis itu mengaku bahwa , melarikan diri dari rumah Pangeran hou karena tidak sudi dinikahkan deán Chou Kian Ki dan tidak mau pu-g pula ke rumah orang tuanya sen-ri. Dan sekarang, gadis itu bertekad ituk membunuh Chou Kian Kl setelah emperdalam Ilmu bersama dia, mengua-I ilmu Thian-te Im-yang Sin-kun. Dan t janji akan memberitahu kepadanya telah berhasil membunuh Chou Kian fl. Mengapa ia demikian membenci puliera pangeran itu? Apa yang telah dilakukan Chou Kian Ki kepadanya? Liu Cin menduga-duga, akan tetapi tidak mau bertanya apa-apa, bahkan dia ber-p biasa saja. "Baiklah, Lan-moi. Memang aku tidak berhak mencampuri urusanmu."

"Bukan begitu, Cin-ko! Engkau harus mencampuri urusanku karena terus terang saja, tanpa bantuanmu aku tidak al berhas.il membunuh Chou Kian Ki. Ak lah yang akan mati di tangannya engkau tidak mau membantuku." U gadis itu keluar dengan suara sedih.

Tentu saja, Lan-moi. Aku pasti a tetap membantumu. Yang kumaksud adalah bahwa engkau tidak perlu ceritakan mengapa engkau mem Chou Kian Ki kalau engkau tidak menceritakannya kepadaku."

Hui Lan merasa sedih sekali sehin ia tidak dapat menahan ketika sepasa matanya menjadi basah dan beber butir air mata menetes keluar dan jat ke atas pipinya. "Cin-ko, sekali lagi maafkanlah ak Sesungguhnya, setelah semua budi kebai an yang kau limpahkan kepadaku, tid semestinya aku masih merahasiakan t suatu darimu. Akan tetapi, aku moh kepadamu, bersabarlah, Cin-ko. Setela aku berhasil membunuh jahanam it ?asti aku akan memberitahu kepadamu."

Melihat kesedihan Hui Lan, Liu Ci cepat berkata. "Ah, sudahlah, Lan-moi fcan bicarakan hal itu lagi. Mari kita t|utkan perjalanan kita. Kau bermaksud ih dulu pergi ke Natt-king, bukan?" jara Liu Cin biasa dan gembira Seolah hendak mengalihkan percakapan tadi tidak mau mengingatnya hrg'l. Pada-I di dalam hatinya, pemuda ini sudah t menduga, apa kiranya yang me-babkan gadis itu mendendam sedemi-n besarnya terhadap Chou Kian Ki. dak terlalu sukar ditebak. Hui Lan rnah ditunangkan dengan Kian Ki dan Lihkan tinggal di gedung pemuda itu. » mudiah tiba-tiba gadis itu meninggalkannya dan dia menemukannya hendak punuh diri! Malapetaka apa yang me-Impa diri seorang gadis sehingga ia i ndak membunuh diri dan kebenciannya edemikian besarnya? Dia dapat meraba rtrngan dugaannya. Bencana paling hebat yang membuat seorang gadis mendendam takit hati kepada seorang laki-laki adalah perkosaan! Bukan hal yang mustahil kekejian itu dilakukan oleh seorang laki-laki macam Chou Kian Ki kepada Hui Lan. Kian Ki memiliki ilmu kepandaian tinggi sehingga d,uj, tentu dapat maa gunakan paksaan fnenggagahl Hui Lm t g dengan tipu, meslihat lainnya. Km na itu Hpi La n merahasiakannya, tttf gadis itu merasa malu untuk mengV kepada orang lain, terutama kepada Akan tetapi ini hanya dugaannya dan dia mengharapkan semoga dugaan] itu keliru.

Mendengar pertanyaan Liu Cin yang nadanya biasa dan gembira, Hui Lan rasa lega. Tadinya ia merasa khawatir kaau-kalau pemuda itu mendesaknya atau menjadi kecewa dan marah. Akan ictapi ternyata Liu Cin sama sekali tidak bersikap demikian malah sebaliknya menghentikan percakapan tentang hal itu. la merasa bersukur dan berterima kasih kekali. Semakin yakin hatinya bahwa Liu cin adalah seorang sahabat yang paling baik baginya. Maka ia pun menjadi gembira lagi dan menjawab sejujurnya.

"Benar, Cin-ko. Aku hendak singgah ke rumah orang tuaku, selain menceritakan tentang ditumpasnya pemberontakan yang dipimpin mendiang Jenderal Chou ban Heng, juga aku ingin sekali memperkenalkan engkau kepada ayah ibuku!"

Wajah pemuda itu berubah kemerahandan hatinya berdebar girang. Kalau orang:; gadis hendak memperkenal seorang teman prianya kepada orang tuanya, biasanya hal itu berarti bahwa gi itu mencinta pria itu, agar orang tual mengenal pria pilihan hatinya! Kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan hati ringan gembira. Keduanya merasa semakin dan cocok satu sama lain dan bagi Hui Lan sendiri kini rasa sukanya makin mendalam dan harus ia akui bahwa ia mulai jatuh cinta kepada Liu Cin.

ooOOoo

Song Kui Lin juga meninggalkan kotaraja dan melakukan perjalanan seorang diri menuju ke Cin-an. Ia hendak pulang ke rumah ayah tirinya, yaitu Perwira Kwa Siong, duda yang mengawini ibunya yang sudah menjanda. Ayah tirinya dan tentu akan gembira sekali mendengar ia menceritakan tentang terbasminya penghiatan dan pemberontakan yang dipimpin mendiang Jenderal Chou Ban heng. Ayahnya itu, biarpun ayah tiri, amat baik kepadanya dan ia tahu bahwa ayah tirinya adalah seorang perwira yang setia terhadap Kerajaan Sung.

Sudah dua hari ia meninggalkan kotaraja dan tiba di daerah pegunungan yang sunyi. Siang itu matahari memuntahkan sinarnya yang amat panas sehingga Kui Lin yang sejak tadi merasa betapa kulitnya disengat matahari, kini merasa nyaman setelah memasuki daerah yang berhutan dan sejuk dengan bayangan pohon-pohon.

Ketika mendengar gemerciknya air, Kui Lin baru merasa betapa tenggorokannya terasa kering karena haus. la segera penyimpang dari jalan umum menyusup di antara pepohonan mencari dari mana datangnya suara air gemercik itu. Akhirnya dengan girang ia menemukan sebuah pancuran air, yaitu air gunung yang mengalir di antara batu-batu dan terjun ke bagian yang lebih rendah. Air itu jernih sekali. Kui Lin lalu minum, membasuh mukanya dengan air yang dingin sekali, juga membasahi lehernya, lengannya, melepas sepatu menggulung celana untuk membasahi kakinya. Terasa dan sejuk bukan main. Karena tempat itu sepi, saking keenakan, Kui Lin mulai membuka bajunya karena timbul keinginannya untuk mandi!

Tiba-tiba ia mendengar bunyi seperti ranting, patah dan berkeresekan dan daun- daun kering terinjak kaki. Ia cepat menoleh dan melihat seorang laki-laki muda melangkah ke arah tempat itu.

"Kurang ajar!!" la membentak laki-laki itu baru melihatnya lalu cepat laki-laki itu memutar tubuh, berbalik membelakangi Kui Lin yang setengah telanjang. Gadis itu cepat mengenakan lagi pakaiannya dan sepatunya, kemudian dengan lengan baju masih tergulung sehingga tampak kulit lengannya yang putih mulus berlawanan dengan pakaiannya yang serba hitam. Dengan langkah ringan dan cepat ia menghampiri laki-laki itu dan memaki.

"Laki-laki kurang ajar, engkau mengintai aku, ya? Anjing kau. monyet, kuda, babi.....

" Kui Lin tiba-tiba menghentikan makiannya ketika laki-laki itu membalik tubuh menghadapinya karena ia segera mengenalnya. Pemuda itu bukan lain adalah Bu Eng Hoat, seorang di antara para pendekar yang membantu Pangeran Chou Kuang Tian membasmi pemberontak. Akan tetapi, biarpun ia tahu bahwa Bu Eng Hoat adalah seorang pendekar gagah perkasa yang kiranya tidak mungkin mau mengintai wanita dengan sengaja, ia pernah berkelahi melawan pemuda itu ketika ia hendak menangkapnya dengan tuduhan pemuda itu membunuh Menteri Liong. Teringat ini, Kui Lin yang tadinya sudah tenang, menjadi marah lagi.

"Hemmm, kiranya engkau, Bu Hoat? Mengapa engkau mengikuti aku? Engkau membayangi aku, ya? Mau apa engkau mengikuti aku?"

Wajah Bu Eng Hoat menjadi kemerah-merahan karena marah. Pemuda ini berwajah jujur dan keras. Dituduh membayangi tadinya malah dituduh mengintai, dia merasa penasaran sekali.

"Song Kui Lin, engkau ini sungguh keterlaluan sekali! Tanpa menyelidiki lebih dulu begitu mudah menuduh orang! kalau engkau menuduh aku membunuh Menteri Liong, sekarang kembali engkau menuduh sembarangan. Tadi menuduh aku mengintai dan memaki-maki aku, seorang menuduh aku membayangi dan mengikutimu! Apa kau kira di dunia ini hanya engkau seorang yang paling baik dan semua orang lain jelek dan jahat?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment