Ketika perahu itu sudah tiba di pinggir pantai, alangkah terkejutnya ketika ia melihat bahwa yang bertempur itu adalah Kui Hwa, Pui Kiat dan Pui Hok yang lihai itupun sampai terdesak hebat.
Tanpa membuang waktu lagi, Tin Eng melemparkan beberapa tail perak kepada anak perahu dan berkata, “Pergilah kau dengan perahumu dari sini!” Sedangkan ia sendiri lalu mencabut pedangnya dan melompat ke darat. Dengan keras Tin Eng berseru, “Enci Kui Hwa jangan khawatir. Aku datang membantu!”
Beberapa orang anggauta bajak sungai yang melihat kedatangan Tin Eng, segera menyerbu akan tetapi dengan beberapa kali putaran pedangnya saja. Tin Eng telah merobohkan tiga orang pengeroyok sehingga yang lain segera mundur ketakutan. Tin Eng lalu menyerbu dan membantu Kui Hwa dan kedua suhengnya. Pertempuran makin ramai dan hebat setelah pihak murid-murid Hoa-san-pai mendapat bantuan Tin Eng.
****
Sebelum kita melanjutkan melihat pertempuran yang amat seru ini, baik kita mundur dahulu dan mencari tahu bagaimana Kui Hwa dan kedua orang suhengnya she Pui itu dapat berada di tempat itu dan dikeroyok oleh sekawanan bajak sungai yang dipimpin tiga orang lihai itu.
Sebagaimana dituturkan di bagian depan, setelah menyuruh kedua suhengnya untuk mengikuti rombongan Ang Sun Tek yang menawan Tin Eng, Kui Hwa lalu melanjutkan perjalanannya ke Hong-san untuk mewakili Tin Eng mencari tempat harta pusaka itu tersimpan. Ia dapat sampai di bukit Hong-san tanpa banyak rintangan di jalan. Pemandangan alam di sekitar Hong-san memang indah. Dari lereng bukit itu nampak lembah Huang-ho yang kehijau-hijauan. Kemudian sungai itu sendiri nampak bagaikan seekor naga besar sedang minum di laut.
Ketika ia tiba di puncak bukit, ia segera mencari gua Kilin di antara batu-batuan karang. Banyak gua terdapat di situ. Akan tetapi menurut peta petunjuk tempat harta pusaka itu tersimpan adalah sebuah gua yang bentuknya persegi empat seperti muka kilin.
Akhirnya ia dapat juga menemukan gua itu. Akan tetapi Kui Hwa adalah seorang gadis yang hati-hati dan cermat. Ia tidak segera masuk ke dalam gua, bahkan bersembunyi di balik gerombolan pohon dan mengintai.
USAHANYA ini ternyata berguna sekali, oleh karena tiba-tiba ia melihat bayangan tinggi besar keluar dari gua itu. Ketika bayangan itu berhenti di depan gua, Kui Hwa terkejut sekali karena bayangan itu adalah seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar seperti seorang raksasa dalam dongeng. Tidak saja tubuhnya yang besar, akan tetapi pakaiannya juga aneh sekali. Berbeda dengan pakaian orang Han. Kulit mukanya kehitam-hitaman. Celananya panjang hitam dan bajunya hijau dengan leher baju hitam pula.
Ia memakai kain kepala yang aneh bentuknya dan biarpun di bawah hidungnya tidak ada kumis, akan tetapi dari bawah kedua telinga ke bawah penuh dengan jenggot hitam yang lebat. Orang itu memakai ikat pinggang yang luar biasa, yakni rantai baja yang besar dan berat dilibatkan ke pinggangnya dan ujungnya tergantung ke bawah.
Pada saat itu, orang berkulit hitam ini sedang memanggul sebuah paha kijang yang telah dipanggang. Dan setelah ia ia tiba di depan gua, ia memandang ke kanan kiri, kemudian ia duduk di atas batu dan menggerogoti paha kijang itu. Kui Hwa berlaku hati-hati sekali, tidak bergerak dari tempat sembunyinya dan hanya memandang penuh keheranan, juga ia merasa khawatir. Apakah harta pusaka itu telah ditemukan dan diambil oleh raksasa ini, pikirnya. Ia tidak takut kepada raksasa yang tingginya hampir dua kali tubuhnya sendiri itu. Akan tetapi lebih baik jangan mencari perkara dan perkelahian dalam tempat yang aneh ini.
Tiba-tiba dari jauh terdengar suara memanggil dan tak lama kemudian muncullah seorang gundul kate yang segalanya merupakan kebalikan dari raksasa itu. Kalau raksasa itu kulitnya hitam, orang ini kulitnya keputih-putihan dan matanya biru. Kepalanya gundul sama sekali dan tubuhnya pendek kecil. Akan tetapi larinya cepat sehingga Kui Hwa menjadi kaget karena maklum bahwa ginkang dari orang kate ini masih lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri.
“Badasingh!” si kate itu berkata kepada raksasa yang masih enak-enak makan paha kijang sambil duduk di atas batu. “Kita sudah terlalu lama di sini. Mengapa kita tidak berusaha mengambil peti-peti itu?”
“Koay lojin,” kata orang aneh yang bernama Badasingh itu dengan bahasa Han yang kaku. “Tak mungkin diambil sekarang. Tempatnya terlalu dalam dan jauh. Kita harus menanti sampai ada orang lain yang mengambilnya untuk kita, kemudian kita merampasnya dari mereka. Bukankah itu lebih mudah lagi? Ha ha ha!”
“Siapa yang mengetahui tempat ini selain kita?”
“Bodoh! Banyak yang tahu, bahkan aku mendengar bahwa dari kota raja akan datang serombongan orang untuk mengambil harta itu. Kita sendiri takkan mungkin mengambilnya. Jalan turun tidak ada.”
Si kate itu memandang dengan mata marah dan agaknya tidak percaya kepada si raksasa itu.
“Badasingh! Jangan kau mencoba menipuku! Ini usaha kita berdua maka kau tidak boleh membohong kepadaku!”
Tiba-tiba Badasingh mengeram bagaikan suara seekor gajah, dan dengan marah sekali ia membanting paha itu ke atas batu yang di dudukinya sehingga paha itu berikut tulang- tulangnya hancur lebur.
“Koay lojin! Tidak ada manusia yang bisa hidup setelah memaki aku sebagai pembohong!” Ia bangun berdiri dan menyerang si kate itu dengan hebat! Si kate ternyata juga lihai sekali karena sekali lompat ke samping ia dapat menghindarkan diri dari serangan itu.
“Badasingh! Aku tidak mau berkelahi dengan kau tanpa alasan. Pendeknya, kalau kita bisa mengambilnya, kita ambil sekarang. Kalau tidak bisa, mari kita pergi dari sini. Aku sudah bosan tinggal di tempat asing ini.”
“Kau mau pergi? Pergilah! Siapa melarangmu?” kata si raksasa.
Koay lojin (kakek aneh) itu tertawa bergelak dan dengan jari telunjuknya yang pendek ia menuding kepada Badasingh, “Ha ha ha! Jangan coba berlaku licik. Badasingh! Kalau kau tidak mau pergi, itu berarti kau hendak mengambil sendiri harta itu! Kau benar-benar curang.”
“Sudah kukatakan bahwa aku menanti orang yang dapat mengambilnya. Kemudian aku akan merampasnya. Kau boleh pergi kalau kau kehendaki. Akan tetapi aku akan menanti di sini!”
“Kau bohong!” Koay lojin dalam marah lupa akan pantangan ini. Bagaikan harimau terluka Badasingh melompat dan menerkam Koay lojin. “Kalau aku bohong kau harus mampus!” teriaknya marah.
Kini keduanya tidak main-main lagi, mereka bertempur hebat. Tenaga Badasingh benar-benar hebat dan batu karang yang terkena sambaran tangannya diwaktu ia menyerang, menjadi hancur berkeping-keping. Akan tetapi, si kate itu benar-benar lincah dan gesit sekali sehingga pertempuran itu benar-benar hebat.
Kui Hwa memandang dengan hati berdebar. Ia merasa kagum sekali menyaksikan kelihaian dua orang aneh ini dan ia mengaku bahwa dia sendiri takkan dapat menang melawan seorang di antara mereka. Tiba-tiba si kate mengeluarkan senjata, yakni sebatang cambuk lemas yang berduri. Cambuk itu tadinya digulung dan disimpan di dalam saku bajunya. Akan tetapi setelah dilepaskan, cambuknya yang berduri itu panjangnya lebih dari empat kaki.
“Bagus, kau memang betul-betul ingin mampus!” seru Badasingh yang segera membuka ikat pinggangnya, yang terbuat dari pada rantai baja yang besar itu. Rantai ini lebih panjang lagi, kira-kira ada tujuh kaki panjangnya. Pertempuran hebat dimulai dan Kui Hwa makin bengong dan kagum melihatnya. Kalau cambuk berduri itu bergerak-gerak dengan gesit dan lihai seakan-akan ular hidup, adalah rantai baja itu luar biasa dahsyatnya. Angin sambarannya saja membuat daun-daun pohon bergerak-gerak bagaikan tertiup angin dan tanah di sekitar tempat pertempuran itu mengebulkan debu ke atas.
Ternyata bahwa si kate itu kalah tenaga dan kalah hebat senjatanya, tubuhnya bergulingan. Badasingh memburuh dengan cepat dan sekali kakinya menendang terdengar jerit ngeri dan tubuh Koay-lojin terlempar jauh dan masuk ke dalam jurang yang tak terlihat dari atas
dasarnya, saking dalam dan gelapnya.
Kui Hwa bergidik dan merasa bulu tengkuknya berdiri. Dengan adanya raksasa hebat ini menjaga Gua Kilin, tak mungkin baginya untuk mencari harta pusaka itu. Untuk maju menyerang, sama dengan bunuh diri, oleh karena maklum bahwa ia takkan dapat menangkan raksasa hitam ini. Oleh karena itu, Kui Hwa lalu turun lagi dengan diam-diam dari bukit Hong-san.
Ia hendak menanti sampai datangnya kawan-kawannya, terutama sekali datangnya kedua suhengnya, Pui Kiat dan Pui Hok. Sungguhpun raksasa itu merupakan lawan yang amat tangguh, namun bertiga dengan suheng-suhengnya, ia tidak merasa takut.
Oleh karena itu, Kui Hwa lalu tinggal di dusun kecil di lembah sungai Huang-ho yang berada di kaki bukit Hong-san untuk menanti datangnya kedua suhengnya. Ia menanti beberapa hari lamanya, akan tetapi kedua suhengnya belum juga datang. Sehingga saking kesalnya ia menghibur diri, menyewa perahu kecil, dan mendayung di sungai Huang-ho sambil menonton para nelayan mencari ikan.
Ketika ia sedang duduk termenung di dalam perahunya, tiba-tiba ia melihat seorang nelayan tua yang menyebar jala ikan sambil mencucurkan air mata. Berkali-kali nelayan itu menggunakan ujung lengan bajunya untuk menyusut air matanya yang turun mengalir di sepanjang kedua pipinya, bahkan kadang-kadang kalau jalanya tidak menghsilkan ikan, ia menjatuhkan diri di dalam perahu dan menangis tersedu-sedu.
Melihat hal ini tergeraklah hati Kui Hwa. Ia mendayung perahunya mendekat. Setelah perahunya menempel perahu nelayan itu, ia bertanya,
“Lopek, kau kenapakah? Apakah yang membuatmu demikian berduka sehingga kau bekerja sambil menangis?”
Nelayan itu menengok dan ketika melihat Kui Hwa yang gagah dan cantik, ia menangis makin sedih.
Kui Hwa mengikatkan tali perahunya pada ujung perahu nelayan itu, lalu berpindah perahu.