Halo!

Pendekar Pemabuk Chapter 82

Memuat...

“Losuhu, awas!” teriaknya dan tiba-tiba ia merobah gerakan pedang dan sulingnya. Kini sulingnya berkelebat bagaikan seekor naga menyambar-nyambar ke depan mata lawan

seakan-akan hendak menyerang mata. Tentu saja Seng Le Hosiang berlaku hati-hati dan cepat menggunakan pedangnya untuk melindungi matanya. Akan tetapi ini hanya merupakan tipu dan pancingan belaka dari Gwat Kong karena setelah ia berhasil memancing lawan sehingga hwesio itu mengerahkan pedangnya di bagian atas, tiba-tiba pedangnya menyambar ke bawah dan “bret!” putuslah ujung jubah pendeta itu.

“Maaf, aku tak dapat melayani terlebih jauh!” kata Gwat Kong dan sekali ia berkelebat keluar, tubuhnya bagaikan seekor burung walet terbang menembus pintu depan dan lenyap.

Seng Le Hosiang berdiri dengan muka sebentar pucat sebentar merah.

“Hebat, hebat!!” ia menggeleng-gelengkan kepala sambil memandang ke arah potongan ujung jubahnya di atas lantai. “Setan itu telah mewarisi dua ilmu silat yang tinggi, yang dapat dimainkan berbareng.”

Juga Liok Ong Gun terpesona oleh kelihaian Gwat Kong ini, maka diam-diam iapun merasa ragu-ragu. Apakah usaha susiok-couwnya untuk mengadakan pertempuran di Thaysan itu akan berhasil baik. Sementara itu, Gwat Kong pergi dari tempat itu dengan hati gelisah. Ia memikirkan Tin Eng. Kemanakah perginya gadis itu? Mudah-mudahan ia pergi menyusulku ke Hong-san, pikirnya. Dengan harapan ini di dalam dada, Gwat Kong mempercepat larinya menuju ke Hong-san menyusul Cui Giok dan kalau benar dugaannya, mencari Tin Eng pula.

****

Marilah kita mengikuti pengalaman Tin Eng. Sebenarnya bagaimanakah gadis itu bisa pergi dari rumahnya dan kemana ia pergi?

Semenjak menolong Gwat Kong melarikan diri dan memberi seekor kuda kepada pemuda itu, Tin Eng selalu termenung memikirkan nasib pemuda itu. Kini ia tidak ragu-ragu lagi, bahwa ia sebenarnya menyinta pemuda itu. Ia merasa bangga sekali melihat kelihaian Gwat Kong dan merasa bahagia mendapat kenyataan betapa besar kasih sayang pemuda itu kepadanya.

Akan tetapi, ayahnya makin marah kepadanya dan telah memakinya dengan hebat ketika mendengar bahwa Tin Eng lah yang menolong Gwat Kong sehingga bisa melarikan diri dari kepungan.

“Kau benar-benar menodai nama keluarga orang tuamu. Kau telah merendahkan diri dan menolong seorang bangsat rendah semacam Gwat Kong!” kata ayahnya.

“Ayah!” Tin Eng membantah dengan berani. “Apakah kesalahan Gwat Kong maka ayah menamainya bangsat rendah dan hendak menangkapnya? Ketika aku lari dulu, bukan kesalahan Gwat Kong dan ia sama sekali tidak tahu menahu tentang pergiku dari rumah. Kedatangannya kali ini pun tidak bermaksud buruk, dan hanya hendak menolongku karena ia mendengar bahwa aku ditawan Ang Sun Tek dan kawan-kawannya. Dosa apakah yang ia lakukan maka ayah membencinya?”

Liok Ong Gun tak dapat menjawab, karena memang sesungguhnya pemuda itu tidak mempunyai kesalahan sesuatu, kecuali bahwa pemuda itu telah mendatangkan kekacauan dan terlalu berani.

“Kau memang anak liar. Orang tua mengatur perjodohan baik-baik, kau tidak mau, membantah, bahkan melarikan diri. Hmm, dosa apakah yang aku dan ibumu lakukan sehingga mempunyai anak tunggal macam kau!”

“Ayah, kalau memang ayah dan ibu menghendaki aku hidup beruntung, mengapa memaksaku kawin dengan Gan-ciangkun? Aku tidak suka kepadanya, aku aku benci kepadanya. Kalau

ayah memaksa aku kawin dengan dia, berarti bahwa ayah memaksa aku memasuki jurang kesengsaraan!”

“Bodoh! Dasar anak puthauw!” Sambil membanting daun pintu keras-keras, pembesar itu keluar dari kamarnya.

Semenjak itu, telah beberapa hari lamanya sikap pembesar itu berubah terhadap Tin Eng, sehingga gadis ini merasa heran. Ayah tidak lagi membujuk-bujuk atau memarahinya, tidak lagi memaksanya kawin dengan Gan-ciangkun, bahkan tidak lagi membicarakan urusan kawin. Akan tetapi, kini ayahnya minta penjelasan tentang pertemuannya dengan kedua saudara she Pang, bahkan akhirnya minta jawaban tentang letak tempat rahasia penyimpanan harta pusaka itu.

“Ayah, memang betul bahwa kedua orang she Pang dari kota raja itu menaruh kepercayaan kepadaku tentang hal itu. Akan tetapi aku sudah bersumpah takkan membuka rahasia ini kepada lain orang. Bagaimana aku dapat menceritakannya kepadamu?”

“Tin Eng, dengarlah baik-baik, nak. Harta pusaka itu sebetulnya menjadi hak milik Pangeran Ong Kiat Bo. Dan rombongan perwira yang dipimpin oleh Ang Sun Tek juga atas perintah Pangeran Ong untuk mencari tempat harta pusaka itu. Petanya telah tercuri oleh kedua saudara Pang yang menjadi anak kemenakan Pangeran Ong dan yang akhirnya dipercayakan kepadamu. Pangeran Ong telah tahu akan hal ini, tahu bahwa kaulah yang menyimpan rahasia itu dan tahu pulah bahwa kau adalah anakku. Coba saja kau pikir. Kalau kau berkeras tidak mau memberi tahukan rahasia itu, tentu orang tuamu yang mendapat marah dari Pangeran Ong dan hal ini bukan urusan kecil. Kau bisa menyebabkan ayahmu dipecat atau dihukum.

Sebaliknya, kalau kau mengaku, tentu Pangeran Ong akan berterima kasih dan soal kenaikan pangkat bagi ayahmu menjadi soal mudah. Apakah kau tidak mau menolong ayahmu dan bahkan akan mencelakakan kita sekeluarga hanya karena memegang teguh rahasia terhadap dua orang maling kecil itu?”

“Kedua saudara Pang bukan maling, ayah!”

“Hmm, kau memang bodoh. Sudah berapa lama kau mengenal mereka? Mereka adalah kemenakan Pangeran Ong dan mereka telah mencuri peta itu dari tangan pamannya.”

Tin Eng minta waktu sehari untuk memikirkan hal ini. Ia menjadi serba salah. Membuka rahasia salah, berkeras juga tidak baik. Ia pikir bahwa Kui Hwa dan Gwat Kong telah mengetahui rahasia tempat itu, bahkan sekarang mungkin telah mendapatkan harta terpendam itu. Apa salahnya memberitahukan begitu saja tanpa syarat. Ia merasa ragu.

“Ayah,” katanya pada keesokan harinya, ketika ayahnya datang menagih janji. “Aku mau membuka rahasia tempat penyimpanan harta pusaka di Hong-san itu, akan tetapi dengan syarat bahwa ayah harus berjanji tidak akan menjodohkan aku dengan Gan-ciangkun!”

Tentu saja ayahnya tertegun mendengar hal ini.

“Tin Eng, mengapa kau begitu benci kepada Gan-ciangkun?”

Tin Eng tidak dapat menceritakan bahwa kebenciannya terhadap Gan Bu Gi memuncak oleh karena orang she Gan itu telah melakukan sesuatu yang amat keji terhadap Kui Hwa. Ia tahu bahwa Kui Hwa adalah anak murid Hoa-san-pai dan kalau ia beritahukan hal ini, ayahnya yang membenci anak murid Hoasan tentu akan menjadi makin marah. Bahkan takkan mempercayainya. Maka ia berkata,

“Aku tidak tahu mengapa, ayah. Akan tetapi menurut pendapatku, dia bukanlah seorang pemuda yang baik!”

“Syaratmu itu aneh,” kata ayahnya. “Aku sudah menerima pinangan Bong Bi Sianjin dengan perantaraan susiok-couw.” “Ayah dapat membatalkan itu!”

Ayahnya menghela napas dan menggelengkan kepala. Baiklah aku akan merundingkan hal perjodohan itu dengan susiok-couw. Sekarang katakanlah kepadaku di mana sebetulnya peta itu.”

“Peta itu telah kubakar, ayah,” kata Tin Eng sejujurnya. “Akan tetapi, aku masih ingat di luar kepala.

Demikianlah, Tin Eng lalu menggambarkan sebuah peta di atas kertas yang segera diberikan kepada ayahnya.

Pada malam harinya, tanpa disengaja Tin Eng mendengarkan percakapan antara ayahnya dengan Seng Le Hosiang yang datang di gedung itu dan apa yang ia dengar membuat ia merasa kaget sekali, karena hwesio itu berkata cukup keras sehingga ia dapat mendengar dari balik pintu,

“Jangan kau khawatir, memang demikianlah adat seorang gadis muda yang sedang jatuh cinta. Menurut dugaanku, anakmu itu tergila-gila kepada Gwat Kong. Kalau kita binasakan pemuda itu dan berhasil mendapatkan harta pusaka, soal perjodohan anakmu dengan Gan Bu Gi mudah saja. Tanpa adanya Gwat Kong, tentu hati anakmu akan berubah.”

Lebih kaget lagi ketika ia mendengar ayahnya berkata, “Memang anak itu keras kepala, susiok-couw. Teecu sudah mers cocok untuk menjodohkannya dengan Gan-ciangkun karena pemuda itu menurut pandangan teecu cukup baik dan besar pengharapannya di kemudian hari.”

Ucapan-ucapan kedua orang ini cukup membuat Tin Eng berlaku nekad dan malam hari itu juga, ia melarikan diri dari rumahnya. Ia pergi menunggang seekor kuda terbaik dan karena usahanya ini mendapat bantuan dari seorang pelayannya, maka dengan mudah saja ia dapat melarikan diri dari rumah tanpa diketahui oleh ayahnya. Baru pada keesokan harinya gedung Liok-taijin geger ketika mereka mendapatkan kamar gadis itu kosong.

Tin Eng membalapkan kuda dan tujuannya hanya satu, yakni menyusul Gwat Kong ke Hong- san. Ketika tiba di sungai Huang-ho, ia lalu menyewa sebuah perahu dan berlayar ke timur, menuju Hong-san.

Ketika perahunya tiba di sebuah hutan tak jauh dari bukit Hong-san, tiba-tiba ia mendengar sorakan ramai di pantai sebelah kiri. Ia melihat pertempuran hebat sedang berlangsung di tempat itu. Anak perahu ketakutan melihat ini dan hendak melanjutkan pelayaran. Akan tetapi, Tin Eng membentaknya dan menyuruh ia mendayung perahu ke pinggir. Sebagai seorang ahli silat, ia tertarik melihat sesuatu pertempuran.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment