Halo!

Pedang Kiri Pedang Kanan Chapter 85

Memuat...

"Bakar saja sarang anjing ini, coba lihat dia akan keluar atau tidak?" "Ting yat Suthay," seru Thio Yan-coan dengan tertawa "tempat ini sangat terkenal di kota Cu-joan ini, namanya Kun-giok-ih' (rumah si cantik), memang tidak menjadi soal jika kau bakar, tapi di dunia Kangouw pasti segera akan tersiar berita hangat bahwa rumah bunga jalanan di kota Cu-joan telah dibakar oleh Ting-yat Suthay dari Siong-san-pay Tentu orang akan bertanya untuk apakah Ting-yat Suthay yang terkenal saleh itu datang ke tempat begituan" Lalu orang akan menjawab bahwa tujuan Suthay hendak mencari muridnya.

Tentu pula orang akan heran, mengapa anak murid Pek-hun-am yang suci itu bisa berada di Kungiok-ih dan pasti akan ramailah orang memperbincangkan kejadian ini.

Jadinya paati akan sangat merugikan nama baik Siong-san-pay kalian.

Maka ingin kukatakan terus terang padamu, aku Ban-li-tok-heng Thio Yan-coan tidak gentar pada langit dan tidak takut pada bumi, dikolong langit ini aku cuma takut kepada muridmu seorang.

Bila melihat dia, lekas2 aku angkat kaki menghindarinya, mana kuberani mengganggu dia?" Diam2 Ting-yat berpikir apa yang diuraikan Thio Yancoan ini memang tidak salah, tapi menurut laporan muridnya tadi, katanya dengan jelas2 dilihatnva Gi-lim masuk kerumah berlampu merah ini, masakah laporan itu tidak betul" Begitulah saking gusarnya Ting-yat menginjak keras2 sehingga genting sama pecah, tapi tak dapat bertindak apa2.

Tiba2 suara seorang mendengus diujung rumah seberang sana dan bertanya: "Thio Yan-coan, muridku Pang Ci-ki apakah kau yang membunuhnya?" Jelas itulah suara Ciamtay Cu-ih, Hong-hoa wancu.

"Eh, maaf, maaf, sampai2 Hong-hoa-wancu juga berkunjung kemari! Wah, selanjutnya Kun giok-ih di Cujoan pasti akan termashur ke seluruh jagat ini, usahanya pasti akan bertambah maju dan banjir tamu," demikian jawab Thio Yan-coan "Tadi memang kubunuh seorang secunguk, tapi permainan goloknya terlalu tidak becus, gayanya memang mirip2 Kungfu Tang-wan, mengenai namanya apakah Pang Ci-ki atau bukan, aku sendiri tidak tahu dan tidak sempat tanya." "Baik!" ucap Ciamtay Cu-ih.

Habis itu, "siuut', mendadak sesosok bayangan menerobos masuk kedalam ruangan, lalu terdengar suara "blang-blung" dan gemerincingnya senjata beradu, nyata Ciamtay Cu-ih dan Thio Yan-coan sudah bergebrak didalam kamar.

Berdiri diatas rumah dan mendengar suara benturan senjata kedua orang itu, diam2 Ting-yat harus merasa kagum, pikirnya: Keparat Thio Yan-coan itu memang mempungai Kungfu sejati, dia sanggup bertempur secepat kilat dan dapat menandingi Hong-hoa-wancu dengan sama kuatnya." Mendadak terdengar suara "blang" yang keras, suara benturan senjata segera berhenti.

Tangan Gi-lim yang menggenggam tangan Fifi penuh keringat dingin.

Entah pertempuran kedua itu telah dimenangkan siapa" Menurut akal, beberapa kali Thio Yan-coan hendak mengganggunya, seharusnya dia berharap Ciamtay Cu-ih yang menang.

Tapi aneh, dalam hati ia justeru berharap Ciamtay Cu-ih akan dikalahkan Thio yan-coan.

Akan lebih baik jika Ciamtay Cu-ih terus lari pergi setelah kalah, juga gurunya bisa lekas pergi, dengan demikian Sau Peng-lam dapat merawat lukanya dengan tenang.

Maklumlah, keadaan Sau Peng-lam saat ini cukup gawat, bilamana Ciamtay Cu-ih menerjang tiba dan membikin ribut, kalau luka Peng-lam kambuh lagi, maka pasti akan binasa.

Dalam pada itu terdengar suara Thio Yan-coan bergema dikejauhan: "Ciamtay-wancu, kamar itu terlalu sempit, gerak-gerik kurang leluasa, marilah kita bertempur 300 jurus lagi ditempat yang lapang sana untuk menentukan siapa yang lebih lihay.

Jika kau menang, biarlah si Melati yang cantik manis ini akan kuserahkan padamu, sebaliknya bila kau kalah, maka si Melati adalah bagianku." Di bilik ucapannya itu se-olah2 hendak bilang sebabnya Ciamlay Cu-ih bertempur dengan dia adalah karena berebut perempuan, demi mendapatkan salah seorang pelacur "Kun-giok-ih" yang bernama si Melati.

Bagi Thio Yan-coan yang namanya memang terkenal busuk tentu saja bukan soal, dia sudah biasa masuk keluar rumah maksiat seperti orang masuk restoran, sedikitpun tidak.

mengherankan.

Akan tetapi Ciamtay Cu-ih adalah seorang guru besar suatu perguruan ternama.

mana boleh disejajarkan dengan bergajul semacam Thio Yan-coan ini" Waktu bertarung didalam kamar tadi, hanya dalam sekejap saja mereka sudah bergebrak lima puluhan jurus, permainan golok Thio Yan-coan ternyata sangat lihay, menyerang atau berjaga sangat teratur.

Menurut peikiraan Ciamtay Cu-ih, ilmu silat lawan jelas tidak di bawah dirinya, apabila harus bertempur lagi 300 jurus, betapapun ia tidak yakin akan menang.

Karena itulah ia tidak menanggapi tantangan Thio Yancoan tadi, seketika suasana menjadi sunyi senyap.

Gi-lim seakan- dapat mendengar suara detak jantung sendiri, ia mendekatkan kepalanya ketepi telinga Fifi dan bertanya dengan suara tertahan: "Apakah mereka akan masuk ke sini?" Padahal umur Fifi jauh lebih muda dari padanya, dalam keadaan genting itu Gi-lim merasa kehilangan akal dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya, ia seperti berubah menjadi anak kecil yang tidak paham apapun, Fifi tidak menjawabnya, tapi lantas mendekap mulutnya.

Maka terdengarlah Wi Kay-hou sedang berkata: "Ciamtay-wancu, kejahatan keparat Thio Yan-coan sudah kelewat takaran, biarlah kita bereskan dia lain hari saja dan tidak perlu ter-buru2.

Rumah pelacuran ini sangat menjijikkan, sudah lama ada niatku hendak menumpasnya, sekarang menjadi kebetulan.

Tay-lian, Oh-gi, be-ramai2 kalian masuk kesana dan periksu seluruhnya, satu orangpun tidak boleh lolos." Murid keluarga Wi, yaitu Hiang Tay-lian dan Bi Oh-gi, berbareng mengiakan.

Menyusul Ting-yat juga cepat memberi perintah kepada anak muridnya agar mengepung rapat sekeliling rumah maksiat ini.

Sebagai Nikoh, tidak leluasa bagi mereka berterobosan di rumah pelacuran, sekarang Wi Kay-hou bersama muridnya tampil untuk menggeledahnya, tentu saja kebetulan bagi Ting-yat Suthay.

Gi-lim menjadi kelabakan, didengarnya suara bentakan anak murid keluarga Wi sedang mengobrak-abrik rumah pelacuran itu, mereka memeriksa satu kamar demi satu kamar, Wi-kay-hou dam Ciamtay Cu-ih mengawasi disamping.

Terdengar jerit tangis orang, agaknya Okui atau germo serta pembantunya telah dihajar oleh rombongan Hiang Tay-lian.

Ditambah lagi anak murid Tang-wan yang ingin melampiaskan kematian temannya yang dibunuh Thio Yancoan itu, mereka pun ikut beraksi, semua alat perabot rumah pelacuran itu telah dihancurkan mereka.

Terdengar rombongan Hiang Tay-lian sudah mulai memeriksa kamar2 samping, sebentar lagi pasti akan sampai dikamar tempat persembunyinya.

saking cemasnya hampir saja Gi-lim jatuh kelengar, Pikirnya: "Suhu datang hendak menyelamatkan diriku, tapi aku tidak bersuara, sebaliknya mengeram di kamar rumah pelacuran bersama seorang lelaki.

Meski dia terluka parah, tapi bila orang2 Thay-san-pay dan Hong-hoa-wan itu membanjir tiba dan mempergoki dirinya, biarpun aku punya seribu mulut juga sukar memberi penjelasan dan mencuci bersih diriku.

Jika nama baik Siong-san-pay sampai tercemar, cara bagaimana aku harus bertanggung-jawab terhadap Suhu dan para Suci?" Karena merasa berdosa dan putus asa, mendadak ia hendak membenturkan kepalanya di dinding untuk membunuh diri.

Syukur Fifi keburu menariknya sambil membentak dengan suara tertahan: "Jangan! Marilah kita menerjang keluar!" Tapi mendadak terdengar suara 'kresak kresek', tahu2 Sau Peng-lam telah berbangkit dan berduduk di tempat tidur, ucapnya dengan pelahan:' Nyalakan lilin!" "Untuk apa"!" tanya Fifi.

"Kubilang nyalakan lilin!" kata Peng-lam pula, suaranya kereng.

Fifi tidak tanya lagi, ia mengetik api dan menyulut lilin.

Di bawah cahaya lilin Gi-lim dapat melihat muka Sau Peng-lam yang pucat pasi seperti mayat itu, tanpa terasa ia menjerit pelahan.

Tiba2 Sau Peng-lam menunjuk mantelnya yang tertaruh diujung tempat tidur dan berkata: "Sampirkan mantel itu pada tubuhku!" Dengan gemetar Gi-lim melaksanakan permintaan Sau Peng-lam itu.

Peng-lam memegangi dada baju mantel itu untuk menutupi luka dan noda darah dibagian dada, lalu berkata: "Lekas kalian berbaring ditempat tidur." Kik fi-yan mengikik-tawa, katanya: "Hah, permainan menarik" Segera ia menarik Gi-lim dan menyusup ke dalam selimut.

Dalam pada itu orang2 diluar sudah melihat cahaya lilin di kamar ini, terdengar beberapa orang berseru: "Coba periksa kamar itu!" Serentak membanjirlah orang2 itu kearah sini.

Sekuatnya Sau Peng-lam melangkah maju dan merapatkan daun pintu serta dipalang sekalian, lalu ia berpaling dan memandang ketempat tidur, segera ia mendekati ranjang itu dan menyingkap kelambu, katanya: "Semuanya menyusup kedalam selimut!" "Kau ....

kau jangan bergerak, hati2 dengar lukamu .

" kata Gi-lim.

Tapi Peng-lam lantas mendorong kepala Gi-lim kedalam selimut, sebaliknya rambut Fi-yan yang panjang itu ditariknya keluar dan dilebarkan diatas bantal.

Karena mendorong dan menarik ini, Peng-lam merasa darah mengucur keluar lagi dari lukanya.

Kakinya terasa lemas, ia berduduk ditepi ranjang.

Sementara itu orang2 tadi sudah datang, ada yang sedang menggedor pintu dan ada yang berteriak: "Hayo buka pintu, bangsat!" Menyusul lantas terdengar suara "blang" yang keras, pintu kamar telah didobrak hingga terpentang, beberapa orang menerjang masuk sekaligus.

Dan orang yang paling depan adalah murid Tang-wan yaitu Ji Ci-eng dan Ci Cihiong, sesudah isrirahat di Thay-an kemarin dan merasa mulai sehat, segera mereka menyusul kesini untuk bergabung dengan gurunya.

Mereka menjadi kaget demi mengetahui siapa yang berada di dalam kamar ini, teriak mereka: "He, kau Sau .

Sau Peng-lam!.

" Mungkin karena pernah didepak hingga mencelat, mereka menjadi kapok dan kuatir tertendang lagi, serentak mereka menyurut mundur, suara merekapun terasa gemetar.

Hiang Tay-lian dan Bi Oh-gi tidak kenal Sau Peng-lam, tapi mereka mendengar cerita Gi-lim, katanya Sau Penglam sudah dibunuh Lo Ci-kiat.

Kini Ci-eng dan Ci-hiong berteriak nama Sau Peng-lam, mereka terkesiap dan tanpa terasa melompat mundur juga, Semuanya terbelalak memandangi Peng-lam.

Pelahan Peng-lam berdiri, ucapnya: "Kalian....kalian sebanyak ini.

" "Sau Peng-lam," potong Ci-hiong, "kiranya....kiranya kau tidak mati.

" "Hm, masa begitu gampang mati?" jengek Peng-lam.

Segera Ciamtay Cu-ih memburu maju, serunya: "Jadi kau inilah Sau Peng-lam" Bagus, bagus sekali!" Peng-lam memandangnya sekejap tanpa menjawab.

"Apa yang kau lakukan dirumah pelacuran ini"! tanya Ciamtay Cu-ih.

"Hahahaha!" Peng-lam bergelak tertawa.

Post a Comment