“Siapakah engkau dan perlu apa menghentikan perkelahian kami?” Tanya Kiu-bwe-houw Gan Lok dengan suara heran.
“Tidak penting mengetahui siapa adanya aku,” jawab pria itu yang bukan lain adalah Liu Bhok Ki.
Seperti kita ketahui, orang gagah ini berhasil mendapatkan tubuh ular yang dijadikan perebutan sebagai anak naga itu, menggigit kepalanya dan menelan “mustika” yang terdapat di dalam kepala ular, lalu roboh pingsan di dalam perahunya. Karena dia pingsan, tidak ada orang lain yang tahu apa yang telah terjadi dan mengira bahwa anak naga itu lenyap setelah darahnya dihisap oleh dua orang anak itu. Lama juga Liu Bhok Ki jatuh pingsan. Setelah sadar, dia merasa girang sekali mendapat kenyataan bahwa luka akibat pedang di tangan Sim Lan Ci, luka oleh pedang Cui-mo Hek-kiam yang mengandung raun jahat itu ternyata telah bersih dari racun.
Tidak lagi ada tanda menghitam, dan tidak ada perasaan nyeri. Ternyata “mustika” naga itu benar-benar ampuh dan telah menyembuhkannya! Dia merasa bersukur sekali, akan tetapi juga kuatirkan nasib dua orang anak kecil yang tadi digigit oleh anak naga.
Dia lalu bangkit duduk mendayung perahunya sampai dia mendengar bahwa dua orang anak yang dikabarkan telah menghisap darah anak naga itu, kini terjatuh ke dalam tangan Kiu-bwe-houw dan Kim-kauw-pang di sebuah tepi sungai. Cepat diapun melakukan pengejaran kesana bersama-sama oraorang lain dan ketika para tokoh kang-ouw itu berkelahi untuk memperebutkan dua orang anak itu, dia lalu turun tangan dan berteriak menyuruh mereka semua berhenti berkelahi.
“Kalian semua tahu bahwa mereka bukanlah binatang seperti anak naga, bukan pula benda seperti mustika naga yang boleh dipakai perebutan begitu saja. Mereka adalah dua orng anak manusia, oleh karena itu sungguh tidak patut kalau kalian memperebutkan mereka dan hendak memaksa mereka dengan maksud buruk! Sebagian dar kalian adalah pendekar yang gagah, bagaimana mempunyai niat buruk untuk membunuh mereka dan mengambil darah mereka?”
Mendengarucapan ini, Han Beng dan Giok Cu terkejut bukan main. Kiranya mereka diperebutkan untuk dibunuh dan diambil darah mereka! Han Beng kini memandang kepada mereka semua dengan mata terbelalak dan muka yang panas itu kini menjadi marah sekali. Dia marah! Kemarahan luar biasa yang belum pernah dialami selama hidupnya. Kemarahan yang seolah terdorong oleh hawa panas di tubuh dan dalam perutnya itu.
Sementara itu, para tokoh pendekar merasa rikuh mendengar ucapan Liu Bhok Ki. Dua orng diantara para tokoh itu, segera melangkah maju mendekati Han Beng dan Giok Cu. Mereka tersenyum dan seorang diantara mereka berkata kepada Han Beng. “Anak baik, memang seharusnya engkau diajak secara baik-baik. Marilah engkau ikut bersamaku. Kau akan hidup berkecukupan, minta apapun akan kubelikan dan kalu ingin belajar silat akan kuajari ilmu silat tinggi sehingga kelak engkau akan menjadi seorang gagah perkasa!”
“Dan engkau ikut dengan aku, anak manis. Kau akan kuanggap seperti anakku sendiri,” kata orang kedua kepada Giok Cu.
Han Beng sejak tadi sudah marah bukan main. Hawa panas di dalam tubuhnya seperti berpusing di dalam tubuhnya, membuat kepalanya semakin pening dan pandang matanya berkunang. Sepasang matanya mencorong seperti mata harimau dan wajahnya menjadi ganas sekali.
Kini melihat dua orang itu membujuk dia dan Giok Cu, teringat dia akan ucapan laki-laki gagah tadi bahwa mereka semua itu hendak membunuh dia dan Giok Cu dan mengambil darah mereka berdua. Teringat ini, kemarahannya berkobar dan dia pun menerjang maju, menghantam dengan tangan terbuka, beruntun kepada dua orang itu. Dua orang kang-ouw itu adalah orang-orang pandai, tentu saja tidak mempedulikan serangan Han Beng, seorang anak kecil berusia dua belas tahun.
“Desss! Dessss!! Dua tubuh orang itu terlempar sepeerti daun-daun kering tertiup angina, terhuyung kemudian roboh dan tidak bangkit kembali. Dari mulut, hidung, mata dan telinganya keluar darah dan jelas bahwa dua orang itu tidak dapat diselamatkan lagi!
Keadaan menjadi gempar!
Semua orang kini hendak menangkap Han Beng karena mereka semua semakin yakin bahwa anak itu benar- benar menjadi kuat berkat minum darah anak naga! Dan kini Han Beng mengamuk. Dia kini sudah seperti mabuk, terhuyung- huyung dan memejamkan mata, mulutnya mengeluarkan suara tidak karuan. Dia merasa betapa tubuhnya ringan dan seperti hendak terbang keatas, seluruh tubuh yang panas itu berdenyut-denyut tidak karuan, seolah-olah setiap saat dada, kepala dan perutnya akan meledak!
Dan setiap kali ada tangan menyentuhnya, dia menghantam. Juga telinganya dapat menangkap setiap gerakan orang, maka tanpa membuka matanya dia mengetahui bahwa ada orang mendekatinya dari belakang, depan kanan atau kiri dan setiap kali tanganya menghantam, tentu bertemu tubuh orang.
Dia tidak tahu betapa setiap pukulannya membuat seorang jagoan terlempar dan terbanting, ada yang tewas seketika, ada pula yang terluka parah atau ringan, tergantung dari tingkat kepandaian orang itu.
Nampaklah pemandangan yang luar biasa sekali, lucu dan aneh. Orang-orang yang terkenal sebagai orang-orang gagah di dunia persilatan, yang bertubuh tinggi besar, bersikap garang dan bertenaga besar, seperti mengeroyok seorang anak kecil dan anak itu mngamuk, memukul sana-sini tanpa gerakan silat sama sekali, melainkan gerakan ngawur dan memukul biasa saja terdorong kemarah. Seperti seorang anak yang nekat. Akan tetapi hebatnya, setiap kali pukulannya mengenai sasaran, yang dipukul tentu roboh terlempar dan terbanting keras, seperti ditumbuk oleh kekuatan yang amat dasyat!
Tentu saja org-orang itu tadinya tidak bermaksud mengeroyok, melainkan hendak menangkapnya, akan tetapi kini juga menyerang untuk merobohkan anak itu agar dapat mereka paksa dan mereka bawa pergi. Kembali han Beng menjadi perebutan. Giok Cu adalah seorang anak perempuan yang lincah dan memang bagi anak perempuan tergolong berani dan nakal. Ia pun pening dan mabuk, akan tetapi ternyata ia memiliki perasan setiakawan yang tinggi.
Biarpun perasaan tubuhnya tidak karuan, begitu melihat Han Beng dikeroyok, iapun menjadi marah dan ia ikut pula memukul-mukul! Dan hebatnya, biarpun pukulannya tidak sekuat han Bng, namun pukulan tangannya mengandung hawa panas yang membuat orang yang terpukul cukup menderita nyeri dan kepanasan dan mereka pun terhuyung kebelakang. Akan tetapi, Giok Cu tidak sekuat han Beng karena sebuah tendangan membuat ia jatuh tersungkur. Akan tetapi begitu ada tangan hendak menangkap anak perempuan yang terjatuh itu, han Beng menerjang kedepan dan pukulan tangannya yang menampar mengenai pundak orang yang hendak menangkap Giok Cu.
“Auhhh !” orang itu terjungkal dan berguling menjauh
sambil mengaduh-aduh.
Han Beng mengamuk terus. Biarpun kepalanya pening, namun agaknya mengenai sasaran dan berhasil menghalau orang-orang yang hendak menangkap dia dan Giok Cu. Maka, anak itu kini bukan hanya membela diri, bahkan memukul siapa saja yang berani mendekat tanpa menanti untuk ditangkap lagi.
Dan akibatnya memang hebat. Orang-orang kang-ouw itu terheran-heran karena bocah ini memang memiliki tenaga yang dasyat sekali, selain kuat, juga gerakan kedua tangannya yang memukul dengan ngawur itu mengandung hawa panas yang luar biasa.
Beberapa orang yang mencoba untuk menangkis pukulan anak itu, ketika lengan mereka bertemu dengan lengan kecil Han Beng, mereka mengaduh dan terpelanting keras. Bahkan ada yang tulang lengannya patah, dan setidaknya mereka tentu merasa betapa lengan mereka itu nyeri dan panas seperti bertemu dengan besi panas!
Liu Bhok Ki yang tadinya muncul dan hendak melindungi dua orang bocah yang telah berjasa kepadanya karena anak laki-laki itu tadi melemparkan anak naga kepadanya, kini memandang dengan bengong.
Tidak mungkin bocah sekecil itu memiliki kepandaian tinggi. Apalagi melihat gerakan bocah itu ketika memukul, sama sekali tidak menggunakan gerakan ilmu silat. Namun, pukulannya amat ampuh! Bahkan ketika ada beberapa orang yang menyerang bocah itu dan dia melihat betapa pukulan tangan mereka itu mengenai tubuh anak yang mengamuk, pemukul itu menarik kembali tangannya dan seperti dibakar rasanya, dan anak yang terpukul sama sekali tidak bergoyang! Liu Bhok Ki juga amat cerdik.
Tentu ini akibat darah anak naga, pikirnya. Kalau begitu memang anak-anak telah menghisap darah anak naga sampai habis. Ketika dia menerima tubuh anak naga itu, binatang ajaib itu sudah lemas dan kehilangan darah, bahkan ketika dia menggigit pecah kepala anak naga itu, hampir tidak ada darah keluar. Agaknya, setelah menghisap darah binatang ajaib itu, kedua anak itu, terutama anak laki-laki itu, memiliki tenaga yang bukan main dasyatnya!
Semua orang terkejut dan heran, apalagi kini mendengar han Beng mengeluh dan mengerang seperti kesakitan sambil terus menyerang ke kanan kiri secara kalang kabut. Memang terjadi keanehan pada tubuh Han Beng. Begitu ketika menggerakkan kaki tangan memukul dan menyerang, seperti ada tenaga dasyat dan panas menguasainya sepenuhnya, dan tenaga itu tidak mau berdiam lagi, terus berpusing di dalam tubuhnya sehingga dia pun tidak dapat lagi menghentikan gerakan kai tangannya! Rasa nyeri makin menghebat terutama di dada dan bawah pusar, sedangkan kedua pasang kai tangannya setiap kali digerakkan mengeluarkan bunyi berkerotokan! Ini menandakan bahwa tenaga mukjijat itu, hawa sakti yang panas itu, muli menyusup kedalam tulang-tulangnya!
Orang-orang kang-ouw itu menjadi gentar setelah belasan orang roboh malang melintang oleh pukulan-pukulan Han Beng dan kini mereka mundur mengatr jarak menjauhkan diri.