Halo!

Manusia Aneh di Alas Pegunungan Chapter 18

Memuat...

Sesudah sehari pula, sampai petangnya, tiba2 mereka melihat di tepi jalan terdapat sebuah gardu istirahat yang kecil.

Didalam gardu itu berduduk dua orang wanita yang berdandan sebagai suku Biau (Miao), yang satu sudah nenek keriput, sedang lainnya gadis jelita.

Kulit badan gadis itu putih laksana salju, tapi diantara putih itu bersemu ke-hijau2an seperti bukan manusia hidup.

Namun ketika kedua bola matanya mengerling, menimbulkan rasa senang bagi orang yang memandangnya.

A Siu, siapakah orang yang datang ini ? tanya sinenek itu dengan suara tertahan ketika mendengar Jun-yan dan suseng itu mendekati gardu.

Entah siapa, belum pernah kenal sahut si gadis dengan wajah heran sesudah memandangi kedua orang.

Barulah kini Jun-yan berdua memperhatikan bahwa nenek itu adalah seorang buta.

Tiba2 suseng itu merosot dari keledainya, dengan jari tunggal ia gantol semacam benda kehitam2an yang diambil dari bajunya, lalu disodorkan sambil bertanya .

Apakah aku berhadapan dengan Tiat hoa-popo ? periksalah ini ! Jun-yan tidak jelas benda apa yang diangsurkan sisuseng itu, cuma dalam hati ia merasa heran untuk apa It-ci Toako ini bersalaman dengan orang Biau dan memanggilnya Tiat-hoa-po po atau nenek bunga besi segala.

A Siu, coba kau ambilkan, terdengar nenek tadi berkata.

Lalu si gadis Biau tampak bisik-bisik beberapa kali dalam bahasa mereka.

Karena kepalanya bergerak, maka anting2 besar di telinganya ikut bergoncang tiada hentinya.

Kemudian nenek itu per- lahan2 telah berbangkit.

Karena tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, maka Jun-yan berdiam diri saja, tapi perhatiannya tidak lepas dari gerak-gerik wanita2 Biau itu, yang menurut kabar, suku Biau pandai main guna2 dan meracun, mungkinkah mereka akan mencelakai engko jari satunya? Karena pikiran ini, maka ia hendak mendekati kearah mereka bertiga.

Tapi tiba2 dilihatnya sisuseng telah menoleh sambil memberi tanda padanya supaya Jun-yan diam2 saja, terpaksa si gadis urungkan niatnya, meski hatinya penuh tanda tanya.

Sesudah Tiat-hoa-popo berdiri, ia ambil benda dari tangan sisuseng serta di- raba2nya dengan teliti.

Barulah sekarang Jun-yan dapat melihat jelas bahwa benda itu berbentuk bunga seruni yang terbuat dari besi.

Setelah me-raba2 sebentar, terdengar nenek itu bersuara puas, lalu katanya .

Betullah, nah pergilah, kiri tiga, kanan tujuh, timur tiga belas, dan barat delapan belas ! Jun-yan menjadi bingung oleh istilah2 itu, tapi sisuseng meng-angguk2 dan menyahut .

Banyak terima kasih atas petunjuk Popo ! Baru saja mereka putar tubuh hendak berlalu, tiba2 si gadis jelita tadi memandang tajam kearah Jun-yan dan bersuara .

Tiat-hoa-popo ! Ada apa ? nenek itu menjawab.

Tapi si suseng itu sudah keburu kedipi si gadis sembari jari tunggalnya itu menggandeng sebelah tangan orang.

Gadis itu menjadi ragu2 sejenak, tapi akhirnya ia berkata pula pada sinenek.

Tidak apa2, aku hanya panggil biasa saja! Segera sisuseng itu menarik gadis jelita ini kepinggir dan berbisik.

A Siu, terima kasih kau tidak menceritakan pada Tiat-hoa-popo.

Tapi gadis itu tidak menjawab, hanya mengebas tangannya dengan muka merah jengah, ia melirik sekilas pada sipemuda lalu menunduk.

Melihat itu, perasaan Jun-yan menjadi kecut.

Namun sisuseng sudah menaiki keledainya dan melanjutkan perjalanan.

Sesudah jauh tak tahan lagi segera Jun-yan menanya.

It-ci Toako, tadi nenek itu bilang tentang kiri-kanan-timur-barat, apa2an itu? Ia menunjukan suatu tempat tujuan kita, yaitu didepan sana yang disebut Bwe-ho- cap-peh-tong.

Tempat itu sangat sulit didatangi karena jalannya yang me-lingkar2 bagai jaring laba-laba, maka apa yang dikatakan nenek itu tadi yalah langkah2 kemana kita harus membalik sesudah sampai dipersimpangan jalan.

Masih Jun-yan belum faham, tanyanya pula.

Lalu untuk apa sesudah sampai disana? Kita bicarakan kalau sudah sampai disana, sahut si suseng.

Kembali jawaban demikian yang diperoleh, Jun-yan menjadi uring2an.

Sepanjang jalan ia sudah sering tanya, dan selalu mendapat jawaban yang sama, padahal ia justru sangat ingin tahu.

Maka omelnya.

Aku minta sekarang juga kau terangkan, bila tidak, biar aku kembali saja.

Habis berkata, ia pura2 hendak merosot kebawah keledai.

Diam2 si suseng rada kuatir, maka terpaksa katanya.

Tujuan kita menyangkut urusan besar.

Kita berada ditanah Biau, mereka ada peraturan yang menentukan orang tidak boleh sembarangan omong.

Maka nona, haraplah kau sabar dulu? Jun-yan serba salah, kalau melihat sikap pemuda ini, tampaknya bukan pura2.

Maka sesudah berpikir, katanya kemudian.

Jika begitu, masa namamu juga tidak boleh kuketahui? Apakah selama hidup aku harus memanggil It-ci Toako? Sesudah mengucapkan ini, barulah teringat olehnya agak ketelanjuran hingga mukanya menjadi merah.

Namun suseng itu tampaknya lagi susah oleh recoknya, maka tidak memperhatikannya, dan sahutnya.

Soalnya karena namaku tak sedap didengar, maka tidak ingin kau tahu.

Baiklah kukatakan, aku she Ti, bernama Put-cian (tidak cacat) .

Mendadak Jun-yan tertawa.

Namamu tidak cacat, tapi jarimu justru bercacat, kesembilan jarimu itu....

Sebenarnya ia hendak bertanya mengapa jarimu itu putus, tapi belum terucapkan, tiba2 teringat seseorang olehnya hingga tanpa terasa ia berseru.

He, Kanglam-it-ci-seng, kau adanya? Benar , sahut sisuseng mengangguk.

Jun-yan coba meng-amat2i orang sejenak, kemudian menggumam sendiri.

Kau adalah Kanglam-it-ci-seng? Ah, bukan, bukan! Tentu memalsukan namanya! Lalu, macamnya Kanglam-it-ci-seng itu dalam bayanganmu, seharusnya bagaimana, nona? tanya Ti Put-cian tertawa.

Aku tidak pernah melihatnya, tapi....tapi....Sebenarnya ingin bilang.

tapi betapapun juga takkan secakap macam suseng muda seperti kau ini! cuma kata2 ini tak enak diutarakan.

Rupanya Ti Put-cian dapat meraba dugaan orang, maka katanya.

Ha, dalam bayangan nona, Kanglam-lt-ci-seng yang terkenal jahat itu tentu berwujut seorang yang kepalanya sebesar gantang, mata sebesar mangkok, ditambah lagi hidungnya sebesar kentongan, mulut sebesar baskom, penuh berewok macam singa, bukan? Jun-yan terkikih geli oleh kata2 itu, sahutnya.

Tak peduli apa dia singa atau macan, sekalipun kau benar Ti Put-cian, masakan aku takut padamu? Berani kau menyentuh seujung rambutku? Kiranya nama Kanglam-lt-ci-seng Ti Put-cian atau si pemuda jari tunggal dari kanglam itu sangat disegani orang Bu-lim.

Pada jari satu-satunya itu terpasang segolongan emas yang bisa mulur mengkeret dan khusus dipakai untuk mematuk, ilmu yang menjadi kemahirannya.

Tindak tanduknya kejam, ganas dan tak pilih bulu.

Sebab itulah Jun-yan mulai meragukan kebenaran Kanglam-it-ci-seng yang tersohor sebagai momok itu bisa berupa seorang suseng tampan, malahan diam2 ia sendiri telah jatuh hati padanya.

Sudahlah, jangan2 kita akan kesasar , kata Ti Put-cian kemudian sambil tertawa.

Karena benih cinta telah tumbuh pada orang dengan sendirinya yang terpikir olehnya hanya mengenai hal2 yang baik, maka Jun-yan menjadi lupa namanya lebih jauh soal tadi.

Sebaliknya Ti Put-cian sedang memperhatikan jalan yang mereka lalui itu, haripun mulai gelap.

Dan sesudah melingkat kian kemari, akhirnya terdengar Ti Put- cian berkata .

Sudah sampai ! Segera hidung Jun-yan mengendus bau harum bunga Bwe, sejauh mata memandang, pepohonan jarang2, tetapi bunga2 mekar mewangi ditambah bulan baru menyinari malam nan indah itu.

Jun-yan benar2 kesemsem akan keadaan waktu itu.

Ketika tiba2 mendengar pemuda itu bilang sampai, ia memandang kearah barat, ia lihat tidak jauh sebuah tebing curam tegak berdiri, tampaknya satu jalan buntu, maka jawabnya .

It-ci Toako, jalan sana buntu, jangan-jangan nenek itu salah menunjukkan jalan ? Tidak, Bwe-hoa-cap-peh-tong memang melingkar-lingkar tempatnya, jika orang kesemsem akan pemandangan sekitarnya, tentu dia akan kesasar , sahut Ti Put-cian.

Mereka terus menuju ketebing curam itu, sesudah dekat, tampaklah di bawah semak-semak rotan pegunungan situ terdapat sebuah gua, setelah memasuki gua itu dan berbiluk-biluk didalamnya, akhirnya menembusi perut pegunungan itu dan sampai disuatu lembah dengan lima gua yang lebih besar.

Ketika beberapa gua dilewati pula dan sampai digua kedelapan belas, jauh-jauh sudah terdengar didalam perut gunung itu suara tambur dipukul riuh ramai mengejutkan orang.

Sampailah tempat tujuan kita , kata Ti Put-cian akhirnya.

Mendengar sudah sampai, segera Jun-yan mengamati tempat itu, ia lihat didekat gua sana tumbuh beberapa pohon Bwe dengan bunga sebesar mangkok dan ranting2nya yang lebat.

Suara tambur itu berkumandang terus dari dalam gua.

Ti Put cian melepaskan keledainya agar pergi makan rumput sendiri, lalu Jun-yan diajaknya mendekati pintu gua.

Ternyata gua itu berpintu besi yang sangat lebar dan setinggi lebih dua tombak hingga nampaknya sangat megah.

Lalu suseng itu mengeluarkan bunga seruni besi dari bajunya dan mengetok beberapa kali pada pintu besi.

Melihat itu, hati Jun-yan penuh tanda tanya, namun ia coba menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tidak lama, pintu besi itu terdengar berbunyi, tampak satu lubang kecil terpentang dari lubang itu.

Ti Put-cian angsurkan bunga seruni besi.

Sebentar kemudian, pintu besi itu terbuka, didalam gua itu gelap gulita, Jun-yan kencang2 menggendoli lengan si pemuda dan ikut masuk kedalam.

It-ci Toako, kemanakah kita ini ? tanya pula Jun-yan.

Didepan ada orang mengunjukan jalan bagi kita, sebentar lagi tentu kau akan jelas melihatnya , sahut Ti Put-cian.

Tak lama kemudian, karena sudah biasa dalam kegelapan, samar2 Jun-yan dapat melihat di depan betul saja ada dua orang Biau yang tegap bertombak sedang menunjukan jalan.

Sesudah beberapa jauhnya, di depan terdapat pintu besi semacam itu.

Suatu saat Jun-yan merasa angin silir berkesiur lewat disampingnya.

Tepat pada saat itulah, tiba2 Ti Put-cian berpaling menanya.

Jun-yan, sepanjang jalan, apakah kau merasa bahwa manusia aneh itu terus mengintil di belakangmu? Barusan saja terasa angin lewat menyambar disampingku, apakah kau tidak berasa ? sahut Jun-yan.

Post a Comment