Makin lama makin sukarlah keadaan Lim Bun beserta cucu- cucunya Barang-barang yang kiranya laku dijual telah lama habis dan kini hanya tinggal sawah yang kecil itu saja yang masih ada. Namun agaknya Thian masih hendak menguji keuletan manusia di dunia, dan percobaan-percobaan berat diturunkan kepada manusia untuk diderita oleh makhluk- makhluk yang diturunkan di dunia tanpa mereka kehendaki sendiri itu.
Musim kering berlangsung amat lamanya sehingga dari sebidang kecil sawah itupun tidak dapat diharapkan hasilnya. Tanahnya mengering, pecah dan retak-retak, sedikitpun tidak dapat ditumbuhi apa-apa melainkan rumput-rumput kering menguning.
Di ambang pintu kelaparan, akhirnya Lim Bun dan anak perempuannya terpaksa lari ke sebuah rumah gadai yang istimewa. Rumah gadai ini amat besar dan pemiliknya adalah Santung-taihiap Siong Tat yang amat berpengaruh dan disohorkan sebagai seorang hartawan besar yang royal. Ketika Lim Bun dengan terbongkok-bongkok memasuki rumah gadai ini, penjaga rumah gadai menanyakan apakah maksud kedatangannya. “Hamba hendak meminjam uang,” jawab Lim Bun yang merendahkan diri sedemikian rupa terhadap pegawai itu karena mengharapkan pertolongan darinya.
Pegawai rumah gadai mengerutkan dahinya.
“Minta tolong pinjam uang? Di sini tidak mminjamkan uang tanpa ada barang tanggungan. Di sini adalah rumah gadai. Apakah kau mempunyai barang tanggungan?”
“Hamba mempunyai sebidang sawah, siauwya (tuan muda).”
Disebut “siauwya” yakni sebutan yang amat menghormat dan biasanya hanya ditujukan kepada orang-orang muda yang kaya atau berpangkat, pegawai rumah gadai yang masih muda itu berseri mukanya dan tersenyum, akan tetapi dahinya tetap dikerutkan.
“Sawah? Siapakah yang menghargai sawah pada musim kering seperti ini? Lagi pula, di sini hanya menerima sesuatu yang dapat dibawa ke sini untuk disimpan sebagai tanggungan.”
“Siauwya, kasihanilah .... hamba sudah tidak mempunyai apa-apa lagi kecuali sawah itulah, semua barang sudah kami jual untuk dimakan.”
“Hm, sukar juga, pak tua!” Kemudian pegawai rumah gadai itu menggigit-gigit tangkai pitnya seperti orang sedang berpikir keras. Tiba-tiba ia memandang dan bertanya dengan suara perlahan. “Apakah kau mempunyai anak atau cucu yang masih gadis?”
Pertanyaan yang aneh ini membuat Lim Bun me lenggong, akan tetapi ia menjawab juga. “Memang hamba mempunyai seorang cucu perempuan yang masih gadis bernama Siauw Kim, akan tetapi apakah hubungannya dengan urusan ini?”
Orang muda di dalam kantor rumah gadai itu mengangguk- angguk dan tersenyum. “Kalau cucumu itu cantik, ia akan dapat dijadikan tanggungan untuk peminjaman uang. “Makin cantik, makin banyaklah kau dapat meminjam.”
“Apa ...?” Untuk beberapa lama orang tua itu memandang dengan mata terbelalak. “Kau maksudkan ... seorang gadis dapat di ....digadaikan di sini ....? Alangkah ....alangkah ”
“Sst, jangan mengeluarkan kata-kata yang tidak-tidak, lopek.”
Pegawai itu menempelkan pit pada bibirnya untuk mencegah orang tua itu berkata lancang. “Yang mengeluarkan peraturan ini adalah Siong-wangwe sendiri dan apakah buruknya itu? Orang miskin yang tidak mempunyai barang tanggungan tentu saja tak dapat meminjam uang, maka Siong-wangwe lalu mendapatkan pikiran yang amat baik ini. Dengan menggadaikan anak perempuannya, orang dapat meminjam uang dan setelah ia mempunyai uang penebus, ia dapat menebus kembali anak perempuannya. Apakah salahnya itu? Anak perempuannya akan diurus baik-baik, disuruh bekerja membersihkan halaman dan pekerjaan wanita lainnya, diberi makan cukup!”
“Akan tetapi .... mengapa diukur dari kecantikannya ?”
Orang muda pegawai rumah gadai itu tersenyum dan menahan gelak ketawanya. “Lopek, kau seperti anak kecil saja! Bukankah semua benda di dunia ini, baik itu berjiwa atau tidak, se lalu dinilai orang karena kebagusannya? Nah, kau pulanglah dan pikirlah baik-baik, kau membiarkan sekeluargamu mati kelaparan atau datang menyerahkan cucumu untuk menjadi tanggungan di sini dan dapat meminjam uang. Kami menanggung bahwa cucumu itu takkan diganggu oleh siapapun juga dan akan dapat ditebus dalam keadaan baik dan sama sekali tidak terganggu. Akan tetapi, kalau sampai kau tidak dapat menebus pada waktunya dan waktu pembayaran itu telah habis, maka cucumu akan menjadi hak milik Siong-wangwe dan dalam hal ini tentu saja dia dapat berlaku sekehendak hatinya terhadap hak miliknya!” Lim Bun menjadi pucat dan tanpa dapat bicara lagi ia lalu pergi dari rumah gadai itu dengan langkah terhuyung-huyung. Sepanjang jalan pikirannya bekerja keras. Haruskah ia menggadaikan cucu perempuannya, Siauw Kim yang manis? Haruskah ia mengorbankan perasaan dan kehormatan gadis cucunya itu untuk menolong keluarganya? Ah, tidak, tidak! Sekali lagi tidak! Biarpun ia m iskin, ia masih mempunyai keangkuhan untuk melakukan hal itu. Sungguhpun ia harus mati kelaparan, ia tidak suka melihat cucunya itu dijadikan barang tanggungan yang tentu akan merendahkan nama baiknya, sebagai seorang anak gadis.
Akan tetapi, keangkuhan hatinya itu buyar sama sekali ketika sampai di rumah gubuknya disambut oleh tangisan- tangisan yang menyayat kalbu. Ternyata bahwa cucunya yang bungsu, yang menderita sakit panas ketika ditinggalkannya tadi, kini te lah meninggal dunia.
Di dalam kehancuran hati mereka, ibu Siauw K im dan gadis itu sendiri masih teringat kan kebutuhan uang guna pengurusan jenazah anak kecil itu dan juga untuk membeli makanan bagi anak-anak yang lain yang sudah menderita lapar semenjak kemarin.
“Bagaimana, ayah? Berhasilkah usahamu mencari pinjaman ke rumah gadai?” tanya anak perempuannya dengan suara terisak.
Lim Bun menjatuhkan diri di atas tanah karena mereka tidak mempunyai tempat duduk dari bangku lagi dan tak tertahan lagi kakek ini lalu menangis. Kemudian di antara sedu sedan dan elahan napasnya ia menceritakan tentang usul pegawai rumah gadai itu.
Mendengar betapa rumah gadai itu minta anak perempuannya untuk dijadikan barang tanggungan, nyonya itu menangis sedih. “Alangkah kejamnya!” katanya sambil memeluk anaknya yang juga menangis sedih.
“Ibu, biarlah .....biarlah aku pergi ke sana, biar aku dijadikan barang tanggungan, asal kong-kong bisa mendapatkan uang guna membeli makan untuk adik-adikku
.....” kata Siauw K im dengan gagahnya.
“Tidak, tidak ..... bagaimana kalau kita tidak dapat menebusmu kembali?” kata ibunya sedangkan Lim Bun tak dapat berkata sesuatu seperti orang kehilangan akal.
“Tentu bisa, ibu, Bukankah uang pinjaman itu sebagian besar dapat dipergunakan untuk membeli bibit padi? Musim hujan mulai tiba dan sawah kita tentu akan menghasilkan padi!”
Mendengar ucapan cucunya ini, dengan terharu Lim Bun lalu berdiri dan memegang kedua pundak Siauw K im. “Cucuku yang baik, memang hanya kaulah pada saat ini yang dapat menolong nyawa kita sekeluarga. Percayalah, Thian masih cukup adil untuk memberi berkah kepada sawah kita sehingga penghasilannya cukup untuk dipergunakan menebusmu kelak.”
(Oo-dwkz-oO)
DEMIKIANLAH, dengan hati hancur kakek ini pada keesokan harinya mengantar cucunya ke rumah gadai itu. Ia diterima oleh pegawai rumah gadai yang tersenyum-senyum memandang gadis berusia lima belas tahun ini. Dipandangnya dari kepala sampai ke kaki, seakan-akan sedang menaksir nilai sebuah benda yang digadaikan. Kemudian ia mengangguk- angguk dan menulis pada sehelai surat gadai sambil bersungut-sungut. “Kecantikannya cukup, potongan badan boleh, hanya sayang agak kurus dan pucat!”
“Se ...... semenjak kemarin ia belum .....makan ....” kata Lim Bun dengan hati seperti diremas-remas.
“Hm, seharusnya aku hanya berani memberi lima puluh tail, akan tetapi karena kasihan, biarlah kuberi tujuh puluh tail dalam waktu dua bulan. Bunganya seperlima bagian dan harus dikembalikan paling lambat tepat pada dua bulan kemudian. Kalau dalam waktu dua bulan belum terbayar, cucumu ini menjadi hak milik Siong-wangwe.”
Kakek itu membelalakkan matanya,. “Hanya tujuh puluh tail
...? Kau hargai cucuku hanya untuk tujuh puluh ...?” Hampir saja kakek itu melempar surat gadai dan uang itu kembali ke meja pegawai rumah gadai, akan tetapi Siauw Kim lalu memegang tangan kong-kongnya dan memandangnya dengan mata mengembang air mata.
“Kong-kong, tujuh puluh tail perak sudah cukup untuk membeli benih. Kerjakanlah sawah kita baik-baik agar dapat menghasilkan uang penebusan diriku.”
Dengan mata penuh air mata yang perlahan-lahan mengalir ke pipinya yang kisut, kakek itu melihat betapa cucunya dengan muka tunduk mengikuti seorang pegawai rumah gadai masuk ke dalam, entah kemana.
Dengan tersuruk-suruk Lim Bun lalu pulang ke rumahnya. Memang sekeluarganya tertolong dari bahaya kelaparan dengan uang itu dan jenazah cucu bungsunya dapat dikubur dengan pantas. Akan tetapi, ternyata bahwa musim hujan pada waktu itu amat kikir dengan air hujannya. Hanya sedikit saja hujan turun di bagian di mana terdapat sawah kakek Lim Bun dan hujan banyak turun di bagian lain.
Untuk mengairi sawahnya, terpaksa Lim Bun mengandalkan aliran anak sungai yang dibanjiri air dari daerah lain. Ia bekerja keras dibantu oleh anak perempuannya dan cucu- cucunya yang masih kecil, mencangkul tanah yang keras dan membuat selokan untuk mengalirkan air ke dalam sawahnya. Kemudian sisa uang itu dibelikannya benih-benih padi yang disebar disawahnya.
Biarpun waktu penebusan diri Siauw Kim hanya dua bulan, akan tetapi kalau padi di sawahnya sudah berusia dua bulan dan sudah nampak gemuk-gemuk dan subur, dengan mudah ia dapat menjual padi itu kepada orang-orang kaya yang biasa membeli isi sawah sebelum panen dengan harga jauh lebih murah.
Akan tetapi, ternyata bahwa Siong Tat dan kaki tangannya benar-benar amat kejam. Melihat betapa Siauw Kim setelah mendapat makan cukup dan pakaian pantas, kelihatan cantik dan manis sekali, Siong Tat merasa sayang kalau anak perempuan itu sampai dapat tertebus oleh Lim Bun.
Diam-diam ia lalu memberi perintah kepada anak buahnya dan sebulan kemudian, ketika sawah dari Lim Bun sudah mulai nampak penuh dengan batang padi menghijau, pada suatu pagi Lim Bun dengan terkejut melihat betapa sawahnya telah rusak binasa. Semua batang padi yang masih muda itu telah dicabuti orang dan rusak sama sekali.