Halo!

Suling Emas Chapter 173

Memuat...
ID
ID
ID

ADA muncul dari TIADA,

betapa mungkin mencari sumber TIADA!

Mengapa cari ujung sebuah mangkok?

Mengapa cari titik awal akhir sebuah bola?

Akhirnya semua itu kosong hampa,

Sesungguhnya tidak ada apa-apa!

Bu Song sengaja memilih syair terakhir dari kitab kuno itu yang telah membuat Ciu Bun girang luar biasa. Mula-mula Bu Tek Lojin mengikuti dan meniru bunyi syair sebaris demi sebaris, kemudian setelah hafal, kakek itu berseri-seri wajahnya, sajak itu dihafal berulang-ulang dan makin lama suaranya menjadi makin nyaring! Tiba-tiba kakek itu menubruk dan meloncat, kedua lengannya merangkul pundak Bu Song dan memeluknya!

"Anak baik! Lekas kau tiup suling ini, lekas beri kesempatan telingaku mendengar perpaduannya...!"

Bu Song lalu duduk bersila, sambil berkata,

"Mulailah, Locianpwe, saya akan mengiringi dengan bunyi suling."

Kakek itu pun melompat berdiri diatas batu besar, membusungkan dada, menengadah kelangit lalu membaca syair itu kuat-kuat dengan suara dilagukan seperti yang dipelajarinya dari Bu Song tadi.

Lambat-lambat keluarnya suara itu, dan berirama. Suara suling yang ditiup Bu Song mengiringi dan karena Bu Song berusaha memenangkan kakek itu dengan cara ini, maka ia mencurahkan seluruh perhatian dan perasaannya sehingga suara suling itu luar biasa sekali, menggetar-getar dan mengalun, menggores perasaan. Mula-mula kakek itu nampak gembira, suaranya makin nyaring dan setelah habis syair itu ia baca, ia mengulanginya lagi dari permulaan, makin lama suaranya makin penuh perasaan, matanya bersinar-sinar, kulit mukanya sebentar pucat sebentar merah dan tak lama kemudian air mata bertitik-titik turun dari kedua matanya. Suaranya mulai menggetar-getar, kemudian menjadi parau dan akhirnya ia tidak melanjutkan nyanyiannya, melainkan jatuh duduk diatas batu terisak-isak menangis, menjambak-jambak rambutnya seperti orang gila, kemudian tertawa-tawa dan menangis lagi!

Bu Song kaget sekali. Sungguh jauh bedanya akibatnya yang menimpa diri kakek ini kalau dibandingkan dengan Ciu Bun. Sastrawan itu menerima hikmat perpaduan suara mujijat itu dengan penuh kebahagiaan, sebaliknya kakek ini menjadi seperti orang gila. Bu Tek Lojin masih terisak-isak, kemudian ia meloncat turun dari atas batu, berjingkrak-jingkrak dan tertawa-tawa, meloncat lagi keatas batu dan akhirnya ia terduduk dengan lemas. Duduk bersila seperti orang bersamadhi, kedua lengannya bersilang didepan dada, mukanya menunduk dan ia tidak bergerak-gerak lagi seperti berubah menjadi arca! Bu Song melihat semua tingkah kakek itu dengan mata terbelalak. Pemuda ini masih duduk bersila diatas batu lain, tiga meter jauhnya dari tempat kakek itu. tadinya ia terheran-heran dan tidak dapat menduga apa yang selanjutnya akan terjadi.

Ia tidak tahu apakah akibatnya nanti akan baik baginya atau tidak. Namun harus ia akui bahwa perpaduan suara itu benar-benar mengandung sesuatu kemujijatan yang luar biasa. Dia sendiri hanya merasa betapa nikmat paduan suara syair dan suling itu. Tadinya ia girang melihat betapa kakek itu menangis dan menjambaki rambutnya, kini ia merasa kuatir karena kakek itu diam seperti berubah menjadi batu. Dengan hati-hati ia memanggil.

"Locianpwe...!"

Kakek itu tidak menjawab. Bu Song bukan seorang bodoh. Seharusnya ia menggunakan kesempatan ini untuk pergi dengan aman, membawa pergi suling emas yang dicari oleh orang-orang pandai itu. Akan tetapi, dia seorang yang memiliki dasar hati penuh welas asih (belas kasihan) kepada orang lain. Melihat kakek itu seperti orang berduka, ia menjadi iba hati dan perlahan ia meniup lagi sulingnya, lirih namun amat merdu karena ditiup dengan penuh perasaan. Belum habis ia meniup suling, kakek itu bergerak lalu mengangkat mukanya memandang kepada Bu Song. Ternyata kedua matanya merah dan basah.

"Bu Song, lekas kau mainkan semua jurus Pat-jiu Kiam-hoat dengan suling itu! Jangan melawan kalau aku menotok dan memukulmu. Hanya inilah yang dapat kulakukan untuk membalas budimu yang telah membuka mata hatiku. Mulailah, Anak baik!"

Bu Song tidak tahu apa yang akan dilakukan kakek itu. akan tetapi karena ia maklum bahwa menghadapi kakek ini ia sama sekali tidak berdaya, maka ia tidak membantah dan menyerahkan keselamatan dirinya kepada Tuhan. Mulailah ia mainkan suling itu dengan jurus pertama dari Pat-sian Kiam-hoat. Tiba-tiba berkelebat bayangan kakek itu yang melayang turun dari atas batu dan ketika melakukan gerak jurus pertama, Bu Song merasa betapa lambungnya tertotok.

Ia kaget namun tidak melawan dan bukan main herannya karena jurus pertama yang dilakukan dengan tusukan suling dari pinggang itu sama sekali tidak terganggu oleh totokan, malah ia merasa betapa hawa sakti ditubuhnya tersalur keluar melalui lambung yang baru saja terkena totokan sehingga jurus yang ia gerakkan itu mengandung tenaga yang jauh lebih kuat daripada biasanya. Bu Song menjadi girang, lenyap semua sisa kekuatirannya karena ia maklum bahwa kakek ini membantunya, membantu membuka "pintu"

Dalam tubuh agar hawa sakti yang ia salurkan dari pusat dapat lancar. Ia teringat akan cerita suhunya bahwa ilmu semacam ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali. Penggunaan hawa sakti dalam tubuh untuk disalurkan kedalam tubuh kedalam tubuh orang lain, seperti dalam pengobatan, jika dilakukan akan membahayakan tubuh penolong itu sendiri.

Namun Bu Song tidak sempat mencegah lagi karena ia sudah bersilat menghabiskan enam belas jurus Pat-sian Kiam-hoat gubahan suhunya dan enam belas kali ia merasa ditotok dan dipukul dibagian-bagian tertentu dari tubuhnya oleh kakek itu yang melakukannya dengan amat cepat dari belakang, kanan kiri atau dari depan. Begitu selesai mainkan Pat-sian Kiam-hoat, Bu Song menyimpan sulingnya dan cepat menengok. Kiranya kakek itu sudah bersila lagi diatas batu, mukanya pucat seperti mayat, matanya tertutup dan sama sekali tubuhnya tidak bergerak. Bu Song meloncat mendekati dan memanggil lirih,

"Locianpwe...!"

Kakek itu tidak menjawab. Melihat keadaan orang yang pucat dan payah, makin yakin hati Bu Song bahwa kakek itu telah mengorbankan diri dan menurunkan ilmu yang hebat kepadanya. Maka tanpa ragu-ragu lagi ia menjatuhkan diri berlutut dan berkata,

"Locianpwe, banyak terima kasih teecu haturkan atas budi kebaikan Locianpwe!"

Kembali tidak ada jawaban. Sampai lama Bu Song berlutut. Karena tidak ada suara apa-apa dari kakek itu, Bu Song mengangkat muka memandang. Hatinya khawatir. Kakek itu duduk seperti mayat kaku. Ia meloncat keatas batu dan mengulur tangan meraba. Bukan main kagetnya ketika meraba dada, sama sekali tidak ada tanda-tanda kakek itu bernapas! Juga jantung didada tidak terasa detiknya.

Post a Comment