Halo!

Suling Emas Chapter 172

Memuat...
ID
ID
ID

"Ha-ha-ha, begitu baru anak baik!"

Tiba-tiba tubuh kakek itu melayang turun dan ia sudah duduk diatas batu besar sambil melambaikan tangan menyuruh Bu Song mendekat.

"Coba kau beritahu, bagaimana memegangnya, bagaimana meniupnya dan bagaimana membuka tutup lubang-lubangnya?"

Bu Song memberi petunjuk sedapatnya, bahkan ia memberi contoh membunyikan suling itu, dari nada rendah sampai nada tertinggi.

Akan tetapi dasar kakek itu sudah terlalu tua, sudah terlambat untuk belajar, apalagi mempelajari seni musik yang membutuhkan bakat! Bukan main sukarnya. Jari-jari tangannya canggung kaku, bibirnya sukar meniup sempurna karena terganggu kumis tebal dan ia tidak memiliki perasaan peka akan bunyi seperti perasaan seniman. Lebih dua jam kakek itu meniup-niup sampai sepasang matanya melotot dan kedua pipinya kembung, hasilnya sia-sia belaka, yang dikeluarkan dari suling hanya suara merengek-rengek seperti kucing terinjak ekornya! Tiba-tiba kakek itu menghentikan usahanya belajar, mendengus-dengus dan dari matanya keluar dua butir air mata yang besar-besar! Kiranya saking marah dan jengkelnya melihat hasil kosong usahanya, kakek itu sampai mengeluarkan air mata.

"Tidak ada gunanya! Suling sialan, tidak ada gunanya. Hanya suara iblis yang keluar dari lubangnya. Untuk apa diperebutkan? Suling keparat lebih baik dihancurkan!"

Setelah berkata demikian, kakek itu menghantamkan suling itu kepada batu yang didudukinya, berulang-ulang. Terdengar suara keras dan tampak bunga api berpijar keluar ketika suling bertemu dengan batu.

"Locianpwe, jangan...!"

Bu Song kaget dan mencegah sambil melangkah maju karena ia khawatir kalau-kalau sulingnya akan rusak. Akan tetapi sebuah dorongan tangan kiri kakek itu mengeluarkan angin yang menghantam dadanya dan membuat Bu Song terpelanting kebelakang! Kakek itu agaknya makin marah ketika mendapat kenyataan bahwa suling itu tidak rusak sama sekali biarpun ia pukul-pukulkan batu, bahkan batunya yang remuk-remuk dibagian yang dipukul suling.

"Locianpwe, harap jangan marah. Suara suling itu dapat dibarengi bunyi sajak, baru selaras dan nikmat didengar!"

Dalam gugupnya, Bu Song sengaja bicara terus terang akan rahasia suling. Tangan yang sudah diangkat untuk menghantamkan suling sekuatnya pada batu itu berhenti bergerak. Kakek itu memandangnya seperti orang terheran-heran.

"Kau tahu pula akan kitab kuno yang dibawa Ciu Gwan Liong? Apakah begitu kebetulan sehingga engkau mendapatkan kitab itu pula?"

Bu Song menggeleng kepala.

"Kitab apakah, Locianpwe? Saya hanya pernah mendengar Suhu bersyair yang katanya Suhu dengar dari Locianpwe Bu Kek Siansu dan yang ternyata menjadi timpalan bunyi suling ini."

Berubah wajah kakek itu, matanya bersinar-sinar.

"Bagaimana bunyinya? Hayo perdengarkan padaku, bagaimana bunyinya!"

"Locianpwe, syair dan bunyi suling harus dilagukan bersama, barulah dapat dinikmati perpaduannya yang luar biasa. Oleh karena hal ini membutuhkan dua orang maka biarlah Locianpwe menghafal bunyi syair, kemudian kita berdua mainkan lagu mujijat ini, Locianpwe yang membaca syair dan saya yang menyuling."

"Boleh, boleh!"

Kakek itu berkata tak sabar.

"Lekas kau perdengarkan, akan kuhafalkan!"

Post a Comment